
HAPPY READING...
***
"Perutku seperti dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan..." AKIRA.
Mungkin tidak ada yang lebih bahagia di dunia ini selain apa yang baru saja Akira dengar.
Tubuhnya terasa melayang dan semakin jauh dari dataran. Perasaan yang Akira pendam selama ini, perasaan yang ia kira hanya dirasakan dirinya seorang diri ternyata tidak bertepuk sebelah tangan saja.
3 tahun Akira memendam perasaan pada Dean. Mencintai pria itu dalam diam dan tak berani untuk mengatakannya secara langsung. Itulah bodohnya Akira. Tapi yang tidak ia tau ternyata Dean juga merasakan perasaan yang sama terhadapnya.
Dean juga menyukai Akira bahkan sejak lama, tapi mereka tidak berani untuk mengungkapkannya secara terus terang.
Mereka sama-sama bersifat pengecut.
"Sekarang gue tidak ingin menjadi pengecut terlalu lama... gue suka sama Lo,Ra..." ucap Dean terdengar sangat tulus.
Apapun jawaban Akira nanti, di tolak ataupun di Terima, gue gak peduli... gue hanya ingin mengungkapkan perasaan gue padanya...
Gue gak mau jadi pengecut lagi...
Akira merasakan ada yang aneh dalam perutnya. Rasanya seperti banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitik di dalam sana.
"Lo mau jadi pacar gue?" tanya Dean.
Jika ada seorang yang mengatakan hal seserius itu, masih membuatmu biasa saja?
BODOH!
Tentu saja itu adalah kalimat paling indah bagi seorang perempuan, termasuk Akira.
Apakah ia senang? tentu saja.
Bahkan kalimat itu selalu Akira impikan sejak lama. Bisa di bilang kalau di balik status jomblo nya selama ini adalah karena Akira mengincar seseorang, Ya... pria itu adalah Dean.
Apa yang harus gue katakan? Kalau ditanya apa gue senang? tentu saja gue senang... Walaupun rasanya masih tidak menyangka kalau Dean juga sama-sama menyukai gue... batin Akira.
Dean masih menatap Akira untuk mendengar jawaban dari gadis itu. Mau kan? begitu sorot matanya bicara.
Seperti tersihir, Akira menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Detik selanjutnya, Dean merengkuh tubuh gadis di sampingnya dan memeluknya dengan erat.
"Terima kasih..." ucap Dean sangat bahagia.
Setelah puas berduaan di taman kota, Dean kembali berboncengan dengan Akira membelah jalanan Ibukota yang sangat macet oleh kendaraan. Apalagi sore ini bersamaan dengan jam pulang bekerja sehingga Dean melajukan motornya cukup pelan tidak seperti tadi.
__ADS_1
Sesekali tangan satu Dean sengaja menggenggam tangan Akira yang memeluk perutnya. Menggenggamnya sangat erat dan penuh kasih sayang.
Tuhan... biarkan aku merasakan mimpi ini cukup lama sebelum bangun dan menghadapi kenyataan yang sebenarnya... harap Akira.
Ia hanya berharap punya banyak waktu untuk tetap menjalin hubungan dengan Dean.
Walaupun harus membohongi orangtuanya dan juga orang tua Arjun.
***
Arjun mengendarai mobilnya dengan sangat tenang. Terjebak kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Arjun walaupun dia juga seringkali mengumpat karena hal itu.
Seperti sore ini, Jalanan di depannya juga sangat macet oleh kendaraan lain.
Untuk mengusir kepenatan, Arjun sengaja membuka kaca jendela di sampingnya dan menyalakan sebatang rokok.
Kepulan asap seketika mengepul memenuhi mobil itu dan sebagian keluar lewat celah jendela.
Saat kemacetan sudah mulai terurai, Arjun menginjak pedal gas lebih dalam tapi lagi-lagi ia terjebak karena lampu di perempatan berubah warna menjadi merah. Otomatis Arjun kembali menginjak rem dan berhenti.
Pandangannya terus menjelajahi sekitar, hingga tak sengaja Arjun melihat dari seberang jalan ada sepasang anak muda yang berboncengan menggunakan sepeda motor Sport. Seketika mata Arjun membulat karena hal itu. Akira? batinnya bicara.
