
HAPPY READING...
***
Walaupun kembali dekat, tapi perasaanku sudah jauh berubah dari yang dulu... Akira.
Akira menikmati sarapan paginya di dalam mobil yang melaju membelah jalanan padat kendaraan.
Mungkin ini adalah pertama kali baginya melakukan hal semacam ini.
Semua itu tak lain adalah karena Arjun. Ya... hanya Arjun satu-satunya pelaku di balik pemandangan saat ini.
Andai saja pria itu sedikit lebih cepat menyelesaikan keinginannya, Akira tak perlu mandi kesiangan dan pergi kuliah kesiangan seperti sekarang.
Agghh... Benar-benar menyebalkan!
"Aaa..." Arjun membuka mulutnya agar di suapin oleh sang istri.
Olahraga berdua saat bangun tidur benar-benar menguras energinya.
Dan sekarang Arjun benar-benar merasa lapar.
Karena sibuk mengemudikan mobil, Akira dengan telaten menyuapi Arjun sendok demi sendok.
Hingga tak terasa setengah dari bekal nasi itu telah berpindah ke dalam perut mereka.
Walaupun tidak terlalu kenyang, tapi setidaknya mampu membuat tubuh mereka berenergi kembali.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Arjun.
Setidaknya ia akan menjemput istrinya nanti.
"jam 4 karena aku ada kelas tambahan," jawab Akira dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Akan ku jemput nanti,"
"Hm," Akira mengangguk setuju.
Tak terasa mobil telah sampai di Kampus Akira.
Mengambil buku dan tasnya, Akira hendak turun.
"Kamu lupa?" tanya Arjun dengan nada penuh penekanan.
"Ah iya..." Akira segera mendekati suaminya, mengecup singkat bibir Arjun sebelum pergi kuliah.
Itulah kebiasaan yang mereka lakukan akhir-akhir ini.
"Bye sayang," pamit Akira dan langsung turun dari mobil suaminya.
"Aku berangkat ya..." ucap Arjun masih di balik kemudi.
"Hati-hati," ucap Akira dan mulai melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil Arjun.
Dengan langkah ringan, Akira masuk ke dalam kelas untuk mengikuti kelas pertamanya.
***
Akira : [Lo dimana?]
itulah pesan yang Akira kirim kepada Tiara, sahabat karibnya.
Seperti inilah saat mereka telah selesai mengikuti kelasnya. Janjian untuk sekedar makan siang di kantin atau ngobrol di taman kampus.
Tapi cukup lama, Akira tak mendapat pesan balasan dari Tiara.
Kemana dia? bahkan pesannya juga tidak terbaca. Itulah yang membuat Akira bertanya-tanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ke kantin sendirian..." Akira telah memutuskan.
Di kantin, Akira langsung menuju ke lemari pendingin untuk mengambil minuman yang diinginkannya.
__ADS_1
Membawanya duduk di salah satu bangku yang tepat menghadap jejeran pohon yang tumbuh rindang.
Udara sejuk langsung menerpa wajahnya. Sedikit mengobati rasa penat karena sulitnya materi yang di terimanya seharian.
Agghh... sejuknya...
Apalagi langit di atas sana sedikit tertutup awan hitam penanda hujan akan segera tiba.
Sedang sibuk melempar pandangannya, derap langkah kaki seseorang terdengar semakin mendekat. Hal itu membuat pandangan Akira teralih mencari sumber suara.
Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang pria dengan hoodie biru melambaikan tangan dan senyum yang benar-benar melengkung sempurna menghias bibir.
"Hai," sapanya kepada Akira.
Seketika Akira tersenyum canggung sebagai bentuk balasan atas sapaan pria itu.
"Sendirian?" tanya pria yang tak lain adalah Dean.
"I-ya..."
"Boleh ikut duduk?" tanya pria itu.
Walaupun merasa canggung, Akira tetap mempersilahkan pria itu duduk di meja yang sama dengannya.
Toh pada kenyataannya bangku ini adalah milik umum. Siapa saja boleh ikut duduk untuk beristirahat sambil menikmati makanan dadi kantin tersebut.
Hening seperti telah menguasai suasana. Akira sama sekali tidak punya keinginan untuk bertanya kepada Dean sedangkan pria itu terlihat sesekali melirik gadis di depannya.
Agghh... rasanya kenapa canggung begini sih...
Andai bisa memilih, Akira lebih memilih agar Dean tak berada di dekatnya seperti ini.
Sangat tidak nyaman duduk berdua dengan orang yang dulu pernah punya tempat spesial di hati kita.
"Apa kamu tidak suka aku duduk di sini?" tanya Dean setelah cukup lama diam.
"Eh, tidak... tidak apa-apa..." jawab Akira spontan.
"Lo pintar, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan bukan?" jawab Akira.
Dean adalah siswa yang pintar jadi mana mungkin praktek menyuntik akan membuatnya kesulitan.
"Bukan aku,..."
Lalu? begitu sorot mata Akira kepada Dean. Jika bukan dirinya sendiri lalu siapa yang Dean khawatirkan?
"Kamu...",
Akira langsung menundukkan pandangannya. Jika Dean mengatakannya saat mereka masih bersama, tentu saja Akira akan merasa bahagia karena pria itu mencemaskan nya. Tapi sekarang beda, karena Akira dan Dean tak lagi sedekat dulu.
