
HAPPY READING...
***
Tepat pukul 11 malam, mobil Arjun melaju di jalanan yang sedikit lenggang. Di bangku samping kemudi ada sosok wanita yang duduk sambil menikmati pemandangan malam hari dari balik kaca jendela. Dia adalah Lea.
Saat ini mereka sedang menuju ke Apartemen milik Arjun.
Karena jalanan yang lenggang membuat perjalanan mereka terasa sangat singkat.
Sepanjang perjalanan, Arjun sibuk mengemudi sedangkan Lea tak henti-hentinya menatap wajahnya dari cermin di depannya.
Rambut panjang nya yang terikat menggunakan sebuah ikat rambut menambah kesan berbeda.
Arjun memujiku cantik, batinnya kegirangan dengan perkataan Arjun beberapa jam yang lalu.
Siapa suh yang tidak terbang saat di puji oleh seseorang? begitulah yang Lea pikirkan saat ini.
Untaian kata yang terucap dari bibir pria di sampingnya, mampu membuat Lea terbang hingga ke awan.
Entah apa yang dirasakannya saat bersama Arjun, cara pria itu memandang Lea, senyum manis Arjun, dan postur tubuh yang begitu gagah membuat Lea menginginkan pria itu.
Lea sangat terobsesi dengan Arjun, di tambah pria itu memiliki kekayaan yang cukup membuat hidupnya tenang.
Kondisi ekonomi lah tang seringkali membuat seseorang berubah.
Seperti hal nya Lea. Dulu ia hidup sebagai simpanan pria kaya. Bahkan sampai mau di bawa ke Luar negeri beberapa tahun lamanya.
Lea sudah terbiasa hidup berkecukupan dengan uang yang selalu mengalir dalam rekeningnya.
Tapi semua itu berakhir ketika istri sah dari pria yang selama ini menghidupi Lea mencium hubungan mereka.
Benar kata pepatah,
Pria yang sudah berkeluarga tidak akan pernah tulus mencintai wanita lain selain istrinya.
Mengapa?
Karena, kamu tidak akan ada apa-apa nya di bandingkan dengan sang istri.
Mungkin pria itu bisa menceritakan keburukan istrinya di depanmu.
Tapi pria itu tak berani memuji kebaikanmu di depan istrinya, bahkan sampai tidak berani menyebut namamu.
Dan itulah akhir dari hubungan Lea.
Di pulangkan ke negara aslinya dengan paksa dan tak lagi bisa berhubungan dengan pria itu.
Karena itulah Lea kembali mencari pria-pria kaya yang mampu menghidupinya. Seperti Arjun.
"Ayo turun..." ajak Arjun ketika mereka telah sampai di tempat tujuan.
"Oke..." jawab Lea dan langsung merangkul lengan Arjun setelah turun dari mobil seperti sepasang kekasih pada umumnya.
Ck, gue risih... batin Arjun sambil mengamati lingkungan sekitarnya. Kali aja ada seseorang yang mengenali wajahnya. Sangat memalukan bukan?
Rasanya Arjun benar-benar ingin segera sampai di Apartemennya.
Bersamaan di luar seperti ini sangar merugikan baginya.
Dulu memang Arjun tidak memperdulikan omongan orang lain terhadapnya, Arjun tak mendengarkan omong kosong orang lain yang tak menyukainya. Karena Arjun yang menjalani hidupnya, bukan orang lain.
Tapi sekarang, beda lagi ceritanya.
Ada banyak hati yang perlu ia jaga. Hati kedua orangtuanya, hati mertuanya dan tentu saja hati istrinya.
Arjun tidak bisa membiarkan Akira terluka karena ulahnya.
Itulah sebabnya Arjun jarang sekali pergi ke Club malam seperti yang sering ia lakukan saat melajang dulu.
Sejak ada Akira, Arjun merasa betah tinggal di rumah.
Mendengar ocehannya, melihat senyum indah yang melengkung sempurna di bibir Akira, Arjun menyukai hal itu.
Tiba di salah satu unit Apartemen, Arjun langsung menekan beberapa digit angka untuk masuk ke dalam.
Sedangkan Lea berdiri di sampingnya masih dengan mode senang.
Suara bunyi pintu pun terdengar, Arjun dan Lea segera masuk.
"Besar sekali..." puji Lea ketika berada di dalam.
