Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
95. Si Bidadari Malam.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Lo yakin tidak mau datang?" tanya Galih yang tengah menelepon sambil tangan satunya mengemudikan mobil membelah jalanan malam hari.


"Tidak... kalian aja yang kesana..." tolak seseorang di seberang sana.


"Pasti Lo takut sama bini Lo kan? hahah..." ledek Galih. Karena saat seperti inilah ia berani meledek seperti itu karena mereka sedang berkomunikasi lewat telepon.


Jika bicara secara langsung, mungkin Galih akan berpikir 2 kali untuk melakukannya.


"Ck... mana ada, gue hanya males keluar, apalagi sedang hujan... lebih enak bergelut dalam selimut bukan?"


"Ck..." Galih hanya berdecak mendengar alasan sahabatnya.


"Hahaha... jomblo kayak lo mana paham!" ledek pria di seberang sana kepada Galih. Bahkan hingga Galih menaikkan satu alisnya karena tak percaya dengan omong kosong sahabatnya tersebut.


"Tai Lo!" umpat Galih. Kesal sekali rasanya jika diingatkan kalau posisinya sekarang adalah seorang jomblo yang terlihat seperti tak laku di pasaran.


Padahal alasan Galih menjomblo karena ia tidak lagi mempercayai cinta.


Pernah menjadi budak cinta membuat Galih sedikit trauma. Dulu ia bukanlah pria yang selalu senang mempermainkan wanita.


Dia adalah salah satu pria yang menjaga pasangannya bahkan jika perlu, Galih bisa mempertaruhkan nyawanya demi sang pujaan hati. Tapi itu dulu! sebelum ia merasakan bagaimana rasanya di khianati.


"Hahaha... baiklah, have fun ya..."


"Hm," Galih mengangguk dan mematikan sambungan teleponnya.


"Ck, mentang-mentang sudah punya istri sombong amat bicaranya..." umpat Galih pada sahabatnya yang tak lain adalah Arjun.


Ya, tadi Galih sedang terlibat perbincangan dengan Arjun lewat telepon.


Galih meminta Arjun untuk datang ke Club malam langganan mereka tapi sepertinya ada kegiatan lebih mengasyikkan hingga membuat Arjun tak mau meninggalkan rumah.


Tak terasa mobil Galih telah memasuki parkiran tempat janjian. Kali ini ia seorang diri masuk ke tempat tersebut.


Saat kakinya baru saja melangkah masuk, musik dengan keras langsung menyambutnya.


Dion pasti sudah tiba... batin Galih dan langsung melangkah naik menuju ke lantai 2 tempat tersebut.


Benar saja saat tiba di depan sebuah ruangan, Galih langsung di persilahkan masuk. Di dalam sana sudah ada Dion yang duduk sambil ditemani oleh 2 orang wanita berpakaian seksi yang menuangkan minuman di gelas secara bergantian.


"Mana si monyet?" tanya Dion tiba-tiba. Karena sudah biasa Galih datang bersama dengan Arjun setiap kali ke sini.


"Dia sibuk," jawab Galih dan langsung mendudukkan tubuhnya dengan sangat keras.


"Ck, sibuk?" tanya Dion tak percaya. Memang apa yang membuat Arjun sampai terlihat sibuk seperti itu? begitu hati Dion bicara. Biasanya Arjun lah paling semangat datang ke sini untuk sekedar minum dan membahas para wanita-wanita yang mereka temui.


"Lo kan tau, dia punya mainan baru di rumah..." jawab Galih.


Tidak etis memang menyamakan Akira dengan sebuah mainan, tapi mau bagaimana lagi hanya kata itu yang pantas mendeskripsikan gadis itu.


Karena gadis itu, Arjun lebih nyaman tinggal di rumah daripada keluar dan pergi ke Club malam seperti sekarang.

__ADS_1


"Hahaha... kena karmanya sendiri kan dia. Dulu saja bilang gak akan tergoda dengan Akira, tapi sekarang? ck..." Dion benar-benar ingin melayangkan protesnya di depan Arjun langsung.


"Sekarang mana bisa ia jauh-jauh dengannya..." tambah Galih.


Jika saja saat ini Arjun sedang makan, mungkin pria itu beberapa kali tersedak karena dibicarakan oleh Dion dan juga Galih.


Galih dan Dion kembali menenggak minuman di depannya. Menyerngit merasai aroma menyengat dari minuman keras yang masuk melewati tenggorokannya.


"Katanya Lo juga jadi korban Akira?" tanya Dion. Beberapa hari yang lalu ad ayang bilang kalau Galih menjadi sasaran praktek Akira.


"Gak tau diri emang tuh pasangan!" umpat Galih.


Ingatannya kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu saat dengan tidak tau malunya Arjun dan Akira berkunjung pagi-pagi sekali ke Apartemennya.


Dan karena itu juga Galih mendapatkan rasa sakit dan memar karena suntikan Akira.


Sungguh mengingatnya saja membuat Galih kembali ketakutan.


"Hahaha..." sedangkan Dion hanya tertawa. Ia tak menyangka kalau Arjun akan senekad itu pada temannya sendiri.


"Tai Lo!" umpat Galih. Bukannya merasa iba, Dion seperti sangat puas dengan nasib buruk yang menimpa Galih.


"Tapi bayarannya sesuai kan? tak masalah bukan..."


"Tak masalah kepala Lo! tangan gue sakit sampai beberapa hari nyet!" umpat Galih.


Bahkan ia sampai memeriksakan ke Rumah sakit, kali aja ada yang infeksi atau terjadi masalah serius.


