
HAPPY READING...
***
Akira menatap Arjun dengan sangat dalam. Pandangannya bahkan naik turun menjelajahi mata dan wajah pria itu tanpa berkedip sekalipun.
"Ck, kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Arjun disertai senyum konyol yang selalu nampak menjengkelkan bagi Akira.
"Pasti Lo hanya bercanda..." jawab Akira ketus.
Dalam hatinya ia masih tak mempercayai apa yang telah Arjun katakan sejak awal kalau pria itu ingin menjadi dokter.
"Bagaimana cara ngebuat lo percaya?" tanya Arjun kali ini lebih mendekat ke arah Akira.
Tentu saja gadis itu menghindar walaupun tubuhnya tidak bisa bergerak karena ia duduk tepat di sudut sofa.
"Agghh... jangan deket-deket..." protes Akira.
Berdekatan dengan Arjun sedikit membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik entah dari mana datangnya.
Itulah yang membuat Akira merasa aneh.
Arjun mengambil buku yang berada di tangan Akira dan sekilas membacanya.
"Dulu... impianku cuma satu. Menjadi seorang Dokter yang sangat hebat... menjadi Dokter hebat melebihi Dokter lainnya..." kenang Arjun pada masa mudanya.
"Lalu kenapa Lo malah beralih menjadi pemimpin perusahaan?" tanya Akira.
Padahal hubungan mereka tidak sedekat ini beberapa hari yang lalu. Tapi mendengar cerita Arjun, Akira seperti merasakan sesuatu yang membuatnya sangat penasaran.
"Karena salah satu impianku hilang," jawab Arjun menatap Akira dengan senyum yang aneh.
Senyuman itu terlihat sangat jenaka tapi mengandung begitu banyak kesedihan di dalamnya.
Dia sedih... batin Akira menerjemahkan semua ekspresi dari wajah Arjun.
"Gue tidak paham dengan apa yang lo katakan," ucap Akira. Benar... apa yang dikatakan Arjun seperti sebuah teka-teki yang sangat sulit untuk di pecahkan oleh gadis semacam Akira.
"Gue tau kalau Lo itu bodoh!" umpat Arjun kembali menonyor kepala Akira tapi sangat pelan.
Sialan! umpat Akira dalam hati.
Arjun segera bangkit dari duduknya, "Ayo mandi..." ajak pria itu pada istrinya.
Akira langsung menatap Arjun dengan ekspresi tak suka, Apa dia bilang? mandi? maksudnya mandi bersama begitu? ck...
"Kenapa menatapku seperti itu?" protes Arjun.
Baru saja ia bilang akan mandi, malah mendapat tatapan horor dari gadis di depannya.
"Dengar ya, Lo sudah berani meluk-meluk gue itu sudah keterlaluan... jadi jangan berani bicara hal-hal konyol..." ucap Akira menggebu-gebu.
Bagaimana tidak, Arjun beberapa kali memang sengaja menjebak Akira agar bisa memeluk tubuhnya. Bukan hanya sekali, Arjun sengaja memeluk Akira lebih dari 2 kali seingatnya.
"Konyol? darimana konyolnya? Lo tidak pernah lihat pasangan suami istri mandi bersama?" tanya Arjun dengan ejekan di dalam pertanyaannya.
"Tidak..." jawab Akira asal.
__ADS_1
Toh ia juga tidak penasaran akan hal itu.
Ck... mandi bersama? memang siapa dia mau mandi bersama denganku?
"Suami mu!" celetuk Arjun tiba-tiba.
Seketika Akira membulatkan matanya, Gila! apa dia dukun? kenapa bisa membaca pikiranku?
Akira tidak menyangka akan hal itu.
"Tentu saja gue bisa... jangankan pikiran Lo, gue bahkan bisa menebak ukuran Bra yang Lo pakai!" ucap Arjun dan langsung membuat Akira menyilang kan kedua tangannya menutup d*da.
"Hahaha... kenapa? tidak usah di tutupin, gue udah pernah pegang..." jawab Arjun tanpa dosa sama sekali.
"Lo!" tunjuk Akira sangat kesal.
Telinganya terasa panas mendengar semua yang Arjun katakan.
Apa dia bilang? keterlaluan... gue bener-bener ingin mencekiknya sampai mati!
Tangan Akira bahkan sampai terkepal karena sangat kesal dengan apa yang dikatakan Arjun barusan.
Walaupun mereka sudah menikah, tapi kelakuan Arjun kepada Akira tidak bisa di benarkan karen hubungan mereka hanya sebatas hitam di atas putih.
Mereka sama sekali tidak saling menyayangi seperti pasangan pengantin pada umumnya.
Dan sekarang... Akira merasa menyesal telah menyetujui pernikahan ini.
