Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
99. Malaikat Tanpa Sayap.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Galih telah tiba di parkiran Gedung Pradipta Group. Di tempat itu, belum cukup banyak kendaraan yang terparkir karena memang jam masih sangat pagi untuk pergi bekerja.


Sudah genap 3 puntung rokok yang tercecer di bawah mobil Galih, tapi tak juga membuat pria itu bisa menguraikan benang kusut yang ada di dalam kepalanya.


Rasanya benar-benar aneh dan sulit untuk di cerna Galih. Bahkan Galih tidak tidur sama sekali setelah mimpi buruk yang mengganggunya.


Apa yang harus gue lakukan? otakku benar-benar seperti berhenti berpikir.


FLASHBACK ON...


"Jangan menangis Ya..." pinta Galih setelah kabar kematian orang tua Alya terdengar di telinga mereka.


Saat-saat terpuruk seperti inilah yang mengharuskan Galih untuk berada di sisi kekasihnya untuk menjadi satu-satunya orang yang menguatkan.


Saat ini bukan hanya Alya saja yang berjuang untuk masa depannya, Galih pun sama.


Pria itu baru saja lulus kuliah dan belum mempunyai pekerjaan yang tetap.


"Bagaimana biaya kuliahku nanti? bagaimana aku bisa membiayainya sendiri?" tanya Alya penuh rasa khawatir.


Dia masih tercatat sebagai mahasiswa semester 4, dan masih jauh untuk lulus. Sedangkan biaya yang di perlukan untuk kuliah tentu saja tidak sedikit.


Sebelumnya, kedua orang tua Alya bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di luar Negeri. Dari situlah Alya bisa melanjutkan sekolahnya hingga masuk perguruan tinggi.


Tapi siapa sangka kalau takdir Alya berubah. Kedua orangtuanya menjadi korban Tsunami di negera tempat mereka bekerja dan sekarang Alya benar-benar hidup sebatang kara.


Tidak ada tempat baginya untuk sekedar mengadu dan membagi kesedihan.


"Aku akan membantumu... aku janji," ucap Galih.


Ucapan dari Galih tidak sepenuhnya membuat Alya tenang. Nyatanya memang Galih belum sepenuhnya bisa hidup nyaman dan tercukupi.


Pasangan tersebut benar-benar terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Dimana orang tua Galih hanya bekerja di sebuah pabrik makanan milik Pradipta Group.


Semua itu berlangsung hampir 1 tahun lamanya. Galih maupun Alya sama-sama berjuang untuk keluar dari dunia yang menuntut mereka untuk bersikap dewasa.


"Ada apa?" tanya Arjun kepada Galih. Mereka sedang berada di jalan yang digunakan sebagai arena balap liar yang sering mereka datangi tiap malam.


"Alya butuh uang untuk membayar uang semesteran..." adu Galih pada sahabatnya. Di saat seperti ini, sekilas tidak ada perbedaan antara Galih dan Arjun. Mereka terlihat sama walaupun pada kenyataannya sangat jauh berbeda.


Galih yang di terlahir dari keluarga pas-pasan sedangkan Arjun dari keluarga kaya raya yang tentu saja tak kekurangan materi apapun. Apapun yang di minta Arjun, tentu saja dengan mudah di kabulkan oleh orangtuanya.


Malam itu juga, Arjun berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingan balap liar yang diadakan. Tentu saja Galih yang menjadi suporter pertama di kubu Arjun.


Masa-masa muda memang paling mengasyikkan bagi mereka berdua.


Galih memeluk sahabatnya dengan erat setelah Arjun melewati garis finish. Walaupun ini bukan kemenangan pertama baginya, tetap saja Arjun maupun Galih sangat senang.


Seseorang memang memilih cara yang berbeda-beda untuk menjemput sebuah kebahagiaan.Dan inilah cara mereka menikmati hidup.


"Nih," Arjun menyodorkan setumpuk uang dari hasilnya memenangkan balap liar tadi.


Membuat Galih yang sedang menikmati rokok menunjukkan wajah kebingungan.

__ADS_1


"Apa?"


"Apalagi... untuk biaya semester Alya kan?" jawab Arjun enteng dan mengambil paksa rokok bekas Galih dan langsung menghisapnya tanpa ragu.


"Tapi-" tentu saja Galih tidak bisa mencerna apa yang di katakan Arjun.


Bahkan kali ini menatap wajah Arjun dengan bola mata yang menyedihkan.


"Jangan menatap ku seperti itu nyet! gue jijik, " tolak Arjun. Dia adalah pria normal yang tentu saja tertarik pada seorang gadis.


Di tatap Galih seperti itu benar-benar membuat Arjun geli, apalagi tatapan Galih seperti seorang gadis yang terkagum-kagum dengan apa yang telah Arjun lakukan.


Setidaknya gue terlihat keren seperti pahlawan kan? hehehe...


"Gunakan uang itu, ganti saat Lo punya uang!" tambah Arjun.


"Makasih, makasih..." hanya itu yang Galih katakan pada Arjun. Sosok sahabat yang memang selalu ada untuknya.


"Apa Lo sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Arjun lagi.


"Belum," jawab Galih sambil menatap jalanan ramai di depan sana.


"Bagaimana kalau membuat lamaran di Pradipta Group?" saran Arjun.


