Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
120. Hadiah Dari Dion.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Rona sumringah dari wajah Arjun jelas terpancar pagi ini. Bahkan semua karyawan Pradipta Group juga mampu melihatnya.


Mereka berdiri berjajar di sepanjang Lobby gedung pencakar langit hanya untuk menyambut kedatangan calon Presdir mereka di masa mendatang.


"Selamat ulang tahun Tuan muda," ucap Pegawai Personalia sebagai perwakilan dari semua karyawan.


"Terima kasih," jawab Arjun dengan senyum yang terpancar sambil menerima sebuket bunga segar dan juga indah.


Setelah mengucapkan sepatah kata rasa Terima kasihnya Arjun kepada semua orang yang bekerja di dalam Perusahaan tersebut, pria itu di temani dengan Galih langsung menuju ke ruangannya.


"Taruh mana ini?" tanya Galih sambil menunjukkan buket bunga tersebut.


"Sana," tunjuk Arjun pada sofa yang berada di sudut ruang kerjanya.


Tentu saja Galih langsung paham. Mengambil Vas bunga yang kosong dan menggantikannya dengan bunga baru.


Cantik juga... puji Galih pada kreatifitasnya dalam merangkai bunga.


"Bawa semua dokumen yang harus aku tandatangani hari ini dan beberapa hari ke depan," perintah Arjun.


"Oke,"


Galih mengira kalau hari ini adalah hari yang cukup membuatnya sibuk bukan seperti ekspektasi nya tadi pagi. Galih mengira akan sedikit senggang karena hari ini adalah hari ulang tahun Arjun. Inilah definisi Realita tak seindah Ekspektasi...


Beberapa menit berlalu Galih benar-benar kembali masuk ke dalam ruangan Arjun sambil membawa setumpuk berkas Perusahaan yang membutuhkan bubuhan tanda tangan Arjun dan stempel Perusahaan sebagai bentuk legalitas.


"Sebanyak ini?" protes Arjun tak percaya.


Memang inilah pekerjaan calon Presdir, tidak sama dengan yang di bayangkan orang-orang dimana citra Presdir hanya duduk tanpa melakukan pekerjaan berat apapun.


"Renggang kan otot dulu... baru bekerja, siap kan Pak Calon Presdir?" goda Galih sambil menyerahkan setumpuk berkas di meja tepat di depan Arjun.


Sedangkan Arjun hanya melongo tak percaya.


Agghh... aku bahkan sudah lelah melihatnya saja...


"Gue ada di luar," pamit Galih dan langsung menutup pintu ruangan Arjun dengan pelan.


Baru sibuk mengecek satu berkas di tangannya, suara pintu di ketuk dari luar dan langsung di buka tanpa meminta persetujuan dari Arjun lebih dulu. Biasanya yang berani melakukan itu adalah Papi Johan dan Galih.


Dan dugaan Arjun benar-benar tidak meleset, karena saat pandangannya menatap ke arah pintu sosok Galih benar-benar berada di sana sambil menampakkan senyum mengejek.


"Apa lagi?" tanya Arjun sewot. Karena pekerjaannya akan semakin terulur jika Galih selalu datang dan mengajaknya bicara.


"Ada kiriman kado dari seseorang," lapor Galih.


"Siapa?" tentu saja Arjun penasaran dengan pengirim kado yang Galih maksudkan tadi.


"Si monyet..." jawab Galih enteng.


"Dion maksud Lo?"

__ADS_1


Yaelah... siapa lagi si monyet selain Dion? batin Galih.


"Dimana?" tanya Arjun penasaran karena Galih hanya masuk membawa dirinya saja, tidak ada kado yang katanya dari Dion sedikitpun.


"Masuk!" perintah Galih dan beberapa orang yang sudah menunggu di depan ruangan langsung masuk beriringan.


1,2,3,4,5,6,7,8,9,10


Apa-apaan ini? batin Arjun terkejut. Karena kesepuluh karyawannya benar-benar membawa kotak hadiah masing-masing dengan ukuran yang berbeda-beda.


"Hah, ini semua?" tanya Arjun terkejut. Karena sofa yang tadinya kosong benar-benar tertutup oleh kotak kado yang entah ada apa di dalamnya.


"Ini semua kado dari Dion," lapor Galih sedangkan Arjun spontan mendekat. Mengamati kotak pertama yang terlihat paling mencolok karena warnanya yang merah muda dengan pita besar di atasnya juga ukurannya yang besar.


Perlahan, Arjun menarik pita merah muda tersebut dan mengintip apa yang ada di dalamnya.


"What? dasar sinting!" umpatnya ketika tau isi dari kotak tersebut.


"Apa isinya?" tanya Galih juga penasaran karena reaksi Arjun yang terlampau berlebihan.


Galih juga melongo melihat kado dari sahabatnya dan di detik selanjutnya langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... bagaimana dia bisa berpikir memberi kado seperti itu?",


Arjun kembali menutup kotak tersebut, malu sekali jika kepergok oleh karyawan Perusahaan ini. Dasar sinting! umpat Arjun kesekian kalinya.


"Apa kotak lainnya lebih gila lagi?" tanya Arjun khawatir. Bisa juga kan kesembilan kotak yang belum terbuka itu malah lebih parah lagi isi di dalamnya.


Arjun jadi ngeri untuk melihatnya.


