
HAPPY READING...
***
Galih keluar dari rumah setelah menikmati makan malamnya. udara khas pedesaan langsung menerpa wajahnya sesaat setelah sepasang kaki membawanya menuju ke saung kecil yang berada tepat di tempat parkir mobil.
Suasana ini cukup nyaman untuk membuat otakku terasa relaks....
Sejak Arjun di angkat sebagai Presdir, otomatis pekerjaan Galih semakin bertambah. dan kepalanya juga ikut bekerja keras setiap harinya. inilah pertama kalinya Galih terlepas dari rutinitas hariannya yang begitu melelahkan. setidaknya untuk esok hari dan lusa.
"Ngapain lo?" tanya Dion yang tiba-tiba bersuara. dengan piyama yang dilapisi dengan hoodie berwarna biru tua. Galih kira pria itu sudah bersiap untuk beristirahat, mempersiapkan tenaganya untuk besok.
Ya... besok adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Dion dan Gadis. mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Duduk," jawab Galih singkat.
Ck... gue juga bisa melihatnya tanpa lo jawab... begitu sorot mata Dion.
membuat Galih yang melihat Dion ikut kebingungan. "Kenapa?" tanyanya tanpa dosa.
Dion tak bersuara, pria itu memutuskan untuk duduk tepat di sebelah Galih. menatap langit malam hari dengan banyak taburan bintang di atas sana.
Kedua pria itu sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Cukup lama bahkan hanya suara jangkrik dan binatang malam yang mengambil alih suasana.
Hingga Dion lah yang kembali jadi pertama yang membuka percakapan.
"Bagaimana disana?".
Pertanyaan singkat namun mengandung banyak makna di dalamnya. jika orang lain, pertanyaan Dion mungkin hanya terdengar pertanyaan basa-basi saja. tapi tidak bagi Galih, yang memang orang terdekat Dion setelah Arjun. jadi mereka akan langsung tau pesan tersirat dalam ucapan itu.
"Sama seperti yang lo lihat terakhir kali..." jawab Galih sejenak mengamati ekspresi di wajah Dion saat ia mengatakannya.
apakah ada kesedihan di dalam sana atau tidak.
Dion tersenyum. apa yang ia harapkan dari semuanya? bahkan bekas luka di tangannya masih terlihat nyata walaupun sudah 2 bulan lamanya.
"Sepertinya dia sedikit berubah..." hibur Galih pada akhirnya. walaupun yang terlontar dari mulutnya hanya sebuah kebohongan yang Galih ciptakan sendiri, tapi setidaknya itu cukup membantu Dion untuk siap dan tenang untuk memulai acara esok hari.
"Ck, bohong lo kelihatan..." elak Dion. bodoh jika ia percaya dengan ucapan Galih barusan. karena watak dan sifat seseorang tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Galih hanya terdiam. tak mengelak ataupun membenarkan ucapan Dion barusan. Ya... gue tau bagaimana sifat bokap Lo...
tatapan Galih jelas terlihat kalau Dion begitu menyedihkan.
"Lo tau, gue mulai gugup sekarang..." adu Dion dengan senyum yang selalu mengukir bibirnya setiap saat.
__ADS_1
"Lo takut?" tanya Galih. dan penasaran apa yang membuat Dion sampai takut.
Sejenak pria itu tersenyum penuh arti. karena bukan sebuah ketakutan yang merayapi hatinya. hanya saja Dion sedikit gugup bagaimana memulai esok hari. apa yang harus ia lakukan dan bagaimana agar berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan semua orang.
"Jangan khawatir... ada gue dan Arjun..." ucap Galih lagi. karena mereka akan ada di dekat Dion besok. menjadi saksi pernikahannya dengan Gadis. "Lo hanya perlu mempersiapkan diri...".
"Terima kasih..." jawab Dion pada akhirnya.
"Terima kasih untuk apa? padahal tidak ada yang gue lakukan sama sekali..." ucap Arjun yang juga ikut nimbrung dalam perbincangan itu. berjalan mendekati dua sahabatnya dan duduk di saung.
"Kirain sudah tidur..." Galih bersuara. karena sejak tiba di Vila ini, Arjun baru keluar saat sore hari. benar-benar tamu yang tidak tau diri.
"Tidak... hanya selesai menidurkan mereka..." jawab Arjun nyeleneh. hal itu membuat Galih dan Dion tertawa paham maksud dari perkataan Arjun barusan.
Arjun menatap kedua sahabatnya dengan tatapan kesal karena tawa Galih dan Dion seperti mengejeknya. "Ck... makanya cepetan nikah..." gerutunya.
"Besok," jawab Dion sedangkan Galih hanya terdiam karena dari mereka bertiga, hanya Galih lah yang belum punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga jam di ponsel Galih telah menunjukkan di angka 00:02.
"Mau kemana nyet?" tanya Dion ketika memperhatikan Galih yang telah bangkit dari tempat duduknya. seperti bersiap untuk pergi.
"Gue ngantuk..." bohong Galih.