Karena mungkin rezeki Galih ada di Perusahaan milik Orangtuanya Arjun tersebut.


"Apa bisa?" tentu saja Galih ragu. Apakah ada tempat bagi dirinya di Perusahaan raksasa seperti Pradipta Group tersebut.


"Gue juga akan berlatih bekerja di sana sambil melanjutkan kuliah..." jawab Arjun seperti sedang curhat.


Walaupun Arjun dan Galih teman sejak SMA, tapi pendidikan mereka terlihat berbeda dimana Galih telah lulus kuliah sedangkan Arjun masih mengulang dari awal.


Tapi rencana awal gagal begitu saja karena yang menjadi alasan Arjun jadi seorang Dokter telah tiada. Ya... Jessi telah meninggal sebelum Arjun menjadi seorang Dokter.


Dan karena itu pula Arjun kembali ke negara ini dan mengulang untuk mengejar sarjananya di bidang lain. Apalagi Arjun sudah ditakdirkan menjadi pemimpin menggantikan Ayahnya suatu hari nanti.


"Gue akan bicara dengan Papi untuk menerima Lo disana... setidaknya jadi asistenku... hehehe" gurau Arjun.


FLASHBACK OFF...


Galih tersenyum mengingat kenangan masa mudanya. Siapa sangka kalau gurauan Arjun waktu itu benar-benar menjadi kenyataan sekarang.


Galih benar-benar bekerja di Pradipta Group dan memiliki posisi yang baik dimana bekerja bersama dengan Arjun, sahabat sekaligus malaikat yang selalu menyelamatkan hidupnya.


Karena Arjun juga, Galih bisa membiayai sekolah adik perempuannya dan juga membantu keuangan orangtuanya dengan gaji sebagai asisten pribadi Arjun.


Dia memang seenaknya sendiri, tapi Arjun begitu tulus pada orang-orang yang disayanginya... puji Galih dalam hati.


Saat sedang melamun, Galih tidak menyadari kedatangan mobil hitam di samping mobilnya.


Diiinnnn... membunyikan klakson mobil hingga membuat Galih terperanjat.


"Ngapain Lo?" tanya Arjun dari balik jendela.


Ee... dia benar-benar T*i! umpat Galih masih dengan jantung yang berdetak tak karuan.


"Panjang umur Lo..." ucap Galih dan langsung keluar dari mobilnya. Sejak tadi Galih memang melamun tentang sahabatnya dan sekarang Arjun ada disini.

__ADS_1


Berjalan mendekati mobil Atasannya tanpa ragu.


"Ha? panjang umur?" tanya Arjun. Tentu saja ia tak paham dengan apa yang Galih katakan tadi.


"Lupakan saja," jawab Galih.


Kedua pria gagah itu berjalan bersama masuk ke dalam gedung Pradipta Group.


Sesekali tersenyum kepada karyawan yang memberi hormat ketika Arjun melewati mereka.


Sampai di ruangan Arjun, Galih langsung membacakan jadwal hari ini dari Tablet yang Galih bawa. Setelahnya mulai memilah berkas-berkas perusahaan yang harus Arjun tandatangani hari ini juga.


"Ada apa?" tanya Arjun yang sempat mengamati wajah sahabatnya yang terlihat murung.


"Eh, apa?" tentu saja Galih berpura-pura.


"Lo terlihat berbeda... ada yang mengganggu pikiran Lo saat ini?" tanya Arjun. Jarang sekali Galih memperlihatkan wajah murung seperti itu. Terakhir kali adalah saat di tinggal kekasihnya. Ya... ekspresi wajah saat ini sama dengan waktu lalu.


"Tidak," elak Galih.


Menurutnya Arjun telah banyak berjasa dalam hidup Galih dan untuk kali ini ia tidak akan membebani sahabatnya itu lagi.


"Yakin?"


"Tentu saja," jawab Galih dan langsung pamit meninggalkan ruangan Arjun untuk kembali bekerja.


***


Siang Hari.


"Mau makan di kantor atau di luar?" tanya Galih sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Arjun.


"Disini saja," jawab Arjun yang masih sibuk menatap layar Komputer di depannya.


"Oke," Galih sudah berniat untuk keluar dari ruangan itu, tapi kembali terdiam saat Arjun bersuara.


"Oh iya... nanti, jemput Akira ya..." pinta Arjun memohon.


"Jam?"


"Jam 2," jawab Arjun karena ia ada rapat nanti, jadi tidak bisa menjemput istrinya.


"Siap," jawab Galih dan kembali melangkah meninggalkan ruangan Arjun.


Setelah mengantarkan makan siang untuk Arjun, Galih tidak ikut makan. Pria itu berjalan menuju ke Rooftop Gedung Pradipta Group.


Sejenak terdiam sambil mengamati jalanan dari atas sana.


Galih merogoh saku jasnya. Mengambil sebatang rokok dan langsung membakarnya. Seketika asap benda bernikotin itu langsung berhembus ke udara.


Apa firasat ku benar?


Alya... Lea... apa dia orang yang sama?


***


Alea Dan Alya (mantan kekasih Galih) orang yang sama?

__ADS_1


Dukung cerita ini dengan Like dan komen banyak-banyak... Love kalian banyak-banyak...


__ADS_2