
HAPPY READING...
***
Arjun sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan Akira. Sesekali memijit kaki istrinya, sedangkan Akira sibuk melahap anggur dan juga menyuapi bayi besarnya juga. Anggap saja sebagai imbalan karena telah memijit kaki.
"Mulutku masih penuh sayang..." protes Arjun. Karena Akira menyuapinya tanpa jeda.
Bahkan mungkin saja Arjun yang sibuk makan.
"Aku senang melihatmu makan..." ucap Akira dengan jujur.
Melihat pipi Arjun mengembang benar-benar lucu.
"Apa kamu juga suka sayangku?" tangan Arjun beralih pada perut Akira. Mengelus perut buncit itu penuh kasih sayang.
Belaian tangan Arjun benar-benar ampuh. Karena setiap kali Arjun membelai perut Akira, bayi dalam kandungan itu selalu merespon. Bahkan seringkali terlihat menendang perut Akira, hingga membuat wanita itu meringis.
Bagaimana tidak, perutnya terasa kencang saat bayi dalam kandungan itu bergerak.
"Kamu suka suara Papi ya sayang..." ucap Arjun antusias. Bahkan meninggalkan kaki Akira dan turun di karpet mendekati perut sang istri.
Arjun menciumi perut itu. Membuat Akira tersenyum karena lucu.
Sungguh, sifat Arjun kali ini baru terlihat saat ia hamil.
"Nanti, saat waktunya kamu tiba... keluarlah dengan cepat... jangan membuat Mami kesakitan, jangan membuat Mami sedih dan juga menangis ya... kamu nurut Papi kan?".
Sungguh seberuntung itu Akira menjadi istri Arjun.
Dia diberi banyak cinta dalam keluarga ini. Cinta dari Mami, Papi dan juga kedua orang tua Akira.
"Oh anak Papi..." ucap Arjun lagi dan kembali menghujani perut Akira dengan banyak ciuman.
Bahkan sampai mendekatkan satu telinganya menempel pada perut itu.
Mendengarkan suara aneh dari dalam sana.
"Sayang..." panggil Akira tiba-tiba.
Dulu ia memang belum siap untuk hamil. Tapi saat Akira menjalani semua itu, ia merasa kalau hamil bukanlah hal yang sulit.
Tapi ketika kandungannya telah besar, hati Akira kembali goyah.
Dalam hatinya ada sebuah ketakutan tersendiri.
Ia merasa gugup membayangkan bagaimana prosesi melahirkannya nanti.
Ia takut karena katanya melahirkan itu sangat menyakitkan. Bahkan ada pula yang meninggal demi untuk melahirkan buah hatinya.
Akira takut kalau dia termasuk dalam ibu-ibu hamil seperti itu.
Bagaimana jika Akira tidak dapat melihat bayinya lahir.
"Sayang... apa bayi kita akan jadi anak yang beruntung?" tanya Akira.
Dia akan tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tuanya bukan?
Akira sedikit terganggu dengan laporan pemeriksaan kandungan beberapa hari yang lalu. Tekanan darah Akira selalu saja tinggi. Dan kata Dokter, itu juga beresiko buruk saat persalinan.
Ingin rasanya Akira menangis, tapi ia tak mau membuat bayi dalam kandungannya ikut sedih.
Hingga yang dilakukannya hanya menahan agar air matanya tidak jadi jatuh.
__ADS_1
"Kenapa? dia akan mendapatkan banyak cinta dari siapa saja... bahkan akan jadi kesayangan Mami..." jawab Arjun.
Mengingat begitu antusiasnya Mami dengan kehamilan Akira. Membelikan semua kebutuhan bayi dan juga menyiapkan kamar untuk cucu pertamanya tersebut.
"Tapi-,"
"Cukup Akira... kita sudah membahas hal ini sebelumnya... tidak akan terjadi apapun padamu... dokter akan sering datang memeriksa mu di luar jadwal pemeriksaan... jangan terlalu stress... dan biarkan semuanya berjalan layaknya sungai..." ucap Arjun.
Arjun juga heran kenapa Akira selalu berpikiran yang tidak-tidak. Jangankan dengan Dokter di negera ini, kalau perlu Arjun akan mendatangkan dokter dari luar negeri untuk persalinan Akira.
Arjun juga telah membahas semua itu dengan Papi dan Mami. Mereka pun setuju jika hal itu adalah jalan satu-satunya.
"Padahal aku tidak makan masakan yang mengandung terlalu banyak garam... tapi kenapa?".
Akira kembali sedih. Matanya mulai menganak sungai mengingat makanan apa yang ia makan beberapa minggu terakhir.
Sangat hambar bahkan seringkali membuat nafsu makan Akira hilang.
Tapi demi bayinya, Akira memaksa mulutnya untuk menelan makanan itu.
Aku tau bagaimana perasaan mu... batin Arjun.
Tanpa Akira sadari apapun yang Akira makan, Arjun juga mencicipi nya lebih dulu.
Ya... Arjun memang sengaja makan makanan yang diberikan untuk Akira.
Ia juga menikmati masakan hambar setiap harinya.
Semua Arjun lakukan karena Akira. Karena bukan hanya Akira yang harus berjuang demi melahirkan bayinya. Arjun juga perlu bertanggung jawab atas semuanya.
