
HAPPY READING...
***
"Bocah SMA?" tanya Dion dengan tampang tak percaya. Bahkan ia sempat tersedak dengan apa yang baru saja di minumnya.
Ucapan dari sahabatnya yang tak lain adalah Galih seperti sambaran kilat di siang bolong.
Tanpa perlu aba-aba, Arjun langsung menonyor kepala Galih. Kesal sekali dia memiliki sahabat yang mulutnya ember seperti itu.
Padahal Arjun telah mati-matian tidak memberitahu sahabatnya karena ia malu. Ya... Arjun tentu saja malu melihat kenyataan kalau dia di jodohkan dengan seorang bocah yang belum resmi lulus sekolah.
Harga dirinya benar-benar jatuh karena ulah orangtuanya.
Arjun menerima semua itu karena ia tak mau Papi Johan berubah pikiran dan mengeluarkannya dari Kartu Keluarga. Arjun tidak mau hidupku susah di luaran sana.
Bagaimanapun menjadi keluarga Pradipta adalah sebuah anugrah yang telah Tuhan berikan kepadanya.
Arjun tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan setelah lulus kuliah dulu.
Setelah lulus dari Universitas di Amerika, Pradipta Group langsung menerimanya. Dan lebih beruntungnya, Arjun adalah calon pemimpin yang akan menggantikan Papi Johan kelak.
"Aawww... sepertinya kepalaku cidera," protes Galih sambil mengelus kepalanya.
Ia sama sekali tidak menduga kalau Arjun benar-benar menonyor kepalanya sangat keras.
Dion yang menjadi satu-satunya orang yang ketinggalan berita mencoba untuk bertanya lebih lanjut kepada Arjun.
"Apa benar Jun? Lo di jodohkan dengan bocah SMA?" tanyanya berulang-ulang kali hingga membuat telinga Arjun terasa sangat panas.
Arjun menenggak minuman di depannya tanpa ragu sama sekali. Merasai sensasi yang sedikit membakar tenggorokannya hingga membuatnya menyerngit.
"Jun?" panggil Dion lagi. Ia begitu penasaran dengan apa yang telah Galih katakan tadi tapi tidak segera di konfirmasi oleh Arjun.
"Lo bawel banget sih..." bukannya menjawab pertanyaan dari Dion, Arjun malah mengomel tak jelas.
Gue tau kalau mereka akan menertawai nasib buruk ku itu... batinnya menerka-nerka.
"Lo kan tinggal jawab pertanyaan gue, iya atau tidak!" gerutu Dion.
Dalam kepalanya saat ini, Dion masih tak menyangka kalau Arjun bernasib buruk seperti itu. Pria yang tidak percaya dengan cinta, selalu bergonta-ganti pasangan tiba-tiba akan menikah dalam waktu dekat. Apalagi yang membuat Dion semakin terkejut adalah calon istri sahabatnya yang menurutnya masih terlalu bocah.
__ADS_1
Ck... apa itu wajar? batin Dion semakin bingung.
"Apa dia cantik?" bisik Dion pada Galih yang masih sesekali menyentuh kepalanya yang mungkin tercipta sebuah benjolan.
"Gue tidak melihatnya dengan saksama..." jawab Galih. Yang Galih tau, gadis yang akan menjadi istri Arjun adalah anak teman Bos besarnya. Tadi saat acara lamaran, Galih hanya menunggu keluarga itu di depan rumah.
"Jadi Lo ikut tadi siang?" bisik Dion lagi.
Dan Galih pun mengangguk sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan dari Dion barusan.
Galih memang ikut menghadiri acara tadi siang karena ia diminta Papi Johan sebagai supir.
Arjun tidak memperdulikan percakapan kedua sahabatnya itu. Ia memilih untuk menenggak minuman di depannya hingga tak terasa telah setengah botol berpindah ke dalam perut.
Mereka benar-benar kayak Ta*i! umpat Arjun.
"Kenapa dia se pasrah itu? kenapa tidak menolaknya?" Dion ikut kesal dengan semuanya. Setidaknya Arjun harus menolak perjodohan itu. Karena menurutnya apapun tidak bisa dilakukan atas dasar paksaan.
Apalagi ini masalah pernikahan.
"Entahlah... gue gak paham..." jawab Galih menyerah. Ia juga tidak tau kenapa Arjun menerima perjodohan itu tanpa menolak sama sekali.
