
HAPPY READING...
***
Usia kehamilan Akira udah memasuki usia 2 bulan. Itulah yang di katakan Dokter kandungan kemarin.
Walaupun masih dalam trimester pertama dimana masa-masa sulit bagi calon ibu muda, nyatanya hal itu tidak terpengaruh bagi Akira.
Ia masih tetap bisa makan apapun, tanpa pilih-pilih.
Bagaimana tidak? mual, muntah, pusing, lelah dan berbagai macam lainnya malah di rasakan oleh Arjun. Ya... semua kesulitan yang dialami ibu hamil malah di rasakan Arjun.
Bahkan drama lain juga muncul. Dimana punggung Arjun seolah sering ngilu dan sakit.
"Aduhh... tolong dong tempel plester pereda nyeri di punggungku..." ucap Arjun memohon.
Nyeri punggung sangat membebani ketika bekerja seperti sekarang.
"Lah, ngapa gue?" tanya Galih nyolot.
Sungguh setelah kehamilan Akira, Galih merasa benar-benar di bebani. Bukan hanya satu hal saja melainkan berbagai macam hal. Dari Membantu menyelesaikan pekerjaan di perusahaan, harus lembur di akhir pekan bahkan sering sekali Galih di minta untuk melakukan apapun termasuk menjemput Akira.
"Mau siapa lagi kalau bukan Lo nyet..." jawab Arjun kesal.
Hanya pria itu yang mampu Arjun percayai, dan tentu saja Galih yang melakukan itu.
Tidak mungkin kan kalau karyawan di luar ruangan Arjun yang melakukannya, cinta Arjun akan hancur nanti.
"Ya udah ya udah," ucap Galih mengalah.
Berjalan mendekati Arjun untuk melakukan tugas mulia nya.
"Nih..." Arjun menyodorkan selembar plester kepada Galih dan langsung memposisikan tubuhnya membelakangi sahabatnya.
"Dimana?" tanya Galih. Sedangkan Arjun berusaha mengeluarkan kemejanya agar Galih tidak kesulitan menempelkan benda itu di punggung.
"Atas... atas lagi," perintah Arjun hingga membuat Galih sedikit menempelkan tubuhnya.
Tanpa mereka sadari, pintu ruangan itu di keruk dari luar dan langsung di buka secara paksa.
Membuat Galih dan Arjun hanya menatap siapa yang baru saja masuk.
"Kalian ngapain nyet?" tanya seseorang yang baru saja masuk. Terkejut dengan pemandangan sedikit aneh dan intim di depan sana.
Membuat Arjun dan Galih seperti terdiam membatu dan hanya membulatkan mata tanpa bisa bersuara.
Arjun dan Galih sama-sama ingin mengatakan kalau hal itu tidak seperti yang di lihat Dion. Tapi nyatanya, lidah mereka seperti kaku.
"Kalian ngapain?" bahkan sampai Dion mendekat, tidak ada jawaban sama sekali yang terlontar dari mulut keduanya.
"Jangan mikir macam-macam... ini tidak seperti yang Lo lihat," jawab Galih terbata-bata sambil menjaga jarak dengan Arjun. Sedangkan Arjun kembali membenahi pakaiannya.
"Gue geli melihat nya..." cerca Dion. Bagaimanapun ia adalah pria normal yang masih tertarik pada lawan jenis saja.
Jeruk makan jeruk... hehehe...
Entah pikiran liar dari mana yang ada di kepala Dion kalau kedua sahabatnya memang gesrek.
"Ngapain Lo kesini?" tanya Arjun nyolot. Karena tidak biasanya Dion datang menemuinya di Perusahaan seperti ini.
Apalagi Dion seringkali mengirim pesan terlebih dahulu sebelum datang, tapi nyatanya tidak di lakukan saat ini.
Pria itu tiba-tiba datang bahkan di saat yang tidak tepat. Seperti tadi saat Galih sedang membantu Arjun memasang plester pereda nyeri.
__ADS_1
Dion duduk di sofa diikuti Galih dan Arjun. "Boleh ngerokok disini kan?" tanya Dion memastikan. Mungkin saja tidak boleh merokok di ruangan Calon Presdir itu.
"Sebenarnya tidak boleh, tapi karena Lo memaksa ya sudah... lakukan apa yang Lo inginkan..." jawab Arjun.
Membuat Dion hanya tersenyum, Ck... kapan gue memaksa?
Dion membakar sebatang rokok dan melempar sisanya ke arah Galih. Karena sudah sangat paham bahwa ketiga pria itu memang perokok aktif sejak masa muda dulu.
"Gue berusaha untuk mengurangi rokok..." tolak Arjun.
Entah dapat Hidayah dari Tuhan sejak kapan, Arjun berkeinginan untuk meninggalkan rokok. Apalagi setelah Akira bilang kalau rokok tidak baik untuk ibu hamil dan bayinya.
Hati Arjun sedikit tersentil. Ia tak mau gara-gara rokok, bayi dalam kandungan istrinya terancam.
Walaupun masih sulit untuk meninggalkan kebiasaan merokoknya, tapi Arjun tetap bertekad untuk memulainya saat ini. Setidaknya Arjun bisa berhenti merokok saat bayinya telah lahir. Itulah keinginannya saat ini.
"Cie... yang akan punya bayi..." ejek Dion.
Membuat Galih tertawa geli walaupun membenarkan apa yang dikatakan Dion.
"Iya dong... emangnya kalian berdua!" balas Arjun.
Setidaknya sekarang hidupnya memiliki tujuan tersendiri. Membahagiakan istri dan anaknya kelak.
"Lah, ngapain kita? setidaknya gue jomblo terhormat ya..." jawab Dion tak terima.
