
Happy Reading...
***
Akira tiba di kediaman keluarga Pradipta saat matahari hendak tenggelam. Sambil mengedarkan pandangannya, Akira mempercepat langkahnya agar segera tiba di kamarnya.
Walaupun sudah meminta ijin pada Mami Livia tadi, tapi Akira merasa bersalah karena pulang di jam segini.
Apalagi di tangannya sibuk membawa beberapa Paper bag hasil buruannya di Mall tadi. Dan mungkin ini adalah hasil shoping paling banyak seumur hidup Akira.
Setelah sampai di kamar dan menutup kembali pintu itu, Akira baru bisa menghela nafasnya lega. Untung saja tidak ada orang... batinnya merasa puas.
Akira meletakkan Paper bag di ruang ganti pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tiba-tiba terlintas di kepala Akira, Sepertinya berendam akan menyegarkan...
Berendam adalah hal paling mengasyikkan setelah seharian berkeliling Mall. Akira segera mengisi Bath up dengan air hangat dan sedikit aroma terapi.
"Agghhh... segarnya..." gumamnya pelan saat tubuh Akira yang tanpa busana masuk ke dalam Bath up yang telah terisi air.
Gue akan berendam lama disini... Apalagi Arjun selalu pulang saat larut malam... jadi bisa bebas tanpa gangguan...
Akira memejamkan mata menikmati hangatnya air yang seolah membuat otot tubuhnya menjadi sangat rileks dan nyaman. Bahkan tak terasa gadis itu memejamkan matanya.
Di lain tempat.
Arjun sedang berada di parkiran kantor saat sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel miliknya.
Ini adalah pertama kalinya dia memakai kartu kredit pemberianku...
Belum sempat memutar kunci mobilnya, sebuah notifikasi kembali masuk, tentu saja Arjun langsung membacanya.
Lagi? Pasti dia sedang shoping... gue akan mengerjainya! batin Arjun kegirangan.
Secepat kilat, Arjun melajukan mobil meninggalkan gedung Pradipta Group dan beradu dengan kendaraan lain di jalanan.
Baru beberapa menit, Mobil Arjun telah terjebak kemacetan hingga membuatnya mengumpat beberapa kali. Shiitt! kapan sih Ibukota terhindar dari kemacetan? tanyanya pada diri sendiri.
Di tengah jalan,
Pria itu terlihat sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang.
"Lain kali saja... gue ada urusan penting malam ini, " jawab Arjun.
"Urusan penting apa? dapat jatah dari istri Lo?" goda suara seorang pria di seberang sana yang tak lain adalah Dion, sahabatnya.
Sama seperti biasa, Dion mengajak Arjun untuk bertemu di Klub Malam setelah selesai bekerja.
Seperti itulah kebiasaan mereka setiap malam.
Tapi bedanya, malam ini Arjun menolak dengan segala alasan.
"Ck... b*ngke Lo!" umpat Arjun.
__ADS_1
Walaupun Arjun sudah memberitahu sahabatnya tentang pernikahannya, tapi Dion tetap saja meledeknya seolah Arjun mencintai Akira seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
"Lo gak penasaran gitu sama rasa ikan yang berada di dekat Lo?" tanya Dion penasaran.
Ibaratnya Arjuna adalah seekor kucing yang tentu saja akan memakan ikan yang berada di dekatnya walaupun dalam keadaan kenyang.
Bukan hanya mereka tinggal dalam 1 rumah yang sama, Arjun dan Akira berdasarkan dalam kamar yang sama juga.
"Lo mau kehilangan mulut Lo saat ini juga?" ancam Arjun kesal dengan tingkah Dion.
Bukannya takut, Dion malah terdengar tertawa kencang.
"Gue ingin lihat lo berlutut di bawah gadis itu..." ucap Dion tanpa dipikir lebih dulu.
"Ck... tidak akan!" jawab Arjun yakin. Ia yakin tidak akan pernah mempunyai perasaan terhadap istrinya.
Karena tipe ideal Arjun bukanlah gadis pendek juga jelek seperti Akira.
"Udah ya... gue udah sampai rumah ini," ucap Arjun berniat untuk mematikan teleponnya.
"Lo yakin tidak datang kesini?" tanya Dion meyakinkan.
"Hm,"
"Baiklah kalau gitu..."
"Have Fun... jangan lupa pakai pengaman... hehehe" gurau Arjun dan langsung memutus sambungan teleponnya sepihak.
Arjun memarkirkan mobil di Carport kediaman Pradipta dan turun sambil membawa tas kerja di tangan kirinya.