"Kenapa diam begitu?" tanya Dean.
"Yan, - gue..."
Dean langsung bereaksi, "Hahah... jangan khawatir Akira... aku tidak bermaksud apa-apa...",
Akira menenggak minumannya tanpa menikmatinya sama sekali. Bahkan ia tak merasakan kalau air yang tadinya dingin telah berubah menjadi air biasa.
Semua itu karena ulah Dean yang terlihat sengaja membuat hatinya tak tenang.
"Bagaimana suamimu?" tanya Dean mengalihkan topik pembicaraan.
"Ha?" tentu saja Akira kembali terkejut karena yang ditanyakan Dean adalah Arjun.
"Ba-ik," jawab Akira. Memang ada kosa kata lagi selain kata baik? karena Akira selalu melihat suaminya baik-baik saja setiap hari.
"Presdir Pradipta Group..." ucap Dean seperti mengeja pangkat di belakang nama Arjun.
"Belum, Presdir nya masih Papi Johan..." ralat Akira membenarkan.
"Kamu tau, pukulannya begitu menyakitkan..." ucap Dean kembali mengingat kejadian dulu saat dirinya kena pukulan dari Arjun untuk pertama kalinya.
"Maaf Dean... maafin suami gue waktu itu..." entah kenapa Akira hanya ingin meminta maaf kepada pria di depannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu meminta maaf? semua itu bukan salahmu juga Ra..." tolak Dean entah itu tulus atau tidak, Akira juga tidak paham.
"Karena aku yang tidak tau malunya menjalin hubungan dengan wanita bersuami...".
Bagaimanapun aku juga salah... batin Akira.
"Jangan bersalah seperti itu..." ucap Dean yang tak sengaja melihat perubahan wajah Akira.
"Lupakan semuanya... kita mulai berteman lagi..." pinta Dean dengan yakin.
Berteman? lagi? batin Akira sambil menatap wajah Dean begitu lekat.
"Kamu mau kan?" tanya Dean meyakinkan.
Akira tidak bisa menjawab perkataan Dean barusan. Hatinya benar-benar bingung dan juga bimbang. Karena tidak ada pertemanan antara seorang wanita dan seorang pria.
Jika ada, itu bukanlah pertemanan hanya rasa tertarik dan mengagumi satu sama lain.
Tentu saja Akira tak mau hal itu terjadi. Apalagi sekarang, hatinya benar-benar terisi oleh sosok Arjun seorang.
"Jangan jawab sekarang kalau kamu tidak yakin..." jawab Dean melihat situasi yang ada.
Kamu takut karena Arjun kan? pasti pria itu yang mengancam mu... pria itu juga yang membatasi lingkup pertemanan mu...
***
Sepanjang perjalanan pulang, Akira hanya diam sambil melempar pandangannya ke arah jalanan dari balik jendela di sampingnya.
Ibukota sedang hujan sehingga Arjun di haruskan untuk mengemudikan mobilnya sedikit lambat dari biasanya.
Bahkan ia juga tidak banyak bicara karena harus berkonsentrasi dengan jalanan yang sepenuhnya di penuhi oleh air hujan yang meluap.
"Sayang, kita langsung pulang atau mampir makan dulu..." tanya Arjun ketika berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah.
"Kamu mau makan?" tanya Akira balik. Karena saat ini masih sekitar jam 5 sore. Lumayan lama dari jam makan malam mereka.
"Aku sih belum lapar, tapi kalau kamu mau ya aku nurut...".
Manis sekali ucapan Arjun saat ini, dan hal itu tentu saja membuat Akira merasa di cintai.
Tidak banyak pria yang benar-benar memikirkan wanitanya di atas keinginannya sendiri. Tapi Arjun berbeda. Pria itu benar-benar memikirkan Akira lebih dulu.
"Ayo kita nonton..." ajak Akira.
"Oke..." jawab Arjun penuh semangat.
Dan mobil mereka langsung menuju ke salah satu Mall sebelum pulang kembali.
Tiba di Mall, Arjun benar-benar memperlakukan Akira dengan istimewa. Sepanjang jalan, pria itu tak henti-hentinya menggenggam tangan Akira.
Senyum juga terukir indah di bibir keduanya.
Arjun dan Akira memilih untuk menonton film dengan genre romantis. Dengan di temani popcorn dan juga minuman soda, pasangan muda itu duduk menikmati film yang mulai berputar.
Tapi bukan Arjun namanya kalau tidak usil. Dan di bioskop ini juga keusilannya kembali timbul.
Dengan lampu tempat itu yang padam, tangan Arjun tak henti-hentinya bergerilya mencari sesuatu yang diinginkannya.
"Sayang, hentikan!" bisik Akira pelan sambil menepuk tangan suaminya yang entah sejak kapan sudah menerobos masuk ke dalam kemeja yang ia kenakan.
"Jangan banyak bicara!" ucap Arjun sambil terus memainkan jarinya.
Hal itu tentu saja membuat Akira merasa tak nyaman. bahkan ia sama sekali tidak menikmati film yang sedang berlangsung tersebut.
***
Hahaha... Arjun Arjun...
Tinggalkan Like, dan Komentar.
Hadiahnya juga gpp kok..
hehehe...
__ADS_1