Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
93. Praktek Terakhir.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Cobalah walaupun selalu gagal... Karena kita tak pernah tau 'keberhasilan' akan datang setelah percobaan gagal yang ke berapa kalinya... Akira Wardani.


 


Malam hari, di sebuah ruangan yang berada di ujung lantai dua. Ruangan yang tidak pernah terjamah oleh para penghuni rumah, lebih tepatnya ruangan yang pantas di sebut sebagai tempat pelarian.


Di tempat inilah Arjun dan Akira berada.


Biasanya ruangan ini sangat sunyi dan juga gelap, tapi malam ini terasa berbeda.


Suasananya benar-benar hidup sama seperti beberapa tahun yang lalu saat putri keluarga Pradipta masih hidup.


Mungkin inilah definisi setelah kehilangan seseorang, baru kita menyadari akan hadirnya selama ini.


Sama seperti Jessi, adik perempuan Arjun. Semua kenangan gadis itu masih melekat pada sanubari keluarganya. Jessi menjadi satu-satunya gadis yang memliki tempat spesial di hati Arjun dan kedua orangtuanya.


Walaupun Jessi telah meninggalkan keluarganya lebih dulu, tapi semua kenangan gadis itu masih tertinggal di rumah ini.


Akira pernah melihat bagaimana kamar Jessi yang masih terawat kebersihannya. Pakaian dan barang-barang gadis itu masih tertata rapi di tempatnya.


Bukan hanya itu saja, sekarang Akira juga memasuki ruangan yang terlihat seperti sebuah ruang khusus belajar dimana ada banyak buku dan beberapa lukisan yang Jessi buat semasa hidupnya.


Akira juga sangat menyukai ruangan ini. Mungkin di masa depan, Akira akan sering-sering berada di ruangan ini untuk belajar atau sekedar membaca buku saja.


"Sayang, sudah..." tolak Akira dan mulai menjaga jarak dari suaminya. Membenahi dress pendek dengan resletingnya yang sudah setengahnya melorot.


Memang seharusnya seperti itu. Kalau Akira tidak segera menjaga jarak, mungkin Arjun akan memakannya di tempat ini.


Seperti itulah tingkah Arjun beberapa waktu terakhir. Seenaknya sendiri dan tak jarang membuat istrinya keramas setiap saat.


"Aku kangen..." ucap Arjun dan kembali mendekati istrinya.


Ck, apa dia bilang? kangen? memangnya kita habis berpisah sampai berapa tahun sih sampai merasa kangen?


Heran sekali Akira melihat kelakuan Arjun yang kadang terlihat konyol.


"Sini..." perintah Arjun karena Akira selalu menjauh saat dirinya mendekatinya.


"Apa sih, lagian bukan ini rencana kita tadi..." protes Akira. Setidaknya ia harus mencoba menyuntik lagi untuk malam ini. Besok adalah hari dimana ujian menyuntik akan di laksanakan.


Dan Akira harus benar-benar berjuang agar lulus di tahap awal tersebut.


"Hibur aku dulu sebelum merasakan sakitnya suntikan mu...," pinta Arjun dan hal itu membuat Akira menyipitkan mata karena tau kalau ini hanyalah akal-akalan Arjun saja.


"Tidak," tolak Akira.


"Kalau begitu aku tidak mau di suntik lagi..." rajuk Arjun bahkan terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek karena tidak dibelikan permen orangtuanya.


"Kenapa begitu? kamu sudah janji kan!" tentu saja Akira kesal di permainkan oleh pria itu.


Padahal hanya Arjun lah kesempatan bagi Akira.


"Lagian aku capek..." tambahnya. Sejak Akira memberikan hak Arjun sebagai suaminya, pria itu benar-benar membuat tulang Akira terasa remuk setiap harinya.

__ADS_1


Untung saja Akira selalu rajin meminum pil penunda kehamilan, jika tidak mungkin ia sudah benar-benar mengandung anak dari Arjun.


"Capek? memang aku minta apa?" pancing Arjun bahkan dengan tampang jenaka.


"Apa lagi kalau bukan itu?" omel Akira sambil bibir yang mengerucut sebal.


Hal itu membuat Arjun tertawa geli.


Di rengkuh nya tubuh kecil Akira hingga terjatuh di pangkuan Arjun. "Kenapa kamu berpikiran mesum sih!" ucap Arjun sambil menarik hidung istrinya gemas.


Padahal bukan itu yang Arjun inginkan. Ia hanya ingin mendapat ciuman dari istrinya saja.


"Kapan aku bilang ingin memakan mu? aku hanya meminta cium saja kok..." tambahnya.


Sungguh Akira benar-benar merasa malu. Wajahnya mungkin saja sudah berubah merah saat ini. Ahh... malunya...


"Hahaha... kenapa pipimu berubah merah?" goda Arjun pada istrinya. Bahkan tangan pria itu sampai mengelus pelan pipi Akira hingga membuat gadis itu terlihat semakin aneh, malu lebih tepatnya.


"Jangan menggodaku..." Akira menghempaskan tangan Arjun karena kesal.


"Ya! kamu sudah berani kurang ajar ya sekarang..." teriak Arjun hingga membuat Akira sedikit takut.


"Maaf," sesalnya.


"Ini adalah hukuman mu..." Arjun meraih wajah Akira dan langsung mencium istrinya dengan lembut.


Hanya begini saja sudah membuat hati mereka terasa berbunga-bunga.


