
HAPPY READING...
***
Jika Diam adalah cara yang tepat, maka Diam lah... tapi ketika Diam mu diinjak? Maka bicaralah untuk membuat mereka Diam!
Gadis melihat tubuh Dion yang tak berdaya. Pria itu pingsan mungkin juga karena obat bius yang di gunakan oleh anak buah Papanya. begitu hati Gadis yakin.
Melihat Dion seperti itu, Gadis benar-benar sedih. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini karena tubuhnya terikat oleh tali dan kursi.
membuatnya tak berdaya.
"Dion..." panggil Gadis lagi, berharap kekasihnya bisa bangun dan melihatnya.
Tapi siapa sangka kalau ternyata Dion juga di perlakukan sama dengannya. Diikat pada kursi dengan keadaan pingsan.
bahkan hal itu membuat hati Mama terluka. putra kesayangannya di perlakukan tak adil seperti itu.
Dion... batin Mama terus melihat keadaan putranya yang entah sejak kapan telah berubah.
Tubuh Dion sedikit berisi dari terakhir kali mereka bertemu 8 bulan yang lalu.
Apa Dion ku bahagia? apa dia hidup dengan baik disana? hanya itu yang ingin Mama tanyakan langsung pada Dion.
Betapa Mama sangat merindukan anaknya. bahkan membuat dirinya sakit dan lemah seperti yang terlihat sekarang.
Dion benar-benar terduduk di kursi seperti Gadis. Tapi bedanya pria itu masih belum sadar. Tanpa terduga, Mama mulai berjalan menghampiri putra kesayangannya.
Dengan wajah yang di penuhi air mata, wanita itu merosot dan memeluk kaki Dion. "Dion... putraku..." ucap Mama memilukan. tangannya gemetar demi menggapai wajah Dion. Menelusuri rahang kokoh pria itu, seperti memastikan dengan ingatannya dulu.
Sudah beberapa bulan lamanya Mama tak pernah melihat Dion, dan sekarang pertama kali ia di pertemukan kembali. Tidak... Dion tak boleh pergi lagi... batin Mama.
Apapun yang akan terjadi nanti, Mama tidak akan membiarkan Dion pergi lagi. Kalaupun harus terpaksa pergi, Mama akan ikut dengan putranya daripada hidup di rumah mewah ini sebagai seekor burung yang terperangkap dalam sangkar emas.
"Dion.. bangun sayang..." ucap Mama lagi. Menepuk pelan pipi Dion berharap pria itu cepat bangun.
"Rega, bantu Ibumu untuk menjauh..." pinta sang Papa dengan tegas.
"Baik Pa," jawab Rega walaupun tidak tau apa tujuan dari Papanya tersebut.
Pria itu berjalan mendekati sang Mama, "Ayo Ma..." ucap Rega dengan nada lembut.
"Tidak Rega..." tolak Mama malah lebih erat memeluk tubuh Dion. Sedangkan Gadis yang melihat itu tambah terenyuh.
Apa yang dilihatnya benar-benar sesuai dengan cerita Dion.
Wanita yang telah melahirkan Dion itu benar-benar seperti malaikat. Baik, penyayang dan juga lembut.
"Ayo Ma... jangan buat Papa marah..." pinta Rega dengan mengiba. Ia tak mau Mama kena marah lagi, dan di lain sisi Rega tak mau mengecewakan Papanya. Termasuk dengan memuruti segala perintah beliau.
Mama akhirnya mau bangkit juga. dengan di gandeng putra sulungnya beliau menjauh dari kursi Dion.
Dan kembali lagi kejadian Gadis barusan. Dion juga disiram dengan segelas air untuk membuatnya sadar.
__ADS_1
"Dion..." panggil Gadis saat melihat tubuh Dion mulai bereaksi dengan siraman air tersebut.
"Aaakkk...".
Saat membuka mata, pandangan sepasang kekasih itu bertemu di satu haris lurus.
Dion lega karena Gadis baik-baik saja, sedangkan Gadis merasa senang karena Dion akhirnya bangun.
Tatapan mata Dion beralih pada beberapa pasang kaki yang berdiri di depan sana. Melihatnya sedikit lebih lama untuk menandai wajah-wajah yang telah berani membuat wanitanya terikat seperti sekarang.
Dan tatapan itu berakhir pada Rega, pria yang dengan liciknya mampu membawa Dion dan Gadis sampai disini.
"Br*ngsek!" umpat Dion pada akhirnya.
Tap... Tap... Tap...
Derap langkah kaki Papa menjadi satu-satunya suara yang tercipta dalam ruang tamu rumah ini. Mendekati Dion dan sedikit berjongkok untuk menatapnya dengan jelas.
"Selamat datang kembali di rumah ini... Anak pembangkang!" ucap Papa menekankan kata pembangkang sebagai identitas Dion selama ini.
Pembangkang yang sudah melekat pada diri Dion sejak kecil. Sulit di atur dan semaunya sendiri.
"Lama di luaran sana, apa membuatmu lupa dengan kami?" desak Papa lagi. Sedangkan Dion, pria itu hanya diam sambil terus mengamati pergerakan Papa nya.
"Setelah sekian lama menghilang, mencairkan semua uang di Bank dan pergi entah kemana. Tapi tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan apapun. menampakkan diri seolah tak berbuat salah sama sekali... apa hal itu membuatmu terlihat hebat Di-on?".
Ck... dia ingat namaku? batin Dion mencerca perilaku pria tua di depannya.
