Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
239. Akhir Bidadari Malam (1).


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tiara dan Galih berlari, mengikuti langkah kaki beberapa perawat dan juga seorang dokter yang menuju ke Ruang VIP yang ada di RS ini.


pikirannya berkecamuk, takut dengan apa yang mereka dengar bersangkutan dengan seseorang yang memang masih sakit beberapa hari terakhir.


"Jalan pelan-pelan saja..." pinta Galih pada kekasihnya. karena lutut Tiara juga baru saja terluka dan langkah kakinya pasti terganggu.


"Gue baik-baik saja..." Tiara mencoba meyakinkan Galih, luka di lututnya memang tak seberapa dengan rasa penasaran yang melingkupi hatinya saat ini. khawatir, sedih dan juga bersalah. sungguh, kalau benar yang di maksud para perawat tadi adalah Alya, Tiara benar-benar sedih.


Tiara sedih karena di saat seperti ini, dia pernah datang menjenguk Alya sambil memperlihatkan keromantisannya dengan Galih. tentu saja hal itu membuat Alya sedih bukan? karena Tiara yakin sampai sekarang Alya masih menaruh harapan pada mantan kekasihnya sekaligus cinta pertama baginya.


Semoga bukan Alya... semoga bukan Alya... batin Tiara sepanjang jalan.


Hingga langkah keduanya benar-benar telah sampai di depan kamar nomor 02. Tiara dan Galih tak bisa masuk karena di dalam sana sangat Dokter tengah memeriksa pasien dan butuh konsentrasi juga.


Sedangkan Galih, di luar kamar celingukan karena tak begitu melihat siapa pasien yang tengah terbaring itu.


Kedua tangan Tiara dan Galih terpaut cukup erat. dingin dam berkeringat menandakan kalau mereka amat gugup sekaligus khawatir.


Hampir 10 menit berjalan, terlihat Dokter dan para Perawat tidak setegang tadi. mereka berangsur-angsur pergi meninggalkan ruangan itu hingga menyisakan 1 orang perawat yang bertugas menjaga pasien mereka.


Bersamaan dengan itu, Galih pun bertanya pada salah satu perawat yang berjalan melewatinya. "Apa pasien itu bernama Alya, sus?".


Perawat yang ditanya seketika berhenti melangkah, "Iya Pak...".


Sang dokter pun ikut menghentikan langkahnya, "Apa anda keluarga pasien?".


karena jika iya, ada sesuatu yang ingin dokter sampaikan pada mereka mengenai kesehatan Alya yang semakin hari semakin menurun.


Sejenak Galih bingung harus menjawab apa, menengok ke arah Tiara untuk mencari jawaban. hingga Tiara pun mengangguk setuju, "Iya Dok... kami adalah sahabat Alya... Alya seorang yatim piatu..." sela Tiara.


"Oh begitu... bisa Saya bicara dengan Anda sebentar?" Dokter itupun memutuskan. karena selama beberapa hari terakhir, pasien di kamar nomor 02 itu benar-benar sendiri. tak ada satupun sanak keluarga yang menemaninya dan dokter pun tak bisa memberitahukan kondisi Alya kepada siapapun.


"Iya Dok..." jawab Galih.


Akhirnya di depan ruangan Alya, Galih dan Tiara sama-sama mendengar penuturan sang Dokter. mengetahui keadaan Alya yang amat memprihatinkan dan mungkin saja waktunya untuk melihat dunia tidak akan lama.


Tubuh Tiara benar-benar bergetar, sedih dan juga bersalah. gadis itu sesekali menangis mendengar apa yang dikatakan Dokter kepadanya.


"Ya Tuhan... apa yang gue lakukan?" ucap Tiara frustasi sambil menjatuhkan tubuhnya di bangku besi di depan ruangan Alya. membuat Galih ikut duduk dan memperhatikan kekasihnya.mereka sama-sama terpukul atas sesuatu yang menimpa Alya.


"Jangan menyalahkan dirimu... Alya sudah sakit sebelum ini..." bela Galih. Ya... Alya sudah sakit jauh sebelum Galih dan Tiara berkomitmen untuk membangun sebuah hubungan.


"Tapi Gal... dia semakin parah karena gue kan?" tanya Tiara.


"Tidak ada yang seperti itu. lo sama sekali tidak salah... dan gue gak terima kalau Lo menyalahkan diri lo sendiri... karena semuanya, apa yang terjadi pada Alya adalah takdir," jawab Galih kesal.

__ADS_1


Apapun yang terjadi pada Alya sudah menjadi takdirnya. semuanya sudah di atur oleh sang Pencipta.


"Alya benar-benar kasihan..." ucap Tiara dan kembali meneteskan air mata. sedangkan Galih, langsung sigap memeluknya. membuat Tiara sedikit lebih tenang dan berhenti menangis.


"Apa yang akan lo lakukan Gal?" tanya Tiara.


"Tidak ada..." jawab Galih yakin.


"Beri dia kebahagiaan... sedikit saja..." ucap Tiara terdengar ngawur. membuat ekspresi wajah Galih seketika berubah.


"Jangan aneh-aneh deh Ra..." bentak Galih. mana mungkin ia melakukan hal itu kepada Alya sedangkan saat ini Tiara adalah wanita yang Galih mau.


Memberi kebahagiaan untuk Alya? ck... itu ide gila! umpat Galih.


"Setidaknya ia akan bahagia di sisa umurnya... dia tak lagi merasa sendirian..." desak Tiara lagi.


Galih kembali teringat dengan ucapan Dokter tadi.


