Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
39. Pulang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira dan Dean berkendara saat matahari benar-benar telah tenggelam sepenuhnya. Jalanan kota juga telah diterangi oleh lampu-lampu di sepanjang jalan untuk membantu pengendara berkendara di malam hari.


Sejak kejadian tadi ketika Dean hendak mencium Akira tapi di tolaknya, mereka terlihat sangat canggung. Lebih tepatnya Dean yang merasa sangat tidak enak dengan Akira.


Ada perasaan malu juga bersalah dalam dirinya.


"Maaf soal yang tadi..." ucap Akira. Bagaimanapun ia harus meminta maaf karena tak sengaja mendorong Dean tadi.


Apalagi dorongannya tadi terlihat begitu keras hingga tubuh Dean sedikit terhuyung ke belakang.


"Kenapa meminta maaf?" Dean balik bertanya.


Hal itu adalah wajar karena Akira tadi mengatakan kalau dirinya terkejut dengan perlakukan Dean yang tiba-tiba.


Dean sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja dia merasa apakah tingkahnya sangat keterlaluan kepada Akira. Apalagi mereka hanya sebatas pacaran, bahkan di belakang orangtuanya Akira.


"Kamu tidak marah Yan?" tanya Akira dengan polosnya.


"Tidak..." jawab Dean yakin.


"Terima kasih..." Akira melingkarkan tangannya memeluk pinggang Dean sepanjang jalan.


Di tengah perjalanan, Dean menepikan motornya di tepi jalan dimana ada sebuah pedagang kaki lima yang berdiri di atas trotoar jalanan kota.


"Kamu lapar kan?" tanya Dean sembari membuka helm.


Akira tidak bertingkah malu-malu sama sekali. Gadis itu mengangguk karena memang sejak siang belum makan nasi.


"Kita makan dulu..." ajak Dean menggandeng tangan Akira dan menuju ke pedangan yang ternyata menjual menu nasi goreng.


"Nasi gorengnya 2 pak..." teriak Dean kepada penjual.


"Siap!" jawab pedangan nasi goreng yang mungkin usianya seumuran dengan Ayah Adam.


Sambil menunggu pesanannya di buat, Akira duduk di samping Dean. Tentu saja tangan Dean tak lepas menggenggam tangan Akira di bawah meja.


Sebegitu sayangnya Dean kepada Akira.


Tentu saja Akira merasa bahagia di perlakukan seperti itu, apalagi inilah pertama kalinya Akira menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria.


Hari ini mungkin adalah definisi dari sebuah kencan. Menikmati suasana di Taman bunga berdua, berfoto dan juga makan bersama seperti sekarang, sudah sangat membuat pasangan muda-mudi itu bahagia.


"Silahkan makan..." ucap pedagang itu setelah meletakkan 2 piring nasi goreng di depan Akira dan Dean. Kepulan asap dan bau khas makanan itu langsung menguar dan membuat perut mereka benar-benar keroncongan.


"Ayo makan..." perintah Dean setelah meletakkan sendok di piring kekasihnya.

__ADS_1


Seketika Akira menyendok nasi goreng itu dan meniupnya agar mengurangi suhu panas dari makanan itu.


"Emm... enak," ucap Akira.


Sudah sangat lama ia tidak menikmati makanan di pinggir jalan seperti ini.


Ya... sejak dirinya menjadi menantu keluarga Pradipta, Akira belum pernah jajan di luar sama sekali.


"Habiskan," jawab Dean yang senang karena Akira tidak gengsi untuk makan bersamanya di pinggir jalan seperti ini.


Padahal banyak sekali gadis seusianya yang tidak mau di ajak makan di pinggir jalan. Mereka lebih suka di Restoran atau Cafe yang harganya tentu saja sangat mahal hanya untuk sepiring nasi goreng seperti ini.


Setelah selesai, Dean kembali mengantarkan Akira untuk pulang. Tentu saja inilah yang menjadi masalah bagi Akira.


Gadis itu kebingungan karena rumahnya bukan lagi seperti itu. Ya... kali ini Akira tentu saja pulang ke rumah Keluarga Pradipta.


Aduhh... cari alasan apa ini? Akira mencoba untuk berfikir tentang rencana yang akan ia gunakan untuk membohongi Dean.


"Yan, berhenti di dekat gapura saja..." pinta Akira tiba-tiba.


"Kenapa?" tentu saja Dean bingung dengan ucapan Akira barusan.