Termasuk dengan melakukan apa yang di lakukan Akira.
"Kamu ingat kata dokter minggu lalu, bukan hanya faktor makanan saja... jika kamu stress dan berpikir aneh-aneh, cemas, tekanan darahmu juga akan naik...".
"Apa kamu butuh pergi menyegarkan pikiran?" tanya Arjun.
Yang terlihat, Akira memang selalu berada di dalam rumah. Walaupun terkadang juga jalan-jalan kecil di depan rumah dan berakhir di taman.
"Tidak," tolak Akira yakin. Terakhir kali ia jalan-jalan, kakinya menjadi bengkak.
Akira tak mau hal itu terulang lagi.
Karena mulai saat ini, Akira tidak bisa memikirkan dirinya saja. Ia harus memikirkan bagaimana keadaan bayi dalam kandungannya juga.
"Tidak mau? lalu?" tanya Arjun kebingungan.
Pria itu kembali terdiam sambil berpikir keras. Hal apa yang bisa membuat Akira merasa lebih baik. "Bagaimana kalau mengajak Tiara datang kesini? kalian bisa saling curhat bukan? bukan hanya lewat telepon saja...".
Saran dari Arjun, benar-benar membuat Akira tersenyum senang.
Wajah yang tadinya murung berubah ceria.
"Apa boleh?" tanya Akira memastikan ucapan Arjun tadi.
"Tentu saja... telepon dia, nanti biar Galih yang menjemputnya..." jawab Arjun.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba Papi Johan datang dan mengejutkan mereka.
"Ngapain kalian?" tanya Papi keheranan karena Arjun duduk di karpet sambil menyentuh perut Akira. Beliau kira kalau Akira merasakan sesuatu pada perutnya.
"Oh tidak Pi... kami hanya sedang ngobrol..." jawab Arjun dan langsung bangkit. Sekarang duduk di samping Akira.
"Kirain Akira kenapa-napa...".
__ADS_1
Sedangkan Akira hanya menggeleng sambil menyunggingkan senyum.
"Oh iya... ada apa Pi?" tanya Arjun karena ayahnya masih belum pergi dari sana. Dan kemungkinan besar memang ada yang perlu Papi bicarakan dengan Arjun.
"Begini... Papi bisa meminta bantuan mu sebentar?".
"Iya...". jawab Arjun tanpa ragu.
"Ponsel Galih tidak bisa di hubungi... ada berkas penting milik Papi yang mungkin kebawa pulang olehnya... bisa tolong menemuinya sekarang Jun? Papi lelah..." ucap Papi jujur.
Di usianya yang tak lagi muda, bekerja terlalu lama benar-benar membuat Papi amat lelah.
Beliau benar-benar ingin segera melepaskan jabatan Presdir dalam waktu dekat.
"Em... iya Pi... siap..." jawab Arjun.
"Berkas itu ada di dalam Map berwarna biru..." tambah Papi.
"Biar Akira bersama Mami dulu..." ucap Papi menyarankan dan Akira mengangguk setuju. Toh memang dia tidak kenapa-napa.
Setelah mengambil kunci mobil di kamar, Arjun turun kembali menemui istrinya yang sekarang duduk bersama Mami di ruang keluarga.
"Sayang... aku pergi dulu ya..." pamit Arjun sambil mengecup singkat pucuk kepala Akira.
"Iya hati-hati..." jawab Akira.
"Jangan kebut-kebutan Jun..." pinta Mami.
"Iya Mi...".
---
Di dalam perjalanan Arjun bersenandung mengusir kejenuhan nya.
Jalanan malam ini tidak terlalu ramai, jadi ia bisa sedikit mempercepat laju kendaraannya.
Hingga tak butuh waktu lama, mobil Arjun telah sampai di depan Apartemen.
Sambil berjalan, Arjun melirik kendaraan Galih yang sudah terparkir menandakan bahwa pria itu memang berada di kediamannya.
Menaiki Lift, Arjun tiba di lantai tempat tinggal Galih. Berjalan sedikit cepat menuju ke sebuah pintu di depan sana.
Tanpa berpikir aneh-aneh, Arjun menekan Bell di pintu itu. Menunggu sejenak Galih membukakan pintu untuknya.
Dan benar saja, tak buruh waktu lama pintu itu terbuka. Membuat Arjun membulatkan mata dan membeku melihat siapa yang berada di depannya tersebut.
"Ti-a-ra?" bahkan lidahnya terlalu kaku hanya untuk mengucapkan nama tersebut.
Bukan hanya Arjun, Tiara yang tadinya tersenyum sambil membuka pintu juga ikut terkejut dengan tamu yang baru saja tiba.
"Suruh Bella cepat masuk..." perintah Galih dari dalam sana.
Sedangkan Tiara, wajah gadis itu berubah pias.
Karena tamu yang mereka kira Bella ternyata adalah Arjun.
"Bu-bukan... bukan Bella..." ucap Tiara lirih. Sedangkan Arjun masih berdiri tanpa di persilahkan masuk.
***
Jeng jeng jeng...
Akhirnya kebongkar sudah...
__ADS_1