
HAPPY READING...
***
Akira melempar pandangannya ke arah jalanan dari balik jendela mobil. Menatap banyak sekali orang yang berjalan di trotoar ataupun yang sekedar duduk di halte menunggu bus.
Sesuai dengan perkataan Dokter kemarin, hari ini Akira di temani oleh Arjun dan Mami Livia pergi ke rumah sakit. Memeriksakan kandungan untuk memastikan bahwa ada kehidupan baru dalam dirinya.
Sejak pagi Akira tidak bisa bersikap tenang. Rasa cemas dalam dirinya membuat Akira seperti orang bodoh.
Hingga sebuah ucapan dari dokter layaknya petir di siang bolong. Membuat sesuatu dalam dadanya terasa pecah dan menciptakan suasana haru.
"Selamat Nona... anda hamil...".
Ucapan dari Dokter kandungan tadi bahkan terngiang di kepala. Berputar tanpa jeda seperti sebuah lagu cinta.
Itulah pertama kalinya Akira melihat wanita yang bahkan tak mempunyai hubungan darah dengannya sedikit pun menangis penuh harus sambil memeluk Akira. Bibirnya tak henti-hentinya mengucap syukur.
Ya.. sebahagia itu Mami Livia mendengar kabar kehamilan menantu satu-satunya.
Juga dengan Arjun, pria yang telah mengikat Akira dalam sebuah pernikahan itu sama bahagianya dengan sang Ibu. Bahkan Arjun mencium kening Akira tanpa ragu di depan Dokter dan seorang perawat. Membuat hati Akira berdesir aneh. Seberuntung itu dia menjadi istri Arjun serta menjadi bagian dari Keluarga Pradipta.
Tapi semua itu tak membuat Akira merasa bahagia.
Entah kenapa saat dirinya kembali masuk dalam mobil yang akan membawa mereka kembali pulang, Akira merasa aneh.
Di relung hatinya, Akira merasa kalau semua ini terlalu dini. Ia merasa kalau belum saatnya ia hamil. Akira belum siap untuk mengandung seorang anak di usianya yang begitu muda.
"Mau makan dulu sayang?" tanya Arjun dari kursi kemudi. Melirik Akira yang duduk bersama Mami Livia di bangku tengah.
"Tidak," jawab Akira.
Bagaimana ia bisa menikmati makanan saat ini, sedangkan ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
Akira menghela nafasnya, dan tentu saja Arjun sadar akan hal itu.
Jangan khawatir Akira... batinnya sambil kembali melirik spion.
Tiba di Rumah Pradipta, Akira langsung berjalan masuk. Meninggalkan Mami dan Arjun di belakangnya.
"Dia pasti sangat terkejut..." gumam Mami Livia karena tingkah Akira.
Mami Livia pernah berada di posisi Akira ketika pertama kali mendapat kabar bahwa dirinya tengah mengandung.
Ada perasaan haru, senang dan juga sedih.
Lebih tepatnya takut, takut tentang apa yang akan terjadi setelahnya.
Apakah ia bisa menjadi Ibu? satu pertanyaan itu sudah mendefinisikan semuanya.
"Arjun akan menghiburnya..." jawab Arjun tanpa sesal.
Toh semua ini juga ada tanggung jawab Arjun.
Apalagi Dokter telah bilang kalau mood seorang ibu yang hamil muda cepat sekali berubah-ubah. Kadang senang, kadang juga sedih. Kadang pula menangis tanpa sebab, semua itu wajar.
Arjun mempercepat langkah kakinya menuju ke kamar. Membuka pintu itu dengan perlahan dan mencari keberadaan Akira.
Benar sesuai dugaan, Akira tengah duduk di tengah ranjang sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan di atas lututnya.
"Sayang..." panggil Arjun dengan nada halus.
Berjalan mendekati Akira dan duduk di sebelahnya.
