
HAPPY READING.
"Gue selalu ingin dekat dengan Lo..." DEAN.
***
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah 1 bulan ini Akira menjadi menjadi Mahasiswi dan selama sebulan ini hubungannya dengan Dean bertambah akrab. Mereka seringkali pergi ke kantin bersama dan Akira juga mengetahui kalau Dean bercita-cita menjadi Dokter.
Banyak sekali yang Akira pelajari dari pria itu. Bisa dikatakan kalau Akira selalu meminta bantuan dari Dean tentang istilah-istilah dalam bidang kesehatan yang sulit ia mengerti.
Sejak SMA, Dean memang tergolong siswa yang pintar. Sangat berbeda dengan Akira yang selalu menjadi siswi di urutan 10 kebawah.
Itulah sebabnya Akira tidak berani mengungkapkan perasaan yang ia rasakan kepada Dean saat itu. Akira takut kalian cintanya akan di tolak oleh Dean dan ia akan menanggung malu seumur hidup.
Akira menunggu Dean di parkiran karena permintaan pria itu tadi pagi.
Sebelumnya, Akira juga melarang supir pribadinya untuk menjemput dirinya. Akira beralasan akan mampir ke rumah orangtuanya setelah jam kuliahnya selesai. Untung saja sangat supir percaya dengan ucapan Akira.
"Sudah lama menunggu?" entah dari mana datangnya, tiba-tiba Dean telah berada di belakang Akira hingga membuat gadis itu sedikit terjingkat.
"Agghh... tidak juga..." jawab Akira dengan senyum yang selalu ia tampakkan setiap saat.
"Ayo..." ajak Dean sambil menggandeng tangan Akira menuju ke motor miliknya.
Akira menatap motor yang sudah dinaiki oleh Dean tapi tidak segera naik hingga otomatis membuat Dean bertanya, "Kenapa?"
"Ini motor Lo?" tanya Akira dengan bodohnya.
Karena yang ia tau, Dean saat SMA selalu mengenakan motor matic berwarna merah. Dulu Akira selalu memimpikan bagaimana rasanya duduk di belakang Dean. Memeluk perut pria itu dari belakang. Berbicara sepanjang jalan pulang, tapi semua itu hanya impian yang tidak pernah terwujud.
"Kenapa? Lo tidak mau?" tanya Dean.
"Bukan... gue mau..." ucap Akira dan langsung naik ke motor itu.
Seketika senyum melengkung sempurna di bibir Dean tanpa Akira sadari.
"Sudah siap?" tanya Dean kepada Akira.
"Hm,"
Segera Dean melajukan motornya meninggalkan gedung Universitas tempat mereka menimba ilmu.
"Gue masih ingat motor yang selalu Lo pakai ke sekolah dulu... beda dengan ini," ucap Akira mengingat saat pertama kali melihat Dean. Saat itu mereka baru masuk sekolah dan menjadi murid kelas 1 SMA.
Akira sengaja duduk di depan kelas untuk melihat Dean yang berjalan melewati kelasnya saat pulang. Juga saat Akira sengaja melihat Dean yang mendorong motor sampai di pintu Gerbang dan baru menaikinya setelah itu.
Itulah yang Akira lakukan sampai dirinya naik ke kelas 2. Melihat Dean dari kejauhan seperti itu saja sudah membuat Akira senang bukan main.
Tapi siapa sangka kalau di kelas 3, takdir mempertemukan mereka di sebuah acara Amal dimana Akira dan Dean berada dalam 1 kelompok. Hubungan mereka bertambah dekat sejak saat itu.
"Lo ingat itu?" tanya Dean penasaran.
"Tentu saja!" ucap Akira semangat dan di detik selanjutnya ia merasa malu karena ucapannya sendiri, "Maaf...".
"Lo tau kenapa gue ganti motor?" tanya Dean.
"Ha?" tentu saja Akira tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Dean saat ini. Selain motor itu melaju sangat kencang, suara kendaraan Dean juga berisik.
Ya, saat ini Dean menggunakan Motor Sport yang cukup keren untuk pria seusianya.
__ADS_1
"Dean, tadi Lo ngomong apa?" tanya Akira sedikit penasaran dengan ucapan Dean yang tidak ia dengar tadi.
"Pegangan kencang," pinta Dean sedikit membuat kencang laju kendaraannya.
Otomatis Akira memeluk perut Dean kencang dan memejamkan matanya karena takut.
Bagaimana tidak takut? Dean beberapa kali mendahului kendaraan di depannya seperti seorang pembalap.
Sekilas Dean melihat tangan yang melingkar di perutnya. Entah kenapa hak itu membuat Dean kembali tersenyum walaupun tidak terlihat karena tertutup oleh Helm yang dia kenakan.
"Dean, STOP!" teriak Akira masih dengan mata terpejam.
Ya Tuhan... apa Aku akan mati sekarang? oh jantungku... jantungku berdetak tak karuan... batin Akira memohon.
"Dean Stop!" pinta Akira lagi dan hal itu jelas di dengar oleh Dean hingga pria itu menurunkan sedikit kecepatannya.
"Lo takut?" tanya Dean tanpa bersalah sama sekali.
"Pelan-pelan saja..." ucap Akira.
"Oke..." jawab Dean enteng, tapi sebenarnya ia hanya sedikit menurunkan kecepatan motornya. Hanya sedikit saja. Terkadang Dean juga membenahi tangan Akira yang berada di perutnya saat tangan gadis itu terasa mengendur.
