
HAPPY READING...
***
Meminta maaf tidak akan membuat seseorang terlihat rendah... dan orang yang memaafkan tidak terlihat menyedihkan.
Seharian di rumah orangtuanya, Galih hanya tiduran di sofa berkutat dengan ponselnya.
Memainkan game yang ada di benda pipih tersebut sepanjang waktu.
Tanpa memperdulikan Ibu, Bella maupun Ayah yang terlihat beberapa kali lalu lalang di samping sofa yang memang jalan penghubung antar ruangan di rumah itu.
Tanpa Galih sadari saat pria paruh baya itu melewatinya, mata Ayah tak lepas memandangi sosok anak laki-lakinya yang kian hari bertambah dewasa dan tinggi. Badan Galih juga terlihat lebih berisi dari terakhir kali pria itu keluar dari rumah beberapa tahun silam.
Galih memang terlihat lebih mirip seperti Ayah dibandingkan dengan Ibunya. Berpostur tubuh tinggi tegap dengan gigi gingsul bagian kanan serta bekas luka di pelipis kirinya.
Yang membedakan antara Ayah dan Anak hanyalah senyuman mereka.
Galih lebih terlihat dingin jika dibandingkan Ayahnya yang sangat ramah pada siapa saja.
Mungkin itu tidak bisa jadi patokan seseorang. Karena dulu Galih juga memiliki senyum ramah sama seperti ayahnya. Senyum itu hilang setelah kepergian Alya, kekasihnya. Dimana sosok Galih benar-benar berubah 180 derajat. Tak lagi ada senyum seramah dulu, tak ada lagi binar mata penuh kasih di mata pria itu hingga kini.
Ayah masih berdiri di dekat Galih hingga tiba-tiba Ibu datang dan mengejutkannya, "Ayah... Apa-?"
Karena terkejut Ayah otomatis menatap ke arah lain, tak lagi memperhatikan putranya.
Begitu juga dengan Galih yang tidak menyadari apapun sejak tadi. langsung duduk melihat kedua orangtuanya bicara.
"Aku mencari gunting taman, dimana ya?" ucap Ayah dengan nada sedikit berantakan.
"Gunting?", Walaupun mengerti apa yang sedang jadi perhatian suaminya barusan, Ibu tidak bisa mengatakannya langsung. Beliau tetap berpura-pura karena akan sangat canggung nanti baik Ayah maupun Galih.
"Aku carikan," jawab Ibu dan langsung meninggalkan Ayah dan Galih.
Tinggal dua pria beda usia yang ada di ruangan itu, membuat oksigen seperti berkurang drastis. Menciptakan suasana yang sedikit pengap dan sangat tidak nyaman. Bahkan Galih beberapa kali merubah posisi duduknya untuk sekedar mengusir kecanggunga.
Hingga tak sengaja tatapan mata keduanya bertemu di satu garis lurus. Membuat tubuh Galih seperti berhenti bereaksi. Ia ingin memutar kepalanya ke arah lain, tapi kesadarannya seperti menolak hal itu hingga yang dilakukannya hanya diam sambil melihat wajah Ayah.
Di detik selanjutnya, Galih kembali bisa menguasi tubuhnya. Memutuskan kontak mata dengan Ayah. Perasaan apa ini? batin Galih sambil melihat ke arah lain.
Menatap wajah sang Ayah barusan, entah kenapa membuat dada Galih terasa sesak.
Wajah yang dulu selalu ia tatap, entah sejak kapan telah berubah. Ada banyak kerutan menghiasi wajah itu. Juga dengan rambut beliau yang mulai tumbuh uban.
Galih sibuk tumbuh dan mencari jati dirinya, hingga tak menyadari kalau orangtuanya juga ikut menua bersamaan dengan waktu.
"Ayah, ini guntingnya..." ucap Bella yang datang menggantikan Ibu dari dapur sambil membawa gunting taman.
"Makasih," jawab Ayah dan langsung menerima gunting lalu pergi keluar rumah.
Sedangkan Galih, kembali berani menatap punggung ayahnya saat Ayah telah berjalan melewatinya. Ayah... ingin sekali Galih mengucapkan kata itu, tapi lidahnya amat kelu.
Tidak... dia saja tidak mau bicara denganku... batinnya.
__ADS_1
Inilah salah satu alasan kenapa hubungan Ayah dan anak tersebut sulit di perbaiki. Mereka sama-sama meninggikan ego hingga sangat sulit sekali untuk mengucapkan kata maaf.
Galih yang sedikit egois sedangkan Ayah yang percaya dengan pemikirannya yang selalu benar.
Mereka benar-benar sama... sama-sama egois... batin Bella menggelengkan kepala.
***
Sore hari, Galih sudah selesai mandi. Mengenakan baju yang sudah di siapkan Bella untuknya dan duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut dengan sebuah handuk.
Rencananya ia akan segera kembali ke Apartemen. Mempersiapkan semuanya karena besok ia harus kembali bekerja.
Tok tok tok...
suara ketika pintu membuat Galih menengok.
"Apa Bella boleh masuk?" ternyata yang datang adalah Bella.
