
HAPPY READING...
***
Akira hanya berdiam di samping suaminya tanpa mengatakan apapun karena memang disini tidak ada satupun orang yang di kenalnya. Sedikit jenuh memang, apalagi Arjun kerapkali berbincang dengan teman ataupun rekan kerjanya. Bahkan tak sedikit pula para kolega Papi Johan karena Arjun datang kesini mewakili ayahnya.
Terkadang Akira hanya ikut tersenyum walaupun ia tidak paham apa yang sedang di bicarakan oleh suaminya tersebut.
"Hufft..." Akira menghela nafasnya.
Akira kira tidak ada yang mendengar helaan nafasnya, nyatanya Arjun langsung mengalihkan pandangannya demi untuk mengamati sang istri. Arjun tau kalau Akira sama sekali tidak menikmati pesta malam ini.
Tanpa ragu sama sekali, tangan Arjun terulur dan menggenggam erat tangan Akira di bawah meja. Sorot mata pria itu juga berkata kalau, sebentar lagi kita pulang. Ya... itulah yang Akira tangkap dari perlakuan Arjun.
Lantunan musik Jazz mengiringi pesta atau bisa dikatakan sebagai bentuk pertemuan antar orang berpengaruh di negara ini.
Akira terus mengedarkan pandangannya ke arah lain. Tak tau apa yang sedang di carinya, tapi Akira hanya ingin melihat para tamu seolah sedang mengabsen kedatangan mereka.
Aku bosan... keluhnya lagi.
Andai saja ada satu orang yang ia kenal di tempat ini, tentu saja akan sedikit mengurangi rasa bosannya. Tapi hal itu mustahil karena Akira memang bukan berasal dari orang yang berada seperti keluarga Arjun.
Lingkup pertemanan Akira juga sangat sempit. Bahkan di SMA dulu pun, Akira bukan lah gadis yang bisa bergaul dengan siapa saja.
Hanya Tiara satu-satunya temannya.
"Baiklah, saya kesana dulu..." ucap lawan bicara Arjun mengakhiri percakapan mereka.
"Iya Om..." jawab Arjun kepada pria bertubuh tinggi yang usianya mungkin sepantaran dengan Papi Johan.
Sekarang tinggal lah Akira dan Arjun yang duduk di kursi yang sejak tadi mereka duduki.
"Kamu pasti bosan kan?" tanya Arjun lembut. Bahkan tangannya dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi kening Akira.
"Aku ingin ke kamar mandi..." ucap Akira. Selain bosan gadis itu menahan untuk buang air kecil.
Akira tidak bisa pergi ke toilet sendirian bukan? bisa kesasar nanti.
"Ayo, aku antar..." saran Arjun.
Mereka pun bangkit dari tempat duduknya. Selama menuju ke toilet, Arjun benar-benar menggenggam tangan istrinya untuk menunjukkan kepada semua orang kalau gadis itu adalah milik Arjun seorang.
"Bro, mau kemana?" teriak Dion kepada Arjun.
"Toilet..." jawab Arjun singkat. Sedangkan Akira hanya menundukkan kepalanya singkat.
Sampai di toilet, Akira masuk sorang diri sedangkan Arjun berdiri di depan menunggu. Bagaimanapun Arjun tidak bisa masuk ke dalam toilet wanita walaupun sebenarnya ia ingin menemani sangat istri.
Menunggu Akira, Arjun menghidupkan sebatang rokok yang memang selalu dibawa kemanapun Arjun pergi. Seketika asap rokok mengepul ke udara.
Di dalam toilet, Akira benar-benar leluasa untuk mengeluarkan apa yang sudah ditahannya sejak tadi.
Akira keluar dengan kerepotan karena gaun yang melekat di tubuhnya saat ini. Akira tidak terbiasa mengenakan gaun panjang seperti di tambah dengan Heels yang cukup tinggi, benar-benar merepotkan.
Akira mencuci tangannya sambil mengamati riasan wajahnya di cermin.
"Maaf, apa anda punya tissue wajah?" tanya seseorang yang tiba-tiba keluar dari salah satu bilik.
"Iya," jawab Akira. Di dalam tasnya, Akira selalu sedia tissue wajah untuk berjaga-jaga.
"Terima kasih," ucap wanita bergaun merah maroon dengan sopan.
Dengan telaten, wanita di samping Akira memperbaiki riasan wajahnya.
__ADS_1
"Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya... apa temannya Maya?"
Maya adalah istri dari Danu, pasangan yang sedang mengadakan acara syukuran malam ini.
"Oh tidak... aku datang untuk menemani suamiku..." jawab Akira dengan sungkan.
"Oh..."
Mereka tak lagi berbicara karena memang tidak saling mengenal.
Sesuai dengan pengamatan Akira, wanita di sampingnya sangat anggun. Ia yakin kalau wanita itu adalah putri konglomerat sama seperti Arjun.
"Baiklah, saya duluan..." pamit Akira.
"Oh iya.. silahkan, Terima kasih untuk tissue nya..." ucap wanita itu.
Sedangkan Akira hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Sama seperti yang di perlihatkan kepada semua orang.
Baru melangkah keluar, Akira sudah mendapati suaminya yang sedang merokok.
"Sudah?" tanya pria itu memastikan.
"Hm," jawab Akira.
"Bicara sama siapa tadi?" Ya, Arjun sempat mendengar Akira terlibat pembicaraan dengan seseorang di dalam sana.
"Oh, tadi ada wanita yang meminta tissue wajah padaku..." jawab Akira santai.
Arjun mengangguk paham.
"Jangan merokok..." pinta Akira. Bagaimanapun merokok tidak baik untuk kesehatan. Dan seperti yang Akira lihat, suaminya itu memang kerap kali merokok di manapun berada.