Tidak ada yang pernah menyangka kalau akhirnya Arjun dan Akira benar-benar jatuh cinta.


"Aku mencintaimu..." ucap Akira jujur.


"Berjanjilah untuk selalu di sisiku," pintar Arjun.


Apapun yang akan terjadi nanti, Arjun hanya ingin bersama dengan Akira.


Dia hanya menginginkan gadis itu yang menjadi ibu dari anak-anak nya.


Bahkan Arjun ingin hidup dan menua bersama dengan Akira.


Dan jika saat itu telah tiba, Aku ingin pergi menghadap Tuhan lebih dulu darimu... bukan karena sebab, Aku tak yakin bisa hidup kalau kamu pergi lebih dulu dariku, Akira... batin Arjun.


Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya aku bisa jatuh cinta kepadamu... pria yang sama sekali tak pernah terbayangkan akan menjadi suamiku... ucap Akira dalam hati.


 


Di sofa ruangan, Akira telah bersiap untuk melakukan praktek menyuntiknya lagi.


"Duduk di sini!" perintah Arjun.


"Tidak, mana ada perawat yang duduk di pangkuan pasiennya?" tentu saja Akira menolak ide gila dari Arjun.


"Aku suami mu, bukan pasien mu...".


"Tapi tetap saja, kamu harus duduk di sini," pinta Arjun sambil menepuk pahanya.


Akira terdiam sesaat, menimang apa yang akan terjadi jika ia menolaknya.

__ADS_1


Apa dia akan menolak di suntik jika aku tak mau menurutinya? ahhh... aku sudah tau jawabannya nanti, ck... licik! batin Akira sambil menatap bibir Arjun yang menyunggingkan senyum kelicikan.


Akhirnya Akira benar-benar mengalah. Sekarang duduk di pangkuan Arjun dan saling menatap satu sama lain. Terlihat vulg*r memang, tapi itulah keinginan Arjun dan Akira mengalah daripada pria itu berubah pikiran nantinya.


Akira mulai fokus pada pekerjaannya. Mengikat Tourniquet di lengan suaminya.


"Ikat yang betul," perintah Arjun tapi dengan tangan satunya yang berkeliaran di tempat lain.


"Sayang hentikan!" protes Akira. Mana bisa ia berkonsentrasi kalau suaminya sibuk memainkan kancing piyama yang Akira kenakan malam ini.


"Aku juga perlu mengalihkan perhatian agar tidak ketakutan," ucap Arjun. Setidaknya dengan melakukan ini, sedikit mengurangi rasa takutnya.


"Cari betul-betul pembuluh vena nya,".


Akira mengangguk dan berkonsentrasi penuh. Mengoleskan alkohol di tempat pengambilan darah agar tidak ada kuman yang ikut terambil.


Dan ketika bersiap untuk menyuntik, Akira bersuara "Jangan khawatir," setelahnya jarum itu benar-benar menerobos masuk ke pembuluh Vena milik Arjun hingga membuat pria itu sedikit meringis sambil merem*s sesuatu di d*da istrinya.


Darah perlahan keluar dari sana, dan Akira mulai mengendorkan ikatan Tourniquet untuk melancarkan kembali aliran darah suaminya.


Senyum seketika terukir indah dari bibir Akira melihat apa yang sedang terjadi. Percobaannya kali ini benar-benar berhasil.


"Selesai," ucap Akira dan Arjun juga baru berani melihat pergelangan sikunya yang mulai di tempel plester.


aahhh... akhirnya selesai...


Entah kenapa Akira merasa terharu. Ia tak menyangka kalau dirinya benar-benar bisa menyuntik.


"Terima kasih sayang... aku berhasil," ucap Akira sambil memeluk tubuh Arjun masih di posisi seperti awal dimana ia duduk di paha Arjun.


Bahkan Akira tidak memperdulikan 3 kancing piyamanya yang sudah terbuka hingga menampakkan bagian atas tubuhnya.


"Kamu menggodaku?" sindir Arjun.


Duduk seperti ini sambil di peluk, membuat sesuatu di bawah sana mulai terasa tak nyaman.


Apalagi posisi Akira yang duduk di atas seperti ini benar-benar terlihat sangat menggoda.


"Apa? aku hanya berterima kasih..." ucap Akira.


"Jangan kepadaku..." tolak Arjun.


"Lalu?" tanya Akira penuh pertanyaan.


"Berterima kasihlah padanya..." tunjuk Arjun ke bawah.


Ck, licik! umpat Akira.


Tapi karena Akira berhasil menyuntik, ia akan menuruti semua kemauan Arjun kali ini.


Dan di tempat inilah mereka benar-benar menyatu kembali. Di sofa dengan posisi yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


Tentu saja bukan hanya Akira yang menikmati semuanya. Arjun benar-benar puas melihat wajah istrinya dari sisi yang berbeda selama ini. Melihat Akira yang memejamkan mata sambil rambutnya yang terombang-ambing sesuai ritme, semakin membuat pria itu terkagum-kagum.


"Aku mencintaimu..." hanya itu yang Arjun bisikkan sepanjang aktifitas mereka.


***

__ADS_1


Komen banyak-banyak... hehehe


Oh ya, maafkan kalau tulisannya amburadul... Tanganku gak sengaja kena pisau jadi, hanya bisa ngetik dengan 5 jari... maaf ya...


__ADS_2