Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
96. Serangga Pengganggu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tepat pukul 9 malam, Alea tiba di parkiran sebuah tempat hiburan malam.


Dengan gaun ketat berwarna hitam yang panjangnya jauh di atas lutut wanita itu turun dari mobil merahnya.


High heels yang di kenakan bahkan terlihat tak mempengaruhi sedikit pun langkah yang di ambilnya.


Baru saja memasuki Club malam yang biasa ia datangi, bau minuman keras langsung menguar menusuk indera penciumannya.


Tapi hak itu sangat biasa bagi Alea, karena di tempat inilah ia biasa menghabiskan malam.


Musik yang keras serta memekakkan telinga tak juga menjadi penghalang dirinya berbicara ataupun sekedar menyapa orang-orang yang di kenalnya.


Alea termasuk gadis yang sangat mudah bergaul. Dimana saja ia berada, tak butuh waktu lama Alea langsung bisa beradaptasi.


Seperti sekarang, 7 bulan mendatangi Club malam ini sudah banyak orang yang mengenalnya.


Bahkan tak sedikit pula yang berusaha untuk mendekatinya.


Hal itu di sebabkan karena paras cantik dan juga postur tubuh Alea yang benar-benar bisa di definisikan dengan kata sempurna.


"Sorry terlambat..." ucapnya pada teman-teman Alea yang memang sudah datang lebih dulu darinya.


"Dari mana saja Lo? semua pria disini seperti jenuh karena tak melihat Lo..." gurau teman Alea.


Alea hanya tertawa bersama dengan yang lainnya mendengar semua itu. Sudah seperti artis saja... begitu hati Alea bicara.


Alea ikut menenggak minuman yang berada di meja di dekatnya. Seketika rasa panas langsung menjalar melewati tenggorokannya.


Mata Alea terus menelusuri seluruh sudut ruangan itu seolah sedang mencari seseorang.


"Dia tak datang..." sela teman Lea.


"Gue tidak mencarinya!" jawab Lea kesal. Toh memang pada kenyataannya orang yang di cari Lea sama sekali tidak terlihat batang hidungnya beberapa bulan terakhir.


"Cari lainnya kenapa sih, ada banyak sekali pria kaya sesuai kriteria Lo..." saran temannya.


Alea bukan lah wanita yang hanya tertarik pada uang dari pria-pria kaya.


Ia juga memiliki kriteria tertentu sebelum bisa tidur dengan seseorang. Yang pasti bukan pria berperut gendut yang terlihat menjijikkan.


Apalagi ketika sudah melihat pria yang sesuai dengan kriterianya, Lea berambisi untuk mendapatkannya seperti seekor singa yang mengincar rusa buruannya.


"Hahaha... yang mana? kenalin kek ke gue..." gurau Lea walaupun jika memang ada, tak masalah buatnya.


Setidaknya hal itu bisa menambah pundi-pundi kekayaannya.


Lea bukanlah gadis yang lahir dari keluarga kaya raya. Dulu Orangtuanya hanya seorang tenaga kerja yang berkerja di Luar negeri. Tapi saat Lea masih kuliah, tanpa terduga sama sekali kedua orangtuanya menjadi korban Tsunami dan Lea menjadi yatim piatu.


Menyedihkan memang, tapi Lea masih terlihat kuat. Sejak saat itu kehidupan Lea berubah.


Ia terpaksa mencari om-om kaya yang bisa membiayainya hingga lulus bahkan Lea sampai pergi ke Luar negeri untuk ikut dengan pria tersebut.


Tapi mungkin inilah takdir hidupnya. Lea ditakdirkan hanya sebagai wanita simpanan tang bisa di tinggalkan kapan saja oleh Tuannya.


Itulah yang menjadi Lea kembali pulang ke tanah air setelah tak berguna lagi bagi pria yang selama ini membiayai hidupnya.


Sedang asyik berbincang dengan teman-teman nya, ada 2 orang pria yang mendekati Lea.

__ADS_1


"Hai..." sapa pria itu sangat ramah bahkan senyum di bibirnya melengkung sempurna.


"Hallo..." jawab Lea sama seperti sebelum-sebelumnya ketika bertemu dengan orang baru.


"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu..." ucap pria itu tanpa basa-basi sama sekali.


Setidaknya ia ingin Alea menjauh dari teman-temannya untuk beberapa saat.


"Oh ya? tentang apa?",


"Ayo...",


Lea tanpa ragu sama sekali mengikuti 2 orang pria muda tersebut untuk menjaga jarak sedikit jauh dari teman Lea.


"Ada apa?" tanya Lea.


"Bidadari malam..." ucap pria itu.


Sedangkan Lea yang mendengarnya hanya tersenyum. Itulah julukan yang entah dari siapa yang menciptakannya duluan.


"Gue ingin diri Lo!" ucap pria itu dengan tutur kata yang sedikit santai tidak seformal tadi.


"Ck, maksudnya tidur dengan Gue begitu?" tanya Lea spontan.


Tak heran memang karena ucapan itu sudah sering sekali Lea dengar sepanjang hidupnya.


Karena semua pria yang mendekatinya memang hanya menginginkan hal tersebut.


Walaupun ada memang yang benar-benar tulus kepada Lea, tapi itu hanya ada di masa lalu saja.


Dan itu tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.


Lumayan.. tapi bukan seleraku... itulah penilaian Lea terhadap orang di depannya.


