Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
87. Tempat Yang Salah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira masuk ke dalam Perusahaan Pradipta Group bersama dengan Galih. Berjalan dengan santainya sambil membayangkan rencana Akira dan Arjun yang sudah di rencanakan sejak tadi pagi. Sesekali Akira tersenyum, membayangkan bagaimana reaksi korban berikutnya.


Hahaha... mungkin inilah pertama kalinya aku akan berbuat jahat... lebih tepatnya bersekongkol dengan Arjun...


Bahkan sampai masuk ke dalam Lift, Akira hanya mengamati pria yang berdiri di depannya. Membandingkan postur tubuh pria itu dengan postur tubuh suaminya.


Galih terlihat keren.. tapi lebih keren Arjun... suamiku itu mempunyai ketampanan yang lebih dari siapapun... hehehe...


Galih mengantar Akira sampai di ruangan Arjun. Saat pintu terbuka, Akira sudah dapat melihat suaminya yang duduk dengan tenang sambil mengamati berkas perusahaan di depannya.


Pria itu mengenakan kacamata yang malah semakin membuat dirinya terlihat tampan dan cool. Agghh... kenapa tambah keren sih... rasanya aku ingin menciumnya... eh,


Akira menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ada pikiran nakal seperti itu di dalam kepala.


Tak henti-hentinya Akira menatap Arjun. Pria yang biasanya terlihat jenaka kali ini terlihat serius saat bekerja.


Tidak ada kesan konyol yang tampak sedikitpun dan hal itu tentu saja menambah penilaian Akira terhadap Arjun.


"Duduk dulu sayang..." Arjun mengalihkan pandangannya dari pekerjaan hanya untuk tersenyum manis di depan istrinya.


"Aku juga perlu menyelesaikan sesuatu," jawab Akira. Segera mengeluarkan Laptop dan berkutat sendiri sambil menunggu Arjun menyelesaikan pekerjaannya.


"Baiklah, aku pergi dulu..." ucap Galih meninggalkan ruangan Arjun.


 


Jam 2 siang.


Arjun cukup lelah melihat dan membaca berkas di depannya. "Sayang, kemarilah..." pinta pria itu dengan lembut.


"Sudah selesai?" tanya Akira. Karena saat ia menatap beberapa saat yang lalu, suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya. Itulah sebabnya Akira tak mau mengganggu Arjun.


"Kemarilah,"


Karena sudah mendapat perintah seperti itu, Akira langsung meninggalkan tempat duduknya. Berjalan mendekati Arjun sambil merapikan rambutnya.


"Sini," Arjun meraih tangan Akira dan meminta gadis itu untuk duduk di pangkuannya.


"Jangan, nanti ada yang lihat..." tolak Akira. Apalagi saat ini mereka berada di ruangan kerja akan sangat bahaya kalau sampai ada yang datang tiba-tiba. Apalagi Arjun adalah Pemimpin mereka, apakah pantas seorang pemimpin memberi contoh tak terpuji seperti itu?


"Tidak akan ada yang lihat," setelah mengatakan semikian, Arjun langsung menarik Akira tanpa meminta persetujuan gadis itu.


Dan sekarang Akira benar-benar duduk di pangkuan suaminya.


"Jangan mengikatnya... lehermu bisa kelihatan nanti," ucap Arjun meloloskan ikat berwarna merah dari rambut istrinya.


Seketika rambut panjang Akira terurai jatuh di punggungnya.


Memang kenapa kalau kelihatan? batin Akira bertanya-tanya tapi tak berani menanyakan langsung kepada Arjun.


"Rambutku sudah panjang, dan sering gerah kalau terurai..." ucap Akira. Sejak dulu, ia tak pernah memiliki rambut yang panjang. Akira selalu memotongnya saat rambutnya telah tumbuh melewati bahu.


Dan inilah pertama kalinya Akira memiliki rambut yang panjangnya sampai ke punggung.


"Aku tiupin biar tidak gerah," Arjun langsung meniup leher Akira hingga membuat gadis itu bergidik.


Hembusan angin dari mulut Arjun mampu membuat bulu kuduk Akira meremang.


"Jangan!" tolak Akira.


Di perlakuan seperti itu sungguh membuat Akira tak nyaman.


