Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
189. Telepon Tengah Malam.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tiara terdiam dengan wajah memerah. Antara malu, canggung dan entahlah. Ia bingung untuk mengungkapkan semuanya saat tangan Galih masih melingkar di perutnya.


Jantungnya bahkan berpacu kencang, seperti Tengah berlari berkilo-kilo meter.


Membuat Tiara kesulitan hanya untuk menghirup oksigen di kamarnya.


Tidak... gue bisa gila kalau seperti ini terus...batinnya bicara. Berdekatan dengan Galuh benar-benar mempengaruhi kesehatan jantungnya.


"Aghh... gue benar-benar gerah... sesak..." keluh Tiara.


Itulah sebabnya Tiara memutuskan untuk bangkit. Duduk di ranjang melayangkan protes.


"Kenapa lo tidak tidur di luar saja sih?" saran Tiara. Walaupun itu hanya akal-akalannya saja membuat Galih berubah pikiran untuk pergi dari kamarnya.


Setidaknya Galih bisa tidur di sofa ruang TV daripada harus tidur di ranjang kamar Tiara.


Bagaimanapun Tiara harus menjaga dirinya bukan? walaupun Galih juga telah memperdaya dirinya beberapa waktu lalu. Mencium Tiara seenaknya sendiri. Padahal hubungan mereka hanya sebatas simbiosis mutualisme.


Dimana sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Galih untung karena ada yang memasak untuknya, mencuci bahkan membersihkan rumah. Sedangkan Tiara, gadis itu tak perlu memikirkan keperluan hidupnya dan juga biaya kuliah yang sudah setengah jalan.


Tapi walaupun begitu, bukan berarti mereka bisa tidur bersama bukan?.


Tidur bersama dalam artian benar-benar tidur dalam satu ranjang yang sama.


Tiara juga tak menginginkan hal itu.


"Tidak," jawab Galih datar.


"Ha? kenapa?". Apa dia memang mau tidur seranjang dengan ku?


Tiara bingung dengan ucapan Galih barusan.


Sekarang kamar ini adalah milik Tiara. Ia berhak untuk mengusir siapa saja dari kamarnya bukan?


Eh, tapi kan ini rumahnya...


"Kenapa gue harus tidur di sofa kalau ada ranjang lain di Apartemen ini?" tanya Galih membuat Tiara tak lagi bisa protes ataupun membantahnya.


Benar... ini semuanya miliknya...


"Tapi kan-",


"Stop Tiara... ini sudah malam, bisa tidak menunda perdebatan? lo bisa tidur di sisi kiri ranjang dan gue tidur di sisi kanan... beres kan?".


Apa yang itu saran yang bisa ia berikan? batin Tiara. Karena omongan Galih terdengar mudah dan seenaknya sendiri.


"Lagian ada apa sih? lo takut?" sindir Galih.


Memang apa yang akan gue lakukan padanya?


Tiara hanya terdiam tanpa membantah ataupun membenarkan ucapan Galih. Bagaimanapun ia adalah wanita dan Galih adalah pria. Ada sesuatu yang aneh saat beda jenis berada dalam tempat yang sama bukan?


Itulah yang Tiara takutkan.


Galih di ibaratkan seperti binatang buas. Sejinak-jinaknya binatang buas, ia tak akan kehilangan naluri untuk membunuh bukan?


Ya kali aja ada setan yang membujuk Galih untuk melakukan hal-hal aneh pada Tiara.


Seperti di fim-film...


"Ayo tidur..." perintah Galih lagi. Bahkan sampai menepuk sisi ranjang sampingnya.


Lihatlah caranya tersenyum itu... menakutkan... batin Tiara.

__ADS_1


Tapi ia tak ada pilihan lain sekarang. Dengan ide yang datang di saat-saat terakhir, Taira menuju ke ranjang. Menempatkan guling di tengah-tengah sebagai pembatas untuk tubuh mereka.


"Apaan ini? malah tambah sesak..." protes Galih.


Posisi mereka beberapa waktu tadi sudah sangat baik. Tidur sambil memeluk tubuh Tiara dari belakang. Posisi yang paling nyaman bukan?


"Kenapa? ini untuk batas tempat tidur lo dan gue..." cerca Tiara.


Sebaiknya memang ada batas di antara mereka.


Jangan sampai Galih melakukan hal-hal yang buruk saat Tiara tidur nanti.


"Jangan melewati batas! mengerti?" ucap Tiara dan langsung merebahkan tubuhnya.


Aahhh... begini lebih baik...


Karena Tiara yakin, Galih tidak akan bisa macam-macam kepadanya. Dan jika Galih menarik guling itu, Tiara yakin akan mendengarnya.


Ia akan bangun dan menghajar Galih nanti.


"Ck,..." Galih hanya berdecak dan memiringkan tubuhnya memunggungi Tiara.


Tidak ada yang bersuara lagi setelah itu.


 


Malam mulai naik ke peraduan. Suasana Apartemen terlihat gelap dan sunyi.


Di kamar Galih, Gadis dan Dion telah terlelap. Gadis tidur di ranjang Galih sedangkan Dion tidur di sofa panjang dengan selimut tebal yang membungkus dirinya.


Sedangkan Tiara juga telah tertidur pulas. Beda lagi dengan Galih. Pria itu masih terjaga. Dirasa telah aman dengan terdengar suara hembusan nafas Tiara yang teratur, menandakan bahwa gadis itu benar-benar telah masuk dalam dunia mimpi.


Galih memutar tubuhnya dengan sangat pelan. Menarik guling dengan hati-hati dan membuangnya begitu saja entah kemana. Sekarang tak ada penghalang lagi baginya untuk menatap Tiara.


