Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
82. Maafkan Aku.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Matahari mulai terlihat mengintip dari ufuk timur. Udara juga berubah menjadi sedikit hangat dengan cabang pohon yang di goyangkan oleh angin pagi.


Suara kicauan burung terdengar bersaut-sautan seperti menyanyikan sebuah lagu yang sangat merdu.


Di kediaman Pradipta, pelayan laki-laki sedang menyapu membersihkan halaman dan ada juga yang memotong tanaman yang telah meninggi.


Di dalam rumah juga terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Tapi beda dengan salah stau kamar di lantai 2 rumah mewah tersebut.


Di kamar itu, tirai kamar masih tertutup rapat.


Ruangan kamar itu juga terlihat remang karena hanya ada lampu kecil di atas nakas yang masih menyala sejak semalam.


Dari ranjang dengan ukuran besar, seorang pria tengah tertidur sendirian dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Sedangkan di sisi lain ranjang, Akira tengah tertidur dengan posisi duduk. Tangannya erat menggenggam tangan Arjun seolah tak mau kehilangan pria itu walau untuk sedetik.


Mungkin semalam adalah malam paling melelahkan bagi Akira. Ya... semalam penuh Akira tidak bisa tidur nyenyak karena harus menjaga Arjun yang tengah sakit.


Suhu tubuh Arjun benar-benar panas dan pria itu beberapa kali mengigau. Tentu saja Akira sebagai istrinya, menjaga Arjun dan mengkompres kening suaminya dengan kain yang di basahi menggunakan air.


Akira baru bisa benar-benar tidur saat dini hari. Saat dirasa suhu tubuh Arjun telah kembali normal.


Jam sudah menunjuk ke angka 8 pagi. Sudah sangat kesiangan memang, tapi Akira tidak menyadari akan hal itu. Sudah dapat di pastikan kalau Akira akan kembali ijin kuliah untuk hari ini. Apalagi saat ini, Akira masih terlelap tanpa menyadari sinar matahari yang menembus masuk bahkan sampai mengenai punggungnya.


Arjun yang pertama bangun. Menggeliat kan tubuhnya yang benar-benar terasa berat dan sedikit kaku.


Apa yang terjadi? tentu saja Arjun tidak terlalu ingat apa yang terjadi tadi malam. Tapi melihat istrinya yang tertidur dengan posisi seperti sekarang juga dengan baskom berisi air, Arjun mulai mengurai apa yang telah terjadi semalam.


"Agghh sial!" gumamnya pelan.


Otak Arjun benar-benar telah bekerja secara normal. Nyatanya ia mulai ingat dengan janji-janji semalam. Shitt! kenapa gue harus sakit sih... gagal kan semuanya...


Mengutuk dirinya sendiri, hanya itu yang bisa Arjun lakukan saat ini.


Tangan Arjun terulur untuk menyentuh pucuk kepala istrinya. Entah kenapa Arjun benar-benar tertarik dengan gadis di sampingnya itu. Gadis yang sudah 2 kali merawat dirinya ketika sakit.


Gadis yang selalu mengajaknya berdebat di hari-hari pertama menikah. Gadis yang mengatainya playboy tua di hari menjelang pertunangan. Gadis yang menertawainya saat di taman bunga dulu. Arjun sangat ingat akan hal itu. Dan sekarang... alasan itulah yang membuatkan Arjun tersenyum.


"Terima kasih... dan maaf..." ucap Arjun lagi. Terima kasih karena telah merawat dirinya yang sakit, sedangkan maaf entah apa maksudnya. Arjun tak tau tapi kata maaf darinya telah mencakup semua hal yang pernah ia lakukan pada Akira selama ini.


Karena belaian Arjun yang lembut di kepala Akira, membuat Gadis itu menggeliat bangun.


"Hooaamm..." tentu saja ia menguap karena tidurnya masih kurang dari biasanya.


Belum sepenuhnya membuka mata, Akira terkejut melihat Arjun yang telah terbangun.


"Arjun?".


Tangan Akira langsung terulur menyentuh kening suaminya. "Demamnya sudah turun," ucap Akira pelan tapi masih mampu di dengar oleh Arjun.

__ADS_1


Akira hendak beranjak membereskan baskom, tapi segera Arjun mencegahnya "Mau kemana?" tanya pria itu dengan lembut.


"Disini saja...",


Mau menolak gimana lagi kalau Arjun sudah mengatakan hal itu. Akhirnya Akira kembali duduk di tepi ranjang sesuai keinginan suaminya.


"Maaf," ucap Arjun lagi.


Tadi ia hanya meminta maaf saat Akira belum bangun, dan sekarang Arjun mengulanginya saat Akira telah bangun.


"Untuk?"


"Semuanya..." jawab Arjun. Dengan tangannya, Arjun meminta Akira untuk ikut merebahkan diri di sampingnya.


"Maaf karena telah merepotkan mu semalam, maaf karena aku sakit...".


Sedangkan Akira yang mendengar ucapan Arjun langsung tersenyum aneh, "Memang sakit bisa di rencanakan?".


Tentu saja Akira maupun Arjun tidak dapat merencanakan untuk sakit.


Akira teringat dengan percakapannya dengan Mami Livia tadi malam.


