Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
126. Bukan Tipe Ku!


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tiara mengerjabkan matanya berulang kali. Hal pertama yang ia dengar saat bangun adalah suara gemericik air yang entah dari mana tapi suaranya sangat jelas menandakan bahwa dekat dengan dirinya saat ini.


Air? kenapa ada suara air disini?


Antara sadar dan mimpi, Tiara mulai berpikir.


Karena nyatanya, kamar mandi di rumahnya terdapat di luar kamar. Bahkan tempatnya juga di dekat dapur jadi tidak akan terdengar kalau ada orang mandi disana.


Tiara mulai membuka matanya, walaupun sinar matahari seperti langsung terkena wajahnya.


Ini? dimana?


"Hei, gue dimana?" Tiara langsung terperanjat dan mengamati ruangan kamar yang sangat asing baginya.


Apa gue di culik? Tiara mulai menerka-nerka kejadian malam tadi.


Masih belum sepenuhnya sadar, suara pintu kamar mandi terbuka. "Lo sudah bangun?" suara laki-laki dari belakang sana semakin membuat Tiara spontan bangun.


"Lo?" tunjuk Tiara ke arah Galih yang masih berada di ambang pintu sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan sebuah handuk kecil.


Kenapa dia? batin Tiara masih bingung.


Dan entah kenapa ingatannya tentang kejadian malam tadi belum sepenuhnya diingat.


"Kenapa gue disini?" gumam Tiara pelan tapi tetap mampu di dengar oleh Galih.


"Karena semalam Lo pingsan di jalan, untung gue pungut dan bawa kesini..." jawab Galih ketus dan langsung menuju ke ruang ganti pakaian.


Meninggalkan Tiara yang ternganga karena ucapan pria itu. Ck... apa dia bilang? pungut? emang gue apaan?


Tapi tak berani protes karena Tiara sama sekali tidak mengenal seperti apa sosok pria tadi.


Walaupun dalam hatinya ingin rasanya mengumpati Galih.


Hingga Galih keluar dengan pakaian yang rapi, Tiara masih mencerna kejadian semalam. Kilasan ia bertemu dengan kekasihnya mulai memenuhi kepala dan kembali membuat dadanya terasa sesak.


Inilah patah hati yang sesungguhnya Tiara alami.


Beberapa tahun menjalin hubungan dengan seorang pria, nyatanya tak membuat pria itu bersyukur telah memiliki Tiara. Lebih kejam nya lagi, pria itu menghamili wanita lain.


Kenapa nasibku sangat buruk...


Bahkan mengingatnya saja membuatmu Tiara kembali meneteskan air mata.


"Hiks,"


Suara tangis Tiara sampai terdengar di telinga Galih.


Membuat pria itu sejenak berdiri di ambang pintu ruang ganti pakaian. Mengukur sedikit waktu untuk memberikan waktu Tiara meluapkan rasa kekecewaannya.


Inilah yang membuatku tak lagi mempercayai soal cinta.. Cinta hanya kebohongan, dan seumur hidup gue tidak akan pernah menikah...


batin Galih.


Karena di rasa cukup, Galih keluar dan berdehem untuk mengusir canggung,


"Sana mandi dan ganti pakaian Lo!" perintah Galih.

__ADS_1


Karena saat ini Tiara masih mengenakan pakaian milik Galih.


Tiara langsung menghapus air matanya tanpa sisa, tak ingin Galih melihat kalau dirinya sedang bersedih karena sesuatu dan kembali mengamati pakaiannya, Hah? pakaian siapa ini? miliknya? kenapa bisa gue pakai? Jangan-jangan dia...?


Dan langsung kedua tangan menutupi dadanya.


"Jangan berpikir macam-macam, lagian gue juga tidak tertarik dengan Lo!" ucap Galih menjelaskan.


Melihat ekspresi Tiara, Galih tau kalau gadis itu pasti berpikir Galih lah yang mengganti pakaiannya semalam.


Dasar!


"Apa? Lo tidak percaya?" tanya Galih sewot. Sialan! kenapa Bella pulang duluan sih tadi... bagaimana gue menjelaskannya nanti?


"Pokoknya bukan gue yang mengganti pakaian Lo! jangan salah paham. Dan satu lagi, Lo sama sekali bukan tipe gue..." ucap Galih mempertegas semuanya kalau Tiara bukan lah gadis kriterianya dan langsung pergi entah kemana, yang jelas tidak berada dalam ruangan yang sama dengan gadis itu.


Sepeninggal Galih, Tiara masih bergumam seorang diri.


Ck... lagian mana sudi gue dengannya? sok-sokkan bilang bukan tipe nya... memang apa salah gue?


Kesal sendiri Tiara dengan perkataan pedas dari Galih.


Kalau boleh jujur Galih juga bukan tipe ideal Tiara.


Pria dingin macam itu, ck... sama sekali bukan seleraku...


Tiara pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan tentu saja mengganti pakaian yang semalam ia kenakan.


Sebelum mengenakannya, Tiara lebih dulu mencium bau pakaiannya.


Eh, kenapa wangi? apa baru saja di cuci? dia yang mencucinya?


Tanpa berpikir panjang, Tiara langsung mengenakan pakaiannya yang memang terasa harum seperti habis di cuci.