"Gue hanya mencari aman. Kalau menolak perjodohan itu, bagaimana kalau bokap menendang ku dari Keluarga Pradipta?" gumamnya pelan.
"Tapi Lo akan terikat dengan gadis itu Nyet..." ucap Dion kesal.
Arjun tersenyum aneh. Dari caranya tersenyum seperti itu, Galih tau ada banyak beban dalam diri pria itu yang tidak bisa dibagi dengan sahabatnya.
"Siapa bilang? gue dan dia bisa cerai bukan?"
Dion dan Galih ternganga dengan jawaban Arjun yang di luar perkiraannya. Bercerai?
"Bercerai? Lo pikir hal itu mudah? Tentu saja bokap Lo akan kecewa dan akan sulit jika kalian telah memiliki anak..."
Itulah pemikiran Dion. Saat lahir anak di dalam sebuah pernikahan, anak itulah yang akan mengikat mereka.
Itulah sebabnya Dion belum siap untuk menikah sampai saat ini. Dirinya tidak yakin apakah bisa berkomitmen hanya dengan 1 wanita saja seumur hidupnya.
Walaupun pada kenyataannya, Dion dan juga Arjun adalah sama. Sama-sama menebar benih sembarangan dengan wanita-wanita yang mereka temui selama ini.
"Ck... anak? tidak akan ada anak dalam pernikahan gue..." jawab Arjun dengan sangat yakin.
__ADS_1
Ia juga tidak mau memiliki anak dengan bocah yang akan menjadi istrinya itu dan akan menyusahkan nya di kemudian hari.
"Maksud Lo?" kali ini ganti Galih yang bertanya.
"Iya, tidak akan anak dalam pernikahan ini. Gue pastiin itu... gue tidak akan menyentuhnya..." ucap Arjun telah memikirkan semuanya.
"Lo yakin?" tanya Dion tak percaya.
Arjun itu laki-laki normal. Bagaimana bisa menahannya jika keadaan memaksa seorang pria dan wanita untuk tinggal bersama? apalagi dalam waktu yang cukup lama.
"Ck... dia gadis jelek dan pendek! sama sekali bukan seleraku..." jawab Arjun yakin.
Setidaknya tipe wanita idaman Arjuna adalah perempuan yang tinggi dan memiliki tubuh yang seksi seperti seorang model. Sedangkan Akira... gadis itu pendek, wajahnya pas-pasan. Sangat jauh dari kriteria Arjun.
Dion dan Galih tertawa kencang dengan ucapan Arjun mengenai calon istrinya tersebut.
"Gue pegang omongan Lo... awas aja nanti kalau Lo berubah bucin!" Dion memperingati sahabatnya. Karena biasanya saat terlalu membenci seseorang, malah perasaan cinta yang di dapat.
Arjun ikut tertawa. Menertawai sesuatu yang sangat mustahil baginya. Bucin? cinta? hahaha... semua itu hanya ada di dalam sebuah cerita... di kenyataan seperti ini tidak ada yang namanya cinta.
"Alah... nanti juga bakal berubah bodoh pada waktunya..." elak Galih.
Dulu Galih juga tidak terlalu percaya dengan cinta.
"Kayak Lo dulu kan, hahaha..." ejek Dion dengan tawa renyah.
"B*ngke Lo!" umpat Galih pada ucapan Dion yang menyebalkan itu.
"Udah terlanjur bucin, ehh... taunya di selingkuhi... nyeseknya sampai sekarang, hahaha..." tambah Arjun memperburuk suasana.
Dasar teman lucknut! umpat Galih kepada 2 orang pria yang sedang tertawa sambil merangkul wanita-wanita di sampingnya.
"Sudah... ayo minum lagi," ucap seorang wanita yang duduk di samping Galih sambil menyodorkan segelas minuman kepada pria itu.
Tanpa menunggu waktu lagi, Galih langsung menenggak habis segelas kecil minuman keras tersebut dan menyerngit ketika minuman itu melewati tenggorokannya dan turun ke perut.
"Habiskan! biar gue yang traktir malam ini..." ucap Arjun tanpa ragu.
Arjun, Galih dan Dion menikmati sepanjang malam di tempat itu dan berlanjut ke sebuah hotel untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
***
__ADS_1