Kesehatan Nona Alya benar-benar buruk... saya tidak tau sampai kapan beliau bisa bertahan... 1 jam, 5 jam atau 12 jam?...


"Tiara..." panggil Galih.


"Ya?".


"Gue benar-benar mencintai lo... gue hanya suka sama lo, tidak wanita lain...".


Tangannya terulur untuk menghentikan tangan Galih, meyakinkan pria itu kalau dia baik-baik saja.


"Temani Alya di sisa hidupnya..." pinta Tiara dengan sungguh-sungguh.


"Gue akan mengalah untuk sesaat... ayo buat dia tersenyum untuk terakhir kalinya..." tambahnya.


Galih menatap Tiara dengan tatapan yang aneh.


Inilah yang membuat ku jatuh cinta padamu Tiara... lo tidak kekanakan dan sangat tau apa yang tengah gue rasakan... menenangkan seperti sebuah aliran sungai... dan menguatkan ketika gue hampir menyerah... gue benar-benar mencintai lo Tiara... sangat mencintai lo...


Pada akhirnya Galih dan Tiara masuk ke dalam kamar Alya dirawat walaupun sempat menyiapkan hati mereka cukup lama di luar tadi.


"Hai Alya..." sapa Tiara. masih ada kecanggungan di dalam ucapannya barusan. karena baik Alya dan Tiara memang tidak seakrab itu. bahkan awal pertemuan mereka juga tidak dalam keadaan yang baik.


"Kami datang menjenguk mu Ya... bagaimana keadaanmu?" tanya Galih. duduk di samping ranjang Alya dan tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah wanita itu.


Perlakuan Galih barusan, sungguh membuat Alya kembali teringat dengan kisah lama mereka. Galih yang memang suka menyentuh rambutnya, membelai wajahnya, Alya kembali ingat. hingga tanpa sadar, air matanya menetes begitu saja.


"Aku terlihat menyedihkan bukan?" tanyanya dengan lirih.


"Tidak," jawab Galih.


"Lo masih terlihat cantik Al... sama seperti pertama kali gue bertemu dengan lo waktu itu... bahkan membuatku iri..." sela Tiara.

__ADS_1


penampilan Alya waktu itu benar-benar sempurna. bahkan Tiara merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya.


Wanita tinggi semampai dengan rambut lurus panjang dan riasan wajah yang indah. Alya benar-benar mampu memikat hati siapa saja. memaku banyak pasang mata untuk menatapnya seorang.


"Lo pintar merayu Tiara..." jawab Alya dengan seutas senyum yang melengkung menghiasi wajah pucat nya.


"Tidak... lo benar-benar cantik Alya... sangat cantik..." puji Tiara.


"Terima kasih..." jawab Alya mendengar pujian dari Tiara.


"Maafkan aku Ra..." ucap Alya dengan wajah pias.


setidaknya ia harus meminta maaf sebelum terlambat. meminta maaf atas segala perbuatan yang pernah ia lakukan kepada semua orang. meminta maaf karena dengan egois ingin mengambil Galih kembali.


"Kenapa meminta maaf? lo tidak salah..." sela Tiara. Lo tidak salah Al... mungkin Galih juga yang bersalah karena tak bisa bersikap tegas hingga lo selalu berharap Galih bisa kembali lagi...


"Tidak ada yang salah soal cinta. justru gue yang harusnya meminta maaf... karena terlalu percaya diri untuk membuat Galih hanya menatapku... padahal sampai saat ini, masih ada tempat lo di hatinya yang tidak bisa gue tempati..." ucap Tiara jujur.


Ya ... sebanyak apapun Galih bilang Alya tak lagi ada di hatinya, tapi Tiara masih mampu melihat bagaimana perasaan Galih untuk wanita itu. perasaan cinta yang tidak bisa luntur begitu saja.


"Lo pemenangnya Al..." tambah Tiara.


Galih sedikit tidak suka dengan ucapan Tiara, tapi pada kenyataannya memang seperti itu. Ya... Alya adalah cinta pertama baginya dan sulit untuk di lupakan.


tapi dengan Tiara, Galih kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya. bahkan lebih besar dibandingkan apa yang ia rasakan dengan Alya di masa lalu.


Itulah yang tidak bisa di samakan. Tiara dan Alya berbeda. berbeda juga cinta yang Galih berikan. walaupun pada akhirnya Galih telah menentukan dengan siapa ia akan menjalani kehidupan setelahnya.


Alya adalah masa lalu yang terkadang masih terkenang, sedangkan Tiara adalah masa depan yang akan menemani sisa umur Galih.


"Mau jalan-jalan?" tanya Galih tiba-tiba.


"Jalan-jalan? kemana? dan mana mungkin? lihatlah bagaimana keadaanku saat ini Gal... aku bahkan tak bisa duduk ataupun berlari lincah seperti dulu..." ucap Alya terdengar menyedihkan.


"Biar gue yang akan jadi kakimu untuk hari ini..." jawab Galih terdengar manis. Ya... pria itu memang selalu bisa mengatakan hal manis, tapi hanya kepada orang-orang terdekatnya. termasuk Tiara.


"Ayo kita ke tempat yang lo sukai... pantai," tambah Galih dengan senyum indah yang mengukir bibirnya.


Seketika membuat Alya senang. dan Tiara juga tersenyum bahagia.


***


Nah kan beneran molor...


Sorry semuanya... Authornya udah pikun, lupa kalau bulan Feb ini cuma sampai tanggal 28... wkwkwkw... kirain lebih...


Jadi mungkin pertengahan Maret Endingnya...


soalnya ada 1 konflik lagi di Akhir kisah Tiara-Galih....

__ADS_1


__ADS_2