
HAPPY READING...
***
Semalam penuh Akira tidak dapat memejamkan matanya walau sesaat. Matanya benar-benar terjaga sambil memikirkan bagaimana nasib kekasihnya.
Akira yakin kalau telah terjadi sesuatu antara Arjun dan Dean. Tapi Akira sama sekali tidak mendapat jawaban apapun dari pria itu.
Arjun sama sekali tidak menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Akira lontarkan semalam. Memang tidak ada perdebatan lagi semalam, tapi itulah yang membuat Akira kecewa. Setidaknya Akira ingin mendengar jawaban dari Arjun kalau Dean baik-baik saja.
Sarapan pagi ini juga terlihat berbeda karena hanya ada Akira dan Arjun yang duduk di sana.
Sedangkan Mami Livia dan Papi Johan sudah berangkat ke Luar negeri sejak pagi.
"Berangkat bersamaku!" satu kalimat yang Arjun ucapkan sudah mampu mencakup semua hal yang tentu saja harus Akira patuhi.
Di dalam mobil, mereka juga tidak bersuara sama sekali bahkan sampai tiba di Kampus Akira. Gadis itu langsung turun tanpa berbasa-basi lebih dulu.
Akira langsung menuju ke taman yang biasanya untuk bertemu dengan Dean. Dean belum datang... batinnya mengamati sekitar.
Tapi Akira tidak berputus asa. Gadis itu tetap menunggu kedatangan Dean dengan sabar.
Hingga tak berapa lama, Dean benar-benar datang ke taman tersebut.
"Akira, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu..." ucap Dean tiba-tiba bahkan tanpa duduk lebih dulu.
Akira menatap wajah pria yang berdiri di depannya, "Dean, muka mu?" tanya Akira terkejut. Jelas sekali kalau wajah Dean memar dengan bibir yang sedikit bengkak.
Akira berusaha untuk menyentuh wajah Dean, tapi segera di cegah. "Aku tak apa-apa," ucap Dean.
Sungguh Akira merasa kalau kekasihnya itu telah berubah. Cara Dean bicara dengannya, cara Dean memandangnya benar-benar berubah.
"Aku cuma ingin bilang kalau..." menjeda kalimatnya, Dean merasakan sesak di dada. Ada sebuah beban yang amat berat di pundaknya saat ini.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini..." ucap Dean lirih.
Mata Akira langsung membulat sempurna. "Dean?".
"Sungguh Akira, aku tidak bisa menjalani hubungan dengan seseorang yang telah menikah..."
Akira tak mampu berkata-kata. Bukan ini yang ingin di dengarnya dari mulut Dean. Akira terus menggelengkan kepalanya tak mau menerima semuanya.
"Kamu janji akan bersamaku,"
Ingatlah itu Dean... kamu sendiri yang mengatakan hal itu tempo hari...
"Maaf karena dengan bodohnya aku mengatakan hal itu kepadamu... tapi setelah aku memikirkannya, semua itu salah Akira... menjalin hubungan dengan wanita yang telah menikah tidak bisa di benarkan..."
__ADS_1
Sebenarnya Dean tidak melihat Akira menangis seperti ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan? hanya ini jalan satu-satunya untuk Dean agar keluarganya baik-baik saja.
Hanya ini yang bisa Dean lakukan agar Ayahnya tetap bisa bekerja di pabrik milik Pradipta Group.
"Maafkan aku, kita sudahi saja hubungan ini... aku tidak bisa meneruskannya..." ucap Dean lagi.
Dean benar-benar tidak bisa melihat Akira terluka lebih lama lagi. Segera ia membalikkan tubuh hendak meninggalkan Akira lebih dulu.
"Apa semua ini gara-gara Arjun?" tanya Akira dengan lantang.
Akira hanya ingin tau apakah Dean meninggalkannya karena ancaman Arjun?
"Tidak,"
"Bohong! kamu pasti bohong... semua ini pasti gara-gara Arjun kan? darimana kamu bisa mendapatkan luka seperti itu kalau bukan darinya? ha?" tanya Akira dengan isak tangis yang mulai terdengar.
"Kamu salah Akira, aku terjatuh kemarin..." tolak Dean dengan masih membelakangi Akira.
Maafkan aku Akira... maaf...
"Bagaimana bisa orang yang sudah mahir berjalan bahkan berlari bisa terjatuh begitu saja?".
Dean sama sekali tidak menjawab pertanyaan Akira. Pria itu terus saja melangkah pergi. Akan sangat menyakitkan hatinya jika Dean masih berada di dekat Akira untuk saat ini. Melihat gadis itu menangis, Dean juga merasa terluka.
ingin sekali memeluknya dan menghapus kesedihan gadis itu, tapi Dean tak mampu.
Maafkan aku Akira...
