Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
153. Ngidam.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sudah sewajarnya seorang wanita yang hamil akan mengalami hal yang dinamakan ngidam selama kehamilan. Entah itu menginginkan makanan, minuman ataupun sesuatu yang ingin di rasakan.


Pergi ke suatu tempat yang amat membuat diri Ibu hamil penasaran ataupun melihat seseorang yang di inginkan nya.


Aneh memang, terkadang hal itu tidak bisa di jelaskan oleh nalar. Tapi ada dan nyata.


Ngidam juga terjadi pada Akira. Memang sedikit terlambat karena masa-masa ngidamnya datang saat usia kandungannya telah memasuki usia 5 bulan.


Banyak sekali kemauan Akira, hingga tanpa sadar membuat semua orang ikut andil untuk membuat mood perempuan itu selalu senang.


Acara ngidam ini juga tidak membuat Galih berpangku tangan. Justru dia lah yang menjadi korban dari acara Ngidam Akira.


Seperti saat ini. Baru saja berencana pulang dan mandi, di tengah jalan Arjun menghubunginya. Meminta untuk membeli makanan yang diinginkan Akira.


Terkadang Galih juga berpikir, bagaimana kalau bayi dalam kandungan Akira lebih mirip dengannya daripada Arjun? karena Galih lah selalu di buat susah dan menderita selama ini.


Pasti Arjun tidak akan memaafkan Galih. Atau mungkin malah di cekik sampai mati jika bayi Akira lebih mirip Galih daripada Arjun.


Dengan penuh keterpaksaan Galuh berhenti di pedagang kaki lima yang berjualan tepat di pinggir jalan.


"Martabak telur spesial 1 pakai 5 telur bebek dan daging cincang nya banyakin bang... " pintanya pada penjual itu.


"Siap...",


Kenapa pakai 5 telur bebek? karena seperti itulah permintaan Akira tadi.


Wajib pakai 5 telur dengan banyak daging.


Karena merasa bosan serta malu dengan tatapan pembeli yang di dominasi oleh ibu-ibu, Galih memutuskan untuk menunggu di mobil saja.


Lebih nyaman dan jauh dari tatapan di luar sana.


Menakutkan jika di culik tante-tante bukan? hehehe...


Baru memeriksa ponselnya, benda itu kembali berbunyi dengan layarnya yang berkedip memperlihatkan gambar seseorang.


Apa lagi sih? batin Galih semakin kesal.


Karena yang menghubunginya adalah Arjun.


"Apa sih?"


"Lama sekali... Lo sengaja ya?" protes Arjun tidak tau diri.


"Gue lagi antri nyet... lagian bukan Lo saja yang ingin beli..." ucap Galih menjelaskan.


Karena Akira meminta di belikan Martabak langganannya yang berada di samping Minimarket tak jauh dari rumah Arjun.


"Coba video call!"


Galih mulai mengalihkan panggilannya menjadi video call agar Arjun juga bisa melihat seberapa ramai pembeli di depan sana.


"Noh liat sendiri!" Galih mulai memperlihatkan pedagang Martabak yang bahkan tidak terlihat karena dikerumuni pembeli.


"Ramai sekali sih... padahal Akira ingin makan Martabak secepatnya...".


Membuat Galih kesal dan berdecak. Ck... menyusahkan!


"Oke oke... gue tunggu... jangan lama," ucap Arjun dan langsung mematikan panggilannya tanpa peduli jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Galih.

__ADS_1


Galih menyandarkan kepalanya di sandaran mobil. Memejamkan mata untuk sedikit mengistirahatkan tubuhnya dari banyaknya pekerjaan seharian tadi.


Kalau tubuhnya bisa berteriak, mungkin tubuh Galih sudah berteriak karena lelah.


Setiap hari pekerjaannya semakin bertambah.


Bagaimana kalau bayinya lahir? mungkin gue tidak akan punya kesempatan untuk pergi ke Club malam...


Karena kehamilan Akira, Galih benar-benar tak lagi mengunjungi tempat itu.


Entah sudah berapa bulan ia tidak lagi bisa mengencani wanita-wanita untuk menuntaskan h*sratnya.


Bagaimana bisa?sampai di Apartemen, Galih langsung mandi makan malam dan pergi tidur.


Jam tidurnya berubah drastis beberapa bulan terakhir. Tak lagi begadang hingga larut malam.


Entah itu bisa dikatakan berkah atau malah hukuman baginya.


Setelah beberapa menit, Galih membuka mata saat kaca mobilnya di ketuk dari luar.


Menatap ke arah kaca untuk melihat siapa yang melakukan hal itu.


"Sudah?" tanya Galih kepada penjual Martabak.


"Sudah Pak... totalnya 120 ribu..." ucap penjual itu.


Seketika Galih merogoh saku jasnya untuk mengambil dompet. Mengeluarkan uang dengan pecahan berwarna merah 2 lembar.


"Sebentar Pak, kembaliannya..." setelah menerima uang pembayaran dari Galih, penjual itu hendak mengambil uang kembalian di gerobaknya.


"Tidak usah... ambil saja kembaliannya..." jawab Galih dan langsung menginjak pedal gasnya.


Dengan laju kendaraan yang lumayan kencang, mobil itu menuju ke kediaman Pradipta untuk memberikan sekotak martabak pesanan Akira.


Melewati penjaga pintu tanpa berkata apapun.