Arjun yakin kalau gadis yang duduk di bangku belakang adalah Akira, istri pura-pura nya.
Mau kemana dia? batin Arjun penasaran karena Motor yang membawa Akira bukan melaju ke arah rumah mereka.
Belum sempat berpikir lagi, lampu telah berubah menjadi Hijau yang otomatis harus membuat Arjun segera melaju kembali.
Untung saja jalanan tidak se macet tadi sehingga Arjun bisa mengejar motor tadi. Apalagi motor yang membawa Akira tadi juga tidak terlalu kencang.
Akhirnya Arjun bisa membuntuti motor di depan sana.
Siapa dia? kenapa Akira memeluknya sangat erat seperti itu? batin Arjun bertanya-tanya.
Padahal Arjun bukanlah orang yang selalu ingin tau tentang orang lain, tapi entah kenapa hal itu tidak berlaku padanya saat ini. Rasa ke ingin tahuannya sangat tinggi kali ini.
Hingga 20 menit berlalu, motor di depannya masuk ke sebuah Kompleks perumahan yang sangat Familiar untuk Arjun. Ya... itu adalah kompleks perumahan Ayah Adam, ayah mertuanya.
Kenapa dia pulang kesini? batin Arjun semakin penasaran.
Arjun menghentikan mobilnya cukup jauh dari motor mereka. Tentu saja hal itu ia lakukan agar dirinya tidak ketahuan sedang membuntuti Akira.
"Sudah sampai..." ucap Dean kepada Akira.
Segera Akira turun dari motor dan berdiri di samping Dean untuk mengucapkan terima kasih.
"Kenapa berterima kasih? sudah sepantasnya bukan?" tanya Dean.
__ADS_1
"Oh iya... mulai sekarang bagaimana kalau kita pergi kuliah bersama?" tambah Dena menyarankan.
Berangkat bersama? tidak... batin Akira keberatan.
"Tidak usah... Aku tidak mau merepotkan mu Dean," tolak Akira. Padahal bukan itu alasannya menolak tawaran dari kekasihnya.
Akira hanya tidak mau ketahuan kalau sekarang dirinya tidak lagi tinggal bersama orangtuanya.
"Baiklah... Aku akan menjemputmu kalau kamu yang meminta..." ucap Dean sambil mengacak rambut Akira dengan gemasnya.
"Iihh..." rajuk Akira sebal di perlakukan seperti itu.
"Aku pulang ya..."
"Iya..." jawab Akira. Dan tiba-tiba Dean meraih pinggang gadis itu demi untuk mencium pipi Akira cukup lama hingga Akira yang tersadar langsung mendorong Dean.
"Kamu terkejut?" goda Dean tanpa bersalah sama sekali.
Apalagi saat ini pipi kekasihnya berubah merah seperti warna tomat yang sudah matang.
"Aku pulang ya..." ucap Dean serius.
Akira hanya mengangguk tanpa bersuara sama sekali karena dirinya masih syok dengan apa yang Dean lakukan tadi.
Motor Dean mulai melaju pergi. Meninggalkan Akira yang masih berdiri mematung.
Tangannya perlahan terangkat untuk menyentuh pipi yang tadi sempat di cium oleh Dean.
Apa ini mimpi? kenapa terasa sangat nyata? Bodoh! tadi itu nyata Akira... Dean benar-benar mencium mu... batin Akira meyakinkan diri.
Menggelengkan kepalanya sesaat, Akira langsung berjalan masuk ke rumah orangtuanya.
"Ayah..." panggil Akira dari ambang pintu rumahnya.
***
Di jalanan, tak henti-hentinya Dean tersenyum dengan apa yang telah terjadi tadi.
Bagaimana ia menggandeng tangan Akira sepanjang taman, dan juga di atas motor, serta yang baru saja terjadi tadi saat Dean mencium pipi kekasihnya.
Dean sangat bahagia.
Tuhan... Terima kasih untuk semuanya...
Ternyata mengungkapkan semuanya membuat hatiku terasa damai... lebih bahagianya lagi adalah perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan... Akira adalah cinta pertama bagiku dan Aku akan menjaganya sampai kapanpun...
Aku akan menjaga gadis itu...
__ADS_1
Setelah aku berhasil menjadi dokter, Aku akan mempersuntingnya dan menjadikannya istriku... batin Dean.
***