"Jadi mandi bareng tidak?" tanya Arjun lagi.
"Baiklah kalau tidak mau... Aku mandi dulu sayang... kalau berubah pikiran, ketuk pintunya ya..." goda Arjun dengan suara menggoda dan terdengar sedikit des*han.
Dan di detik selanjutnya, pria itu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Akira seorang diri yang mengepalkan tangan ke udara.
Bedeb*h! mati saja kau di dalam sana!
Nafas Akira naik turun. Kemarahannya benar-benar telah mencapai ubun-ubun kepala.
Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mengutuk. Menyumpahi pria di dalam sana yang sedang mandi.
"Oh, gue benar-benar bisa gila menghadapi nya..." gumam Akira kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
---
Makan malam telah usai. Antara Akira dan Arjun sama sekali tidak terlihat berbicara sejak tadi sore.
Buat apa bicara dengannya? tidak ada gunanya sama sekali, begitu hati Akira bicara.
Sehingga Akira memutuskan untuk belajar dan mengabaikan Arjun.
Tapi bukannya belajar, kepala Akira sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. "Agghh..." teriaknya.
Padahal sudah 1 jam ia duduk sambil melihat buku. Tapi anehnya tidak ada satupun kata yang masuk di dalam kepalanya.
Bahkan pertanyaan-pertanyaan di buku itu sangat membingungkan.
"Mau aku bantu istriku?" tanya pria yang saat ini sedang selonjoran di atas ranjang sambil bermain ponsel.
__ADS_1
Ya... saat senggang seperti ini, Arjun memang senang bermain game dalam ponselnya.
Akira menatap Arjun dengan sorot mata membunuh. Membantu? Ck... yang benar saja... Dia hanya akan menggangguku saja...
Tanpa terduga, Arjun bangkit dari sana. Berjalan mendekati Akira dan membungkuk di belakang istrinya guna melihat apa yang sedang Akira kerjakan.
"Oh ini..." ucap Arjun terdengar enteng.
Tapi beda untuk Akira, Ck... oh apanya? gue gak yakin kalau dia paham...
Arjun lebih membungkukkan tubuhnya mendekati Akira. Tentu saja membuat Akira semakin terhimpit di meja belajar. Meraih pulpen yang tadi di pegang Akira dan mulai mencoret-coret di kertas.
Goresan tangan pria itu begitu meyakinkan dan juga lumayan rapi bagi Akira.
"Mudah sekali..." jawab Arjun.
"Lo yakin ini jawabannya?" tanya Akira.
Bagaimanapun tampang Arjun sama sekali tidak meyakinkan kalau dia adalah pria yang jenius.
"Kenapa? Lo meragukan gue?" tanya Arjun sedikit ketus.
Padahal ia sudah berbaik hati untuk membantu gadis itu. Bukannya berterima kasih, Akira malah meragukan jawaban yang di berikan nya.
Arjun berjalan menjauh dari Akira.
Kemana dia? Apa dia marah? tanya Akira dalam hati.
Tapi dugaannya salah, ternyata Arjun hanya mengambil kursi dari meja rias dan membawanya kembali menuju ke meja belajar Akira.
"Geser!" perintah pria itu. Dan otomatis Akira menggeser kursinya sedikit ke kiri.
Arjun dan Akira duduk bersebelahan. Arjun membuka buku pelajaran Akira. Halaman demi halaman telah ia periksa hingga tiba di sebuah halaman, pria itu bersuara "Baca!"
Segera Akira membaca halaman yang diberikan Arjun. "Sama kan?" tanya Arjun menyakinkan.
Eh benar juga... kenapa gue tidak melihatnya tadi? batin Akira terkejut karena ternyata apa yang di tulis Arjun sama dengan yang ada di buku.
"Gue benar-benar tidak habis pikir... kenapa gadis sebodoh Lo bisa di terima di Universitas **..."
Dari ucapan Arjun, Akira benar-benar tersindir.
Pria itu jelas mengatakan kalau Akira tidak pantas berada di Universitas itu dengan kepintaran yang tidak sesuai.
Tapi Akira tidak sakit hati akan hal itu. Memang pada kenyataannya dia tidak terlalu pintar tapi setidaknya Akira sudah berusaha.
"Kalau yang ini?" tanya Akira pada pertanyaan berikutnya.
"Ck... tidak tau diri..." cerca Arjun tapi tetap membaca apa yang ditanyakan oleh Akira tadi.
Dan kembali seperti tadi, Arjun membantu Akira untuk menyelesaikan tugas kuliah Akira.
"Cepat, gue udah ngantuk!" ucap Arjun.
"Iya-iya..." jawab Akira sambil mempercepat tulisannya.
***
__ADS_1