Walaupun saat ini Dion tidak memiliki kekasih, tapi di luaran sana banyak sekali mata perempuan yang memuja dirinya.
Dion hanya belum menemukan sosok yang di carinya, lebih tepatnya sosok wanita pujaan hati.
"Eh ngomong-ngomong, Lo kemarin bersama siapa?" tanya Dion sambil menepuk paha Galih.
Kemarin Dion tak sengaja melihat Galih saat di jalan. Sahabatnya itu sedang mengendarai mobil dan ada seseorang yang duduk di bangku samping kemudi.
Karena waktu itu sedang hujan, Dion tak bisa melihat nya dengan jelas.
Lebih tepatnya aktifitasnya kemarin.
"Ya mana gue tau... pokoknya kemarin sekitar jam 5 sore... gue lihat Lo bersama cewek," ucap Dion.
Cewek? siapa? jam 5? Galih masih mencoba untuk mengingat-ingat. Dan beberapa saat tubuhnya menegang sambil menatap Arjun.
Oh iya... gue ingat... batinnya.
"Gebetan Lo ya?" pancing Dion sedangkan Arjun hanya menatap Galih saja. Kalaupun benar Galih mempunyai gebetan saat-saat ini, Arjun akan menjadi pendukung pertamanya.
Karena sudah saatnya Galih untuk menikmati kebahagiaan dirinya.
Mencoba untuk membuka hati kembali pada wanita di luaran sana.
Karena berdamai dengan masa lalu tidaklah buruk. Jadikan kejadian masa lalu sebagai pelajaran agar saat ini bisa bertindak dengan tepat dan dewasa.
"Ti-dak," jawab Galih gugup. Dan semakin membuat siapa saja yang melihatnya merasa lucu.
"Hahaha... kelihatan bohongnya!" ucap Dion telak.
Membuat Arjun tersenyum kembali dengan ucapan sahabat satunya itu.
"Emang bukan gebetan gue kok!" protes Galih mencoba meyakinkan Dion dan Arjun.
Karena saat ini ia tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun.
Sedangkan wanita yang di lihat Dion kemarin adalah Tiara.
__ADS_1
Jangan tanya apa alasannya! Karena semua itu permintaan Akira yang meminta untuk mengantarkan Tiara pulang dari Kampus.
Seandainya ada Arjun kemarin, akan jadi saksi kalau Galih memang tidak punya hubungan apapun dengan gadis itu.
"Iya iya gue percaya. dulu Arjun juga gitu kan... bilang gak suka lah, gak cinta lah... tapi akhirnya ngebucin sampai bodoh..." ejek Dion.
Sedangkan yang di ejek hanya bisa membulatkan mata tanpa berkomentar. Karena menang itulah kenyataannya.
Arjun benar-benar cinta mati dengan istri kecilnya. Bahkan rela melakukan apapun.
"Ya gak gitu juga kalee... jangan bodoh mencinta..." protes Arjun.
Galih hanya tersenyum geli mendengar jawaban Arjun yang terdengar seperti bualan saja. Karena ia juga melihat secara langsung bagaimana Arjun mencintai Akira dengan caranya.
"Eh, kalian punya pelembab bibir gak sih?" tanya Dion kembali pada topik lain dan bahkan terlihat random dari pembicaraan lainnya.
"Buat apa?" tanya Galih penasaran.
Karena benda seperti itu hanya di miliki oleh para wanita saja.
Mana ada Galih memerlukan benda seperti itu.
"Bibir gue terlihat kering dan pecah-pecah bukan?" tanya Dion sambil menunjukkan bibirnya kepada Arjun dan Galih.
"Pelembab bibir tidak akan berpengaruh..." jawab Arjun.
Dion menatap sahabatnya penuh tanda tanya sambil meraba bibirnya dengan jari telunjuk.
"Bibir kering dan pecah-pecah itu menandakan kalau Lo lagi berstatus jomblo!" tambah Galih dan kembali tersenyum setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Menampakkan gigi gingsul nya dan menambah kesan manis bagi siapa saja yang melihat.
"Hahaha..." Arjun tertawa kencang dengan ucapan Galih barusan.
Sedangkan Dion tidak terima dengan celoteh sahabatnya itu, "Hei, bibir gue masih per*wan ya...", ralatnya.
Tidak ada yang tau memang kalau dibalik sifat Dion yang bergonta-ganti pasangan, ada sebuah rahasia yang tersimpan.
Memang sejak dulu, pria itu sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sebuah ciuman.
Semua wanita yang pernah Dion kencani tau akan hal itu.
Per*w*n? ck... lucu sekali... batin Galih.
Padahal enak... batin Arjun yang notabene nya adalah mantan penjelajah wanita.
"Kenapa? kalian tak terima?" tanya Dion sewot. Apalagi tatapan Arjun dan Galih kepadanya terlihat sangat menjengkelkan.
"Kalian tau, bibir ini khusus buat istriku kelak..." tambahnya.
Membuat Arjun dan Galih menaikkan alisnya bersamaan.
"Kira-kira jodohku lagi dimana ya?" tanya Dion pada dirinya sendiri. Menerawang jauh sambil menatap langit-langit ruangan kerja Arjun.
"Gue yakin, pasti sedang di bawah tubuh kekasihnya..." jawab Galih ketus.
Hal itu membuat Arjun tertawa kencang, "Hahaha..." sambil menepuk pahanya sendiri.
Dion benar-benar tertekan dengan ucapan Galih barusan, "Tai Lo!" umpatnya.
***
Hahaha... Sesuai Rencana, Dion dan Jodohnya akan muncul sebentar lagi...
Dan untuk Galih, ceritanya masih panjang...
__ADS_1
Nikmati Alurnya ya...
Semoga syuka... Love kalian banyak-banyak...