
HAPPY READING...
***
Sudah satu minggu lamanya sejak pesta yang diadakan Danu dan istrinya. Sejak itu ada banyak orang yang membicarakan Keluarga Pradipta karena menuntut salah satu Keluarga Konglomerat di Negara ini.
Semua itu tentu saja tak luput dari telinga media, tapi karena Keluarga Pradipta mempunyai pengaruh yang besar, banyak media yang tak berani memberitakan masalah tersebut. Dan inilah yang terjadi seminggu sesudah masalah terjadi, semuanya hilang seperti angin lalu.
Akira yang beberapa hari terakhir hanya mampu tinggal di rumah saja, kini mulai di longgarkan.
Hari ini gadis itu di perbolehkan untuk berangkat kuliah. Tentu saja dengan penjagaan yang ketat.
Agghhh... aku tidak mau... keluh Akira hanya dalam batin. Mana berani ia protes di depan Papi Johan. Bukan hanya dirinya saja yang diperlakukan seperti itu, Mami Livia juga sama. Bahkan lebih parahnya beliau di larang Papi Johan untuk menghadiri acara arisan dengan temannya.
Tapi bedanya Mami Livia berani merengek kepada Papi Johan tapi untuk Akira, mana berani ia melakukan hal itu.
Insiden pemukulan yang terjadi pada Akira juga sampai terdengar di telinga orang tuanya. Bahkan kesehatan Ibu Arum sempat menurun tapi tak sampai di rawat di Rumah Sakit.
Ayah Adam juga terlihat marah karena hal itu, tapi setelah di beri penjelasan oleh Papi Johan dan juga Arjun beliau mampu meredam kemarahannya.
Mungkin seperti itulah kecemasan yang di rasakan semua orang tua terhadap anak-anak mereka. Apalagi Akira adalah putri tunggal dimana kasih sayang kedua orangtuanya benar-benar tercurah untuknya seorang.
"Sayang... apa Papi tidak berlebihan?" rengek Akira.
Ngomong-ngomong, panggilan sayang itu benar-benar ia lakukan kepada Arjun. Bukan karena tulus, tentu saja karena takut ancaman dari pria itu yang akan mencium Akira secara paksa.
Walaupun sudah memanggil Arjun dengan panggilan sayang, tapi tetap saja pria itu bertindak seenaknya sendiri. Arjun seringkali mencuri-curi kesempatan untuk mengecup singkat bibir istrinya. Percuma bukan? tapi mau bagaimana lagi...
"Apa kamu keberatan? kalau aku sih tak masalah... jadi saat ada seseorang yang selalu bersamamu, kamu tidak akan macam-macam!" sindir Arjun kepada istrinya.
Akira tidak paham dengan apa yang dikatakan Arjun hingga membuatnya protes, " Macam-macam gimana? memang apa yang aku lakukan?".
"Selingkuh seperti dulu...".
Akira seperti hendak tersedak oleh liurnya karena ucapan Arjun. Ck... apa dia bilang? selingkuh?
"Sudahlah jangan di ingat-ingat lagi..." Akira menepuk lengan suaminya sambil mengamati sekitar, kali aja ada pelayan yang mendengar ucapan Arjun tadi. Akan menjadi masalah nantinya kalau pelayan itu sampai melaporkan kepada Papi Johan.
Dari insiden kemarin, Akira benar-benar bisa melihat bagaimana Papi Johan menyelesaikan masalahnya.
Terlihat kejam memang, tapi benar-benar mampu membuat pelakunya merasa jera.
Dan dari situlah Akira tak lagi berani macam-macam dengan tindakan bodoh yang mungkin dilakukannya.
Akira juga membenarkan peringatan Arjun dulu. Jika saja Akira tetap ngeyel untuk mempertahankan hubungan terlarangnya dengan Dean, mungkin nasibnya benar-benar berakhir buruk.
"Ck... kenapa? kamu ingat dosa yang pernah kamu lakukan?" sindir Arjun lagi. Mengingatnya saja membuat Arjun sedikit kembali kesal. Rasanya tidak cukup hanya memukul selingkuhan Akira dengan dua kali pukulan.
Rasanya benar-benar tidak seimbang.
"Apaan sih..." Rajuk Akira. Ucapan Arjun benar-benar menusuk sampai ke ulu hatinya. Dosa? benar sih kalau selingkuh itu dosa... tai kan?
Tentu saja Akira masih tidak menerima kesalahannya begitu saja. Masih ada tapi-tapi lain yang membuatnya terlihat benar. Selingkuh tidak pernah di benarkan, bodoh!
__ADS_1
"Pagi Mi, Pi..." sapa Arjun ketika langkah kakinya sampai di ruang makan.
Begitu juga dengan Akira.
"Pagi..."
Akira duduk di samping suaminya. Meminum air putih sebelum memulai sarapannya.
Di keluarga ini, Akira benar-benar di manjakan. Semua makanan kesukaannya selalu hadir di meja makan, seperti pagi ini.