Saat tatapan Dion beralih pada wanita di belakang sana, Dion kembali pias.
Mama... Satu kata mampu menjelaskan semuanya. Dulu Dion hanya berani berdiri dari kejauhan menatap malaikatnya,tapi kali ini Dion benar-benar di depannya langsung. Andai tak terikat tali seperti ini, Dion tak memperdulikan semua orang. Ia hanya ingin memeluk Mamanya dan bersimpuh di kaki malaikat yang telah melahirkannya itu.
Jangan bicara apapun Dion... begitu sorot mata Mama bicara sambil menggelengkan kepala. Diam, maka tak ada yang akan menyakitinya.
Itulah yang selalu Mama ajarkan pada Dion.
Kekesalahn, kemarahan yang membahar hati Dion mampu ia padamkan hanya dengan menatap Mama. Bahkan ia sampai tak mendengar apa yang dikatakan Papanya saat ini, karena Dion hanya fokus melihat Mamanya.
Tapi kemarahan, api dalam dirinya kembali berkobar saat Dion tak sengaja melihat Papa mendekati Gadis. Menendang kursi Gadis hingga terhuyung dan hampir saja jatuh.
"PAPA!" teriak Dion dengan mata diliputi kemarahan.
"Oh, berani sekali kamu meninggikan suara di rumah ku..." ucap Papa tak percaya dan juga tercengang.
Bahkan terakhir kali mereka bertengkar malam itu, Dion tidak sampai berkata dengan nada tinggi seperti sekarang.
Hanya karena wanita itu dia berani bersuara? batin Papa.
Perbuatan Papa tidak hanya begitu saja, pria itu sengaja mendekati Gadis. Membuat Dion semakin risau dan takut.
takut sesuatu hal buruk terjadi pada Gadis, dimana wanita itu tak tau apa-apa.
Didekati oleh Papa, membuat Gadis ketakutan. Bahkan matanya mulai menganak sungai. Seberani apapun dia, tapi nyatanya nyali Gadis menciut melihat kelakuan Papanya Dion.
"Apa dia seberharga itu Dion?" tanya Papa tanpa mengalihkan perhatiannya pada Gadis.
__ADS_1
Sedangkan yang ditatap berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan si*lan yang mengikat tubuhnya.
"Jangan sentuh dia!" perintah Dion seperti sebuah ancaman.
"Kenapa?" tantang Papa.
Dion... tolong... batin Gadis.
Bahkan kaki Papanya Dion kembali menyentuh kursi yang Gadis duduki.
Tapi lebih memprihatinkan nya lagi, semua orang hanya menatap Gadis saja. Tak berniat untuk membantunya sama sekali.
Hanya terlihat Mama yang tak tega melihat pemandangan itu, tapi tak mampu berbuat apapun.
"JANGAN SENTUH DIA!" teriak Dion.
Tapi kaki Papanya sudah bergerak lebih cepat dari yang di perkirakan semua orang. Bruukk..
"Awas!" teriak Mama. Sedangkan Rega hanya melihat pemandangan itu dengan mata membulat sempurna.
"Ahh... Papa tidak sengaja..." ucapnya setelah sengaja menendang kursi itu hingga membuat Gadis terjatuh bersamaan dengan kursi.
"Aawww... hiks..." Gadis menangis. Membuat Hati Dion seperti di tikam benda tajam. Pria itu juga merasakan sakit yang teramat sangat melihat kesakitan wanitanya.
"Br*ngsek!" umpat Dion.
Membuat pandangan semua orang kembali tertuju padanya.
Melihat wanitanya kesakitan dan tak berdaya, Dion berubah. Konaran api di matanya membuat Dion lupa diri. Dengan sekuat tenaga, pria itu sengaja menjatuhkan diri ke lantai. Tak memperdulikan apakah hal itu sakit atau tidak, yang pasti Dion ingin terlepas dari ikatan di tubuhnya.
"DION!" teriak Mama.
Dan nyatanya usahanya untuk menyakiti dirinya sendiri itu berhasil. Dion mampu membuat tali yang mengikatnya kendor. Dan kesempatan itu ia gunakan untuk lepas dari sana.
Setelah bisa lepas, Dion mendekati Gadis.
"Lo tak apa?" tanya Dion penuh khawatir. Jangankan untuk terloeas dari tali itu, cinta Dion pada Gadis mampu membuat pria itu berbuat nekad. Termasuk dengan menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Gadis menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dirinya tak sesakit yang dion bayangkan. Dan Dion segera membantu Gadis, melepaskan tali yang juga mengikat tubuh wanita itu.
Setelahnya, Dion juga melepaskan sepatu Gadis. Merobek gaun Gadis bagain bawah hingga sebatas lutut yang memang telah robek barusan.
"Lo tidak kehilangan kemampuan bela diri lo kan?" bisik Dion mungkin hanya Gadis yang mampu mendengarnya.
Sedangkan hanya ditanya hanya menggelengkan kepala walaupun masih bingung dengan pertanyaan Dion.
Setelah berkata seperti itu, Dion bangkit. Mengambil bagian kursi yang patah dan menggunakannya sebagai senjata.
"Ternyata diam adalah hal salah!" ucapnya dan mendekati biang masalah itu, siapa lagi kalau bukan Papa.
"Dion!" teriak Rega.
***
Yakin, pasti kesal kan sama tingkah orang tua satu ini???
__ADS_1