Tangan Arjun terangkat untuk membelai pucuk kepala Akira. "Sayang... ada apa?". Pertanyaan yang mungkin terdengar seperti lelucon bagi Akira. Jelas sekali kalau Akira sedih tanpa Arjun bertanya sekalipun. Karena pria itu juga melihatnya tadi.
__ADS_1
Beberapa menit tak ada suara apapun, hingga tiba-tiba sebuah isak tangis mulai terdengar.
"Hiks...",
Bahu Akira bergetar seiring dengan suara yang mulai terdengar jelas. Menandakan kalau dirinya menangis.
"Kenapa?" tanya Akira.
Membuat Arjun sedikit bingung apa maksud dari pertanyaan Akira tersebut.
"Kenapa harus sekarang? kenapa?"
Arjun sekarang paham. Yang membuat Akira menangis adalah kondisi dimana dirinya hamil dalam waktu yang menurutnya tidak tepat.
Arjun ingat dengan perkataan Akira waktu itu, jelas sekali kalau Akira belum siap untuk menjadi seorang ibu saat dirinya masih berstatus sebagai seorang mahasiswa.
Bagaimana dengan pendidikan nya? bagaimana dengan tanggapan orang-orang nanti? Karena di Kampus tidak ada yang tua kalau Akira telah bersuami. Hanya orang-orang yang begitu akrab dengan Akira saja yang mengetahui hal itu.
"Kenapa kamu tega? kenapa kamu tega menghamili ku..." tanya Akira.
Membuat Arjun sedikit tersentak kaget dan geli dengan pertanyaan Akira barusan.
Menghamilinya? kenapa terdengar menggelikan sih... batin Arjun.
Tapi Arjun tidak berani tertawa ataupun menanggapi pertanyaan lucu tersebut. Bisa-bisa Akira akan tambah marah nanti.
"Sayang..." panggil Arjun dengan lembut. Menyentuh kedua bahu Akira demi untuk menatap wajahnya.
Jelas sekali kalau wajah itu penuh dengan air mata dan kesedihan.
"Bukankah ini yang di harapkan semua orang? Mami, Papi, Ayah dan Ibu... dan aku... semua orang menginginkan kamu melahirkan penerus Pradipta Group nantinya..." ucap Arjun.
Akira masih saja terisak, "Tapi ini terlalu cepat Jun... aku belum siap... aku-,".
Akira tak mampu meneruskan ucapannya. Ludah nya terlalu kelu untuk mengatakan bahwa ia takut.
Terlihat egois bukan jika keluarganya menuntut Akira untuk segera hamil, padahal Akira tak menginginkannya?
"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya bukan? kita sepakat untuk menundanya kan? tapi kenapa? kenapa bisa?" tanya Akira.
Bahkan ia tak tau kapan hal ini terjadi. Apakah saat mereka bulan madu atau waktu itu. Waktu dimana Akira pulang ke rumah Ayah.
"Maafkan aku..." jawab Arjun.
Entah kenapa melihat Akira menangis membuat Arjun merasa bersalah.
Apakah tidak seharusnya Akira hamil untuk saat ini?
Arjun bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan Akira sendirian di kamar.
***
Makan malam, Akira tidak melihat Arjun sama sekali.
Ruang makan yang biasanya ramai, terlihat sunyi karena hanya ada Mami dan Akira disana.
Papi Johan sedang ada rapat di luar sedangkan Arjun, pria itu tidak terlihat sama sekali sejak siang tadi.
Membuat hati Akira merasa bertambah sedih.
Tak dapat di pungkiri kalau Akira merasa telah menyakiti Arjun dengan kata-katanya siang tadi.
Apa aku juga salah? batinnya.
"Arjun bilang mau kemana tadi Ra?" tanya Mami Livia membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Akira tidak tau Mi... Arjun mandi dan langsung pergi..." jawab Akira lirih.
Mungkin saja tersinggung karena ucapan ku...
"Untung sekali kamu sayang... tidak seperti Mami saat hamil Arjun dulu,"
Mami Livia mencoba untuk memberikan sudut pandang berbeda kepada menantunya.
