Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
62. Akira Cemburu?


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira sudah duduk di kursi makan bersebelahan dengan Arjun. Sedangkan di seberang mereka ada Mami Livia dan juga Papi Johan yang duduk di kursi utama.


"Sayang, makan yang banyak... tubuhmu semakin kurus..." ucap Mami Livia. Bagaimanapun ia melihat bagaimana tubuh menantunya yang semakin kurus saja setiap hari.


"Benarkah? Akira naik 2 kg loh Mi..." jawab Akira sambil mengamati tubuhnya.


Kemarin ia sudah menimbang berat badannya dan memang hasilnya naik, bukan seperti yang di tuduhkan Mami Livia.


"Tapi terlihat sangat kurus... Iya kan Jun?" Tentu saja wanita setengah baya itu tidak akan mudah di kalahkan. Apapun yang menurutnya benar yang benar. Mami Livia bahkan tidak memperdulikan pendapat orang lain , beliau hanya setuju pada pemikirannya sendiri.


"Iya Mi, lingkar pinggangnya saja seperti bocah SMP..." tambah Arjun mendukung ibunya.


Kalau menghina jangan terlalu berlebihan kenapa sih...


"Apa kamu tertekan karena pelajaran di kuliahmu Ra?" kini gantian Papi Johan yang bersuara.


Karena yang beliau lihat akhir-akhir ini, menantunya jarang sekali keluar rumah.


Akira terlihat sibuk dengan buku di kamar.


"Hehehe... sedikit Pi," Akira membenarkan semua itu. Ya... akhir-akhir ini Akira sangat pusing dengan mata kuliahnya sang semakin sulit.


"Arjun, kenapa kamu tidak membantu Akira?" semprot Mami Livia pada putranya.


Ya Tuhan... untung saja gue tidak tersedak gara-gara suara Mami yang menggelegar bak sebuah petir di saat hujan...


Arjun langsung meraih gelas berisi air putih di depannya. Menenggaknya sebelum menjawab pertanyaan ibunya tadi.


"Iya Mi, Arjun sering membantu Akira kok... iya kan sayang?" tentu saja Arjun mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. Ki ini tersenyum manis kepada istrinya dan berharap kalau Akira akan menjawab iya.


Ayo jawab iya! Aku pernah membantu mu bukan? Apa kau lupa? Arjun menatap Akira.


Ck... Lo hanya membantuku sekali! jawab Akira dengan ekor matanya.


"Iya Mi, Arjun sering membantu Akira kok..." jawab Akira walaupun dalam hatinya ia tak mau mengatakan hal itu dimana hanya menguntungkan bagi Arjun.


Lihatlah... dia menjadi sombong...


"Memang seharusnya Arjun membantumu sayang... percuma kalau punya otak cerdas tapi tidak di gunakan untuk membantu istrinya..." sindir Mami hingga membuat Akira tersenyum.


Rasain Lo!


Sedangkan Arjun, pria itu tidak suka dengan ucapan ibunya barusan.


"Oh iya Jun, lusa kamu bisa datang kan?" tanya Papi Johan mengingatkan putranya.


Tentu saja Arjun tidak paham dengan maksud Papinya. Datang? kemana? batinnya bertanya-tanya.


"Papi sudah bilang kemarin, Lusa Papi akan pergi ke Singapura jadi tidak bisa datang ke acara Danu...".


Danu adalah putra dari adik kandung Papi Johan. Bisa dikatakan bahwa Danu adalah sepupu bagi Arjun. Selain memiliki ikatan darah, Danu juga bekerja di Pradipta Group. Hanya saja mereka tidak terlalu akrab karena perbedaan umur dimana Danu lebih Tua dari Arjun.


Arjun baru ingat dengan pembicaraannya dengan Papi Johan kemarin. Ya... dia akan datang ke acara kelahiran putra Danu menggantikan Papi Johan.


"Iya Pi, Arjun ingat...".


"Akira, kamu juga ikut menemani Arjun ya..." perintah Mami Livia.

__ADS_1


Memang seharusnya anak dan menantunya itu pergi ke acara-acara seperti itu berdua.


Tentu saja untuk memperlihatkan kepada semua orang kalau hubungan mereka sangat baik. Bukan seperti desas-desus yang membicarakan bahwa Arjun dan Akira tidak seperti pasangan pada umumnya.


"Apa boleh?", tentu saja Akira ragu. Selama menjadi istri Arjun, dia sama sekali tidak pernah ikut menghadiri acara-acara seperti ini.


Biasanya Arjun hanya pergi bersama Galih, sedangkan Akira tetap berada di rumah.


"Tentu saja boleh... Danu juga bagian dari keluarga Pradipta, dan kamu adalah istri Arjun..." jawab Mami Livia.


Pradipta adalah nama kakek Arjun. Dimana beliau lah pendiri perusahaan yang saat ini telah berkembang sangat pesat di tangan Papi Johan.


"Nanti kalian pergi cari kado untuk putra Danu..." perintah Papi Johan yang terdengar tidak lagi bisa di bantah.


"Hm," jawab Arjun.


 


Setelah pulang dari kuliah, Akira di jemput Galih dan di antar ke Gedung Pradipta Group karena Arjun masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Gadis itu tiduran di ranjang yang berada di dalam sebuah ruangan yang masih berada di ruangan Arjun.


"Aku baru pertama kali disini..." ucap Akira kagum.


