Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
243. H-2.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pernikahan sudah di depan mata. Gaun dan lain sebagainya sudah siap dengan sempurna. walaupun hanya pemberkatan pernikahan di gereja, tapi semua orang bilang Tiara dan Galih harus benar-benar sempurna.


Lebih dari itu, sahabat teman sekaligus orang yang Galih percayai setelah orang tua nya juga telah datang. Dion... pria itu baru saja tiba tadi pagi bersama Gadis, Cello dan juga Ibunya Dion.


Ya... mereka sengaja datang untuk menyaksikan dan sebagai saksi pernikahan Galih.


"Nih..." ucap Dion melempar kunci ke tangan Galih. untung saja Galih cekatan, hingga dapat menerima lemparan Dion dengan tepat.


"Apa ini?" tanya Galih kebingungan.


"Buta! lo tidak lihat kalau itu kunci?" cerca Dion walaupun pada kenyataannya hanyalah gurauan saja.


"Gue tau nyet kalau ini kunci... tapi buat apa?" tanya Galih lebih sewot. maksudnya apa coba Dion menyerahkan kunci kepada Galih? atau mungkin Galih akan menyetir mobil sendiri di hari pernikahannya? atau bahkan menyetir untuk Dion dan istrinya? yang benar saja... gak ada harga diri sama sekali jika Galih melakukan hal itu.


"Hadiah pernikahan lo dan Tiara..." jawab Dion tanpa ragu sedikitpun.


Hadiah? Galih masih mencerna ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya.


dan setelah paham, pria itu tersenyum bahagia. tak menyangka kalau Dion akan seroyal itu. padahal ya memang seperti itulah persahabatan mereka. tak memperhitungkan masalah uang.


"Lo serius?" tanya Galih. Ya kali aja Dion hanya berpura-pura. bisa kena mental Galih nanti.


"Apa sih yang gak buat lo..." jawab Dion dibuat semanis mungkin. bahkan terdengar seperti tengah merayu kekasihnya.


"Ck... gue geli mendengar ucapan lo!" cerca Galih. sebagai pria normal, sungguh ucapan Dion barusan mampu membuat bulu kuduk Galih berdiri.


"Ingat umur, sebentar lagi lo bakal punya cucu..." tambah Galih.


"Hahaha..." membuat Dion tertawa keras.


Galih pun ikut menertawai leluconnya juga.


karena tak lengkap jika mereka bertemu tapi tak saling ejek.


hanya saja, saat ini hanya ada Dion dan Galih saja. sedangkan Arjun tidak bisa menyambut kedatangan Dion ke Ibukota karena ada keperluan mendadak.


Mungkin saja jika ada Arjun, suasana akan lebih meriah. karena jika Dion, Galih dan juga Arjun berada dalam tempat yang sama mereka akan terlihat ramai dan banyak bicara.


"Sudah saatnya lo bahagia Gal..." ucap Dion jujur. karena apa yang pernah Galih alami selama ini, sungguh amat berat.


kehidupannya benar-benar diiringi dengan banyak air mata. sudah sepantasnya Galih mendapatkan kebahagiaan ini. menikah dan hidup bersama dengan orang yang dicintainya.


"Iya..." jawab Galih.


Mereka sama-sama menikmati waktu siang hari di balkon Apartemen. berdua dan mengobrol banyak hal sambil ditemani sebungkus rokok.

__ADS_1


"Apa lo tidak pulang?" tanya Galih. dirinya serasa terpancing dengan hal pribadi Dion. karena sudah sangat lama pria itu juga istri dan anaknya tak pernah sekali pun bertemu dengan Arya Guna, Papa dari Dion.


"Pulang? kemana?" tanya Dion berpura-pura tak paham.


Galih celingukan mencari Ibunya Dion, mungkin saja ada di dalam sana. tapi sepertinya tak ada.


"Mama keluar bersama Gadis dan Cello," jawab Dion bersuara.


Galih mengangguk paham, "Dia pasti ingin bertemu dengan Cello," jawab Galih. seharusnya Dion sudah paham apa yang Galih bicarakan saat ini.


Dion tersenyum kecil, menghisap sebatang rokok yang tersemat di jarinya dan menerawang ke atas sana. bingung harus menjawab bagaimana karena ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati Dion. apakah sudah saatnya ia mempertemukan putra kecilnya dengan sang kakek? apa Cello akan mendapatkan perlakuan baik atau justru di rendahkan?


Ya... itulah yang Dion takutkan. bagaimanapun ia tak mau putranya diperlakukan tidak baik dalam keluarganya. karena selama ini, Cello benar-benar mendapatkan kasih sayang yang sangat utuh. dari Dion dan Gadis sendiri, dari Mama juga dari orang tua Gadis.


"Sepertinya tidak sekarang..." jawab Dion pada akhirnya. ia akan mempertemukan Cello dengan sang Papa ketika usia Cello sedikit lebih besar dari sekarang. karena nanti, ketika tidak berjalan sesuai dengan harapannya, Cello akan tau sendiri.


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkannya... lo akan keriput di hari pernikahan lo nanti..." gurau Dion. rak ingin membahas tentang keluarganya lagi. karena alasan ia datang ke Ibukota juga bukan kerena hal itu.


"Mobilnya akan sampai besok..." tambahnya.


"Makasih Yon..." jawab Galih.


***


Di tempat lain, Tiara sedang pergi ke minimarket yang ada di samping Apartemen. karena kedatangan tamu dan menginap di Unit yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya bersama Galih, Tiara ingin membelikan sesuatu untuk Cello, putra Gadis dan Dion.


Bocah berumur 2 tahun itu sangatlah lucu. berkulit putih dengan mata yang sipit benar-benar seperti fotocopy Dion. dan semua orang sangat senang melihat tingkahnya, termasuk Tiara.


