
HAPPY READING...
***
Galih sudah berdiri di ambang pintu. Menunggu Tiara pamit kepada Ayah, Ibu dan juga Bella.
Sekarang sudah pukul 8 malam dan tentu saja Galih tidak boleh mengantarkan pulang anak orang sampai malam.
"Bel, aku pulang ya..." pamit Tiara.
Membuat Galih kebingungan entah kenapa kedua gadis itu sangat akrab. Karena keakraban mereka juga membuat kondisi Galih semakin terhimpit. Dimana ujung-ujungnya Ibu terlalu berharap bahwa Galih menjalin hubungan dengan gadis itu.
Ck, menyebalkan!
"Tante, Tiara pulang dulu ya..." pamit Tiara pada Ibu.
"Iya Tiara, hati-hati ya... kalau Galih membawa mobilnya ngebut, kamu boleh memarahinya..." jawab Ibu sambil menatap ke arah putranya.
Membuat Galih menaikkan satu alisnya keheranan mendengar jawaban Ibunya tadi.
Sekarang Tiara mendekati Ayahnya Galih. Mencium punggung tangan itu tanpa ragu, "Tiara pulang om...".
"Iya... sering-sering lah datang kesini, dan bawa benih bunga yang om minta tadi..." jawab Ayah.
Semakin membuat Galih syok karena kedekatan mereka.
"Baik Om..." jawab Tiara dengan senyum tulus yang melengkung sempurna di bibir.
Apa? memang siapa dia sampai akrab dengan Ayah sampai mau menanam benih bersama? ck... pasti dia gadis bermulut manis! umpat Galih.
Bermulut manis bagi Galih mendefinisikan seseorang yang menggunakan mulutnya untuk merangkai kata manis demi mendapatkan hati seseorang.
Hingga Tiara berjalan sampai di ambang pintu, Galih masih tak henti menatap gadis itu. Membuat Tiara salah tingkah sekaligus canggung.
Galih dan Tiara berjalan bersama menuju ke mobil. Duduk dan melambaikan tangan ke arah Bella ketika Galih telah menancap gas meninggalkan rumahnya.
Hingga hening menguasai keadaan di dalam mobil yang mulai melaju ke arah Ibu kota.
Tidak ada yang bersuara ataupun bertanya sama sekali.
Karena ada sesuatu yang Galih rencanakan, sehingga tanpa ragu pria itu mengalihkan jalan yang di laluinya. Melewati jalan pinggir kota yang jarang sekali di lewati kendaraan lain jika bukan karena macet atau banjir.
Tiara yang tadinya tidak tau, tiba-tiba tersentak kaget. Jalanan di depan sana benar sepi dan gelap karena pohon di kanan kiri jalan yang begitu rindang menutupi lampu jalanan.
"Dimana ini?" tanya Tiara memberanikan diri untuk bertanya.
"Gue ada urusan sama Lo!" ucap Galih yakin. Hal itu tentu saja membuat Tiara dipenuhi tanda tanya.
Urusan apa? memang apa yang gue lakuin?
Galih menepikan mobilnya. Hanya lampu mobil itu yang menjadi penerangan satu-satunya tempat itu.
Suara hewan malam terdengar semakin keras, menambah kesan ngeri dan menakutkan bagi siapa saja yang mendengar termasuk Tiara. Bahkan gadis itu terlihat menajamkan mata melihat dari balik kaca mobil di depannya.
"Sebenarnya apa sih mau Lo?" tanya Galih tiba-tiba.
Tiara yang tadinya fokus menatap ke depan langsung mengalahkan pandangan ke arah Galih. Duduknya juga langsung menempel ke pintu mobil untuk menjaga jarak diantara mereka. Bisa saja kan dia mencekik ku? lihatlah matanya yang di penuhi oleh kemarahan itu... batin Tiara.
__ADS_1
Wajah Galih benar-benar terlihat dingin tapi dengan binar mata yang berkobar layaknya api.