Seharusnya masih ada 2 hari yang bisa Arjun gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Papi Johan. Tapi demi bisa segera pulang dan melihat istrinya, 2 hari penuh Arjun berusaha untuk menyelesaikan semuanya.


"Arjun pulang lebih awal karena ingin segera bertemu denganmu sayang..." ucap Mami Livia.


Mungkin itulah sebabnya Arjun sakit. Pria itu kelelahan karena bekerja hingga larut-larut. Di tambah dengan porsi tidur yang sangat kurang. Semua orang juga akan sakit jika mengalami hal seperti itu.


"Kenapa merepotkan ku? apa aku tidak di anggap sebagai istri?" goda Akira.


"Kamu memang istriku yang terbaik," ucap Arjun sambil menghujani pipi istrinya dengan ciuman yang bertubi-tubi.


Hal itu tentu saja membuat Akira merasa geli dengan perlakuan Arjun. Apalagi di wajah suaminya tumbuh kumis tipis.


"haha... stop sayang! geli..." Akira tentu saja berontak sekuat tenaga.


Sesekali ia menutup mulut suaminya yang ingin nyosor terus.


"Yah, semalam gagal..." keluh Arjun.


Kali ini dengan menampakkan wajah cemberutnya.


Andai saja ia tidak demam, mungkin saat ini Akira terbangun dengan wajah memerah karena malu.


"Hahaha... syukurlah..." goda Akira. Bahkan langsung membuat Arjun mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Akira.


"Syukur?"


"Iya... aku tidak jadi kehilangan mahkotaku," jawab Akira dengan tawa jumawa.


Tentu saja hal itu membuat Arjun tak suka. Hal itu sudah dinantikan sejak lama.


"Mana bisa begitu?" protesnya. Jika malam tadi gagal, masih ada malam-malam berikutnya bukan? itulah yang ada di kepala Arjun.

__ADS_1


Mana bisa ia melupakan hal mengasyikkan begitu saja. Bahkan Arjun sudah menahan diri untuk tidak menyentuh wanita lain hampir 6 bulan lamanya.


"Ayo sekarang saja," ucap Arjun antusias.


"Hahaha..." sedangkan Akira malah tertawa. Ucapan dari suaminya sudah seperti lelucon saja.


"Kamu sakit sayang, jadi istirahatlah dulu..." ucap Akira sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu.


"Aku sudah sehat kok," seketika Arjun duduk. Memperlihatkan otot di lengannya meyakinkan Akira kalau dirinya baik-baik saja.


Sedangkan Akira semakin tertawa keras. Lucu sekali melihat Arjun yang terlihat konyol seperti itu.


Entah kenapa aku semakin suka melihatmu bertingkah konyol seperti itu... hahaha... Arjun, hanya kamu yang bisa membuat diriku nyaman... batin Akira.


"Tidak mau! gara-gara kamu, aku kembali membolos hari ini..." goda Akira.


"Sayang..." pinta Arjun mengiba. Padahal ia sudah mengharapkan Akira tidur bersamanya malam tadi.


"Bantu aku dulu, nanti aku akan menepati janjiku..." entah sejak kapan Akira mempunyai ide licik kepada suaminya.


Kapan lagi aku bisa membalas mu kalau bukan seperti ini? hehehe


"Bantu apa?" tanya Arjun penasaran. Bahkan menatap Akira dengan penuh tanda tanya.


"Bulan depan aku ada ujian menyuntik...-"


"Lalu? kamu tidak berniat menggunakan diriku sebagai kelinci percobaan bukan?" sela Arjun pada ucapan Akira yang bahkan belum selesai sama sekali.


Gawat! apa dia akan menggunakan tubuhku untuk prakteknya? batin Arjun ketakutan.


Sedangkan Akira hanya nyengir mendengar ucapan Arjun tadi. Heheh... kenapa dia peka sekali sih?


"Tidak sayang! kamu tidak bisa melakukan hal kejam seperti itu padaku..." tolak Arjun.


"Kenapa? kamu tidak mau membantu istrimu?" tanya Akira kesal.


Siapa lagi yanga kan membantunya kalau bukan Arjun. Karena hanya Arjun lah yang paham tentang masalah tersebut.


"Padahal kamu berniat m*niduri ku, merampas mahkotaku, kenapa tidak mau membantuku?" tanya Akira.


Ck... belajar darimana dia sampai mengucapkan kalimat vulg*r seperti itu? Heran sendiri Arjun mendengar ucapan Akira.


M*nidurinya? kenapa ucapannya seolah Aku seperti pria hidung belang sih?


"Tapi kan-?" Arjun tidak bisa menjawab apapun.


"Gimana? mau tidak? bantu aku lulus dari praktek menyuntik... sebagai imbalannya, aku mau menyerahkan semuanya padamu..." ucap Akira yakin.


Apa ini sebuah perjanjian?


Arjun tergoda dengan tawaran Akira, tapi konsekuensi nya begitu berat. Arjun sudah ngeri membayangkan kalau tangannya di pakai praktek oleh calon Perawat tersebut.


***

__ADS_1


Hahaha... Rasain tuh Arjun!


kena karmanya kan? Makanya jangan sering menggoda Akira...


__ADS_2