"Surat? kayak kekasih saja kirim-kiriman surat..." Arjun benar-benar tidak bisa menebak tingkah lagu Dion yang amat misterius. Dunia sudah canggih, tapi pria itu malah memutuskan untuk mengirim surat padahal dengan telepon saja, sudah bisa mendengar suara masing-masing.


Arjun segera membuka surat yang dikirim oleh Dion. Membacanya dengan saksama, tapi baru kalimat pertamanya saja Arjun sudah tau kalau isi surat tersebut hanya untuk mengejeknya.


Untuk Arjun Pradipta, calon Presdir Pradipta Group.


Bagaimana? sudah menerima hadiah ku? Apa Lo menyukainya? Gue tau kalau Lo sangat penasaran dengan Kotak kado berwarna merah muda bukan? hehehe..


Arjun mengumpat, "Ck, benar kan... dia benar-benar brengs*k!"


Itu hadiah istimewa dariku... jangan berterima kasih, sungguh jangan berterima kasih padaku...


Arjun menaikkan alis satunya, dasar tidak waras!


Aku memang orang yang berhati mulia. Lo tau itu kan? jadi jangan terlalu terharu seperti itu.


"Terharu? gue bahkan ingin mencekik mu saat ini juga!" gumam Arjun pelan tapi tetap masih bisa di dengan oleh Galih. Dimana Galih cekikikan sendiri dengan ucapan Arjun barusan.


Pasti memang isi dari surat Dion tidak ada manfaatnya sama sekali hingga membuat Arjun mengumpat.


Arjun kembali membaca surat dari sahabatnya itu,


Sebenarnya gue bingung mau memberi hadiah apa di hari lo MENETAS,


Gila! kata menetas kenapa di pertegas menggunakan huruf balok? emang gue anak buaya? batin Arjun masih tak terima.

__ADS_1


Jadi gue sengaja mengirim banyak hadiah. Jadi jangan terharu, oke?


"Apa-apaan dia itu?" protes Arjun karena isi dari surat Dion sama sekali tidak bermanfaat. Bahkan tidak ada doa ataupun harapan yang di tulis. Semuanya hanya membahas tentang kemurahan hati Dion karena mengirim banyak hadiah untuknya.


"Ini semua bukan kado, hanya dia sengaja memindahkan sampahnya ke ruangan ku!" gerutu Arjun sambil membuang surat ke lantai dan di pungut oleh Galih karena pria itu amat penasaran.


Benar saja saat Galih membaca surat itu, ia juga tertawa dengan kekonyolan Dion.


Tapi karena sudah terlanjur ada disini, Arjun terpaksa membuka semua kotak kado dari Dion.


Dan memang betul dengan firasatnya kalau isi dari kotak-kotak itu tidak ada yang spesial untuknya. Dimana isinya hanya dasi, kaus kaki, dan bahkan ada sampo juga tentu saja dengan jumlah yang terbilang banyak.


Tapi ada dua kotak yang amat mencuri perhatiannya, kemeja dan juga ikat pinggang yang harganya begitu mahal. Tapi demi persahabatan mereka, Arjun akan menyimpan barang pemberian Dion.


"Gue ambil dua kotak ini," pinta Arjun sambil menyingkirkan dari kotak yang lain.


"Yang lainnya?" tanya Galih. Karena bingung juga untuk apa semua kado itu kalau Arjun tidak mau.


"Bagikan pada yang lain..." perintah Arjun.


Seperti dasi dan kaus kaki, Arjun sudah banyak memilikinya jadi lebih baik di bagikan kepada karyawan Perusahaan biar bermanfaat.


"Yang kotak merah muda itu, khusus buat Lo!" gurau Arjun dengan tawa meledek.


"Hahaha... Tai Lo!" umpat Galih.


Melihatnya saja sudah membuat perutnya kencang karena menahan tawa.


Apalagi dengan berbagai warna dan rasa yang ada di dalam kotak itu. Dion benar-benar gila!


"Ya, cocok kan buat Lo... tidak perlu lagi beli untuk setahun lamanya, atau mungkin lebih..." ucap Arjun.


"Bisa-bisa gue mati muda nyet!" jawab Galih.


Membayangkan menggunakan benda itu setiap saat benar-benar membuat Galih ngeri.


Setelah mendapat persetujuan Arjun, Galih memberitahu staf di depan ruangan untuk mengeluarkan kembali kotak-kotak hadiah dan membagikannya kepada yang lain.


Arjun tersenyum melihat dari kaca di dalam ruangannya. Betapa membahagiakannya melihat senyum dari karyawan di luar sana. Hanya menerima kaus kaki dan dasi untuk karyawan laki-laki, sudah membuat bibir mereka tersungging cukup lama. Senyum yang benar-benar terlihat ikhlas dan tulus.


Hal itu membuat sudut hati Arjun tersentuh.


Kadang, apa yang membuat Arjun merasa biasa saja justru sudah menjadi kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.


Terima kasih telah berjuang bersama dengan Pradipta Group, Orang-orang hebat!


puji Arjun dari balik kaca penghubung ke luar ruangannya.


***


Jangan tanya apa isi hadiah di kotak berwarna merah muda!


Pasti kalian akan tau karena sering terdapat di dekat kasir Ind*mart dan di sangka permen karet oleh anak-anak... ahhaha... paham kan?


TINGGALKAN LIKE, KOMENTAR DAN HADIAHNYA...

__ADS_1


LUV KALIAN BANYAK-BANYAK...


__ADS_2