Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
170. Hujan Bintang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Galih dan Tiara masih membelah jalanan dengan sepeda motor. Menikmati suasana malam yang amat cerah karena langit tak di tutupi oleh awan hitam pembawa hujan.


Karena hampir tiap malam, Ibukota selalu saja di jatuhi oleh air hujan.


"Waw..." Tiara merentangkan tangannya tanpa ragu sedikitpun.


Karena jalanan begitu sepi, Ia bebas untuk melakukan apapun sesuka hatinya.


"Apa?" membuat Galih bertanya Krena penasaran.


"Tidak apa-apa..." elak Tiara.


Sedikit egois memang, tapi Tiara benar-benar tak mau membagi apa yang di lihatnya sekarang.


Ck... pelit! gerutu Galih dalam hati.


Ia yang pria itu lakukan adalah mengerem mendadak. Membuat tubuh Tiara kembali terhuyung ke depan dan memeluknya.


"Aaw...".


Dengan seringai yang menakutkan, Galih sengaja menarik gas motornya hingga melaju kencang. Otomatis Tiara lebih erat memeluk tubuh pria itu dan memejamkan mata ketakutan. Cara mengemudi Galih benar-benar kesetanan.


Ya Tuhan, apa dia mau membunuhku? batin Tiara.


Dan pada akhirnya Galih lah yang tersenyum penuh kemenangan.


Jangan macam-macam padaku! begitu hatinya bicara.


Rambut Tiara benar-benar berantakan. Tubuhnya amat kaku karena takut. "Pelan kan motornya..." pinta Tiara.


"Ha?" tanya Galih berpura-pura tidak mendengar. Padahal pria itu sangat jelas mendengar nada bicara Tiara yang ketakutan.


"Jalan pelan-pelan..." pinta Tiara lagi. Tapi tak membuat Galih berubah pikiran.


Hingga karena kesabarannya sudah habis, Tiara berteriak "Berhenti! Lo cari mati ya?".


Dan otomatis membuat Galih mengurangi kecepatannya.


Bukan, pria itu langsung menghentikan laju motornya. Menengok ke belakang dimana Tiara duduk tanpa dosa.


"Hei? siapa Lo sampai membentak ku?" tanya Galih sambil menunjuk kening Tiara menggunakan jari telunjuknya.


"Berani sekali Lo meneriaki ku seperti itu...".


Sedangkan Tiara langsung cemberut dan merapikan rambutnya yang terlihat berantakan layaknya gembel di jalanan.


Sejak tadi Tiara memang tidak mengenakan helm, jadi seperti inilah kondisi dirinya.


"Jangan ngebut..." pinta Tiara lirih. Tentu saja tanpa melihat ke arah Galih. Takut kalau pria kulkas di depannya akan membunuh Tiara hanya dengan tatapannya saja.


"Eh lihat..." teriak Tiara membuat Galih seketika mengikuti kemana jari Tiara menunjuk.


"Ada bintang jatuh..." ucap Tiara antusias.


Galih juga ikut terkejut karena melihat benda di langit terlihat berpindah tempat dengan cahaya yang khas.


"Ada lagi..." teriak Tiara.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka tak lagi berdebat. Pandangan mereka teralihkan oleh hujan bintang di langit.


"Ada tempat yang cocok untuk melihatnya..." ucap Galih antusias.


Dan setelah menghidupkan lagi motornya, pria itu membawa Tiara pada suatu tempat yang memang berada tak jauh dari sana.


Sebuah bukit kecil dan gelap. Galih menghentikan laju kendaraannya. Turun diikuti oleh Tiara.


"Waw..." ucap Tiara kembali takjub.


Ia tak menyangka kalau bukit yang terlihat biasa-biasa saja akan berubah menakjubkan di malam hari.


Dan tanpa ragu, Tiara duduk di tepiannya.


Memandang langit untuk melihat lagi benda angkasa yang jatuh.


Ck... dia benar-benar terlihat seperti anak kecil...batin Galih dan mengikuti Tiara.


Bedanya Galih berdiri di samping Tiara dan juga melihat langit.


"Kamu pernah melihatnya sebelum ini?" tanya Tiara kepada Galih.


"Hm,".


"Kapan?" tanya Tiara penasaran. Karena ia memiliki kenangan saat ada fenomena alam seperti ini.


"Entahlah... sudah sangat lama..." jawab Galih. Ia tak lagi mengingat kapan itu terjadi.


Karena saat itu Galih masih remaja, mungkin saat SMP atau SMA.


"Gue waktu masih belajar di taman kanak-kanak. Ya... gue ingat sekali saat itu. Seperti malam ini, gue pertama kali melihat fenomena aneh ini.." kenang Tiara.


"Dulu, saat gue ingin tau siapa dan dimana keberadaan Ayah gue... Ibu selalu bilang, mintalah pada bintang yang jatuh..." ucap Taira tersenyum mengenang masa lalunya.


"Lo percaya?" tanya Galih. Bukankah hal itu sangat mustahil? minta pada bintang? ck... konyol!


"Gue percaya karena saat itu masih kecil. Hingga tiba saat malam hari, hujan bintang tiba... sepanjang malam, gue terjaga... setiap melihat bintang jatuh, gue memohon agar bisa melihat Ayah... walaupun sehari saja...". Entah kenapa mengingat masa lalunya, membuat dada Tiara kembali sesak.