Ya, inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Gedung tinggi pencakar langit yang berada di jantung Ibukota.


Apalagi tatapan para karyawan tadi yang seperti menatap Akira dengan penuh kebingungan.


Tatapan mereka seolah tak percaya kalau Akira adalah istri dari Direktur muda mereka.


Tentu saja Akira sedikit mau untuk itu. Didalam kepalanya ia merasa kalau tidak pantas bersanding dengan Arjun.


"Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Sella yang berada di ambang pintu.


Akira tidak langsung menjawab, di pandangnya sosok yang berdiri di depannya saat ini.


Apa jabatannya disini? Sekretarisnya Arjun? Ck... kenapa penampilannya seperti itu? Lihatlah cara berpakaiannya, Seksi sih... tapi seharusnya tidak seperti itu bukan? juga make up nya,Apa dia tidak merasa kalau terlalu tebal? apalagi atasannya seorang pria ... bagaimana kalau Arjun tertarik?


"Nona..." panggil Sella lagi.


"Eh," seketika Akira tersadar. "Air putih saja..." jawabnya.


"Baiklah, akan saya ambilkan..." Sella segera melangkah menjauhi Akira. Tentu saja Akira tidak berhenti menatap kepergian sekretarisnya Arjun yang berjalan dengan sangat anggun meninggalkan tempat itu.


"Ck, pantas sekali dia semangat kalau pergi bekerja... ternyata seperti itu," umpat Akira sebal.


Entah kenapa ia merasa sedikit marah melihat cara Sella berpakaian.


1 jam lamanya, akhirnya Arjun telah selesai rapat. Pria itu berjalan bersama dengan Galih kembali ke ruangannya.


"Dimana istriku?" tanya Arjun kepada Sella.


Ciiee istri... ejek Galih dengan tatapannya.


"Di dalam pak," jawab Sella.


Arjun segera masuk ke ruangannya diikuti oleh Galih.


"Ngapain Lo ikut masuk?" semprot Arjun.


Ya elah... karena ada istrinya saja, gue di usir...

__ADS_1


tapi Galih hanya bisa mengatakan hal itu dalam hati. Memang punya nyawa berapa dia sampai berani meledek atasannya.


"Jangan salah paham, gue mau ambil berkas di meja Lo...".


Sedangkan Arjun menatap Galih sinis, Alasan...


Galih langsung menuju ke meja kerja Arjun, sedangkan pemiliknya berjalan menghampiri ruangan yang pintunya setengah terbuka.


"Kamu tidak tidur?" itulah pertanyaan pertama yang Arjun lontarkan kepada Akira.


"Tidak," jawab gadis itu sambil membaca buku pelajaran.


"Jangan terlalu memaksakan diri..." Arjun merampas buku Akira. Ia tak mau istrinya itu sakit karena terlalu memaksakan diri untuk belajar.


"Kamu sudah makan?" tanya Arjun lagi.


"Sudah," jawab Akira masih singkat.


Arjun langsung menatap ke arah istrinya, banyak spekulasi di dalam kepalanya apa yang membuat Akira terlihat berbeda. Kenapa dia? apa marah karena aku tidak bisa menjemputnya?


"Kamu marah?" tanya Arjun dengan nada pelan. Sekarang ia juga ikut duduk di tepi ranjang sambil mengamati istrinya.


"Tidak," jawab Akira datar.


Entah kenapa bayangan Sekertaris Arjun yang berpenampilan seperti tadi membuat Akira sedikit risau.


"Katakan... ada apa?" tanya Arjun sedikit memaksa. Heran sekali dia dengan makhluk bernama perempuan yang selalu bermain kode. Arjun bukanlah paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain bukan?


Setidaknya Akira harus mengatakannya langsung tanpa berbelit-belit.


"Apa sih, tidak ada apa-apa..." masih saja Akira ngeles untuk tidak mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Kalau kamu masih tidak mau bicara, aku benar-benar akan mencium mu!" ancam Arjun dan tentu saja dengan tindakan yang mampu membuat Akira berpikir dua kali.


"Pantas saja kamu selalu semangat bekerja," hanya itu kata yang terlontar dalam mulut Akira.


Bahkan membuat Arjun menaikkan alis karena tidak paham dengan apa yang dibicarakan gadis itu.


"Ha?"


"Sudahlah, lupakan saja..." Akira tambah merajuk.


Ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Akira selalu meyakinkan dirinya kalau ia tidak memiliki perasaan terhadap Arjun, tapi melihat Sella sedikit mengganggu pikirannya.


Ada sebuah perasaan takut dalam dirinya. Takut kalau wanita berpakaian seksi itu menggoda suaminya.


Akira hendak bangkit dari sana, tapi segera di cegah Arjun. Bahkan pria itu sampai memeluk pinggang istrinya agar Akira tak pergi.


"Ada apa sih? apa aku membuat kesalahan? tadi kan aku sudah bilang kalau ada rapat... jadi yang menjemput mu Galih...".


Arjun masih beranggapan kalau Akira marah karena tidak di jemput.


"Lepasin..." Akira masih berontak dengan perlakuan Arjun. Ia juga tak sudi di peluk seperti itu.


"Akira..." dari nada bicaranya, Akira tau kalau saat ini Arjun sedang menahan kemarahannya.


"Kamu suka dengannya?" tanya Akira.


"Siapa?"


***

__ADS_1


Like dan Komentar banyak-banyak Yes.... See U next time...


__ADS_2