Wajah gadis di depannya sangat damai ketika terlelap. Membuat senyum di bibir Galih melengkung indah.


Tanpa sadar, tangan pria itu terulur untuk menyentuh wajah Tiara. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian mata dan wajah Tiara.


Cantik... puji Galih tanpa sadar.


Galih tak menyangka kalau hubungannya dengan gadis berumur 20 tahun itu akan seperti ini.


Tiara seperti terikat takdir dengannya.


Gadis yang sama sekali bukan selera Galih justru mampu mengembalikan senyumnya yang sempat hilang.


Ya... Karena Tiara lah Galih kembali menemukan senyumnya.


Dengan tingkah lucu dan polos Tiara, Galih suka bahkan tak jarang menggodanya.


Membuat hatinya kembali hangat dan bahagia.


Gadis ajaib di depannya juga mampu menarik hati kedua orang tua Galih.


Ya... Ibu dan Ayah sangat menyayangi Tiara, sama seperti rasa sayang mereka terhadap Bella.


Tanpa Tiara sadari, sosoknya banyak mendapatkan cinta dari siapapun. Termasuk Galih sendiri.


Terkadang saat bersama Tiara, Galih seperti lupa diri. Bahkan dengan bodohnya ia pernah meminta ciuman dari Tiara. Bukan hanya itu, Galih seperti kehilangan kontrol untuk tidak menyentuh Tiara. Walaupun saat ini masih bisa ia tahan.


Dengan sangat yakin, Galih mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. Hendaklah mencium bibir ranum berwarna merah itu saat ini juga.


Tapi baru bersiap, Tiba-tiba ponsel Galih yang berada di nakas bergetar.


Sial... umpat pria itu. Padahal kurang 1 centi saja, bibir Galih sudah mendarat di bibir Tiara.


Semuanya gagal karena penelepon yang entah siapa, tidak tau waktu sama sekali.


Ck, ada apa sih..? batin Galih sedikit kesal melihat siapa nama yang tertera dalam layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo... ada apa?" tanya Galih dengan anda sangat pelan takut mengganggu tidur Tiara.


"Sudah tidur?" tanya wanita di sebrang sana yang tak lain adalah Alya.


"Belum...".


"Aku hanya belum bisa tidur... itulah sebabnya menelepon mu... apa aku mengganggu?" tanya Alya.


Walaupun tanpa bertanya sekalipun seharusnya Alya sudah tau jawabannya. Karena saat ini ia menelpon Galih tepat pukul 1 dini hari.


"Tidak," bohong Galih.


Setidaknya apapun yang ia katakan tak membuat Alya sakit hati. Apalagi Galih ingat tentang perkataan Dokter waktu itu, Alya tidak boleh stress dan sedih.


"Lusa aku ingin pergi bersama mu, kamu bisa?".


"Sorry Ya... jadwal ku sangat padat sampai minggu depan..." tolak Galih. Padahal ia tak tau jadwalnya sepadat apa. Tapi yang jelas, lusa ia akan pergi bersama Tiara menghadiri pesta Arjun dan Akira.


Dan Galih tak perlu menjelaskannya pada Alya bukan?


"Oh begitu ya...".


Terdengar sekali kalau ada kekecewaan dari nada bicara Alya.


Tapi Galih tidak mau memperdulikan hal itu.


Setidaknya ia harus tetap menjaga jarak dengan Alya.


Hubungan mereka bisa kembali, tapi untuk hati mungkin tak akan sama.


Galih dan Alya bisa saja berteman untuk masa yang akan datang, tapi untuk kembali memperbaiki hubungan mereka di masa lalu sepertinya mustahil.


Galih belum sempat menjawab perkataan Alya barusan, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul. "Kamu menelepon siapa?",


Itu adalah suara Tiara dengan mata masih terpejam dan suara serak khas orang tidur.


Ya, Tiara terbangun saat mendengar samar Galih berbicara dengan seseorang.


"Oh... ini, salah sambung beb..." jawab Galih gugup juga sengaja memanggil Tiara dengan panggilan kesayangan seperti pasangan lain pada umumnya.


Karena di luar kepala kalau Tiara bisa mendengar percakapannya dengan Alya.


Tapi tidak buruk juga baginya. Karena Alya akan tau kalau menelepon di tengah malam memang bukan waktu yang tepat.


Membuat Alya yang juga mendengarnya langsung menutup mulutnya dengan tangan, ada wanita di samping Galih? jadi benar dia telah memiliki kekasih?


Alya sedikit kecewa melihat kenyataan itu.


Apalagi ia juga mendengar jawaban Galih kalau hanya salah sambung. Padahal Galih mengenal Alya bukan?


"Cepatlah tidur... ini sudah malam..." perintah Tiara antara sadar dan tidak.


Alya yang juga mendengar suara Tiara semakin sedih. Tanpa sadar, air matanya menetes begitu saja. "Oh baiklah kalau begitu, lagian ini sudah sangat malam... sorry sudah mengganggumu Gal...".


"Hm," jadwal Galih singkat dan bahkan terdengar lebih dingin dari sebelumnya.


Tapi Alya sadar Galih seperti itu karena saat ini Galih sedang bersama kekasih nya.


Hingga Alya memutuskan panggilan itu lebih dulu. Dan tangisnya langsung pecah seketika.


"Hiks...".


Padahal ia berharap Galih akan mau menerimanya kembali.


Tapi nyatanya pria itu telah memiliki kekasih.


***


Nah... Nyesel kan kamu Alya...

__ADS_1


__ADS_2