Permohonan seorang anak perempuan kecil yang terlihat polos dan tidak masuk akal.


Begitulah Tiara sampai memohon pada bintang karena merindukan ayahnya.


Sejak lahir, Tiara tak pernah sekalipun melihat bagaimana sosok ayahnya.


Apakah sama perhatiannya dengan Ayah anak lain? Tiara sangat penasaran. Karena ia hanya tumbuh bersama ibunya saja.


"Dan itu terkabul?" tanya Galih.


"Ck... tidak," jawab Tiara lirih.


Karena sebanyak apapun ia memohon pada bintang, tak juga mampu membuat Ayah datang menemuinya. Pria itu tak pernah mendatangi Tiara, memeluknya dan tersenyum untuk Tiara sekalipun. Bahkan sampai Tiara beranjak dewasa.


"Sudah ku duga..." jawab Galih percaya pada keyakinannya sendiri.


"Bodohnya gue yang mempercayai ucapan ibu saat itu...". Tiara benar-benar mengutuk dirinya saat kecil.


"Apa dia masih hidup?" pancing Galih. Ia sangat penasaran dengan jati diri Tiara yang sesungguhnya.


Hidup hanya dengan seorang ibu, apa Tiara tak pernah punya keinginan untuk mencari ayahnya? begitu hati Galih bicara.


"Meninggal... dia meninggal sejak lama...bahkan sebelum gue lahir... itulah kata ibu..." jawab Tiara bertambah sedih.

__ADS_1


"Meninggal?" malah Galih yang tak percaya akan hal itu.


Terdengar ambigu bukan kalau Tiara bilang kalau sang Ayah sudah meninggal.


"Gue anak yang lahir di luar pernikahan...". Tiara bahkan mengatakannya dengan nada menyakitkan.


Membuat Galih menjadi salah tingkah karena inilah pertama kalinya Tiara mengatakan jati dirinya yang sesungguhnya.


Setelah mengatakan kebenarannya, Tiara menatap ke langit. Entah apa yang ada di pikirannya.


Hal itu di gunakan Galih untuk sejenak menatap gadis di sampingnya.


Wajah Tiara seperti diterangi oleh cahaya malam. Membuatnya bersinar hingga Galih saja sedikit terpukau untuk beberapa saat.


Hingga yang di lakukan pria itu adalah menatap ke arah lain menyelamatkan hatinya yang tiba-tiba berdesir aneh.


"Apa lo akan keberatan jika gue dekat dengan Bella gara-gara status gue?" tanya Tiara. "Apa lo akan melarang Bella untuk dekat dengan gue karena gue anak yang terlahir dengan dosa?".


Karena itulah ketakutan terbesar dari Tiara ketika bergaul dengan teman sebayanya.


Jati diri Tiara yang seperti itu tentu saja mempersempit lingkup pertemanannya.


Karena itu pula Tiara tidak memiliki banyak teman. Lebih tepatnya menghindar daripada mereka mengolok-olok dirinya suatu hari nanti.


Tiara takut sampai teman-teman menjauhinya karena Tiara tidak memiliki seorang Ayah.


Bahkan Akira saja tidak tau akan hal itu.


Sedangkan Tiara tak mau juga memberitahunya, takut jika Akira akan menjauhinya.


"Tidak..." jawab Galih.


Ia tidak bisa membatasi Bella untuk bergaul dengan siapapun. Apalagi Tiara juga tidak terlihat dengan kesalahan orang tuanya. Ia hanya korban atas perilaku ibu dan Ayahnya.


Jadi tak etis jika Tiara di salahkan atas semua yang tidak di lakukan nya.


"Terima kasih..." ucap Tiara tulus sambil menatap ke arah Galih. Menyatukan tatapan keduanya di satu garis lurus. Membuat Galih terpaku dam tak tau harus melakukan apapun.


Senyum Tiara yang terlihat tulus benar-benar menyentuh hati Galih.


Entah kenapa Galih suka dengan senyum itu.


Senyum yang jauh manis dari wanita yang pernah singgah di hatinya.


"Ayo kita pulang..." ajak Tiara. Apalagi angin malam mulai berhembus dingin menusuk tulang.


Gadis itu bangkit dari duduknya. Menepuk pelan kedua kakinya untuk menghilangkan belas tanah yang ia duduki.


Tiara berjalan menuju ke motor lebih dulu, dan Galih berjalan di belakangnya.


Sesekali Galih melihat Tiara mengusap bahunya, mungkin karena dingin.


Galih melepaskan jaket yang di kenakan. Memutarnya hingga resleting jaket berada menghadap punggung.


Saat Tiara naik, Galih bersuara "Masukkan tangan lo di dalam, udara sangat dingin...".


Tiara pun paham. Akhirnya di dalam jaket yang Galih kenakan, Tiara memeluk tubuh pria itu yang benar-benar terasa hangat dan sedikit menempelkan tubuhnya.


Membuat Galih tersenyum sepanjang perjalanan pulang.


***

__ADS_1


Nah kan... sama Tiara, senyum pria kulkas mulai terlihat beberapa kali...


Happy New Year untuk kalian semua... sehat-sehat terus biar bisa selesaikan cerita ini sama-sama.... lov kalian banyak-banyak...


__ADS_2