"Gue jarang datang kesini," ucap Arjun. Toh kenapa ia harus tinggal disini sedangkan di rumah ada gadis yang selalu Arjun rindukan.
Ahh... gue jadi rindu Akira...
__ADS_1
Biasanya saat Arjun pulang dari bekerja, di kamar sudah ada Akira yang menyambutnya dengan senyum indah dan tulus.
Membuat rasa penat di kepala Arjun karena lelah bekerja sirna seketika.
Apalagi sekarang ada jatah dari istrinya yang selalu membuat Arjun merasa senang setiap harinya.
"Kenapa? Apartemen ini sangat nyaman, dan mewah lagi..." ucap Lea, tapi karena Arjun tak menjawab lagi membuat Lea tau jawaban apa yang pas.
"Iya Ya... kenapa harus tinggal disini, di rumah ada istri Lo...",
"Mau minum sesuatu?" tanya Arjun. Rasanya benar-benar canggung untuk membuka percakapan dengan wanita itu.
"Tidak," jawab Lea.
Mereka sama-sama berjalan menuju ke kamar utama. "Eh, kenapa tidak di tutup?" protes Lea karena Arjun langsung nyelonong masuk tanpa menutup pintu kamar.
"Hanya ada kita disini," jawab Arjun singkat.
Kenapa harus di tutup? Lo akan di buka sepenuhnya disini Lea... batin Arjun.
Arjun dan Lea duduk di tepi ranjang. Sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Apa yang harus gue tanyakan?
batin Arjun. Toh memang ia tidak tau harus berbuat apa.
Hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dion : [Coba tanya tentang masa lalunya...]
Arjun hanya membaca pesan itu dan langsung meletakkan kembali ponselnya. Ck... si monyet ini sudah seperti bos saja! umpatnya pada Dion barusan.
Tapi Arjun tidak bisa menolak.
"Lea, apa gie boleh bertanya?" tanya Arjun gugup.
"Tentang?"
"Semuanya tentang Lo,"
Sejenak Lea tersenyum. Ternyata Arjun amat penasaran dengan dirinya.
"Semuanya? apa ya...",
"Ya tentang kehidupan Lo... masa lalu lo... atau kekasih Lo...",
"Hahaha... masa lalu gue?"
Lea sedikit menggeser duduknya demi menatap Arjun dan berkata, "Masa lalu tidak perlu di ingat bukan?".
Arjun hanya mengedipkan matanya berulang kali. Bingung sekaligus kehilangan kata-kata yang bahkan sudah ia rangkai sebelumnya.
"Apa Lo sebegitu penasaran sama gue?" tanya Lea.
"Ti-tidak...-" Arjun kembali menatap Lea dengan sorot mata yang sulit di artikan.
"Karena gue hanya ingin tau...",
Di lain kamar, Dion dan Galih sibuk menatap layar Laptop di depannya.
"Sepertinya si monyet kehilangan jiwa narsisnya," ucap Dion mengamati semuanya.
Sedangkan Galih hanya diam tak berkata-kata. Ucapan Arjun di Club malam kalau Lea memiliki Tato mawar merah di belakang lehernya sudah menjadi jawaban atas kecurigaannya.
Galih sudah tau kalau Lea adalah wanita di masa lalunya.
"Apa kita keluar saja dari sini?" tanya Dion.
Karena melihat Arjun dan Lea sepertinya tidak ada kemajuan sama sekali.
Tadinya Dion akan menjebak Lea agar mengatakan semua yang sudah di sembunyikan dari semua orang.
Kembali lagi pada Arjun dan Lea. Mereka masih berdiam diri tanpa melakukan apapun.
"Jadi Lo meminta gue kesini hanya untuk bercerita saja?" tanya Lea semakin tak sabar.
Tanpa terduga sama sekali, Lea bangkit dari duduknya. Berdiri di depan Arjun sambil membuka setiap kancing jaket yang membalut gaun malamnya.
Gayanya benar-benar menggoda siapa saja, tapi tidak untuk Arjun.
Pria itu terlihat membuang pandangannya karena tidak ingin melihat tubuh Lea.
Gawat... kemana mereka sih? kenapa tidak keluar juga... batin Arjun ketakutan.
"Lea, tunggu sebentar..." pinta Arjun dengan nada berantakan. Sangat berbeda dengan Arjun hang dulu, selalu siap apapun kondisinya.
