
HAPPY READING...
***
Berikan aku satu bukti nyata bahwa kehadiranku kau anggap berharga, agar... aku bisa meyakinkan diriku, meyakinkan hatiku bahwa bertahan sejauh ini tidaklah sia-sia... TIARA.
---
Galih : [Cepat keluar...].
Satu pesan yang mampu membuat Tiara kalang kabut. dengan jurus seribu, gadis yang telah beranjak dewasa itu mulai mempercepat kegiatan nya. berpakaian dengan tergesa-gesa termasuk dengan menggulung rambut yang mulai memanjang dengan sebuah handuk.
Setelah semuanya selesai, Tiara langsung berlari keluar kamar kost menemui tamu yang telah berada di depan pagar depan karena tidak bisa masuk begitu saja. itulah aturan yang harus ditaati oleh semua penghuni kost ini.
Ya, aturan pertama adalah tidak boleh membawa tamu masuk ke dalam kost tanpa meminta ijin.
Itulah sebabnya Galih berdiri di depan rumah kost berlantai 3 tersebut. memperhatikan jalanan untuk mengusir jenuh.
Terdengar pintu gerbang dibuka dari dalam, membuat Galih teralihkan fokusnya kepada wanita dengan piyama panjang membalut tubuh kecilnya.
"Sorry, gue baru mandi tadi...". meminta maaf adalah cara cukup aman untuk membuat seseorang tidak jadi marah.
"Ayo masuk..." ucap Tiara lagi ketika tak mendengar suara gerutu Galih ataupun kemarahan pria itu.
Dengan menggenggam tangan Galih, Tiara masuk ke dalam. memberitahu Ibu Kost kalau ada teman lelakinya yang datang. Setelah itu, Tiara membawa Galih masuk ke dalam kamar kostnya.
Pertama kali menginjakkan kakinya masuk, Galih tak lepas mengamati seluruh penjuru kamar yang terlihat sederhana. Tidak rapi juga karena Tiara sedang malas membereskan kamarnya. banyak tumpukan pakaian yang masih berada di lantai, mungkin baru saja tiba dari loundry, itulah yang Galih pikirkan.
"Heheh... gue belum sempat beberes..." ucapnya tau apa yang ada di dalam kepala Galih.
Hingga Galih memilih duduk di kursi daripada di lantai, apalagi di kasur Tiara dimana ada beberapa pakaian dalam yang tercecer disana. membuat Tiara seketika berlari, menyembunyikan tutup aset pribadinya dari pandangan pacarnya itu.
"Ck..." kali ini Galih berdecak. heran dengan tingkah Tiara yang berbeda 180 derajat seperti saat tinggal di apartemennya.
"Apa ini wujud asli mu?" tanya Galih terdengar seperti sebuah ejekan karena Tiara terlihat jorok.
Apa dia bilang? wujud? memang kata itu pantas untuk mengkritik seseorang? batinnya. kesal karena mulut tipis pria itu masih saja mengeluarkan kata-kata pedas apalagi untuk Tiara. andai Tiara kembali mengungkit bagaimana cara Galih meyakinkan Tiara untuk tetap bersamanya? sungguh pasti pria itu akan kehilangan rasa percaya dirinya.
Ya sebelum ini sebelum Galih mendeklarasikan diri sebagai kekasih Tiara, pria itu hanya mengatakan kata-kata manis untuk membuat Tiara percaya akan kesungguhan hatinya. tapi sekarang... pria itu kembali ke mode kulkasnya. dingin dan menjengkelkan.
"Kan gue sudah bilang, gue belum sempat beberes... apalagi pulang bekerja juga selalu telat gara-gara lo kan?" tunjuk Tiara.
bagaimana tidak, mereka seringkali menyelinap untuk beberapa saat untuk bertemu di dalam Perusahaan. hal itu juga membuat Tiara terlambat untuk pulang bukan? bagaimanapun waktu tetaplah waktu, akan terus berjalan sesuai dengan semestinya.
"Kemasi semua barang-barang mu..." perintah Galih.
