
HAPPY READING...
***
"Jangan terlalu mencintai seseorang melebihi rasa cintamu terhadap Tuhan... Karena Lidah saja bisa berubah apalagi dengan Hati..."
---
Tiara menggunakan taxi untuk menuju ke sebuah Cafe yang di jadikan sebagai tempat janjian bersama dengan kekasih nya. Sambil membelah jalanan dengan hujan deras, Tiara mengamati Paperbag di pangkuannya. Di dalam sana ada sesuatu yang akan di berikan Tiara kepada kekasihnya.
Semoga dia suka kadoku... batin Tiara penuh harap.
Malam ini Tiara masih sama seperti biasanya. Mengenakan Crop top berwarna hitam yang di lapisi dengan jaket serta celana jeans. Rambut panjangnya di biarkan tergerai dan di curly bagian bawahnya saja.
Riasan wajahnya juga tidak berlebihan karena Tiara tidak terlalu suka berdandan.
Tiba di Cafe, Tiara turun dengan sedikit berlari karena takut terkena air hujan.
Mengusap-usap lengan jaketnya yang sedikit basah dan langsung masuk ke dalam sana.
Tiara terus mengamati seluruh tempat itu, tapi tidak menemukan kekasihnya. Apa dia belum datang?
Tiara terus berjalan dan memilih tempat yang tepat menghadap ke jalanan di depan sana.
Cukup lama, hingga derap langkah kaki seseorang terdengar mendekatinya.
Senyum yang tadinya terukir jelas di bibir Tiara langsung sirna melihat kekasihnya datang dengan seseorang yang tidak ia kenal sama sekali.
"Beb," ucap Tiara meminta penjelasan kepada kekasihnya datang sambil menggandeng tangan wanita lain tepat di hadapannya.
Dalam hati Tiara mencoba untuk tidak berprasangka buruk kepada kekasihnya. Mungkin saja mereka berteman...
Tapi teman macam apa yang menggandeng tangan temannya tepat di hadapan Tiara. Tentu saja mereka harus memikirkan hal itu bukan? setidaknya jaga perasaan Tiara sebagai kekasih pria itu.
"Tiara, gue mau ngomong sesuatu..." ucap kekasih Tiara. Bahkan tanpa berkeinginan untuk duduk terlebih dahulu.
Bahkan panggilan manis yang selalu terucap dari bibir pria itu tak lagi terdengar. Pria itu mengubah panggilannya terhadap Tiara. Dan jelas menyakitkan bagi Tiara.
"Siapa dia?" tanya Tiara. Sebelum kekasihnya berkata-kata, Tiara ingin tau lebih dulu siapa wanita di depannya saat ini.
"Maafkan gue Ra,"
Maaf? maaf untuk apa? karena membawa wanita itu kesini? di hadapanku? batin Tiara.
"Siapa dia? pacarmu? selingkuhan mu?" tanya tiara dengan nafas yang seperti tercekat di tenggorokan.
Sedih memang, tapi Tiara berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Tunangan ku... dan dia telah mengandung anakku,".
Tiara tersenyum getir. Nyatanya air mata yang sudah ia tahan sebelumnya lolos begitu saja. Membasahi pipi dan jatuh tepat di dadanya.
Apa dia bilang? tunangan? sejak kapan?
"Tunangan? jadi gue yang selingkuhan mu?" tanya Tiara pilu. Entah apa posisinya di mata pria itu. Entah sejak kapan kekasihnya itu tega bermain wanita di belakang Tiara.
Tiara benar-benar tidak paham.
__ADS_1
"Maafkan gue Ra,"
"Sejak kapan? sejak kapan ini terjadi?" tanya Tiara. Walaupun jawaban pria itu tidak akan membuat semuanya berubah, tapi Tiara hanya ingin tau sejak kapan ada wanita lain yang masuk dalam hubungan percintaannya.
"Tiara..."
"JAWAB!"
Semua pengunjung Cafe langsung menatap ke arah Tiara.
Memalukan memang, tapi rasa sakit Tiara yang di khianati jauh lebih memalukan lagi.
"4 bulan,"
Empat bulan dan gue sampai tidak menyadarinya? hebat sekali... batin Tiara semakin pilu.
Betapa pintarnya pria itu menutupi aibnya rapat-rapat selama 4 bulan, hingga Tiara tak menyadari, tak merasakan ada perbedaan dalam hubungannya.
"Hebat,"
"Maafkan Gue Ra..." pria itu mencoba untuk meraih tangan Tiara, tapi langsung di hempaskan begitu saja oleh Tiara.
"Gue benar-benar tidak bisa melakukan apapun, dia telah hamil anakku Ra... darah daging ku..." ucap pria itu menjelaskan.
"Gue harus tanggung jawab..." tambahnya.
"Jelas, Lo harus tanggung jawab..." jawab Tiara. Bahkan Tiara juga merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ayah. Ia merasakan hal itu.
Selama ini Tiara hanya hidup bersama ibunya saja, ia tau bagaimana tersiksanya.
Bagaimana penilaian orang terhadap dirinya yang lahir dari orang tua tunggal.
Dimana berakhir adalah jalan satu-satunya yang bisa mereka tempuh.
