Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
136. Hubungan Ayah dan Anak.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Jangan pernah ungkit-ungkit masa lalu seseorang. Ingatlah! bahwa Kupu-kupu pernah menjadi sesuatu yang menjijikkan sebelum menjadi Indah".


---


Pagi hari, suasana kamar di salah satu unit Apartemen masih terlihat gelap karena seluruh tirai masih tertutup rapat. Hanya ada lampu kecil di anat nakas yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di tempat itu.


Terdengar beberapa kendaraan membunyikan klakson karena di depan Apartemen itu adalah jalan raya. Dan saat ini sudah waktunya untuk seseorang berangkat bekerja untuk menambah pundi-pundi keuangan.


Tapi beda dengan seseorang yang sedang asyik tidur di ranjang. Membalut tubuhnya dengan selimut tebal berwarna abu-abu.


Beda dengan orang-orang yang telah bersiap mengais rezeki di luaran sana, ini adalah waktunya pria itu meluruskan punggungnya dan bermalas-malasan. Ya ini adalah hari kedua baginya untuk istirahat sebelum bekerja kembali pada Perusahaan raksasa bernama Pradipta Group. Dia adalah Galih, asisten pribadi Arjun.


Beruntung sekali dirinya bekerja di Perusahaan tersebut. Setelah puas berkeliling Eropa selama 12 hari, masih ada waktu 2 hari baginya untuk beristirahat sebelum kembali bekerja.


Dan Galih tidak menyia-nyiakan waktu 2 harinya untuk memanjakan diri.


Tidur sepuasnya seperti seekor beruang yang tengah berhibernasi.


Sejak kemarin, Galih benar-benar hanya berdiam diri di dalam rumah tanpa melakukan aktifitas apapun. Dan hari ini pria itu berencana untuk menjenguk orangtuanya dan Bella.


Ya... inilah janji Galih kepada Bella sebelum berangkat ke Eropa waktu itu.


"Hooaammm..."


Galih menggeliat dan berguling di atas ranjang ukuran besar miliknya.


Merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum benar-benar bangun dan membuka mata.


"Jam berapa sekarang?" gumamnya pelan sambil melirik jam digital kecil di nakas.


Jam 9... cukup lama juga gue tidur tadi...


Kembali ke Indonesia, tak membuat Galih melupakan tempat nongkrongnya. Ya semalam ia mendatangi Klub malam yang biasa di kunjungi dengan Arjun dan Dion selama ini.


Tapi bedanya tadi malam Galih hanya datang sendirian karena Arjun sedang tidak enak badan sedangkan Dion mungkin saja masih dalam perjalanan dari London.


Dengan bertelanjang dada, Galih duduk dan mengucek matanya berulang kali.


Tubuhku benar-benar lelah dan sakit...


Galih bangkit dan membuka tirai kamarnya. Mengamati pemandangan di depan sana yang sudah ramai oleh kendaraan.


Setelahnya berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


20 menit berlalu, Galih keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja. Mengambil pakaian ganti dan menggantinya di kamar juga.


Karena tinggal sendirian, Galih tak perlu merasa malu untuk melakukan hal itu. Beda lagi kalau Bella sedang menginap disini.


Galih lebih dulu mengunci pintu kamarnya saat beraktifitas pagi.

__ADS_1


Walaupun sebenarnya Galih merasa malas untuk kembali pulang, tapi mau bagaimana lagi karena ia telah berjanji pada Bella.


Sejak kejadian dulu di masa lalu, hubungan Galih dengan ayahnya memang sedikit merenggang. Bukan bertengkar, hanya saja Galih tak lagi seakrab dulu dengan ayahnya.


Galih telah siap, dengan membawa beberapa Paperbag di kedua tangannya Galih mulai meninggalkan Apartemen menuju ke mobil.


Dan pagi ini, ia benar-benar kembali pulang.


***


"Ibu... kakak pulang," teriak Bella menjadi satu-satunya suara yang tercipta dari rumah sederhana yang berada di pinggiran Ibukota.


Membuat Ibu yang tengah berada di dapur langsung bangkit, berjalan tergesa-gesa sambil mengeringkan kedua tangannya dengan daster yang beliau kenakan.


Tadi Ibunya Galih memang tengah mencuci piring di dapur. Mendengar teriakan putrinya, Ibu tentu saja langsung berlari menyambut kedatangan putranya yang jarang dilihat.


Senyum sumringah dari Ibu langsung menyapa kedatangan Galih. "Ibu sehat?" tanya Galih langsung mencium punggung tangan ibunya tanpa ragu.


"Ibu sehat.., tubuhmu terlihat kurus Galih... apa ada masalah?" tanya wanita paruh baya itu dengan penuh rasa khawatir.


Walaupun tinggal satu kota, Galih memang tidak seperti Bella yang tinggal dengan orangtuanya. Galih memilih untuk tinggal di Apartemen seorang diri tentu saja menjadi salah satu alasan untuk menghindar dari sang Ayah.


"Tidak Bu," jawab Galih. Walaupun ada masalah sekalipun, tentu Galih tidak mau memberitahukannya pada orangtua dan Bella.


"Ayah... kakak pulang..." teriak Bella lagi.


"Huss... jangan teriak-teriak," pinta Ibu mempertingati Bella.