Tiara saja takut melihat wajah itu terlalu lama, Bisa-bisa ia meleleh seperti mentega nanti.
Tiara terus mengamati pergerakan Galih. Dari membuka Seatbelt hingga mengubah duduknya menghadap ke arah Tiara.
"Ma-mau apa Lo!" bentak Tiara malah dengan nada rendah seperti seseorang yang frustasi di ambang kematian.
"Kalau gue bilang akan membuang Lo disini, Lo akan percaya?" ucap Galih mengintimidasi.
Apa? di buang? di tinggal di jalan ini maksudnya? Apa dia gila? bagaimana dia tega melakukan itu? kenapa tadi pura-pura baik ingin mengantarku pulang kalau hanya ingin membuang ku di tengah jalan? ...
Tapi Tiara tidak berani mengatakannya langsung hingga yang terucap hanyalah, "Kenapa? apa salahku?", sangat beda pembicaraan hatinya.
"Lo sadar tidak sih kalau salah Lo itu banyak..." ucap Galih menyadarkan kesalahan Tiara.
Banyak sekali kesalahan gadis itu hingga membuat hidup Galih benar-benar terasa menjengkelkan.
"Ha?"
Galih semakin frustasi dengan tanggapan Tiara yang masih tidak paham. Menyentuh pangkal hidungnya dan menghela nafas kasar dan terdengar berat seberat beban hidupnya.
"Gue kan sudah bilang kalau sekarang Bella dan gue itu berteman. Jadi kenapa Lo yang marah?" tanya Tiara. Padahal masalah itu sudah Tiara jelaskan setiap kali bertemu dengan Galih. Tapi entah kenapa pria itu masih saja mengungkit-ungkit masalah yang sebenarnya terdengar sangat kecil saja.
"Bukan itu!" sela Galih.
Oh jadi bukan masalah itu lagi? "Lalu?" tanya Tiara.
"Kenapa Lo begitu akrab dengan Ayah gue? Lo mau merebutnya dari Gue dan Bella dengan cara cari perhatiannya? ha?" tanya Galih kesal. Bahkan ia saja belum di maafkan oleh Ayah sejak beberapa tahun yang laku. Tapi dengan mudahnya Tiara masuk ke dalam keluarganya dan mendapat begitu banyak perhatian khususnya dari Ayah.
"Mau bilang apa Lo? karena Ayah gue sangat Friendly? karena dia sangat ramah? atau-"
"Karena gue tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah sebelumnya..." sela Tiara hingga membuat Galih tidak bisa meneruskan kalimatnya.
"Dari Ayah Lo, gue bisa tau bagaimana kasih sayang seorang ayah terhadap anak perempuannya... gue dapat itu dari Ayah Lo..." tambah Tiara.
Bahkan tanpa sadar membuat matanya menggenang dan meloloskan air mata.
Ya, Tiara kira ia hanya akan mendapat teman baik seperti Bella. Teman yang setulus Akira dalam hidupnya.
Tapi tanpa terduga saat Tiara sering berkunjung ke rumah Bella, nyatanya bukan hanya Bella saja yang menyambutnya dengan ramah. Ayah Ibu Bella sangat menyambut kedatangannya.
Ibu yang selalu perhatian kepadanya serta Ayah yang sangat ramah.
Tiara sangat menyukai keluarga Galih. Dan dalam hatinya, ia sangat menyayangi keluarga itu. Apalagi Tiara dan Ayahnya Galih memiliki hobi yang sama, merawat tanaman. Mereka mampu dengan akrab dan nyambung ketika membicarakan sesuatu.
Dan Tiara juga kerap kali datang membawa bunga ataupun biji sebuah tanaman untuk di tanam di belakang rumah.
Sederhana itu cara yang di dapat Tiara untuk kebahagiaannya.
"Gue sungguh tidak bermaksud untuk merebut kasih sayang Ayah Lo... gue tidak pernah berpikiran sampai seperti itu," ucap Tiara dengan kesungguhan hati.