Sebagai orang tua, Mami Livia paham dengan apa yang mengganggu pikiran Akira saat ini.
Apalagi sangat jelas terlihat kalau Akira sedih.
Akira yang penasaran, mendongakkan kepala untuk mencari tahu ucapan Mami barusan.
"Kamu tau, saat Mami hamil Arjun dulu sangat susah..." Mami mencoba untuk mengingat kenangan masa lalunya. Saat hamil anak pertama setelah menikah dengan Papi Johan.
"Ayo ikut Mami... Mami akan menceritakan semuanya..." ajak Mami Livia pada menantunya.
Kedua wanita itu berjalan bersama menuju ke kamar Mami dan Papi.
Duduk di ranjang, sedangkan Mami Livia mencari album foto semasa dulu.
Membuka nya dan duduk bersama dengan Akira.
"Lihatlah, ini pertama kalinya Mami memeriksakan kandungan..." ucap Mami menjelaskan.
Sebuah foto kecil yang terlihat tidak begitu jelas tapi mampu menjadi bukti bahwa ada sesuatu yang seiring dengan waktu menjadi bayi.
Saat itu, usia kandungan Mami masih 2 bulan.
"Mami takut waktu itu... Mami juga menangis. Yang ada di dalam kepala Mami, hanya bagaimana mengurus bayi sedangkan Mami belum pengalaman akan hal itu...",
Akira juga merasakan apa yang dikatakan Mami barusan. Ia takut menjadi peran baru bernama Ibu.
"Mami juga menangis, belum bisa menerima kalau sebentar lagi akan menjadi Ibu... di tambah dengan rasa mual, pusing yang berlangsung selama hampir 4 bulan lamanya..." keluh Mami lagi.
Aku tidak merasakannya... batin Akira. Tapi Arjun lah yang terlihat tersiksa hampir sebulan belakangan. Arjun yang merasa mual dan kehilangan nafsu makannya.
Membuat Akira kembali merasa bersalah tentang apa yang dikatakannya kepada Arjun siang tadi.
"Tapi ketika Mami menyentuh perut untuk pertama kalinya, hati Mami sesak. Mami merasa bersalah telah bersikap egois... semua bayi tidak pernah bisa memilih bagaimana orangtuanya, mereka hanya mengikuti takdir yang ada... Dia adalah anugrah yang di berikan Tuhan. Ada banyak sekali pasangan di luar sana yang bahkan memohon setiap waktu agar ada keajaiban yang tumbuh dalam rahimnya... kamu sangat beruntung karena tak perlu menunggu tahun demi tahun..." tambah Mami.
Akira kembali merasa bersalah, dan kembali menangis. "Hiks..." ucapnya sambil menyentuh perutnya yang masih rata.
Maafkan aku Tuhan...
Benar apa kata Mami, semua bayi yang terlahir di dunia tak pernah bisa meminta untuk terlahir di orang tua seperti apa.
Mereka pasrah dengan takdir mereka masing-masing.
"Jangan terlalu berpikir aneh-aneh sayang... kamu tidak sendirian. Ada Mami, Papi, Arjun dan juga orang tua mu... kami akan selalu ada bersama mu... merawat bayi mu, dan kamu bisa tetap kuliah..." bujuk Mami.
Tanpa Akira sadari, Mami Livia juga mau untuk merawat cucunya nanti kalau saja Akira tak mau merawatnya.
"Mami..." ucap Akira merasa terharu. Dan tanpa ragu, Akira memeluk tubuh mertuanya itu. Menumpahkan rasa sedihnya di sana.
"Jangan sedih, kalau kamu sedih bayimu juga akan merasa sedih nanti..." pinta Mami.
Sedangkan Akira mengangguk mengerti.
***
Bijak sekali Mami Livia...
Siapa yang pertama kali hamil merasa takut? takut tidak bisa mengurus bayi, tidak bisa menjadi ibu yang baik...
__ADS_1
komentar banyak-banyak... Love kalian...