Arjun masuk ke dalam rumah dengan rasa penasaran.
"Selamat datang Tuan Muda..." seorang pelayan itu datang menyambut kedatangan Arjun.
"Papi pergi?" tanya Arjun sambil berjalan semakin masuk ke dalam rumah.
"Iya Tuan, Tuan besar pergi bersama Nyonya..." lapor pelayan sesuai dengan instruksi yang diberikan Papi Johan sebelum pergi tadi sore.
"Akira?"
Arjun bahkan menghentikan langkahnya demi mendapat jawaban dari pelayan.
Eh...
"Nona muda sudah ada di kamar," jawab pelayan.
"Apa dia pergi hari ini?" tanya Arjun lagi.
Tuan muda bertanya banyak tentang Nona? pelayan itu penasaran. Karena yang terlihat beberapa hari terakhir, Arjun sama sekali tidak pernah bertanya tentang istrinya walaupun dia pulang sampai larut malam.
"Iya Tuan... Nona muda pergi bertemu dengan seseorang,"
"Laki-laki?" tanya Arjun.
Pelayan di depannya tentu saja terkejut dengan pertanyaan Arjun barusan.
__ADS_1
"Ahhh... lupakan," jawab Arjun setelah tersadar dengan apa yang baru saja ia tanyakan.
Segera Arjun melangkah meninggalkan pelayan itu dan menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya.
Kenapa gue bertanya seperti itu? lagian bukan urusanku bukan dia pergi dengan siapa?
Arjun menyentuh gagang pintu dan sedikit mendorongnya, eh tidak di kunci...
Dengan langkah hati-hati, Arjun masuk ke kamar dan tak lupa menutup pintu itu lagi.
Matanya terus mengamati sekitar, Dimana dia?
Karena kamar ini terlihat kosong. Biasanya saat Arjun pulang, ada seorang gadis tidur meringkuk di atas sofa. Tapi saat ini tidak ada.
Sambil mengendorkan dasi yang melingkar di lehernya, Arjun berjalan ke arah balkon. Kali aja gadis yang di carinya sedang berada di sana.
Arjun menyibak tirai yang membatasi balkon dengan kamar, tapi di sana juga terlihat kosong.
Kemana dia? batinnya bertanya-tanya.
Masih penasaran, Arjun kembali masuk ke dalam kamar. Tak sengaja matanya menangkap ponsel yang cukup familiar baginya, Itu ponsel miliknya akan? berarti dia tidak pergi...
Arjun tidak berputus asa sampai disitu saja. Ia terus mencari keberadaan Akira bahkan sampai masuk ke dalam ruang ganti pakaian. Tapi gadis yang dicarinya juga tidak ada di dalam sana.
"Kemana sih dia?" gumam Arjun kesal karena tidak mampu menemukan keberadaan Akira.
Saat Arjun merasa sudah putus asa, tak sengaja matanya menatap ke arah sebuah pintu yang belum di periksa sejak tadi.
Ya... pintu kamar mandi.
Dengan langkah perlahan, Arjun mendekati pintu itu. Berdiri di depan bersiap untuk mengetuk.
"AKIRA..." panggil Arjun sambil menggedor pintu kaca tersebut.
Arjun terus menggedor nya karena pintu kamar mandi itu terkunci dari dalam yang otomatis memang ada seseorang yang berada di dalam sana. Tapi anehnya, tidak ada suara yang tercipta sehingga membuat Arjun khawatir.
Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis di dalam sana.
"Akira! buka pintunya..." teriak Arjun lagi.
Perasaannya semakin campur aduk. Jangan-jangan dia bunuh diri... begitu hatinya menduga-duga.
"Akira..." panggil Arjun kesekian kalinya.
Rasa khawatir Arjun hilang seketika saat sebuah sautan terdengar dari dalam kamar mandi, "SEBENTAR!" teriak Akira yang mampu di dengar oleh Arjun.
10 menit berlalu, pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka dengan menampakkan gadis berambut sebahu hanya mengenakan jubah mandi.
"Apa yang Lo lakuin di dalam sana?" tanya Arjun dengan nada tidak bersahabat sama sekali.
Gue benar-benar gila... kenapa tertidur di kamar mandi sih? batin Akira kebingungan.
"Jangan bilang kalau Lo tidur di kamar mandi!" ucap Arjun hingga membuat Akira tak bisa berkata-kata karena apa yang dikatakan oleh Arjun barusan adalah sebuah kebenaran.
"Ck... senyaman itu kamar mandi hingga membuat mu tertidur?" cerca Arjun dengan kelakuan aneh dari Akira.
__ADS_1
***