---
Mungkin ini adalah definisi rasa kecewa yang Akira rasakan. Sejak pulang dari kampus, gadis itu sama sekali tidak keluar kamar.
Yang Akira lakukan hanya duduk di pojokan kamar sambil menangis. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia teteskan sejak tadi pagi.
Semakin frustasi lagi ketika Akira menghubungi nomor Dean, tapi tak berhasil. Bukan hanya di putuskan begitu saja, Nomor Dean juga di ganti.
"Kenapa Dean melakukan ini kepadaku?" tanya Akira pada dirinya sendiri.
Sekarang di rumah Pradipta tidak ada siapapun. Papi dan Mami berada di luar negeri, sedangkan pelayan tidak akan datang ke kamar Akira begitu saja.
Dan inilah kesempatan Akira untuk menumpahkan kesedihannya.
Saat Akira masih menenggelamkan wajahnya dibalik tangan, tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Akira..." panggil seseorang yang Akira sangat hafal pemilik suara itu.
Ya... siapa lagi kalau bukan Arjun.
__ADS_1
"Ngapain Lo?" tanya Arjun yang berdiri kebingungan sambil menatap Akira yang terlihat menyedihkan.
Segera Akira bangkit, mendekati Arjun dan langsung mendorong tubuh pria di depannya dengan seluruh kekuatan. "Kenapa Lo lakuin ini?kenapa?" teriak Akira dengan murka.
Walaupun Akira mendorong Arjun dengan sekuat tenaga, tapi hanya membuat Arjun selangkah mundur saja. Tenaganya benar-benar berbeda.
"Kenapa Lo merusak kebahagiaanku Arjun?" tanya Akira dengan berderai air mata. Pria di depannya adalah sumber masalah ya g terjadi antara Akira dan Dean. Gara-gara pria itu juga Dean tiba-tiba memutuskannya begitu saja.
"Kenapa Lo mengancam Dean dan memukulinya?" teriak Arki lagi.
Mungkin inilah saatnya Akira meluapkan segala kekesalan yang ada dalam hatinya. Ia tak tahan lagi dengan semuanya. Dan hanya Arjun lah yang perlu di salahkan karena itu.
"Jadi dia yang memberitahu mu?" tanya Arjun datar. Bahkan tidak ada senyum atau ekspresi apapun dari wajahnya.
"Tidak perlu tau apakah Dean memberitahuku atau tidak, gue cuma bertanya kenapa Lo lakuin itu? kenapa Lo menghasut Dean agar meninggalkan ku? kenapa? Hu hu hu..."
Akira tidak memperdulikan lagi seperti apa dirinya saat ini. Rasa kecewanya benar-benar sudah kelewat batas.
"Aku tidak melakukan itu," jawab Arjun.
Mendengar jawaban Arjun tak membuat Akira percaya. Bagaimana mungkin Arjun tidak melakukan hal yang di tuduhkan Akira barusan, padahal sudah ada bukti yang benar-benar nyata. Akira bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Dean terluka tadi pagi.
Akira menggelengkan kepalanya, "Apa gue akan percaya dengan ucapan Lo? tidak... Gue tau sifat Lo, Arjun! gue benar-benar tau...".
"Apa yang Lo tau tentang gue? Lo tidak tau apapun Akira..." tolak Arjun. Karena hubungan mereka sampai sekarang tidak lebih dari pernikahan yang di paksakan.
Arjun tidak tau bagaimana sifat Akira dan sebaliknya. Akira juga tidak mengetahui apapun tentang Arjun.
"Gue tau, gue tau tentang Lo! Lo adalah pria brengs*k yang menghalalkan segala cara untuk membuat orang berlutut di bawah kaki Lo! Lo sengaja mengancam Dean agar meninggalkan ku, Lo telah memukul Dean," Akira seperti kehilangan nafas karena mengatakan hal itu. Sejenak ia diam untuk sedikit mengisi pasokan oksigen dalam tubuhnya.
"Lo benar-benar menjijikkan Arjun,"
Arjun hanya diam mendengarkan segala kata-kata kotor yang keluar dari mulut istrinya. Tidak menolak ataupun membenarkan semuanya.
"Kenapa Lo melakukan semua itu?" Akira ambruk tepat di depan Arjun. Kakinya benar-benar lemas dan tak kuat untuk menopang berat tubuhnya Sendiri.
"Kenapa? hiks hiks..." Bahkan Air matanya seperti tak bisa berhenti mengalir.
"Lo mau tau alasan gue?" tanya Arjun.
" ... "
***
Mon maaf semuanya, untuk besok tidak ada Update terbaru ya...
Kita akan bertemu lagi hari senin, jadi siapkan Vote dan Hadiah agar Authornya semangat. Oke?
__ADS_1
Lov kalian banyak-banyak...