Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
190. Sarapan Bersama.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi hari, Tiara bangun sedikit awal karena merasa sesak di tubuhnya.


Nafasnya tidak bisa lega biasanya.


Gadis itu mulai meraba selimut yang biasa membungkus tubuhnya, tapi kakinya seperti mati rasa. Tidak bisa di gerakkan sama sekali.


Hingga setelah mengumpulkan kesadaran sepenuhnya, Tiara membuka mata.


Benar sesuai dugaannya, rasa sesak yang menimpa dirinya tak lain adalah karena ada sosok lain yang terlelap di sampingnya. Memeluk tubuh Tiara seperti sebuah guling.


Ya... Galih.


Ck... enak sekali dia memelukku seperti itu... protes Tiara.


Sedikit kesal memang mengingat pembicaraan mereka semalam.


Bagaimana Galih dengan jujur mengatakan kalau pria itu masih mencintai mantan kekasihnya.


Tapi bagaimana denganku? apa dia tak merasa bersalah setelah memelukku? batinnya lagi.


Tiara merasa murahan di depan pria itu. Bagaimana cara Galih menciumnya waktu itu, bagaimana Galih tidur sambil memeluknya membuat harga diri Tiara terluka.


Yang ada di kepalanya saat ini adalah, Galih melakukan itu dan membayangkan tubuh Tiara sebagai tubuh mantan kekasihnya.


Ya... pasti itu yang ada di dalam kepalanya...


Jelas sekali ada rasa terluka saat tatapan Tiara kepada Galih. Membuat gadis itu segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah kepergian Tiara, nyatanya Galih langsung membuka mata. Ternyata pria itu sudah bangun sejak tadi. Hanya saja Galih berpura-pura masih tertidur karena ingin memeluk Tiara lebih lama.


"Sudah bangun?" tanya Tiara terkejut. Menuju ke meja rias untuk mengambil tissue.


"Hm," jawab Galih kembali berpura-pura menggeliat supaya Tiara percaya kalau dirinya baru saja bangun.


"Gue akan memasak..." ucap Tiara dan segera meninggalkan kamar. Menuju ke dapur sebagai rutinitas paginya.


Ternyata di dapur sudah ada seseorang yang duduk sambil menenggak air putih.


Oh jadi dia tamunya? tapi semalam suaranya laki-laki... batin Tiara.


Ia sangat ingat akan hal itu.


"Hai," sapa Tiara canggung. Karena ia tak tau kalau ada perempuan juga yang bertamu di rumah ini.


"Hai," sapa Gadis.


Oh dia yang semalam? batin Gadis mengamati Tiara.


Penampilan keduanya terlihat berbeda. Tiara terlihat sangat feminim dengan piyama berwarna merah muda. Sedangkan Gadis yang terlihat seperti cowok walaupun dengan rambut panjangnya yang di kuncir naik ke atas.


"Jadi...?"


Tiara bingung untuk bertanya apa. Membuat Gadis tersenyum dan mengangkat tangan untuk berjabat tangan.


"Gadis, Iya... saya dan Dion menginap semalam...".

__ADS_1


Oh jadi namanya Gadis... cantik juga walaupun terlihat tomboy...


"Tiara...".


Kedua wanita beda penampilan itu akhirnya berjabat tangan. Memperkenalkan diri mereka untuk pertama kalinya.


"Kamu mau sarapan dengan apa?" tanya Tiara walaupun masih terlihat canggung. Apalagi Gadis seperti wanita dewasa yang mungkin saja lebih tua dari Taira dari segi umur.


"Panggil aku Mbak... sepertinya kamu jauh lebih muda dariku..." sela Gadis.


"Oh, baiklah... Mbak," ucap Tiara masih kaku untuk memanggil Gadis dengan sebutan Mbak.


Gadis mengamati punggung Tiara yang tengah memotong sayuran dan menggoreng ikan. Dalam hatinya Gadis sedikit takjub karena walaupun tinggal di desa, ia sama sekali tak pernah melakukan hal itu.


Memasak, terakhir kali Gadis melakukan itu saat masih duduk di sekolah menengah atas, itupun membuat jarinya hampir putus gara-gara terkena pisau.


Hebat juga dia... pasti Galih beruntung memiliki kekasih yang pintar masak... batin Gadis terpukau.


Hingga lamunannya buyar saat seseorang mendekatinya, "Selamat pagi..", dan mengecup singkat pipi Gadis tanpa ragu. Dia adalah Dion.


"Apa sih..." protes Gadis.


Sejenak Tiara menengok untuk melihat dua orang di belakangnya.


Eh... bukannya dia yang waktu itu? oh... jadi bukan sekedar teman kencan ya... Duga Dion dengan segala pemikirannya tentang Tiara.


Dulu saat dia datang kesini, Dion menduga kalau Tiara adalah partner One Night Stand.