"Berapa harganya?" tanya salah satu dari mereka. Bukan hanya bertanya masalah harga, tangan pria itu bahkan sengaja menyentuh bongkahan belakang tubuh Lea.


Tidak etis memang kalau Lea langsung memarahinya. gadis itu sejenak menghindar dan menjaga jarak. Walaupun dalam hatinya ia benar-benar merasa di lecehkan.


"Tidur lah denganku malam ini..." pinta pria itu. Sedangkan Lea langsung menampakkan senyumnya. Senyum yang seolah sedang di beri lelucon.


"Tidak," tolak Lea tegas. Toh ia tidak bisa tidur dengan sembarangan orang.


"Tidurlah denganku," teriak pria itu bahkan lebih berani untuk menggenggam tangan Lea dengan erat.


Di perlakukan seperti itu benar-benar membuat Lea merasa kesakitan. Gadis itu bahkan meringis sambil berusaha untuk berontak.


"Lepas!" ucap Lea.


Tapi itu tidak berlaku pada pria di depannya yang bahkan sudah menarik paksa tangan Lea untuk meninggalkan tempat itu.


Mungkin takdir Alea berkata lain, karena pada saat ia berusaha untuk lepas dari pria kurang ajar tersebut ada sebuah suara yang menghentikan aksi mereka.


"WOY!" teriak seseorang tegas dan langsung menghentikan langkah mereka.


"Mau Lo bawa kemana dia?" tanya pria berjas yang baru saja tiba yang tak lain adalah Galih.


Dengan sangat tenang, Galih mendekati 2 pria brengs*k yang hendak melecehkan seorang gadis.


Alea ingat dengan wajah pria yang baru saja datang tersebut. Matanya membulat tak percaya kalau pria itu yang datang untuk menolongnya, Dia?


"Bukan urusan Lo kan?" jawab pria tidak tau diri yang masih menggenggam tangan Lea.

__ADS_1


"Tidak urusan gue memang, tapi mata gue sakit melihat pria pecundang seperti Lo yang hanya bisa main kasar!" umpat Galih.


Pada kenyataannya memang Galih tidak ada urusan sama sekali dengan kedua pria itu, tapi entah kenapa ia merasa sedikit terusik dengan cara pria itu yang memaksa seorang gadis.


Bahkan sangat jelas kalau gadis itu tak mau sama sekali.


Ketiga pria di sana saling menatap dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan. Karena merasa genggaman tangan itu mulai mengendor, Alea langsung menghempaskan tangannya cepat dan pergi sembunyi di belakang Galih.


Hanya dia tempatku berlindung saat ini...


"Br*ngsek!" umpat salah satu pria itu dan langsung melayangkan pukulannya.


Tapi bukan Galih namanya kalau sampai terkena pukulan dari pria itu. Dengan sangat enteng, Galih menghentikan kepalan tangan lawannya yang sudah melayang ke udara dan hampir mengenai wajahnya jika Galih tak waspada.


Di remasnya tangan sang lawan dengan sangat keras, memutarnya untuk sedikit memberi rasa sakit pada tangan sang lawan dan Galih langsung menghempaskan begitu saja dengan tenaga nya.


Hal itu tentu saja di lihat oleh Lea dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana pria di depannya begitu tenang menghadapi lawannya.


"Jangan sok berkelahi kalau tidak bisa!" ucap Galih terdengar melecehkan.


Bahkan melihat lawan di depannya saja ia sudah tau kalau mereka sama sekali tidak jago berkelahi seperti dirinya.


Ya walaupun Galih jarang berkelahi saat ini, tapi jangan tanyakan kemampuan yang dimilikinya.


Sepuluh orang saja Galih bisa menanganinya apalagi hanya 2 orang seperti sekarang.


Kedua lawan Galih hanya terdiam, saling senggol karena mereka sadar bahwa Galih bukan lah tandingannya.


"Tidak selalu wanita tertarik hanya karena kalian memiliki banyak harta..." ucap Galih.


Walaupun pada kenyataannya dia juga korban dari kekuatan sebuah uang.


Karena uang lah Galih di tinggalkan oleh kekasihnya di masa lalu.


"Kita cabut!" perintah pria di depan Galih dan di detik selanjutnya kedua pria yang hendak memaksa Lea langsung kabur.


Setelah kepergian kedua orang itu, Lea masih menatap punggung pria di depannya.


"Lain kali, Hati-hati..." ucap Galih tanpa memutar tubuhnya sama sekali.


Dan langsung pergi meninggalkan Alea yang masih berdiri tanpa mengatakan apapun.


Entah kenapa bertemu dengan Galih membuat lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengucapkan kata terima kasih.


Galih berjalan kembali menuju ke lantai dua dimana Dion berada. Tapi kali ini terasa berbeda saat Galih mengambil langkah meniti anak tangga di depannya.


"Apa hanya perasaanku saja atau memang benar ya?" gumamnya pelan.


Galih dengan pikiran berkecamuk langsung masuk kembali ke ruangannya.


"Kemana saja Lo?" tanya Dion tiba-tiba. Bahkan tak memperdulikan Galih yang mash berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.


"Menyingkirkan serangga pengganggu!" jawab Galih dan kembali duduk di kursinya.


Menenggak kembali minuman dari gelas bening yang berukuran kecil di depan sana.


Gue harus mencari tau semuanya...


***


Kalian juga punya firasat sesuatu yang sedikit aneh tidak sih dengan Galih??? komen banyak-banyak...

__ADS_1


__ADS_2