Setelah membahas Arjun dan Akira, Dion dan Galih kembali menikmati malam mereka. Sesekali bercerita tentang sesuatu yang menarik lainnya.


"Gue ke toilet dulu..." pamit Galih.


Galih berjalan keluar ruangan sambil menghisap rokok. Dengan sangat tenang, ia menuju ke toilet yang berada di sudut lantai 2.


Menginjak rokoknya dan langsung masuk ke dalam. Ternyata Galih tidak sendirian berada di dalam sana. Ada 2 orang pria berkemeja rapi yang terlihat sibuk berbicara sambil menuntaskan hajatnya.


Tentu saja Galih juga bisa mendengar pembicaraan mereka itu,


"Lo pasti akan tertarik dengan nya.."


"Seperti apa wanita yang Lo bicarakan itu?" tanya lainnya.


"Dia berbeda dengan wanita lainnya... dia sangat cantik, indah dan juga m*muaskan...",


"Ck, Lo sering berkata seperti itu, tapi nyatanya tidak ada satupun yang benar-benar bisa membuatku merasa puas..."


Galih tidak peduli tapi karena telinganya berfungsi, ia terpaksa harus mendengar semua itu.


"Kali ini berbeda bro... dia si Bidadari Malam ... tidak semua orang bisa menikmatinya... tapi gue yakin kalau dia akan tertarik denganmu..." satunya meyakinkan.


Ck... apa dia bilang? Bidadari Malam? Mana ada Bidadari yang tinggal di tempat seperti ini? Terlalu berlebihan... batin Galih sedikit geli mendengar julukan seseorang yang menurutnya sama sekali tak pantas.


"Baiklah, ayo kita temui dia..."


Kedua orang yang tidak Galih kenal pun pergi lebih dulu meninggalkan toilet.

__ADS_1


Galih menuju ke Wastafel untuk mencuci tangannya. Perlahan ia membuka jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Setelah mencucinya, tanpa sadar Galih melihat luka lama yang masih membekas jelas di telapak tangan.


Galih langsung menghentikan aktifitasnya. Di rabanya bekas luka itu dengan tangan satunya.


Tidak sakit memang karena luka itu sudah lumayan lama, tapi insiden yang menyertai luka itu masih jelas teringat di kepala Galih bahkan hatinya.


"Br*ngsek!" umpatnya pada diri sendiri. Entah kenapa Galih kembali mengingat hal yang berusaha ia lupakan selama ini.


Dengan tangan yang masih sedikit basah, Galih kembali mengenakan jam tangannya dan keluar dari toilet.


Langkah pasti membawa Galih menyusuri lorong yang di samping kirinya berjejer ruangan yang di sekat-sekat menjadi beberapa pintu dengan nomor yang urut.


Tapi entah kenapa Galih tidak kembali pada ruangan dimana Dion dan dirinya berada beberapa saat yang lalu. Sekarang langkah kaki membawa Galih berdiri di samping tangga penghubung lantai satu dan dua.


Dari sini, Galih mampu melihat keadaan di lantai 1 dengan banyak sekali orang-orang yang menari diiringi dengan musik yang menghentak.


Pria wanita membaur menjadi satu tanpa rasa malu sedikitpun. Ada juga yang sekedar duduk di depan bar tender menikmati minuman mereka.


Inilah potret yang jarang sekali di lihat oleh orang-orang.


Bahwa ada kehidupan baru di mulai saat banyak dari orang-orang di luaran sana yang bersiap untuk tidur dan mengistirahatkan diri.


Mata Galih terus menjelajahi setiap sudut ruangan itu, hingga tak sengaja melihat dua orang pria yang di temui saat di toilet tadi.


Galih semakin menajamkan mata, melihat siapa yang mereka dekati. Dan di detik selanjutnya, Galih terkejut dengan siapa wanita itu. Bukankah dia Lea? wanita yang waktu itu bersama dengan Arjun?


Galih sangat ingat kalau wanita bergaun hitam di bawah sana adalah Alea.


Jadi dia si Bidadari Malam itu? Ck... Bidadari Pemu*s N*fsu maksudnya?


Pertama kali melihat Lea waktu itu Galih sudah tau kalau dia adalah gadis yang hanya pantas untuk bersenang-senang saja.


Itulah penilaian dari Galih. Tapi satu yang membuat Galih sedikit merasa aneh.


Hari itu adalah pertama kalinya Galih bertemu dengannya tapi Galih merasa kalau gadis itu sangat familiar. Entah hanya kebetulan belakang, Galih merasa Lea mirip dengan seseorang yang ia kenal.


Dengan mata elangnya, Galih terus mengamati pergerakan gadis di bawah sana. Gadis bernama Lea yang tadinya asyik bersama teman-temannya mulai terganggu oleh 2 orang pria berkemeja rapi.


Terlihat sekali kalau Lea berusaha untuk menghempaskan tangan pria itu berulang kali yang mencoba untuk menyentuh tubuhnya.


Ck, kenapa menolaknya? bukan tipenya? batin Galih mengkritik situasi yang terjadi.


Tapi yang membuat Galih semakin risau adalah saat kedua pria itu mulai membawa Lea menjauh dari sana. Mau kemana mereka?


Entah kenapa hal itu mengganggu Galih. Tanpa berpikir panjang Galih langsung turun berlari mengejar Lea dan 2 pria tersebut.


"WOY..."


***


Masih ingat Lea?


Yupp... betul sekali... Lea adalah wanita yang gagal jadi teman tidur Arjun di Bab 41...

__ADS_1


Di bab-bab berikutnya, Lea akan sering muncul... kalau kesel, lampiaskan pada Lea jangan pada Authornya... hehehe


Semoga syuka...


__ADS_2