"Gue juga mau tidur..." ikut Arjun. Pria itu juga bersiap bangkit bersamaan dengan Galih. "Lo juga harus istirahat... pengantin pria tidak boleh terlihat kurang tidur..." tambahnya.
"Baiklah... ayo beristirahat..." jawab Dion pada akhirnya. ketiga pria itu segera masuk ke dalam Vila. Arjun dan Dion berlalu pergi menuju ke kamar yang berada di lantai dua sedangkan Galih masih berdiri di ruang tamu.
Mengamati sekitar sambil berpura-pura melihat ponsel nya. Sudah aman... batinnya bicara saat tak ada siapapun yang berlalu lalang di tengah malam seperti ini.
Dengan langkah yakin dan penuh kehati-hatian, Galih mendekati pintu kamar yang tak begitu jauh dari kamarnya. Tangannya terjulur untuk meraih gagang pintu dan mendorongnya pelan hingga ada cela untuk tubuhnya bisa masuk ke dalam.
Senyum tersungging sempurna saat Galuh telah berada di dalam kamar itu.
Dengan bantuan cahaya remang dari lampu tidur di atas nakas, Galih berjalan mendekati seseorang yang tengah terlelap di atas ranjang. siapa lagi kalau bukan Tiara. dan sesuai dengan perkataan Galih tadi siang, pria itu akan mendatangi kamar ini saat malam.
Galih memposisikan tubuhnya di samping Tiara. dengan gerakan sangat pelan pria itu berbaring sambil memeluk tubuh Tiara dari belakang.
"Apa yang lo lakukan?" teriak Tiara tapi seketika Galih menutup mulut itu dengan telapak tangannya.
"Sssttt...".
Tiara mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. sungguh perilaku Galih benar-benar membuat dirinya jantungan.
"Jangan berisik..." pinta Galih.
__ADS_1
Hingga dipastikan Tiara tak berteriak, Galih menurunkan tangannya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Tiara berbisik.
"Lo yang minta kan?" goda Galih. licik sekali dia bisa berkata seperti itu.
Ha? gue? kapan? itulah pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala Tiara. toh ia tak pernah meminta apapun pada Galih.
"Berhenti mengganggu gue Gal..." ucap Tiara sambil terus melepaskan tangan Galih yang berada di perutnya.
"Kenapa? ada yang marah?" selidik Galih dengan nada bercanda.
"Iya... pacar gue akan marah... dan memukul lo nanti," ucap Tiara dengan beraninya.
"Pacar? lo punya pacar?" Galih terpancing dengan ucapan Tiara. sejak kapan dia punya pacar? sedikit kaget memang karena Galih tak pernah tau akan hal itu.
"Punya lah... jadi jangan kurang ajar kepada ku..." jawab Tiara ketus. mengingat telepon Alya kepada Galih tadi pagi, entah kenapa membuat Tiara sedih.
padahal ia sudah berharap kalau Galih punya perasaan yang sama terhadapnya. setidaknya bukan Tiara saja yang berharap bisa menjalin hubungan dengan Galih.
"Siapa?" tanya Galih datar. Galih ingin tau siapa nama kekasih Tiara itu.
"Kenapa? gue tidak akan memberitahu lo siapa kekasih gue..." jawab Tiara.
"Siapa namanya?" tanya Galih bahkan terdengar menakutkan.
Tiara masih tetap tak memberitahu Galih karena memang ia tak memiliki kekasih saat ini. ia hanya membual untuk membuat Galih tak kurang ajar atas dirinya.
Tiara hendak bangkit dari tidurnya karena rasa kantuknya hilang setelah kedatangan Galih. setidaknya meminum air untuk membasahi kerongkongannya. tapi baru mau duduk, Galih meraih tangannya hingga Tiara kembali berbaring.
Tanpa rasa bersalah ataupun apa, Galih mengungkung kedua tangan Tiara di atas kepala. "Galih..." pekik Tiara.
"Siapa namanya?" pertanyaan sama yang masih keluar dari mulut Galih. bahkan wajah mereka begitu dekat hingga membuat Tiara gugup.
Tiara mencoba meronta sambil membuang muka adalah tidak menatap Galih, rasanya benar-benar aneh untuk dirinya.
"Lepas Gal...". berontak dengan sekuat tenaga walaupun kalah telak.
"Jawab gue? siapa nama pacar Lo!" perintah Galih. bahkan tak ragu mendekatkan wajahnya di wajah Tiara.
"Gue tidak akan memberitahu Lo," jawab Tiara. ia tak menyadari kalau jawaban itu justru menyulut kemarahan Galih. Tangan Galih semakin mencengkeram kuat tangan Tiara, membuat gadis itu kesakitan.
"Jangan menyukai pria lain," ucap Galih dan langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Tiara.
membuat keduanya tenggelam dalam dunianya sendiri sedangkan Tiara yang masih tak paham dengan ucapan Galih langsung teralihkan dengan tindakan pria itu atas dirinya.
__ADS_1
***
Galih nih maksudnya gimana sih? gak ngebolehin Tiara dekat dengan pria lain tapi tak juga cepat mengungkapkan perasaannya.