"Ha? kenapa?" tentu saja Tiara terkejut dengan ucapan Galih. lagian ini sudah malam dan kenapa ia perlu mengemasi barangnya? memang mau kemana? begitu pikir Tiara.
"Tinggal di Apartemen saja..." jawab Galih. Sungguh Galih tidak nyaman bertemu Tiara seperti sekarang.
"Kenapa?" tanya Tiara masih dengan mode bodohnya.
"Tidak ada peredam suara di kamar ini..." jawab Galih spontan.
Hal itu kembali membuat Tiara ternganga.
Peredam suara? untuk apa?
__ADS_1
Bingung dengan ucapan Galih terdengar tidak nyambung sama sekali.
"Untuk...?" tanya Tiara pada akhirnya. semakin diam justru ucapan Galih semakin membingungkan dirinya saja. setidaknya jika Tiara bertanya, Galih akan menjelaskannya nanti.
"Kemarilah..." perintah Galih. menjentikkan jarinya agar Tiara mendekat.
"Apa sih?" tanya Tiara.
"Kemarilah..." ulang Galih dengan sedikit menekankan nada bicaranya agar Tiara tak lagi membantah. hingga perlahan Tiara mendekati Galih. berdiri tepat di hadapan pria yang katanya mencintai Tiara apa adanya itu.
Dengan sekali tarikan, Tiara terhuyung dan duduk di pangkuan pria itu. "Hei, curang!" protes Tiara. ini hanya akal-akalan Galih saja bukan? berkata yang tidak-tidak agar bisa memeluk Tiara seperti ini.
Tanpa Tiara duga, Galih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Tiara. Apa sih maunya? batin Tiara. karena tingkah laku Galih selalu berbeda dan tidak mudah di tebak. hingga Tiara merasakan sapuan nafas Galih seperti menyusuri lehernya dan...
"Aww..." teriak Tiara spontan. tapi di detik selanjutnya menutup mulutnya dengan kedua tangan. sadar bahwa dimana ia sedang berada saat ini.
"Galih! kenapa menggigitku? dan bagaimana kalau di dengar kamar sebelah?" protes Tiara.
Tapi beda lagi dengan Galih, pria itu terlihat tenang dan tak merasa bersalah sedikitpun.
"Nah tau kan kegunaan peredam suara?" tanya Galih tanpa mau menjelaskan lebih detail tentang hal itu. berharap Tiara sedikit pintar untuk mencerna semuanya.
"Ayo pindah saja...".
oh jadi itu alasannya... batin Tiara.
"Tapi kenapa? memang apa yang akan lo lakuin disini?".
"Hhh..." terdengar Galih menghela nafasnya kasar. bingung untuk menjelaskan yang bagaimana lagi kepada kekasihnya itu.
"Bukan sekedar itu, gue bahkan ingin memakanmu..." jawab Galih terdengar sungguh-sungguh. membuat Tiara bangkit dari pangkuan Galih untuk sedikit menjaga jarak. Ya mungkin sana Galih akan melakukannya bukan?
Melihat Tiara yang mundur darinya, seketika senyum Galih terukir melengkung menghias wajahnya. lucu memang melihat tingkah Tiara yang kadang polos kadang juga menyebalkan.
"Tak ingin menawariku minum?" tanya Galih. setidaknya air putih mampu menyegarkan tenggorokannya.
"Ah iya...", Tiara segera pergi mengambil air untuk Galih. membuka lemari pendingin kecil di dekat lemari pakaian dan mengambil camilan juga.
Melihat itu, Galih beralih bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju ke ranjang untuk melihat ponsel wanitanya.
Dan posisi ternyaman sambil bermain ponsel adalah rebahan. menselonjorkan punggungnya beberapa saat.
Agghh... nyaman sekali...
"Berapa pinnya?" Galih bersuara karena ponsel Tiara tak bisa terbuka secara manual.
"Tanggal lahir gue..." ucap Tiara dan Galih langsung paham. hingga di percobaan pertama, ponsel itu langsung bisa terbuka.
Satu hal yang membuat Galih penasaran, kontak nomor dalam benda pipih tersebut. Ya.. kali aja ada peternakan buaya yang Tiara buka sejak hubungan mereka sempat renggang beberapa minggu belakangan. Itulah sebabnya Galih ingin memeriksanya.