Tapi sekarang, pria itu benar-benar kehilangan jiwa pemangsanya.
__ADS_1
"Gue akan memulainya," ucap Lea menggoda.
Sekarang hanya dengan gaun yang amat pendek tersebut, Lea mendekati Arjun dan mendorong pria itu agar tiduran di ranjang.
Gawat... batin Arjun dengan mata membulat.
Tapi baru merangkak di atas tubuh Arjun, sebuah suara dari belakang mengejutkan Lea.
"Kenapa buru-buru? kita juga mau ikut...",
Seketika Lea terkejut dan menengok untuk melihat suara siapa itu.
Matanya langsung membulat sempurna melihat 2 pria yang berdiri di ambang pintu.
Mereka?
"Arjun?" tanya Lea. Karena sesuai dengan perkataan Arjun tadi, hanya ada mereka di dalam Apartemen itu. Tapi nyatanya sekarang ada 2 pria lagi yang datang ke kamar tersebut.
"Lo kenal mereka bukan?" tanya Arjun dan memundurkan tubuhnya menjaga jarak dari Lea.
"Apa-apaan ini?" tanya Lea.
Karena ia tak tau dengan apa yang akan terjadi padanya malam ini.
Di lihatnya Dion hanya masuk dan berdiri bersandar tembok samping pintu, sedangkan Galih berjalan mendekati Lea.
Membuat gadis itu gugup.
"Lo mau apa?" tanya Lea ketika Galih sudah tak lagi berjarak dengan dirinya.
Galih tak bersuara sama sekali. Tangannya langsung terulur untuk melihat Tato di leher bagian belakang Lea apakah sama dengan Tato mantan kekasihnya.
"Benar!" ucap Galih dan sedikit mendorong Lea.
"Jadi dia benar mantan kekasih Lo?" tanya Dion.
"Tidak... gue tidak pernah berhubungan dengannya..." elak Lea.
Mana bisa ia mengaku kalau Galih adalah mantan kekasihnya di masa lalu.
"Lalu, darimana Lo dapat Tato itu?" tanya Galih.
Ukuran sekaligus corak Tato tersebut sangatlah mirip dengan milik Alya.
"Itu... Tato itu...",
"Lo bahkan gemetar mengucapkannya AL-YA..." Galih seperti mengeja nama gadis di depannya.
Tak henti-hentinya Galih menatap wajah Lea.
Entah kenapa wajah Lea sangat berbeda dengan Alya.
"Gue sudah bilang kan, nama gue Lea... gua bahkan tidak pernah mengenal kalian sebelum ini..." teriak Lea masih bersikukuh pada pendiriannya.
"Benarkah? coba kita lihat apakah di tubuh Lo ada tanda lahir seperti milik Alya... Galih, Lo pasti ingat kan?" tanya Dion.
Terlihat sekali kalau pria itu memang punya banyak cara untuk sekedar membuat seseorang berkata jujur.
"Arjun, bantu menel*njangi nya..." perintah Dion dan seketika Arjun ikut bangkit. Dan hal itu membuat Lea semakin ketakutan.
"Jangan berani macam-macam!" teriak Lea. Walaupun Lea sudah banyak tidur dengan pria, tapi tetap saja cara yang akan di lakukan Dion benar-benar keterlaluan.
"Kenapa? gue juga ingin lihat bagaimana tubuh Si Bidadari Malam seperti yang di bicarakan orang-orang," ucap Dion dan benar-benar mencengkeram pergelangan tangan Lea hingga gadis itu semakin berontak.
"Lepas! jangan macam-macam... Lepasin gue!"
Disana hanya Galih yang terdiam. Jika itu adalah Alya yang dulu, mungkin saja Galih akan marah dan bisa-bisa memukul Dion karena sudah kurang ajar terhadap gadis itu.
Tapi sekarang beda, hati Galih benar-benar mati rasa.
Tolong... seperti itu sorot mata Lea kepada Galih.
Dion sudah menarik paksa satu pita di bahu sebelah kiri Lea.
"Lepaskan!" teriak Lea masih bersikeras melindungi dirinya sendiri.
"Iya, gue adalah Alya... Gue adalah Alya..." teriak Lea mengalah dan mengakui semuanya.
Dion dan Arjun langsung terdiam.
***
Wih, Dion keren ya...
TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR...
__ADS_1