Toh tanpa di tanya sekalipun Galih sudah tau kalau dua penjaga pintu itu pasti terkejut karena Galih kembali datang ke sini setelah mengantarkan Arjun beberapa saat yang lalu.


Galih semakin masuk ke dalam rumah Pradipta, hendak menuju ke kamar Arjun tapi di ujung anak tangga dirinya terdiam mendengar suara Arjun yang memanggilnya.


Ternyata Arjun dan Akira sudah duduk di kursi makan menunggu kedatangan Galih.


"Yeee..." ucap Akira penuh semangat bahkan sampai spontan berdiri.


"Sayanggg..." membuat Arjun protes. Karena ibu hamil tidak boleh refleks untuk melakukan apapun termasuk spontan bangkit dari posisi duduknya.


"Maaf," ucap Akira. Ia terlalu bersemangat melihat bungkusan plastik di tangan Galih yang mulai berjalan menuju ke ruang makan.


Kembali duduk di samping Arjun dan menunggu Galih.


Bau khas dari Martabak telur mampu membuat ludah Akira seperti mengucur dan memenuhi mulutnya. Membuatnya beberapa kali menelan ludah dengan tatapan mata tertuju pada martabak.


Seorang pelayan dengan sigap menyiapkan piring, membuka kotak martabak dan menatanya.


"Waw..." mata Akira membulat sempurna.


Martabak yang dibawa Galih benar-benar sesuai dengan ekspektasinya. Terlihat besar dan padat akan telur dan cincangan daging.


Bahkan membuat Akira bertepuk tangan kegirangan.


"Silahkan Nona..." ucap pelayan itu mempersilahkan.


Tapi, "Awww..." Akira mengibaskan tangannya karena ternyata makanan itu masih sangat panas. Dan membuat Arjun terkejut sekaligus ketakutan.

__ADS_1


"Sayang... apa terluka?" tanya pria itu memperhatikan tangan Akira dan spontan meniupnya beberapa kali.


Sedangkan beda lagi dengan tanggapan Galih yang hanya nyengir memperlihatkan giginya karena lucu melihat bagaimana cara Arjun peduli pada Akira.


Dia jauh berubah... batinnya.


"Kenapa kalian teledor sekali sih, sudah tau panas bukannya mengingatkan Akira..." omel Arjun hingga membuat kedua pelayan yang berdiri tak jauh darinya menundukkan kepala takut.


"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada bayiku?" tambahnya.


Membuat Akira dan Galih sama-sama menyerngitkan keningnya bersamaan.


Hei... apa hubungannya? batin Akira.


Jangan Gila deh... umpat Galih.


"Kenapa kalian seperti itu?" tanya Arjun dengan tatapan istri dan sahabatnya yang seperti heran dengan ucapannya barusan.


"Kalian mana tau kalau terkejut juga bisa memicu kontraksi... dan kamu sayang, jangan bertindak gegabah... disini, ada nyawa yang menumpang hidup..." Arjun bicara sambil mengelus perut Akira yang mulai membuncit.


"Jangan membuatnya dalam bahaya..." pinta Arjun.


Membayangkan halal buruk terjadi pada bayinya sudah membuat Arjun takut.


"Iya iya..." jawab Akira tapi dengan tatapan yang tak lepas mengamati sepiring martabak berwarna kecoklatan.


"Aku mau makan..." pinta Akira sudah tak sabar.


Akhirnya Arjun lah yang menyuapi istrinya dengan telaten. Mengecek suhu Martabak sebelum masuk ke dalam mulut Akira karena takut akan terjadi sesuatu jika Akira makan makanan yang masih panas.


Tanpa terasa sudah setengah piring Martabak berpindah pada perut Arjun, Akira dan Galih.


Iya lah, Galih juga lapar dan penasaran dengan Martabak itu hingga beberapa kali ia sengaja mencomotnya sendiri di piring.


Anggap saja sebagai makan malamnya. Toh Galih juga membelinya dengan uang pribadinya.


---


Akira dan Arjun sudah bersiap untuk tidur. Membalut tubuh mereka dengan selimut tebal.


Tapi entah karena kandungannya yang semakin besar atau memang cuacanya, Akira selalu membuang selimut itu.


"Nanti bayi kita akan sakit..." protes Arjun dan kembali menyelimuti istrinya.


"Aku gerah sayang..." rengek Akira sambil berusaha kembali keluar dari selimut yang amat menyiksa diri.


Bahkan tubuhnya terasa panas dan berkeringat.


"Diam atau aku akan memakanmu!" ancam Arjun. Dulu Akira selalu takut jika di ancam seperti itu. Tapi sekarang sudah tak mempan lagi, karena kata Dokter ia dan Arjun tidak boleh sesering mungkin melakukan hubungan suami istri.


Karena Akira selalu merasa nyeri setelah melakukan tugasnya sebagai istri.


Hal itu membuat Arjun bertindak hati-hati. Pria itu memilih untuk berpuasa daripada harus membahayakan keadaan anak dan juga istrinya.


"Hahaha... aku tidak takut! ancaman mu tak lagi mempan..." jawab Akira.


Membuat Arjun menaikkan satu alisnya.


Ck... sekarang aku tak bisa menggertak nya lagi...


Hingga Arjun memilih untuk mengalah. Menyelimuti perut Akira sedangkan kaki Akira dibiarkan terkena pendinginan ruangan.


***

__ADS_1


Akira nih sama seperti yang nulis kalau tidur... pakai kipas juga selimutan... hehehee...


__ADS_2