Bahkan air matanya kian deras mengalir membasahi wajahnya.
"Sejak gue lahir, gue tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah... bagaimana rasanya perlindungan dari Ayah yang katanya cinta pertama bagi anak perempuannya... gue tak pernah tau bagaimana rasanya seperti itu. Dan mengenal Ayah Lo, gue tau apa yang di rasakan anak-anak perempuan di luaran sana... hiks..." adu Tiara dan menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah.
Entah kenapa mendengar penuturan Tiara membuat hati Galih ikut sesak. Rasanya amat sakit melihat kenyataan yang baru ia ketahui dari sosok gadis di sampingnya.
__ADS_1
Galih merasa bersalah menuduh gadis itu telah merebut kasih sayang orang tuanya.
Pria itu tanpa sengaja mengangkat tangannya untuk mengelus pucuk kepala Tiara, tapi saat belum sampai Tiara kembali mengangkat pandangannya hingga tangan Galih otomatis berbelok ke kepalanya sendiri. Menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa Lo menuduh ku seperti itu? memang salah jika gue dan Ayah Lo bicara akrab karena hobi yang sama?ha?" tanya Tiara.
Sedangkan Galih tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Tidak salah memang mereka akrab karen hobi yang sama dimana pembicaraan mereka juga akan nyambung.
"Kenapa Lo jahat!" teriak Tiara.
Hatinya terluka dengan perkataan pedas dari Galih barusan.
Padahal ibunya tak pernah mendidik Tiara untuk merebut kebahagiaan orang lain. Tadi secara tidak langsung ucapan Galih tadi mengatakan kalau Tiara telah merebut Ayahnya.
"Sorry..." ucap Galih penuh penyesalan.
Kalau ia tau latar belakang Tiara, tentu saja Galih tidak akan sampai hati mengatakan hal itu. Apalagi sampai membuat gadis itu menangis terisak.
Nyatanya rencana untuk mengerjai Tiara gagal sudah. Malah Galih yang seperti kena tuahnya sendiri.
Bukannya berhasil mengerjai Tiara malah dia yang merasa bersalah hingga membuat gadis itu menangis.
"Gue benar-benar tidak tau tentang itu..." tambah Galih.
"Makanya kalau tidak tau jangan asal bicara!" semprot Tiara kesal. Membuat Galih memejamkan mata karena terkejut. Ettss... galak juga nih cewek...
"Hapus air mata Lo, gue antar pulang!" ucap Galih sambil memperhatikan Tiara yang mengambil tissue untuk menyeka air mata di wajahnya.
Setelah itu, tiba-tiba Galih mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara. Membuat Gadis itu membeku dengan membulatkan mata, "Mau apa?" tanya Tiara.
Bukan ini yang dia mau dari Galih.
Galih benar-benar mendekati tubuh Tiara hingga terpaksa gadis itu bersandar sambil menahan nafas. Tiara kira Galih hendak menciumnya sehingga tanpa sengaja gadis itu menutup mata.
Hembusan nafas Galih bahkan menerpa wajah Tiara, tapi...
Ceklekk...
Tiara membuka matanya. Ternyata Galih telah membantu memasang Seatbelt Tiara.
Aawww... kenapa gue berpikir seperti itu sih! umpat Tiara menahan rasa malu.
Sedangkan Galih kembali memposisikan tubuhnya, berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang terasa aneh.
"Apa lo kira gue akan mencium Lo? ck... jangan kepedean..." sindir Galih semakin membuat Tiara malu.
Bahkan mungkin saja wajah Tiara telah berubah seperti kepiting rebus.
"Ti-tidak..." jawab Tiara dan melempar pandangannya ke arah lain asal tidak melihat ke arah Galih.
Dan tanpa Tiara sadari, ada sebuah senyum samar yang tersungging di ujung bibir pria itu.
***
Hahaha... Gimana Part Ini? ****Syuka****???
Kurang baik apa coba diriku sama kalian, 3 Part berturut-turut dari Senin...
__ADS_1