"Hm," jawab Galih sambil terus mengeringkan rambut.
Bella langsung menampakkan senyum secerah mentari dan duduk di samping Galih.
"Ada apa?" tanya Galih. Karena kalau Bella sudah tersenyum seperti itu, ada sesuatu yang diinginkannya.
"Heheh... kak, kakak ingat gadis yang waktu itu?" tanya Bella sedikit berhati-hati dalam memilih kosa kata agar tidak kena omel kakaknya.
"Tidak," jawab Galih. Menurutnya, Galih tak perlu mengingat semua gadis yang dibicarakan oleh Bella. Tidak penting dan juga tidak menguntungkan bagi Galih.
"Isst... aku serius kak," rengek Bella.
Membuat Bella mengerucutkan bibirnya. ck... menyebalkan...
"Padahal aku hanya ingin memberitahu kakak..."
Apa sih maksudnya nih bocah? batin Galih.
"Memberitahu apa?" tanya Galih walaupun sebenarnya ia tak berniat ingin tahu sama sekali.
"Kakak ingat gadis yang tidur di Aparte-... emmt... emmh..." sebelum Bella meneruskan kalimatnya, Galih lebih dulu menutup mulut gadis itu. Dan melihat keluar pintu mungin saja ada Ayah ataupun Ibu di luar sana.
"Lo bisa pelan tidak sih!" omel Galih.
"Iya iya gue ingat!" jawab Galih dan melepaskan bekapan tangannya.
"Aku mengajaknya kesini," jawab Bella dengan bahagia. "Namanya Tiara kan?".
Membuat Galih terkejut dan tersedak oleh liurnya sendiri.
"APAAA?" teriak Galih bahkan terdengar lebih kencang daripada suara Bella.
Bella mengajaknya kesini? ngapain? dan kenapa dia mau?
itulah pertanyaan-pertanyaan yanga ada di kepala Galih saat ini.
"Dia sekampus denganku, dan sekarang kami mulai akrab... Bella juga tau kalau malam itu, ternyata Tiara putus dengan pacarnya..." celoteh Bella panjang lebar.
__ADS_1
Tapi sampai membawa Tiara kesini bukankah berlebihan? begitu batin Galih.
"Ayah dan Ibu juga menyukainya, dia gadis manis dan sopan..." tambah Bella semakin membuat sudut mata Galih berkedut aneh.
Sampai segitunya? astaga... gue benar-benar merasa gila!
Yang bisa Galih lakukan hanya menyentuh pangkal hidungnya, mendengar kelakuan Bella benar-benar mampu membuatnya syok.
"Jadi bersikap baiklah dengannya!" ucap Bella.
"Lo memerintah ku?" tanya Galih tak percaya. Lagian memang apa yang Galih lakukan pada Tiara hingga harus bersikap baik dengan gadis itu?
"Hehehe... karena dari sikap kakak yang dingin, itu sangat tidak menguntungkan... dan juga, Tiara terlihat kesal ketika Bella membicarakan kakak di depannya..." adu Bella.
***
Galih telah selesai menikmati makan malam bersama dengan keluarga nya.
Jarang-jarang ia bisa duduk di meja yang sama dengan Ayah Ibu serta adik perempuannya. Karena biasanya, Galih makan malam sendirian di dalam Apartemen.
Walaupun dengan suasana canggung, Galih bisa melalui hal itu.
"Ibu, Galih pulang ya..." pamit Galih pada Ibunya yang berdiri di ambang pintu. Mencium tangan malaikat yang telah melahirkannya dengan tulus.
"Hati-hati Galih, pelan-pelan saja saat berkendara..." jawab sangat Ibu.
Karena hanya doa seorang Ibu yang membuat anak-anak mereka aman dari mala bahaya.
"Hati-hati kak," ucap Bella. Sedangkan Galih hanya tersenyum sambil menyentuh kepala adiknya dan mengacak nya sama seperti yang selalu Galih lalukan.
Pandangan Galih tertuju pada ruangan dalam, terlihat jelas sekali kalau pria itu menunggu kedatangan seseorang. Bella dan Ibu sadar, apa yang membuat Galih seperti itu.
Ayah... bagaimanapun juga, Galih seperti ingin melihat ayahnya sebelum kembali pulang.
Tapi nyatanya, sosok yang di cari tak ada disana.
Tidak ada berdiri untuk mengantar kepergiannya.
Ya... gue sadar, kesalahanku tidak bisa di maafkan...
"Nanti Ibu sampaikan," hibur Ibu pada Galih.
Membuat Galih terpaksa menyunggingkan senyum kaku.
"Galih pulang Bu... Bella..." Galih melangkah menuju ke mobil.
Tanpa Galih sadari dari balik kaca jendela yang tertutup tirai gelap, seseorang berdiri. Matanya seolah mengawasi pergerakan seseorang di depan rumah mulai dari masuk ke dalam mobil hingga mobil itu perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya.
Dia adalah Ayah.
Walaupun tidak mengantarkan Galih kembali pulang, nyatanya pria itu mengintip sampai akhir.
Galih... putraku...
***
__ADS_1
Inilah ruginya meninggikan Ego...