"Nanti aku coba menguranginya..." jawab Arjun. Rokok memang bagai candu bagi penikmatnya. Semua orang akan kesulitan untuk meninggalkan benda bernikotin itu, termasuk Arjun.
Terkadang Arjun juga takut saat melihat pemberitaan tentang penyakit yang di derita oleh si perokok, tapi hal itu di abaikannya.
Arjun menginjak puntung rokok yang masih tersisa setengah. Lalu hendak melangkah pergi.
Tapi baru beberapa langkah, seseorang di belakang sana memanggil Arjun.
"Arjun?"
Hingga seketika membuat Akira dan Arjun berhenti. Mereka sama-sama memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang sedang memanggilnya tersebut.
Dia? batin Arjun terkejut. Sedangkan Akira terlihat biasa saja karena wanita yang baru saja memanggil suaminya adalah wanita sama yang Akira temui di toilet tadi. Wanita yang meminta tissue wajah kepadanya.
Wanita bergaun merah itu berjalan mendekati Arjun dan Akira, Arjun otomatis menggenggam tangan istrinya dengan banyak pikiran di dalam kepala.
"Jadi dia istrimu?" tanya wanita itu.
Yang membuat Akira sedikit tersentak kaget adalah cara pandang wanita di depannya yang terlihat berbeda dari saat mereka di dalam toilet. Kali ini pandangan wanita itu tidak ramah seperti tadi.
"Seperti yang terlihat..." jawab Arjun dengan nada datar.
Wanita di depan saja tersenyum tapi bukan senyum kebahagiaan, tapi senyum seolah mengejek dan merendahkan seseorang.
"Ck...".
Siapa dia? kenapa dia menatapku seperti itu? tentu saja Akira kebingungan di tatap oleh orang tak di kenalnya seperti itu.
Arjun berusaha untuk membawa Akira pergi dari sana. Ia tau siapa yang yang sedang di hadapinya saat ini. Arjun tak mau Akira sakit hati dengan kemungkinan yang akan dikatakan oleh wanita tersebut.
Dan benar saja saat kembali berjalan, wanita di belakang sana bersuara... "Apa begitu tipe wanita ideal mu? Ck..." bahkan terdengar umpatan di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Arjun tidak bersuara lebih tepatnya tidak meladeni apa yang dikatakan wanita itu, sedangkan Akira hanya terdiam sambil menerka-nerka apa yang tengah terjadi. Ia tau kalau saat ini wanita itu sedang meledeknya.
"Siapa dia?" tanya Akira tepat di pintu ruangan pesta. Arjun langsung berhenti melangkah.
"Bukan siapa-siapa, Ayo kita masuk..." ajaknya.
Entah kenapa hati Akira sedikit kecewa tau kalau Arjun menyembunyikan sesuatu darinya.
Padahal tadi wanita itu jelas-jelas meledek dirinya, tapi Arjun sama sekali tidak membela Akira.
Hati istri mana yang tak terluka? seperti itulah yang Akira rasakan saat ini.
Pasangan suami istri itu kembali duduk di kursi yang di duduki sejak awal kedatangan mereka.
"Mau aku ambilkan minum?" tanya Arjun sambil mengamati perubahan wajah istrinya yang sedikit cemberut.
"Boleh," jawab Akira.
Arjun langsung meninggalkan tempat duduknya untuk mengambil minum untuk sang istri yang memang letaknya cukup jauh.
Tapi siapa sangka kalau ternyata saat Arjun hendak kembali, ada rekan bisnisnya yang mau tak mau harus Arjun ajak berbincang sebentar.
"Bagaimana kabarmu Tuan Arjun?" tanya rekan bisnis Arjun.
"Baik," jawab Arjun sambil mengamati istrinya dari kejauhan yang duduk seorang diri.
"Anda datang dengan istri?" tanya kawan bicara Arjun yang ikut melihat kemana arah mata Arjun saat ini.
"Iya, itu istriku..." jawab Arjun menunjuk pada wanita bergaun biru yang duduk seorang diri.
"Anda benar-benar pandai memilih istri...".
Arjun hanya tersenyum dengan pujian yang diberikan oleh lawan bicaranya. Walaupun pada kenyataannya Arjun sempat menolak kehadiran Akira dalam hidupnya. Tapi lambat laun ia mulai menerima gadis itu sebagai istrinya.
Beda lagi di tempat Akira duduk.
Sesekali Akira melihat Arjun yang sedang berbicara dengan seseorang, Apa semua orang mengenal Arjun? kenapa malah dia yang terlihat sibuk berbincang dengan para tamu?
Padahal Akira mengharapkan Arjun tetap berada di dekatnya karena ia tidak mengenal siapapun disini.
Juga dengan keluarga Pradipta yang lain, entah kenapa mereka tidak menemani ataupun mengajak Akira berbincang-bincang.
Aku ingin pulang... gumam Akira frustasi.
Tapi menit berikutnya, seorang yang berseragam seperti pegawai Hotel mendekati Akira, "Nona Arjun Pradipta?"
"Iya, saya..." jawab Akira dengan yakin.
"Anda di minta ke taman, samping gedung..." ucap pria itu menjelaskan.
"Saya?" tentu saja Akira bingung. Siapa yang memintanya untuk ke taman?
"Mari saya antar Nona..."
Walaupun masih ragu, Akira terpaksa bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana pegawai hotel itu berjalan.
Akira mulai meninggalkan ruang pesta.
Tapi semua itu tak sengaja di lihat oleh Galih. "Nona Akira? mau kemana dia?" hingga membuat Galih bertanya-tanya. Apalagi ia melihat Arjun sedang berbincang-bincang dengan seseorang di tempat berbeda.
***
2 Part untuk hari ini, Ayo bilang apa? hehehe
__ADS_1