
HAPPY READING...
***
"Apapun yang terjadi, Nikmati hidup ini.
Hapus Air Mata dan Tersenyum lah...
Terkadang Senyuman terindah datang setelah Air Mata penuh LUKA..."
Dion bangun pagi sekali.Tadi malam Ia masuk ke kamar lebih awal berharap untuk segera tidur. Tapi kenyataannya sampai subuh datang, pria itu sama sekali tak memejamkan mata walau sedetik.
Dan inilah yang terjadi sebelum matahari benar-benar terbit. Memakai sepatu olahraga dan bersiap untuk berkeliling Villa.
Menikmati suasana yang tidak pernah bisa ia temui di Ibukota.
"Tuan muda mau kemana?" tanya anak buah Dion yang entah darimana datangnya tiba-tiba telah berdiri di samping, mengejutkan Dion.
"Ngagetin banget sih!" umpat Dion sambil terjingkat. Untung saja Dion tidak sampai melempar sepatu ke arah pria itu karena terkejut.
"Aku mau olahraga sekaligus melihat pandangan sini,".
"Saya ikut," jawab anak buah itu penuh semangat.
Lagian bos mudanya itu pasti tidak tau arah tempat ini. Bagaimana kalau sampai tersesat atau di makan binatang buas? bahaya bukan?
Karena mungkin saja ada hewan buas yang turun sampai desa itu.
"Ngapain sih? cuci mobil kan bisa daripada tidak ada kerjaan," protes Dion.
Padahal ia hanya ingin sendirian tanpa di ganggu siapapun.
Anggap saja sebagai bentuk pelariannya dan mengasingkan diri.
"Nanti saya cuci setelah pulang menemani Tuan muda,"
Akhirnya Dion hanya nisa pasrah. Toh pada kenyataannya pria itu akan punya banyak cara untuk bisa ikut dengannya.
"Baiklah, pakai sepatumu..." perintah Dion dan mulai berjalan meninggalkan teras.
Dion memulai aktifitasnya dengan lari kecil menyusuri jalanan setapak dari batu di mana kanan kirinya di tanami tanaman padi berwarna hijau yang amat subur. Burung-burung mulai Berkicauan menyambut mentari pagi.
Dion masih tidak tau kenapa Mamanya punya Villa di tempat seperti ini dan tidak di ketahui siapapun. Apalagi di sini bukanlah desa wisata.
Karena terbiasa membentuk ototnya di tempat Gym, jadi olahraga seperti ini tidak membuat Dion kelelahan sama sekali. Beda dengan pria yang berlari di belakangnya. Terlihat ngos-ngosan dengan keringat yang mengucur deras.
"Tu-an... Tuan muda... bisa istirahat sebentar?" teriaknya berharap Dion memperlambat langkah kakinya.
Dion tersenyum lucu, dan akhirnya berhenti berlari. "Aku kan sudah bilang, tetap di Villa dan cuci mobil saja..." protesnya walaupun sebenarnya hanya sebuah gurauan saja.
Sekali-kali olahraga untuk menjaga tubuhmu... begitu hatinya bicara.
"Hah.. hah... hah... saya jarang olahraga Tuan," jawab jujur pria itu.
Ck, gue sudah tau walau hanya melihatnya... cerca Dion.
"Tuan muda tidak lelah?" tanya pria itu.
Karena mungkin mereka sudah berlari hampir 1Km lamanya.
"Tidak, Aku sudah terbiasa... oh iya, satu hal lagi... jangan memanggilku Tuan Muda!" perintah Dion.
Karena panggilan seperti itu mengingatkan dirinya tentang sosok anak yang dipaksa untuk menjadi boneka Orang tuanya. Seorang anak yang lupa siapa dirinya sendiri demi untuk membahagiakan orang tuanya.
__ADS_1
"Kenapa Tuan?" tanya anak buah dion penasaran. Ia sudah terbiasa memanggil Dion seperti itu.
"Lakukan dan jangan banyak bertanya! paham?" ucap Dion memperingati.
"Ah iya Tuan... eh," keceplosan hingga membuat anak buahnya menutup mulut spontan.
"Siapa nama mu?" tanya Dion. Selama ini ia bahkan tidak tau nama orang-orang yang bekerja untuknya.
Apa? Tuan muda menanyakan namaku? batin anak buah terkejut. Karena ini pertama kalinya Dion menanyakan hal aneh kepadanya.
"Agus Tuan...". Nah keceplosan lagi kan dia. Karena akan sulit mengubah kebiasaan mereka ketika memanggil Dion.
"Panggil aku Bos!" perintah Dion. Seperti nya bagus juga di panggil Bos... hehehe...
"Siap Bos!" pria bernama Agus itupun memberi hormat pada Dion. Membuat Dion tersenyum senang dan kembali berlari.
"Tunggu bos..." ucap Agus terpaksa ikut berlari mengejar langkah kaki Dion yang semakin terlihat jauh.
Setelah cukup lelah berlari, Dion berhenti sejenak sambil menajamkan pendengarannya tentang sebuah hal. Suara deras arus air menjadi suara yang indah dan belum pernah ia dengar sebelumnya.
Air terjun? batin Dion terus mengedarkan pandangannya.
"Lo dengar suara air?" tanya Dion pada pria di belakangnya.
"Iya bos...".
"Ayo kita cari," jawab Dion tanpa ragu sama sekali.