Anggap saja ini adalah kesialan pertama bagi Galih karena harus menyentuh pakaian dalam seorang wanita.


Tiara sudah selesai dan celingak-celinguk di ambang pintu kamar. Apalagi bau makanan langsung menusuk ke hidungnya hingga membuat perutnya berbunyi. Wajar saja, semalam Tiara belum makan sama sekali.


"Makan lah!" ucap Galih kembali mengejutkan Tiara. Tentu saja dengan suara menjengkelkan sama seperti sebelumnya.


Sebenarnya Tiara malu, tapi karena perutnya semakin berontak minta diisi akhirnya Tiara mendekati meja makan. Duduk di sana sambil tersenyum kaku.


Galih menyodorkan segelas teh hangat ke depan Tiara dan di sambut baik oleh gadis itu, "Terima kasih,"


"Setelah ini gue antar pulang!" ucap Galih sama sekali tidak ada manis-manisnya.


Sarapan mereka tidak terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Bahkan membuat Tiara sama sekali tidak menikmati makanan yang seharusnya enak karena masakan itu buatan dari Ibunya Galih yang dibawa Bella semalam.


Gue harus bertanya karena sangat penasaran, bagaimana memulainya ya... batin Tiara mencoba untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Em... apa... gue boleh bertanya?" tanyanya memberanikan diri.


"Hm," jawab Galih sibuk dengan ponselnya.


"Semalam,...-"


"Ck, soal pakaian? gue sudah bilang kan bukan gue yang mengganti pakaian Lo! kenapa? tidak percaya? mau gue telpon orangnya? lagian apa untungnya sih gue sampai ingin melihat tubuh Lo?" protes Galih tanpa jeda sama sekali. Sedangkan Tiara hanya melongo tak percaya. Karena yang ingin ia tanyakan bukanlah masalah mengganti pakaian.


"Ya! bukan itu maksud gue... bukan itu yang ingin gue tanyakan... kenapa Lo ngegas? lagian juga siapa sih yang sudi di bantu Lo, dasar pria dingin!" umpat Tiara kesal.


Iya-iya gue tau kalau gue jelek! tapi kenapa mulutnya pedas sekali sih?

__ADS_1


"Jadi bukan itu yang ingin lo tanyakan? lalu?" tanya Galih merasa bersalah.


"Agh, lupakan saja! percuma bicara sama Lo," jawab Tiara.


Pria di depannya benar-benar dingin dan tidak bersahabat. Jadi percuma saja menjalin komunikasi dengannya, yang ada akan semakin membuat Tiara darah tinggi.


Tuhan! kenapa kau menciptakan pria menyebalkan seperti ini sih... batin Tiara.


 


Di dalam mobil, baik Tiara maupun Galih tidak ada yang bicara sama sekali.


Galih sibuk mengemudikan mobilnya sedangkan Tiara membuka ponselnya. Mengamati semua foto yang pernah ia ambil dari berbagai momen.


Dan lebih banyak foto berdua dengan kekasih yang mengkhianatinya beberapa saat yang lalu.


Semua kenangan bersama pria itu jelas tersimpan baik di ponsel maupun hatinya.


Membuat hati Tiara semakin sesak dan sakit.


"Hufft..." hela nafas Tiara menjadi satu-satunya suara yang tercipta di dalam sana.


Membuat Galih sesekali melirik ke arah wanita itu.


Tiara mulai menghapus foto-foto dengan pria yang telah mengkhianati perasaannya. Ya, langkah awal melupakan pria itu dengan menghapus seluruh fotonya dan lambat laun Tiara akan bisa memulai hidupnya lagi.


Seharusnya gue tidak terlalu mempercayainya... mungkin rasa sakitnya tidak akan sesakit sekarang...


"Hiks," Tiara rak lagi bisa menahan kesedihannya.


Di dalam mobil yang melaju, gadis itu kembali menumpahkan air matanya bahkan lebih keras dan memilukan dibandingkan tadi.


Membuat Galih sedikit risau.


Entah kenapa setiap kali mendengar seseorang menangis, hati Galih serasa ikut ngilu.


Hingga pria itu memutuskan untuk menepikan mobilnya dan berhenti.


"Gue mau merokok dulu," pamit Galih dan langsung keluar. Meninggalkan Tiara seorang diri.


Sebenarnya itu hanya alasan Galih saja, karena ingin memberi sedikit waktu untuk Tiara menyelesaikan tangisnya.


Dan disini lah Galih berada. Di depan Mobil sambil menyalakan rokok untuk mengusir penat.


Suasana pagi hari yang sedikit mendung membuat angin sesekali menerpa wajahnya.


Di tambah dengan jalanan yang tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat, suasana yang sangat jarang terjadi di Ibukota.


Tak terasa sudah setengah jam Galih berdiri di depan mobil. Tiara turun dari mobil dan berkata, "Sudah..." maksudnya ia sudah selesai menangis.


Galih menengok ke arah Tiara, membuat pandangan mereka bertemu di satu garis lurus untuk beberapa detik.


"Ehem," sengaja batuk dan setelahnya Galih melempar pandangannya untuk mengusir kecanggungan yang terjadi.


Mereka sama-sama kembali masuk ke dalam mobil dan pergi.


***


Besok ketemu lagi dengan Arjun dan Akira...


Semoga Syuka..

__ADS_1


 


__ADS_2