Hingga motor itu berhenti di suatu tempat, Akira baru berani membuka matanya.
Terasa Dean turun dari motor lebih dulu dan menghadap ke arah Akira. Hal pertama yang Akira lihat setelah matanya terbuka adalah sosok Dean yang berdiri tepat di hadapannya.
Deg ...
Entah kenapa melihat Dean dari jarak dekat seperti ini membuat Akira kesulitan bernafas.
Sosok pria yang dulu sangat ia kagumi sama sekali tidak berubah. Garis wajahnya, matanya, hidungnya masih persis seperti Dean yang dulu. Dan Akira masih mencintai pria itu sampai detik ini.
Cukup lama mereka menatap satu sama lain seperti itu hingga hembusan angin yang tiba-tiba, membuat mereka tersadar dan membuang pandangan mereka.
Di disini lah saat ini Dean dan Akira berada. Duduk berdua di bangku sebuah taman kota dengan banyak pohon-pohon tinggi nan rindang.
Suasana sore hari sangat nyaman dengan matahari yang berada di sebelah barat jantung kota.
"Gue penasaran kenapa Lo mengganti motor merah Lo dengan motor tadi," ucap Akira masih membahas tentang motor yang dikendarai Dean.
"Lo mau tau alasannya?" Dean balik bertanya.
"Hm," tentu saja Akira menganggukkan kepalanya yakin.
"Karena gadis yang ku incar tidak pernah mau menaikinya..." jawab Dean seperti sebuah teka-teki untuk Akira.
Akira tidak lagi menanyakan detailnya karena ia tidak punya hak untuk tanya lebih jauh. Memang siapa Akira sampai ingin tau hal yang bersifat privat untuk Dean?
"Oh..."
Hening kembali mengambil alih suasana. Akira maupun Dean tidak ada yang berbicara. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Cukup lama... hingga Dean bersuara,
"Lo mau dengar cerita gue?" tanyanya kepada Akira.
"Cerita?" tentu saja Akira bingung mendengarnya.
Dean menghela nafasnya dengan kasar, bersiap untuk mulai bercerita.
__ADS_1
"Dulu ada pria yang kata orang sangat pintar,"
Akira hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dean.
"Dia sangat pintar dalam berbagai mata pelajaran. Tapi sangat bodoh melihat sesuatu..."
"Maksudnya?" tanya Akira tidak paham. Ia memang selalu tidak paham dengan banyak hal. Betul kan?
"Dia sangat bodoh dalam menelaah sesuatu yang bahkan berada tepat di depannya. Dia begitu pengecut untuk mengatakan hal-hal yang ingin ia katakan..."
Ingatan Dean kembali saat 3 tahun lalu.
Saat itu, Dean adalah siswa SMA tahun ajaran baru. Dia seorang diri masuk ke lingkungan sekolah yang masih asing untuknya. Dean belum memiliki seorang teman pun disini.
Tapi beberapa hari setelah itu, ada seorang gadis yang membuat Dena penasaran. Hadis itu memiliki wajah yang cantik dengan rambut sebahu. Tubuhnya memang pendek tapi gadis itu sangat imut dan terlihat ceria sepanjang hari.
Terkadang Dean sengaja melewati kelas gadis itu hanya untuk melihatnya. Gadis itu selalu berdiri di pintu saat Dean lewat, selalu seperti itu.
Terkadang saat dia mendorong motor melewati lapangan basket, Dean melihat gadis itu di lantai 2 gedung sekolah yang juga menatap ke arah lapangan. Ingin sekali Dean menyapa gadis itu, tapi Dean sangat malu.
Ia takut gadis itu salah paham dan menolaknya.
Itulah sebabnya Dean hanya diam untuk beberapa tahun.
Tapi mungkin takdir mereka sangat erat. Di sebuah acara amal yang diadakan sekolah, Dean dan gadis itu berada dalam kelompok yang sama.
"Lo ingin tau nama pria itu?" tanya Dean kepada Akira.
Walaupun Akira tidak penasaran, tapi tetap saja mengangguk setuju.
"Dean,"
Sebuah nama yang terucap dari bibir Dean seketika membuat Akira menatapnya dengan sangat dalam.
"Ya, itu gue. Selama 3 tahun gue hanya diam tanpa melakukan apapun..." tambah Dean.
"Memang apa yang ingin Lo lakukan?" tanya Akira penasaran.
Dean terdiam dan menatap Akira cukup lama bahkan hal itu membuat Akira jadi salah tingkah.
Gue gugup di tatap seperti itu... batin Akira sambil berusaha membenarkan posisi duduknya.
"Gue ingin bilang kalau gue suka sama Lo..." ucap Dean tiba-tiba.
Degg...
Jantung Akira seperti berhenti berdetak.
Rasanya seperti ada udara panas yang keluar dari tubuhnya setelah mendengar perkataan dari Dean barusan.
"Gue ingin bilang kalau gue suka dengan gadis yang selalu berdiri di pintu kelas saat jam sekolah usai, Gue suka dengan gadis yang melihat lapangan Basket dari lantai 2 gedung sekolah... gue suka dengan gadis berambut lurus sebahu yang duduk di sebelah gue saat ini..."
Dean masih menatap Akira dengan sangat dalam.
Mungkin ini adalah ucapan paling tulus yang ingin Dean katakan kepada seseorang.
Seorang gadis yang telah membuat hatinya berbunga-bunga selama 3 tahun.
"Dean..." Akira tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
***
Jeng jeng jeng...