
HAPPY READING...
***
Starla baru saja tidur siang bersama dengan Arjun. Akira yang tidak bisa tidur, memutuskan untuk menuju ke kamar Gadis melihat Cello.
Ya, tadi Starla tidak memperbolehkan Akira menyentuh Cella sama sekali. Heran memang, putri kecil itu merasa iri ketika sang Mami menggendong bayi lain dalam pangkuannya.
"Starla sudah tidur?" tanya Gadis melihat Akira berjalan masuk ke dalam kamar.
Selain itu ada juga Bella yang juga ikut duduk menemani Gadis, apalagi ia tidak terbiasa tidur siang.
"Sudah..." ucap Akira dengan senyum yang mengukir bibirnya lucu mengingat bagaimana tingkah Starla tadi.
"Starla sangat lucu," jelas Gadis. tingkah putri Akira itu sangat menggemaskan apalagi dengan pipi tembem miliknya.
"Starla mirip sekali dengan Arjun, keras kepala..." keluh Akira. untung saja Starla masih mau tidur di kamar terpisah dari orang tuanya. kalau tidak, mungkin setiap malam akan terjadi perdebatan antara Arjun dan Akira.
Lucu memang karena Arjun seringkali mengeluh kalau Akira tak memperhatikannya setelah ada Starla.
Padahal tidak seperti itu.
"Hahaha... baru umur 1 tahun loh mbak..." perjelas Bella. baru berumur 1 tahun saja Starla sudah memperlihatkan sifat keras kepalanya, bagaimana kalau sudah dewasa?
"Mami dan Papi selalu saja memanjakannya... itulah yang membuat Starla menjadi manja..." keluh Akira.
karena Starla lebih sering menghabiskan waktu dengan nenek dan kakeknya daripada dengan Arjun maupun Akira. Karena Akira masih melanjutkan sekolah sedangkan Arjun pulang saat matahari telah tenggelam.
Jadi Starla akan bersama Mami dan Papi sepanjang hari.
"Nanti juga sifatnya akan berubah lagi Ra... apalagi Starla masih kecil..." bela Gadis. Karena menurutnya memang anak kecil selalu ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya secara utuh.
"Oh iya mbak... apa Cello masih sering menangis?" tanya Akira. Gadis pernah bercerita tentang dirinya yang tidak bisa memproduksi asi setelah kelahiran Cello. meminta saran pada Akira yang sedikit mengerti tentang ilmu Kesehatan juga dengan tindakan apa yang baik untuknya.
"Iya, tadi gue dan Dion pergi konsultasi dengan dokternya... beliau menyarankan untuk mengganti susu buat Cello...sebenarnya aku juga sedih..." Gadis kembali menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjadi ibu yang baik buat Cello.
Padahal ia sangat ingin seperti ibu-ibu di luaran sana, menyusui anaknya dengan asinya sendiri.
"Jangan sedih mbak... semua wanita punya kekurangan dan kelebihan masing-masing bukan? apalagi mas Dion juga mendukung mbak sepenuhnya..." ucap Bella.
membuat Gadis mengangguk setuju. untung suaminya itu sangat mengerti posisi Gadis. tak menyalahkan sama sekali apapun yang terjadi.
"Gapapa mbak... bukan hanya Cello saja yang minum susu formula, banyak di luaran sana tapi buktinya anak-anak itu bisa tumbuh seperti anak lainnya..." ucap Akira menyemangati.
Benar... batin Gadis.
"Sini mbak, biar ku gendong..." ucap Akira mengambil Cello dari gendongan Gadis.
"Gue jadi rindu Tiara..." keluh Gadis mengganti topik pembicaraan. Padahal mereka sudah membicarakan banyak hal saat Tiara sampai disini.
"Dia pergi dari Apartemen Galih sih kata Arjun..." tambah Akira menjelaskan apa yang telah terjadi pada Tiara.
"Kenapa bisa sih Bel?" Gadis beralih bertanya pada Bella, karena Bella adalah adik dari Galih tentu saja ia tau apa yang membuat Tiara sampai pergi dari Apartemen yang sudah ia tinggali sejak kuliah.