Tapi sepertinya salah karena buktinya Tiara masih ada disini dan bahkan tinggal serumah dengan Galih.


Membuat dirinya yakin kalau ada hubungan spesial yang Tiara jalin bersama dengan Galih.


Atau Galih berencana menikah lebih dulu dariku? dia ingin mengejekku? batin Dion terkejut dengan pemikirannya lagi.


"Kenapa?" tanya Gadis. Membuat lamunan Dion buyar seketika.


"Em, tidak...".


"Dimana Galih?" tanya Dion kepada Tiara.


Karena hanya Tiara lah yang bisa menjawab pertanyaan itu.


Karena semalam ia memang tidur seranjang dengan Galih.


"Masih di kamar... tapi dia sudah bangun kok..." jawab Tiara.


Setidaknya mengatakan sejelas-jelasnya agar tak jadi kesalahpahaman nanti.


"Mau kopi atau susu?" Tiara menanyakan hal itu karena Galih juga selalu meminta kopi saat bangun tidur.


"Tidak, aku tidak minum kopi..." jawab Dion dan kembali meninggalkan dapur.


"Dia tidak suka kopi..." perjelas Gadis. Dan Tiara paham akan hal itu.


"Ohh...".


"Maaf ya Tiara... aku tidak bisa membantumu... aku tidak pandai memasak... hehehe...".


"Oh, tidak apa mbak... aku terbiasa menyelesaikannya sendiri..." jawab Tiara sungkan.

__ADS_1


Memasak adalah rutinitas paginya, karena Galih terbiasa sarapan cukup berat.


Padahal biasanya orang lain hanya sarapan ringan seperti sereal, ataupun roti selai.


Tapi Galih beda. Pria itu tidak bisa sarapan tanpa nasi. Paling tidak ya makan bubur Ayam yang di jual di depan Apartemen tersebut.


Dan benar saja, Tiara sudah menyelesaikan masakannya.


"Biar ku bantu..." dan Gadis membantu untuk menatanya di meja makan.


Selama itu, Tiara bergegas untuk mandi.


Untung saja hari ini adalah tanggal merah. Jadi Tiara tidak berangkat kuliah.


Juga dengan Galih yang mengenakan pakaian santai setelah mandi.


Ruang makan terasa ramai dari biasanya. Karena ada 4 orang yang duduk di kursi bersiap untuk menikmati sarapan.


"Kalian tidak ada acara kan?" tanya Dion memulai percakapan.


Gadis dan Tiara sama-sama melayani prianya.


Menuangkan nasi dan lauk ke piring Galih dan Dion.


"Tidak, kenapa? tapi gue mau mengambil kunci Apartemen untuk Lo..." jawab Galih. Ya... itulah rencana sejak semalam.


Nanti saat siang hari, Galih akan meluncur menuju ke Rumah Pradipta karena kunci Apartemen dibawa pemiliknya, yang tak lain adalah Arjun.


"Bagaimana kalau kita ke Mall? kami belum memiliki pakaian yang cocok untuk ke pesta..." saran Dion. Setidaknya Gadis akan merasa lebih nyaman jika pergi berbelanja dengan Tiara.


Karena mereka sama-sama perempuan, sedangkan Dion akan selalu berdebat jika mengajak Gadis berbelanja.


Ya... pasangan kekasih itu memiliki selera yang berbeda.


Dimana Dion lebih suka melihat Gadis terlihat feminim, sedangkan Gadis sendiri suka dengan gaya pakaian yang menurutnya nyaman.


"Lo mau kan Ra? menemani Gadis mencari gaun pesta..." ucap Dion tertuju pada Tiara.


"Gue? emm..." sejenak Tiara melihat ke arah Galih, meminta persetujuan pria itu.


Tapi dari cara Galih memandangnya, pria itu terlihat tidak peduli apa yang akan menjadi jawaban Tiara.


"Gimana?" gantian Dion bertanya pada Galih.


"Gue sih mau-mau saja..." tanpa terduga Galih mengiyakan ajakan Dion.


Dia juga harus membeli gaun bukan? batin Galih sambil menatap Tiara.


Karena pesta yang mereka maksud adalah pesta kelahiran putri Arjun - Akira jadi Galih juga harus membawa Tiara kesana bukan? setidaknya memberi selamat kepada Akira sebagai seorang sahabat karib.


Ternyata dalam diamnya Galih, pria itu masih memikirkan Tiara.


Bahkan sampai memikirkan gaun yang akan di kenakan gadis itu nantinya.


"Oke deal! kita berangkat bersama..." jawab Dion penuh semangat.


Dan pada akhirnya, mereka mulai menikmati sarapan buatan Tiara. Gadis beberapa kali memuji masakan gadis itu yang terasa enak.


Tanpa mereka sadari, Galih lah yang merasa bangga. Jelas enak lah makanannya... wanitanya siapa gitu loh...

__ADS_1


***


Wanitanya siapa Gal? hehehe...


__ADS_2