Tangan Arjun tidak berhenti melakukan sesuatu. Sekarang yang di lakukan adalah menghalau anak rambut yang sedikit menutupi wajah istrinya.


Menatap Akira dengan jarak yang begitu dekat membuat Arjun merasa aneh. Rasanya ia ingin memiliki gadis itu sepenuhnya.


Aku benar-benar ingin m*nidurinya saat ini juga...


"Apa aku terlalu berat?" tanya Akira karena beberapa saat yang lalu, Arjun seringkali mengubah posisi duduknya seperti tidak nyaman.


Akira hendak bangkit, tapi Arjun menahannya. Pria itu bahkan langsung mencium bibir istrinya.

__ADS_1


Cukup lama bahkan terlihat cukup menuntut.


Dengan tangan cekatan, Arjun mengubah posisi duduk istrinya dan sekarang Akira benar-benar duduk di meja depan kursi yang Arjun duduki.


Posisi tersebut benar-benar menguntungkan bagi Arjun. Tangannya mampu menjel*jahi setiap inci tubuh istrinya bahkan sampai membuka kancing baju tanpa disadari oleh Akira.


Inilah pertama kalinya Akira merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Ingin rasanya Akira menyerahkan semuanya kepada Arjun saat ini.


"Arjun..." panggil Akira dengan mata sayu.


Ada sebuah permohonan dalam manik berbinar tersebut.


Tentu saja Arjun tau apa yang sedang di rasakan Akira saat ini. Dan senyum langsung melengkung sempurna dari bibir pria tersebut.


"Yes Honey...".


Arjun menekan tombol otomatis untuk mengunci pintu ruangannya. Setelahnya, Arjun membawa istrinya menuju ke ruangan rahasia yang berada di dalam ruang kerja tersebut.


Merebahkan istrinya dan mengunci ruangan tersebut.


Arjun dengan telaten membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya dan juga istrinya.


"Sayang... aku-" Akira ragu untuk mengatakan kalau masih ada sebuah ketakutan dalam dirinya.


Apalagi ini adalah pertama baginya.


"Aku akan membuatmu tidak merasakan sakit," jawab Arjun.


Arjun mampu membuat Akira merasakan sesuatu yang nyaman sebelum mereka benar-benar tidur bersama.


Mungkin inilah saatnya Arjun memperlihatkan keahliannya kepada sang istri.


"Jangan khawatir sayang..."


Arjun benar-benar melihat wajah gadis di bawahnya yang menahan tangis saat penyatuan keduanya. Dan jika boleh jujur, Arjun juga merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan.


"Hiks," Air mata Akira benar-benar lolos seiring dengan deru nafas Arjun yang naik turun.


Sebenarnya Arjun ingin menyudahi semuanya saat melihat istrinya begitu kesakitan, tapi tanggung bukan? kegiatan mereka sudah di tengah jalan.


"Jangan menciummu..." tolak Akira. Ia merasa geli di perlakukan seperti itu.


Rasa sakit di pusat tubuh Akira tak berlangsung lama, karena perlakuan Arjun padanya benar-benar mampu menggantikan rasa sakita menjadi sebuah kenyamanan bagi Akira.


"Aku mencintaimu..." bisik Arjun tepat di telinga sang istri.


Sedangkan Akira hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun.


Pengalaman kali ini benar-benar aneh. Akira tidak bisa menjelaskannya dengan sebuah kata-kata.


 


Galih berniat untuk meminta tanda tangan Arjun pada berkas yang di bawanya.


Tapi saat pria itu sampai di depan pintu ruangan Arjun, Galih menatap pintu tersebut dengan tak percaya. Apalagi saat Galih mendorong gagang pintu tersebut yang ternyata terkunci dari dalam.


Eh? apa-apaan ini?


Tidak biasanya pintu itu terkunci, tapi di detik selanjutnya AGalih paham kalau memang terjadi sesuatu di dalam sana.


Hahaha... gue tau apa yang kalian lakukan...


Alih cukup tau diri untuk tidak mengganggu penghuni di dalam ruangan yang sedang kasmaran tersebut. Hingga ia memutuskan untuk kembali lagi nanti.


Di lain tempat, Akira dan Arjun sama-sama telah selesai membersihkan diri dan mandi. Untuk menyingkat waktu, mereka benar-benar mandi bebarengan.