"Si kulkas itu memang keras kepala..." umpat Bella pada kakaknya. apapun yang terjadi pada Tiara semuanya karena kesalahan Galih seorang. Bahkan sampai Tiara pergi juga karena Galih.
__ADS_1
"Padahal gue kira mereka bisa melalui semuanya dengan mudah..." itulah yang Gadis yakini selama ini. bagaimanapun ia sangat mendukung hubungan Tiara dengan Galih.
"Tidak ada ketegasan dari Galih... pria itu seperti mengharapkan Tiara tapi tak bisa tegas dengan pilihannya," tambah Akira.
"Plin-plan," cerca Bella.
"Apa lo pernah bertemu dengan Alya, Bel? seperti apa wanita itu?" tanya Gadis penasaran. Dulu Tiara pernah bercerita bagaimana sosok Alya dimatanya, tapi Gadis ingin tau lebih lengkap dari Bella.
"Alya..." Bella kembali menerawang jauh, membuka kembali ingatannya dengan sosok wanita bernama Alya yang pernah Bella temui beberapa tahun silam. Saat itu Alya masih menjadi kekasih Galih dan Bella pernah menemaninya ke Mall.
"Dia seperti wanita pada umumnya, berambut panjang dengan tinggi yang mungkin sama dengan mbak Gadis..." ucap Bella memulai ceritanya.
"Kalau dilihat memang Alya wanita penuh ambisi... dia tak mau di nomor duakan. bahkan ketika jalan dengan kakak, Alya selalu bercerita tentang semua hal yang ingin ia gapai...".
"Aku tak tau apa yang membuat kakak sangat mencintai Alya... mungkin karena dia adalah cinta pertamanya... yang membuatku heran adalah bagaimana Alya menyakiti kakak selama ini tapi dengan bodohnya kakak masih peduli dengan nya..." umpat Bella lagi. sungguh ia tak terima akan hal itu.
"Karena Galih mencintainya,.." sela Akira.
Terkadang cinta memang membuat seseorang terlihat bodoh. tetap mencintai walaupun orang yang dicintai melakukan banyak kesalahan.
"Orang kayak Galih itu sangat sulit jatuh cinta... dan ketika hatinya telah nyaman pada seseorang, ia hanya akan mencintai wanita itu sepanjang hidupnya. memaklumi segala kesalahan yang wanitanya buat, dan membenarkannya..." tambah Akira.
"Galih itu sama seperti Tiara... sifat mereka hampir sama, dari semua hal termasuk masalah percintaan... Tiara yang dengan bodohnya mencintai seorang pria melebihi dirinya sendiri... bahkan seringkali berkorban hanya untuk membuat pasangannya senang, mungkin Galih juga seperti itu bukan?" tanya Akira pada Gadis dan juga Bella.
"Dan pada akhirnya yang di dapat hanya kekecewaan karena dikhianati pasangannya...".
"Kalau saja kakak sedikit pintar, mungkin ia kaan menyadari perasaannya pada Tiara..." sela Bella.
"Belum Bel, mungkin sebentar lagi... saat dimana ia merasa kesepian karena tidak ada Tiara di sampingnya, mungkin Galih akan tau bagaimana perasaannya..." ucap Gadis.
"Ya... aku harap juga begitu Mbak... semoga tak lama, sebelum Tiara membuka hatinya untuk pria lain..." harap Bella. karena akan sangat sulit membuat Galih dan Tiara kembali jika salah satu dari mereka kembali membuka hati untuk orang lain mendekat.
membuat Gadis dan Akira sama-sama mengangguk.
***
Di Kota lain.
Tiara baru menyadari Galih dan Arjun juga Bella tak ada di Perusahaan saat jam makan siang. itu juga karena salah satu karyawan membahas itu di kantin tak jauh dari tempat duduk Tiara.
Oh, pantas saja Bella tidak terlihat sejak pagi... batin Tiara.
karena biasanya, Bella menjadi orang pertama yang mengajak Tiara makan bersama di kantin. tapi hari ini tak begitu.