Hingga tepat di lorong yang banyak sekali permen, seseorang menepuk bahu Tiara membuat gadis itu terjingkat karena kaget.


"Sepertinya memang takdir kita untuk kembali bertemu..." ucap Andre. membuat Tiara hanya mempunyai berdiri mematung tanpa bisa berkata-kata.


"Jadi kalian tinggal di Apartemen itu?" tanya Andre seperti penasaran tentang semua hal mengenai Tiara termasuk dimana gadis itu tinggal selama ini.


pantas saja setiap kali Andre ke rumah Tiara, semua orang disana tidak tau.


"Mau lo apa sih Ndre?" tanya Tiara. sungguh ia sudah muak melihat semuanya. menghadapi banyak masalah yang tidak ada habisnya. Tiara sudah lelah, baik fisik maupun mentalnya.


"Gue? bagaimana kalau gue bilang kalau gue menginginkan lo kembali?" tanya Andre terdengar tidak sedang bercanda.


"Apa?" tanya Tiara. belum paham apa yang sudah Andre katakan.


"Kembalilah bersamaku Tiara..." pinta Andre terdengar memohon.


"Lo benar-benar sakit!" umpat Tiara. bagaimana bisa Andre berkata seperti itu setelah apa yang telah pria itu lakukan di masa lalu. seharusnya Andre malu walau sekedar menemuinya seperti sekarang.


karena pada dasarnya Andre lah membuat hubungan mereka kandas, bukan Tiara.


Tiara bergegas menuju ke kasir. membayar semua belanjaannya dan segera pergi. karena berlama-lama di tempat ini bersama Andre benar-benar membuat dirinya gila.

__ADS_1


Hingga tepat di depan pintu minimarket, Andre mencegah Tiara yang hendak pergi. menggenggam erat pergelangan tangan Tiara hingga membuatnya kesakitan.


"Aw... sakit..." teriak Tiara. tapi tak juga membuat Andre menghentikan kegilaannya.


"Lepas Ndre... lo menyakiti gue..." pinta Tiara dengan iba.


Hingga tanpa mereka sadari, Galih datang dan langsung mengayunkan pukulannya terhadap Andre. membuat pria itu tersungkur hingga membentur bangun yang tersedia di depan minimarket.


"Berani sekali menyentuh wanitaku dengan tangan kotor mu itu..." cerca Galih. karena Galih tak suka apapun yang menjadi miliknya juga disentuh oleh orang lain. termasuk Tiara. ingin sekali Galih mematahkan tangan pria br*ngsek itu.


Andre bangkit, menyeimbangkan tubuhnya sambil menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya. Sial! kuat juga pukulannya... umpat Andre dengan perlakuan Galih.


"Sepertinya gue pernah melihat lo sebelum ini...". Galih berjalan mendekati Andre, mencengkeram kuat kerah baju pria itu tanpa ragu sedikitpun. "Ada urusan apa lo dengan calon istriku?" tanya Galih dengan nada penuh kemarahan.


"Calon istri? jadi Tiara calon istri lo?" tanya Andre sedikit terkejut.


"Bukankah lo tangan kanan Presdir Pradipta Group yang sekarang?" tanyanya lagi. karena Andre cukup tau siapa orang-orang yang berpengaruh dalam negara ini. bahkan wajah Galih sebagai tangan kanan Presdir perusahaan raksasa itu sering terpajang dalam majalah bisnis.


"Ternyata gue cukup terkenal ya..." jawab Galih jumawa. walaupun pada dasarnya ia tak peduli tentang itu. tak peduli dikenal ataupun tidak. karena Galih hanya menikmati hidupnya.


"Jadi bisa jawab pertanyaan gue tadi?" paksa Galih. setidaknya Galih hanya ingin tau alasan apa yang membuat pria itu dengan berani menyentuh tangan Tiara.


"Sudah lah Gal..." tolak Tiara. sedangkan Tiara juga takut, ia tak mau Andre berbicara macam-macam yang bisa membuat Galih marah.


Tiara menarik tangan kekasihnya. berharap Galih bisa melepaskan Andre dan mereka segera pergi dari minimarket itu.


"Sebentar Ra... gue masih punya urusan dengannya..." tolak Galih semakin membuat Tiara ketakutan.


"Siapa lo? jawab pertanyaan gue!" bentak Galih.


"Gue..." jawab Andre, sejenak menatap Tiara seperti memancing reaksi gadis itu.


Bagaimana kalau gue katakan semuanya? begitu makna tatapan Andre kepada Tiara.


Membuat wajah Tiara pias dan sangat takut.


karena sampai sekarang masih ada satu rahasia yang belum Tiara katakan pada Galih. Tiara belum siap untuk mengatakannya.


"Jawab br*ngsek!" desak Galih. sungguh ia benar-benar tidak sabar meladeni pria di depannya. semakin mencengkeram kuat leher Andre dengan sekuat tenaga.


"Mantan pacar calon istri lo..." jawab Andre, dan Galih seketika mendorong pria itu menjauhi dirinya.


Sekarang, Galih sudah mengetahui semuanya. mengetahui kalau pria itu adalah masa lalu Tiara.


"Ayo sayang, kita kembali..." ucap Galih.


Apapun yang berhubungan dengan masa lalu terlihat rumit. jadi Galih tak ingin terlibat dengan urusan masa lalu. apalagi pernikahan mereka tinggal 2 hari lagi. Galih tak mau ada sesuatu yang mengganggu pernikahannya termasuk hal seperti ini.


Pada akhirnya, Galih menggandeng tangan Tiara pergi dari minimarket.

__ADS_1


"Gal..." panggil Tiara.


***


__ADS_2