Tapi hal yang membuat Akira tak percaya adalah di dalam ruangan ini, tidak ada hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Bagaimana ini?" ucap Akira khawatir.


Ia tidak bisa keluar dengan kondisi rambut yang basah seperti sekarang.


Bagaimana tatapan pewagai di tempat ini nantinya?


Di tambah dengan bagian bawahnya yang terasa sakit untuk berjalan. Rasanya seperti sesuatu telah robek di bawah sana walaupun untuk menjangkah pelan.

__ADS_1


"Aku akan menggendongmu sayang..." ucap Arjun tanpa beban.


Dan benar saja saat jam bekerja telah usai, Arjun mendekati istrinya yang masih nyaman duduk di atas ranjang. "Mau apa?" tanya Akira terkejut dengan perlakuan Arjun yang hendak menggondongnya.


"Apalagi? kita akan pulang sekarang..." jawab Arjun.


"Tidak, Aku malu sayang... bagaimana reaksi karyawanmu nanti?" Akira menatap Arjun dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka..." jawab Arjun dan langsung menggendong Akira ala Bridal style.


"Ada apa?" tanya Galih yang baru saja masuk ke dalam ruangan Arjun.


"Tolong bawakan tas Akira sampai di mobil..." perintah Arjun pada Asistennya.


"Siap...",


Akira yang berada dalam gendongan Arjun hanya mampu menyembunyikan wajahnya saat melewati karyawan Pradipta Group.


Aaa... malunya...


Akira yakin kalau saat ini dirinya sedang di bicarakan habis-hanisan oleh semua orang.


Ini semua salah ku... kenapa aku sampai lepas kontrol seperti ini sih? apalagi di tempat yang benar-benar salah! aaaggghhh... aku menyesal...


Sampai di Lift, Akira kembali menyembunyikan wajahnya ketika berpapasan dengan Danu, sepupu Arjun. Aduh... kenapa ada Danu sih? batin Akira. Sedangkan Arjun terlihat tidak peduli sama sekali.


"Kenapa dia?" tanya Danu spontan melihat pemandangan cukup mengejutkan itu.


"Kaki Nona sedikit terkilir..." saat ini Galih lah yang menjawab.


Walaupun Galih menduga telah terjadi sesuatu pada Bos dan istrinya, Ia tetap harus menjaga image Arjun kepada siapapun, termasuk pada Danu.


Syukurilah... Galih punya alasan yang hebat... batin Akira.


"Oh," jawab Danu.


Pria itu percaya dengan omongan Galih barusan.


Di depan gedung Pradipta Group, mobil Arjun telah siap. Segera ia meletakkan Akira di kursi samping kemudi dan menutup pintu itu.


Baru hendak memutari mobil, Arjun melihat senyum Galih yang seolah sedang meledek dirinya.


"Apa?" protesnya.


"Apa apanya? memang apa yang gue lakukan?" tanya Galih. Karena sejak tadi pria itu tidak melakukan apapun.


"Gue tau ya, Lo sedang berpikir aneh-aneh..." tuduh Arjun.


Bersahabat dengan Galih cukup lama, Arjun tau gelagat pria itu.


"Hahaha... memang siapa orangnya yang tidak curiga dengan pintu terkunci cukup lama seperti tadi?" sindir Galih. Pria itu mondar-mandir ke ruangan Arjun beberapa kali karena pintunya tak juga terbuka. Padahal Galih yanga ingin meminta tanda tangan pria itu tadi.


"Selamat bro..." tonyor Galih apda bahu Arjun, sedangkan Arjun hanya menatapnya aneh.


Malu untuk mengakui kalau dirinya benar-benar telah m*niduri istrinya.


"Tai Lo!" unpat Arjun dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Sayang, bagaimana rencana kita?" tanya Akira. Karena yang mereka rencakanan sejak tadi pagi bukanlah ini.


Arjun menatap Galih dari dalam mobil, "Iya... aku lupa,.." jawabnya sama-sama terkejut.


"Yaah... gagal kan?" Akira langsung cemberut.


"Besok kita melancarkan aksi..." jawab Arjun tanpa dosa sama sekali.


"Oke..."


***


**Aduh... maafkan Dirikuh yang selalu Khilaf...


Ngomong-ngomong, Akira dan Arjun Ngrencanain apa ya? hehehe


Komen banyak-banyak**...

__ADS_1


__ADS_2