Akan sangat memalukan jika di dengar oleh tetangga mereka.


"Makasih Kak.." jawab Bella antusias.


"Ini untuk ibu, dan ini untuk ayah..." ucap Galih menyerahkan semua Paperbag yang dibawa.


"Tak perlu membawa beginian... Ibu sudah senang kalau kamu datang,".


Karena yang di butuhkan seorang ibu bukanlah hadiah atau apapun. Melihat anak-anak mereka sudah membuat hati orangtua begitu bahagia.


"Bel, coba panggil ayahmu..." pinta sang ibu. Karena Ayah baru saja di belakang, mungkin sedang memotong ranting pohon jambu.


"Tidak usah Bu, Galih disini sampai sore kok..." tolak Galih.


Toh nanti juga akan canggung jika Galih berbicara dengan Ayah hanya berdua saja atau mungkin sang Ayah tak mau menemuinya.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Ibu.


"Belum,"


"Ayo, kakak makan dulu..." ajak Bella dan langsung memeluk lengan Galih seperti anak kecil.


Walaupun terlihat kekanakan, tapi tak membuat Galih merasa risih di perlakukan adiknya demikian. Karena seperti itulah sifat Bella. Bahkan dengan Dion dan Arjun juga Bella selalu seperti itu.


Galih duduk di kursi makan, Ibu sibuk mengambilkan nasi serta lauk untuk putranya. Sedangkan Bella, tanpa di perintah sekalipun gadis itu langsung menyalakan kompor untuk mendidihkan air untuk membuat kopi.

__ADS_1


"Apa perlu ibu masakkan untuk di bawa pulang nanti sore?"


Galih tinggal sendirian jadi tidak ada yang membuat lauk untuk pria itu.


Bisanya Bella yang di suruh ibunya untuk ke Apartemen Galih membawa masakan dari Ibu.


Sehingga Galih cukup memanaskannya sebelum makan.


"Tidak usah Bu," tolak Galih. Bahkan makanan yang di bawa Bella terakhir kali juga belum di makan dan tentu saja akan masuk ke dalam tempat sampah. Bukankah itu sama saja dengan pemborosan?


"Kakak... apa istri Kak Arjun sudah hamil?" tanya Bella ikut duduk di samping Galih setelah meletakkan secangkir kopi panas di meja.


"Entah," jawab Galih. Kerena ia juga tidak penasaran akan hal itu. Kalaupun ada, pekerjaannya tidak juga berkurang.


Membuat Bella yang tadinya penasaran langsung mengerucutkan bibirnya sebal.


Kakak kaku sekali sih... batin gadis itu.


Hingga Galih sudah menghabiskan setengah dari sarapannya, Tiba-tiba dari pintu belakang muncul sosok pria bertubuh tinggi dengan uban yang mulai menghiasi rambut di kepalanya.


Galih meletakkan sendok seketika, menatap ke arah ayahnya. Tentu saja membuat Ibu dan Bella juga menatap ke arah yang sama dengan pemikirannya masing-masing.


"Ayah, Kakak membelikan sesuatu untuk Ayah... Ayah mau mencobanya?" tanya Bella penuh semangat. Beda dengan Galih dan Ibu yang terdiam tanpa mengatakan apapun.


Ayah tidak menjawab perkataan anak perempuannya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membuat wajah Galih kembali pias dan hanya bisa menunduk.


Mungkin Ibu adalah sosok terpeka yang Tuhan ciptakan. Hati perempuan amat lembut dan juga mudah tersentuh. Itulah yang bisa menggambarkan sosok Ibunya Galih.


Melihat wajah sedih Galih, Ibu langsung menyentuh tangan putranya.


Tak apa-apa... begitu sorot mata Ibu bicara. Membuat Galih yang tadinya begitu sedih, menjadi sedikit terhibur.


Memang sulit untuk memperbaiki sebuah hubungan yang telah rusak. Tapi bukan berati tidak bisa, hanya perlu waktu yang sedikit lebih lama untuk membuat erat hubungan itu.


Ibu sangat yakin kalau suatu hari nanti, Ayah akan memaafkan kesalahan Galih di masa lalu.


Semarah-marahnya orang tua, mereka tidak akan membiarkan ataupun membenci anak-anak mereka.


Karena semua orang tua tentu tidak bisa memilih untuk mempunyai anak seperti yang mereka harapkan.


Anak adalah cerminan orangtuanya. Dan sebagai orangtua kita di tuntut untuk bijaksana dan tanpa menghakimi kesalahan anak-anak nya.


Mendidik tak bisa selalu menggunakan kekerasan. Jangan hanya melarang untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan, tapi beri penjelasan pada anak-anak alasan kenapa mereka tidak boleh melakukan hal itu.


"Tenang kakak... Bella akan berada di belakang kakak sampai kapanpun..." ucap Bella membujuk Galih.


Membuat Galih tersenyum dan mengacak-acak rambut gadis itu.


"Kakak... lihatlah Bu," rengek Bella dan mengadu pada ibunya.


***


Seperti itulah hubungan Galih dan Ayahnya...

__ADS_1


mereka tak lagi bicara sejak kejadian Galih terjerat Narkoba beberapa tahun silam.


__ADS_2