Kedua pria itu mulai menuruni jalan kecil yang menurun. Berbeda dengan jalan yang sering di temui pada Kota-kota besar, jalan yang di susur Dion adalah jalan yang terbuat dari batu yang di tata rapi menyerupai anak tangga.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya terbayar sudah melihat guyuran air yang deras jatuh ke bawah dengan suara yang khas.
Tak henti-hentinya Dion memuji air terjun indah tersebut.
Karena airnya yang terlalu deras, Dion hanya duduk di tepiannya saja. Membuka sepatu dan merendam kakinya dengan air yang terasa amat sejuk.
Gue akan sering kesini... batinnya yakin.
Karena tempat seperti ini mampu membuat Dion lupa akan masalah yang di hadapinya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dion mengejutkan Agus yang juga sedang menikmati keindahan desa ini.
"Eh, tidak tau bos... saya tidak membawa jam," jawab pria itu.
Matahari sudah sepenuhnya terbit tapi sinarnya masih terasa hangat bukan panas ketika memasuki jam 10 pagi.
"Aku haus..." keluh Dion.
"Bos mau minum?" tanya Agus dengan cekatan.
"Gak! gue mau makan!" semprot Dion kesal. Anak buah itu benar-benar tidak peka sama sekali. Sudah jelas-jelas Dion haus, tentu saja membutuhkan air untuk minum bukan?
"Oh, baik bos... akan saya ambilkan..." jawab Agus ketakutan.
Segera setelah mengatakan hal itu, Agus langsung meninggalkan Dion sendirian di Air terjun.
Hingga sudah sekitar 30 menit menunggu, Agus tak juga datang kembali.
Padahal tenggorokan Dion benar-benar terasa kering. Lama sekali sih... gumamnya sambil menatap ke arah jalan yang di laluinya saat menuju ke Air terjun tadi.
Tapi nyatanya tak ada tanda bahwa anak buahnya itu akan datang.
"Bagaimana kalau gue mandi disini saja ya? pasti segar..." gumam Dion pada dirinya sendiri.
Dan di detik selanjutnya, pria itu berdiri. Membuka pakaian atas dan celana panjangnya.
__ADS_1
Dengan hanya mengenakan Boxer dan bertelanjang dada, Dion masuk ke dalam air.
"Huaahh..." ucapnya merasai bagaimana sejuknya air disana.
Tentu saja mampu menghapuskan dahaganya walaupun hanya berendam di genangan air tersebut.
Dion benar-benar merasa senang berada di sini. Berenang ke sana kemari sendirian. Hingga semak di depan sana bergoyang-goyang menandakan ada sesuatu yang sembunyi.
Dion menajamkan matanya, "Siapa disana?" teriaknya sedikit takut. Siapa yang tidak takut sendirian di tempat itu?
Tidak ada seorang pun yang bersama dengan Dion dan membahayakan kalau terjadi sesuatu, seperti di terkam hewan buas misalnya.
Tanpa pikir panjang, Dion segera naik kembali ke bebatuan. Memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa dan lalu pergi.
Sial! apa ada harimau disini? batinnya tertekan. Pandangannya juga terus mengawasi sekitar.
Hingga dari semak yang sama, terlihat seseorang mulai berlari, "Hei!" teriak Dion. Akan tertinggal jejaknya kalau Dion menyempatkan diri untuk memakai sepatunya lebih dulu. Sehingga yang dilakukannya adalah mengejar sambil membawa sepatunya.
"Woy tunggu!" teriak Dion terus mengejar seseorang entah laki-laki atau perempuan. Karena seseorang itu mengenakan jaket menutupi rambutnya.
Dion terus naik mengejar, tapi nafasnya hampir putus. Hingga ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya apalagi yang di kejar entah pergi kemana hingga Dion kehilangan jejak.
Aghh... sial! umpat Dion dalam hati.
Menyentuh kedua lututnya sambil mengatur nafas.
Dion mulai berpikir, menakutkan juga jika ia pergi sendirian seperti ini. Apalagi kalau sampai menjadi korban kejahatan seseorang seperti yang ada di film-film.
Apa jangan-jangan dia sengaja melihatmu mandi? melihat tubuhku?
Dion langsung menutup dadanya spontan.
Seperti telah di lecehkan seseorang.
Apa dia terpukau dengan tubuhku?
entah kenapa malah seperti itu yang di pikirkan nya. Memang sih, karena tubuh Dion benar-benar indah. Perutnya berbentuk kotak-kotak seperti roti sobek.
***
Di lain tempat, seseorang terus berlari hingga tiba di depan sebuah rumah bergaya Jawa dengan tiang penyangga berjumlah 4 buah.
Duduk di sana dan melepaskan jaket.
"Hah... hah... hah..." dadanya naik turun seirama dengan tarikan nafas yang amat berat.
Bagaimana tidak? dia berlari sangat kencang tanpa memperdulikan apapun.
"Untung saja tidak ketahuan..." gumamnya pelan.
"Ketahuan siapa?" tanya seseorang yang entah darimana asalnya tiba-tiba telah berdiri di belakang perempuan muda itu.
"Eh ibu mengejutkan saja..." tambahnya sambil sedikit berjingkat.
"Dari mana kamu?" tanya Ibu.
"Olahraga..." jawab gadis itu tanpa ragu.
Ia tidak bisa bilang kalau di kejar seseorang bukan?
Siapa pria tadi? batinnya penuh tanya.
***
Nah nah Nah...
__ADS_1
Tinggalkan Like setiap Part dong...
Sedih aku tuh kalau Crazy up kayak gini tapi gak Di tinggalin Jempol...