Suasana hati Tiara juga semakin buruk. padahal sebelum-sebelumnya juga seperti itu. Mood Tiara sudah buruk sejak hari pertama ia membawa langkah kakinya pergi dari Apartemen Galih. sejak saat itu, Tiara seperti kehilangan senyumnya. dan bahkan anehnya, dunia seperti berhenti berputar.
Tiara telah menyelesaikan makan siangnya. sambil berjalan, gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih 30 menit lagi..." gumamnya.
Hingga Tiara memutuskan untuk sedikit mencari udara segar sebelum kembali bekerja nantinya. Dengan langkah sangat yakin, Tiara menaiki anak tangga dari besi menuju ke tempat tertinggi gedung Pradipta Group.
Ya... Tiara sangat penasaran dengan Rooftop gedung tempatnya bekerja.
Dan tangannya terulur untuk mendorong pintu berwarna putih itu. membuka nya hingga angin dari luar seketika menyambut kedatangan Tiara di tempat itu. Waw...
__ADS_1
Tiara sangat terpukau dengan pemandangan dari atas sana. Banyak kendaraan lewat di bawah sana, kecil seperti seekor semut jika di lihat dari gedung pencakar langit ini.
Saking girangnya melihat pemandangan dari atas gedung, Tiara sampai tak menyadari ada orang lain yang sudah berada di sana sejak awal.
"Halo..." sapanya membuat Tiara terkejut bahkan sampai terlonjak.
Astaga... Tiara menyentuh dadanya sambil mengamati sosok pria di ujung sana.
"Sorry, terkejut ya?" tanya pria itu malah merasa bersalah karena tanpa sengaja telah membuat Tiara terkejut.
Pria itu menginjak puntung rokoknya dengan sepatu dan berjalan menghampiri Tiara.
"Apa ini pertama kalinya kamu naik kesini?" tanyanya dengan tutur kata ramah dan bersahabat.
membuat Tiara otomatis menganggukkan kepala. benar, ini adalah kali pertamanya datang dan naik ke Rooftop gedung Pradipta.
"Sudah kuduga..." jawabnya spontan.
Pria itu bahkan tanpa sungkan sedikitpun berdiri di samping Tiara. sama-sama memandang jauh ke depan hingga menerbangkan pucuk rambutnya yang hitam.
Sesekali Tiara mengamati pria itu, postur tubuhnya tinggi, wajahnya sangat teduh dengan alis yang sedikit terpaut di bagian tengahnya.
entah kenapa wajah itu malah mengingatkan Tiara dengan sosok Galih, tapi bedanya pria di sampingnya itu tak sedingin Galih. Ya... pria yang tidak Tiara ketahui namanya itu terlihat murah senyum.
"Anak baru ya?" tanya pria itu saat Tiara masih sibuk mengamati visualnya.
"Eh, itu... iya..." jawab Tiara gugup.
Tau bagaimana rasanya terpergok bukan? ya... seperti itulah yang Tiara rasakan saat ini.
"Pantas aku tak pernah melihatmu..." jawab pria itu dengan yakin.
Tutur kata pria itu semakin membedakan dirinya dengan Galih, pria yang Tiara kenal. bahkan bahasa yang terlontar dari mulut pria itu halus dan juga sopan.
"Boleh berkenalan?" tanyanya lagi. Dan lagi-lagi, Tiara tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. hingga yang dilakukannya hanya mengangguk setuju.
Tangan pria itu segera terangkat, "Aku Joe,".
"Tiara...".
"Namaku Joenatan, tapi panggil Joe saja..." ulang Joe.
Keduanya saling berjabat tangan dan itulah perkenalan Tiara dengan seniornya yang bernama Joenatan.
***
Konflik Kedua muncul...
Visualnya udah jelas kan? mirip Galih cuma beda warak dan sikap.
Dimana Joenatan lebih lembut kepada wanita, sedangkan Galih dengan mulut pedasnya...
Semoga syuka...
Lop kalian banyak-banyak... and See You tomorrow...
__ADS_1