Pria itu bisa tenang dan bertanggung jawab atas perbuatannya sedangkan Tiara, entah bagaimana nasibnya nanti. Yang jelas, akan ada banyak air mata yang Tiara tumpahkan mulai hari ini.
"Tiara..."
"Ini hadiah buat Lo... selamat ulang tahun, selamat karena sudah di Terima di perusahaan yang Lo inginkan... dan selamat atas pernikahan Lo nanti. Sedikit awal memang, tapi selamat..." Tiara tidak bisa meneruskan kalimatnya.
Setelah mengatakan kalimat yang ingin di ucapkan, Taira langsung berlari keluar dari tempat itu.
"Tiaraa..." panggil pria itu bahkan tak membuat Tiara menghentikan niatnya.
Di bawah guyuran air hujan, Tiara terus berlari. Berharap tangis yang ia keluarkan saat ini tak terlihat dan menyatu dengan air hujan yang membasahi tubuhnya.
Kenapa kamu tega melakukan hal ini kepadaku? kenapa kamu tega! batinnya kesal.
Tiara terlalu berharap pada pria itu. Berharap bahwa suatu hari mereka akan melangkah bersama ke Altar Pernikahan. Nyatanya semua itu hanya impian saja.
Tidak selalu waktu lama yang mereka habiskan, bisa mempererat hubungan mereka.
Banyak tahun yang mereka lalui tidak juga mampu membuat pria itu hanya menatap Tiara saja seumur hidup.
Walaupun terluka, tapi Tiara yakin. Ada sebuah rencana indah yang Tuhan persiapkan untuknya.
Karena luka bisa di sembuhkan oleh waktu. Dan mungkin saja Tuhan mendengar do'a-do'a Tiara yang meminta seorang pria yang sangat mencintai nya. Seorang pria yang mampu melindungi Tiara dan juga Ibunya.
__ADS_1
Sosok Pria yang amat mencintai keluarga.
Tiara semakin lelah berlari membelah hujan sehingga memutuskan untuk berjalan. Melewati jalanan dan tak memperdulikan tatapan orang-orang yang di lewatinya. Terus... hingga melewati persimpangan jalan.
Dan entah kenapa tidak ada satupun Taksi yang lewat.
Hingga Tiara tiba di sebuah halte pemberhentian Bus. Duduk di bangku itu dan menangis seorang diri.
Hujan malam hari yang membasahi tubuh Tiara benar-benar terasa dingin. Membuat tulang kakinya bergetar dan suhu tubuhnya menggigil.
Gue harus segera pulang... gue harus pulang...
Tiara tau tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk menerima guyuran air hujan. Tapi siapnya tidak ada kendaraan umum satupun yang bisa membawanya cepat pulang.
Tiara kembali berdiri, melangkah meninggalkan Halte.
Baru melangkah beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya terasa ringan dan Tiara jatuh.
"Lo tidak apa-apa?" tanya seseorang yang entah darimana datangnya tiba-tiba sudah berada di samping Tiara.
Apa dia malaikat? malaikat yang menjemputku untuk menghadap Tuhan? batin Tiara.
"Dimana rumah Lo, biar gue antar Lo pulang..."
Bukan... dia manusia normal... hehehe... batin Tiara. Karena hujan dan tubuhnya yang menggigil, kesadaran Tiara benar-benar hilang.
Dengan bantuan pria berjas hitam, Tiara mulai bangkit.
Berjalan menuju ke mobil yang lampunya masih sepenuhnya menyala. Tapi pandangan mata Tiara semakin buram. Tubuhnya terasa amat ringan dan di detik selanjutnya, Tiara tidak bisa melihat apapun.
Gadis itu pingsan.
"Ck... kenapa ada acara pingsan segala sih," protes pria itu yang tak lain adalah Galih. Asisten pribadi Arjun.
Tanpa berpikir panjang, Galih membopong tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke bangku tengah mobilnya.
"Si*l! kenapa gue menolongnya tadi!" sesal Galih dan langsung melajukan mobilnya kembali membelah jalanan malam hari.
Sepanjang perjalanan Galih mencoba berpikir. Ia tidak tau alamat rumah gadis yang pingsan di belakang sana. Menelepon Arjun juga percuma, ponsel pria itu tidak aktif.
"Tai! kenapa nasibku buruk sekali sih..." umpat Galih.
Sesekali ia melihat gadis di belakang sana, kalau tidak segera di ganti pakaiannya, dia kaan mati kedinginan... bagaimana ini?
Akhirnya setelah berpikir ulang beberapa kali, Galih memutuskan untuk membawa gadis itu di Apartemen nya. Setidaknya biar gadis itu sadar dulu dan mengantarkannya pulang nanti.
"Baiklah... pulang saja,"
Dan mobil mulai melaju menuju ke Apartemen Galih.
***
Yang terjadi pada Tiara ini benar-benar pernah terjadi di dunia nyata, dan tokohnya adalah Diriku sendiri walaupun di tambahin banyak bumbu disini ...
yang pernah baca Tulisan ku tahun lalu pasti tau hal itu...(hehehe)
Oke, kembali lagi ke cerita.
__ADS_1
Kayaknya Tiara emang lebih cocok dengan Galih ya kan... sama" pernah tersakiti karena cinta, mungkin bisa saling melengkapi...
Setuju????? KOMENTAR BANYAK" YA...