Dan itulah yang membuat berat badan Akira bertambah. Bukan hanya timbangan saja yang mengatakan hal itu. Hampir setiap malam, Arjun memang menyempatkan diri untuk mengecek berat badan istrinya. Dengan timbangan? tentu saja tidak.
Pria itu sengaja menggendong Akira untuk beberapa saat untuk merasakan bagaimana perubahan Akira.
Aneh memang, tapi seperti itulah fakta yang ada. Mungkin inilah definisi dari kata Bucin!
"Makan yang banyak sayang," perintah Mami Livia pada menantunya.
"Iya Mi...".
"Akira... nanti kamu berangkat bersama supir bukan?" tanya Papi Johan lebih ke arah mengingatkan peraturan baru yang beliau terapkan beberapa terakhir.
"Iya Pi..." jawab Akira tanpa banyak protes.
Mami Livia dan Arjun hanya tersenyum mendengar jawaban Akira tang tidak keberatan sama sekali. Jika di pikir-pikir, peraturan itu juga akan membawa dampak baik bagi mereka bukan? jadi saat anggota keluarga Pradipta di luar, akan terjamin keamanannya.
Apalagi setelah melewati masa genting, tidak dapat di pungkiri kalau viral keluarga mereka kaan bertindak sebagai bentuk rasa balas dendam mereka.
Bisa saja mereka ganti mencelakai Akira lebih parah dari apa yang pernah Elsa lakukan.
---
"Aku berangkat ya..." pamit Arjun. Mencium kening istrinya sebelum masuk ke dalam mobil.
Tentu saja hal itu di lihat oleh beberapa supir dan juga penjaga pintu, memang mereka buta sampai tidak melihat hal itu?
Agghh... malunya...
Akira yakin kalau pipinya kali ini sudah berubah merah seperti tomat yang matang.
"Hati-hati..." jawab Akira tentu saja dengan wajah yang malu.
Mobil Arjun melaju lebih dulu. Setelahnya baru Akira yang masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya kuliah.
Di perjalanan, Akira mulai merancang sesuatu yang akan ia katakan kepada supir tersebut.
"Pak... Anda akan kembali setelah mengantarkan saya kan?" tanya Akira perlahan.
"Tidak Nona, saya akan menunggu Nona sampai selesai...".
Benar kan dugaan ku... dia akan berada di kampus sampai aku pulang...
"Apa tidak lelah? maksudku aku akan pulang sampai jam 3, tidak lapar menunggu selama itu?" Akira masih mencoba untuk bernegosiasi dengan supirnya.
__ADS_1
"Sekarang pesan makanan lewat aplikasi sangat mudah Nona... mana mungkin saya kelaparan?".
Eh benar juga... kenapa aku bisa melupakan itu? tinggal pencet menunya, tak lama akan di antar bukan?
"Anda tidak ada pekerjaan lain selain menunggu ku?" tanya Akira kali ini tanpa berbasa-basi.
"Tidak, mematuhi perintah Tuan besar adalah pekerjaan saya...".
Benar... Aku benar-benar harus pasrah menerima nasib...
Sedangkan supir itu mulai bicara pada dirinya sendiri, Akhirnya Anda paham juga dengan posisi Anda Nona...
Tiba di Universitas, Akira langsung di sambut oleh Tiara.
"Akira!" panggil gadis itu.
Tentu saja Akira langsung mendekati sahabatnya.
"Kamu berangkat bersama supir?" tanya Tiara.
"Hm," jawab Akira frustasi.
"Kenapa? apa lukamu belum sembuh? apa terjadi sesuatu yang buruk denganmu?" Tiara memang sudah tau insiden waktu itu.
Tapi yang masih membuatnya bingung adalah kenapa Akira harus membawa supir dan lebih parahnya di tunggu seperti anak kecil.
"Aagghh... mau bagaimana lagi? ini semua perintah Papi..." jawab Akira.
"Ohhh..." hanya itu tanggapan dari Tiara. Ia paham apa yang telah terjadi.
Mereka sama-sama berjalan menyusuri koridor. Hingga tak sengaja tepat di depan salah satu ruang kelas, mereka bertemu dengan Dean.
Akira langsung terdiam membeku tapi pandangannya tetap ke arah pria yang sudah sangat lama tidak berbicara satu sama lain.
Dean sama sekali tidak menyapa Tiara maupun Akira. Pria itu benar-benar pergi seolah tidak mengenali mereka.
"Akira..." panggil Tiara.
"Em..." jawab Akira kembali melanjutkan langkahnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara khawatir. Soalnya terakhir kali bertemu dengan Dean, Akira tak henti-hentinya menangis. Dan Tiara takut hal itu terulang lagi.
"Kenapa? Aku sudah move on..." jawab Akira dengan senyuman.
"Benarkah? kamu mencintai Arjun?" tanya Tiara penasaran.
"Mencintai? belum..." jawab Akira.
Kali ini menatap sahabatnya, "Tapi... aku akan mencobanya..." tambah Akira bahkan dari nada bicaranya, gadis itu sangat yakin.
"Woo... manis sekali sih..." jawab Tiara heboh.
***
__ADS_1
Cie... Akira mencoba untuk mencintai Arjun...