"Aku mau mampir di mini market samping gapura..." jawab Akira mencoba untuk meyakinkan Dean. Walaupun sebenarnya bukan itu tujuannya.


"Kita bisa mampir ke Minimarket dulu sebelum pulang..." jawab Dean memberi opsi pilihan yang lebih masuk akal kepada kekasihnya.


"Tidak,..." tolak Akira.


"Aku tidak mau kamu kerepotan... antarkan saja sampai di minimarket, nanti aku akan jalan kaki..."


Ayolah Dean... mengalah lah... ku mohon... Batin Akira.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dean memastikan. Walaupun jika harus menunggu Akira di minimarket sebentar juga tidak masalah untuknya.


"Iya tidak apa-apa... lagian tidak begitu jauh kok... itung-itung olahraga... karena kita habis makan makanan yang sedikit berminyak..." ucap Akira mencoba untuk mencari alasan yang lebih masuk akal.


Dean tersenyum karena pemikiran Akira yang jauh ke depan dengan memikirkan kesehatannya. "Baiklah kalau kamu memaksa..." ucap Dean pasrah.


Tentu saja Akira kegirangan karena alasannya membuat Dean menyerah.


"Terima kasih sayang..." ucap Akira.


Akhirnya Akira benar-benar turun dari motor Dean di depan minimarket yang bersebelahan dengan gapura untuk masuk ke perumahan tempat tinggal Ayah Adam.


"Hati-hati di jalan..." pinta Akira kepada Dean.


"Iya... aku akan menghubungimu nanti setelah sampai rumah," jawab Dean.


"Oke,"

__ADS_1


Setelah kepergian Dean dari sana, segera Akira memesan Taxi online untuk membawanya pulang ke rumah Keluarga Pradipta.


30 menit berlalu, Akira telah sampai di rumah keluarga saat ini.


Gawat... mobil Papi sudah ada disana... Batin Akira saat melihat mobil Ayah mertuanya telah terparkir di Carport bersama dengan mobil lain.


Dengan detak jantung yang menggila, Akira masuk ke rumah itu dan berusaha untuk terlihat tenang.


Di ruang tamu, kondisi rumah itu terlihat sepi. Akira terus berjalan ke dalam dan meniti anak tangga untuk menuju ke kamarnya.


Tapi baru menginjak 3 anak tangga, sebuah suara dari belakang membuat Akira terjingkat kaget.


"Akira..." ternyata Mami Livia yang memanggilnya itu.


Akira terdiam dan membalikkan tubuh,


"Kamu baru pulang?" tanya wanita paruh baya yang entah dari mana datangnya tiba-tiba berjalan mendekati Akira.


Tentu saja hal itu membuat Akira gugup.


Aduh... alasan bagaimana ini? batin Akira ketakutan. Tidak mungkin dia bilang kalau dari rumah Ayah, mungkin saja Mami Livia menelpon Ayah Adam untuk memastikannya.


"Iya Mi... Akira berada di toko buku sejak sore..." jawab Akira berbohong.


"Oh," hanya itu tanggapan Mami Livia.


"Cepatlah mandi dan makan..." perintah nya lagi.


"Akira sudah makan tadi..." tolak Akira. Beberapa menit yang lalu dirinya benar-benar telah mengisi perutnya dengan sepiring nasi goreng.


"Begitu? ya sudah... mandi dan istrirahat lah... kamu pasti begitu lelah belajar..."


Akira tersenyum dan mengangguk dengan ucapan Mami Livia. "Akira naik dulu Mi..." ucapnya meminta ijin.


"Iya..."


Akira kembali menaiki anak tangga dengan menghela nafasnya lega. Syukur lah... Mami tidak bertanya aneh-aneh... ucap Akira dalam hati.


Di dalam kamar, Akira langsung pergi mandi dan berendam sesaat untuk menghilangkan rasa penatnya.


Akira langsung memakai piyama tidur karena tidak berniat untuk turun setelah mandi.


Akira akan berada di kamar mengerjakan tugas-tugasnya dan belajar.


Ya... Akira harus belajar agar nilai kuliahnya baik.


Dengan sibuk menatap Laptop, Akira duduk sambil mencatat apa yang perlu dicatatnya dalam buku.


"Dia belum pulang?" gumam Akira pelan. Sudah jam 8 malam tapi Arjun masih tidak nampak batang hidungnya.

__ADS_1


***


Hello... Jangan lupa Like dan komentar banyak-banyak ya...


__ADS_2