"Lo namai siapa nomor gue?" tanya Galih penasaran.
Tiara langsung duduk di samping Galih, hendak mengambil paksa ponselnya tapi dengan cekatan Galih menghalanginya hingga benda pipih itu berada aman dalam genggaman tangannya.
"Galih," jawab Tiara mengalah.
Dan ternyata benar, nomor milik pria itu memang tersimpan dengan nama Galih. karena Galih sudah membuka jalan untuk semuanya, Tiara memberanikan diri untuk bertanya, "Dan... apa nama nomor gue di ponsel lo...?".
__ADS_1
Sejenak Galih terdiam, bingung untuk menjawab apa karena ia juga lupa siapa nama kontak Tiara di ponsel miliknya. Galih tak lagi memperhatikan itu sejak pertama kali menyimpan nomor Tiara beberapa tahun silam.
"Tiara..." jawabnya.
"Bohong!" protes Tiara. instingnya bilang kalau Galih tengah berbohong saat ini.
"Serius..." jelas Galih.
"Coba lihat?" pinta Tiara membuat mimik muka Galih kembali panik.
Nah, dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku? atau mungkin nomorku tidak di simpan sesuai nama... pasti itu! batin Tiara.
"Sungguh, gue menyimpan menggunakan nama lo..." ucap Galih lagi. setidaknya berharap Tiara akan percaya kali ini.
"Bohong, sini gue periksa sendiri..." paksa Tiara hingga tak menghiraukan tingkahnya yang bahkan sampai menindih Galih hingga membuatnya terjatuh tepat di dada Galih.
Suasana seketika hening. Galih terdiam juga dengan Tiara yang hanya membulatkan mata tanpa berkata apapun. mungkin satu hal yang terdengar dari dalam kamar kost itu, suara detak jantung keduanya.
Ya... hanya terdengar suara detak jantung Tiara dan Galih bersautan. menciptakan suasana aneh dalam diri mereka, apalagi dengan posisi intim seperti ini.
Aku mencintaimu Tiara... mencintaimu... suara hati Galih.
Begitupun dengan Tiara yang tak berhenti memuji sosok pria itu. memuji bagaimana Tuhan telah menciptakan seseorang tanpa cela sedikitpun.
Hingga keduanya tersadar, Tiara bangkit dan membetulkan posisi duduknya di samping Galih.
"Tidak ingin melihat ponselku?" goda Galih masih dengan posisi yang telentang.
"Tidak..." jawab Tiara gugup karena tau ucapan Galih hanya gurauan saja.
"Hahaha..." hingga benar sudah, terdengar tawa nyaring dari mulut pria itu. membenarkan dugaan Tiara kalau Galih hanya menggodanya saja.
Waktu telah berputar begitu cepat, Galih melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan sesaat ragu. Waktu mengharuskan ia untuk pergi, tapi raganya masih ingin berada di tempat ini. bersama dengan Tiara untuk waktu yang akan datang.
"Besok, kemasi semuanya... ayo kita pergi..." ajak Galih masih membahas tentang kepindahan Tiara dari tempat kost ini.
"Tidak..." tolak Tiara. membuat Galih menatapnya tanpa henti.
"Gue hanya belum siap..." perjelas Tiara.
"Siap bagaimana lagi sih Ra..." terdengar dari ucapannya kalau Galih benar-benar frustasi melihat tingkah Tiara yang keras kepala.
"Berikan gue satu bukti..." jawab Tiara.
Setidaknya gue harus tau, apakah di hati lo masih ada Alya atau tidak...
"Bukti apa?" tantang Galih.
"Kalau gue satu-satunya...".
Terlihat Galih mengangguk, membuat Tiara malah bingung untuk menerjemahkannya sebagai apa.
"Gue pulang..." pamit Galih. mencium singkat bibir Tiara sebelum akhirnya benar-benar keluar dari tempat itu.
***
Buktiin kalau Tiara adalah satu-satunya wanita mu Gal...
__ADS_1