Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
74. Papi Johan Marah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sore hari saat Arjun dan Akira sudah selesai mandi, tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Arjun dan Akira saling tatap karena kebingungan siapa yang melakukan hal tersebut. Kalau pelayan, tentu saja mereka akan memberitahukan diri mereka.


"Arjun, buka pintunya...", baru mengatakan hal itu, Akira dan Arjun sadar bahwa yang mengetuk pintu kamar mereka adalah Papi Johan.


"Papi?" ucap Arjun dan Akira bersamaan.


Arjun yang sedang menyisir rambutnya langsung bergegas membuka pintu, sedangkan Akira juga bangkit meninggalkan aktifitasnya dengan pikiran berkecamuk.


Mereka sangat kebingungan karena Papi Johan memang berada di Luar negeri untuk beberapa hari. Tapi nyatanya pria itu tiba-tiba ada di rumah tanpa pemberitahuan apapun.


Mengejutkannya lagi, Papi Johan bahkan menemui Akira dan Arjun.


Pintu kamar terbuka perlahan, tapi segera di dorong Papi Johan hingga membuat pintu itu terbuka seluruhnya.


"Pa-" belum sempat Arjun meneruskan ucapannya, sang Ayah langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mendekati Akira.


Siapa sih yang tidak merasa gugup? Akira dan Arjun sama-sama gugup dengan pikiran penuh tanda tanya.


Sejenak pria berkaca mata itu mengamati wajah menantunya dan mengangkat wajah Akira untuk melihat bagaimana keadaan gadis itu. "Papi..." ucap Akira dengan nafa terbata-bata.


"Apa yang kamu lakukan sampai Akira seperti ini Arjun?" hanya itu pertanyaan pertama setelah Papi Johan masuk.


Ya... beliau benar-benar hanya ingin melihat keadaan menantunya yang katanya terluka karena seseorang.


"Anu Pi..." Arjun yang biasanya terlihat konyol, tapi kali ini juga ikut menegang. Apalagi tatapan Papi Johan kepadanya sangat mengintimidasi.


"Papi... Akira tidak apa-apa kok..." Akira mencoba untuk membela suaminya. Bagaimanapun memang semua yang terjadi padanya bukan salah Arjun. Akira lah yang perlu di salahkan untuk itu.


Jika saja ia tidak menemui Elsa, mungkin saja tak akan terjadi halal seperti ini.


"Tidak apa-apa gimana? bibirmu terluka nak! bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa? Arjun!" teriak Papi Johan murka.


Ya Tuhan... jantung gue mau copot mendengarnya berteriak-teriak...


"Ya Pi, ada apa?" jawab Arjun. Bahkan dia masih berdiri di dekat pintu, Apa ayahnya tidak melihat dirinya? apa Arjun berubah transparan hingga tak terlihat oleh Papi Johan?


"Ikut ke ruangan Papi sekarang!" perintah Papi Johan final.


Setelah mengatakan seperti itu, Papi Johan langsung keluar dari kamar Arjun.


Di kamar itu menyisakan Akira dan Arjun yang bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi setelah ini.


"Aku akan menemui Papi dulu..." ijin Arjun kepada Akira, sedangkan gadis itu hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Menyisakan suasana kamar yang kembali sunyi setelah kepergian Arjun.

__ADS_1


Langkah pasti membawa Arjun menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai dasar dimana ruang kerja Papi Johan berada.


Di sana juga terlihat pelayan yang menyeret beberapa koper milik Tuannya.


Bisa di pastikan kalau Papi Johan benar-benar baru saja tiba di tanah air.


Tapi yang membuat Arjun kebingungan adalah, dia tidak dapat melihat keberadaan Ibunya. Padahal jelas kalau Papi Johan pulang, Mami Livia juga akan pulang.


Dimana Mami? batin Arjun bertanya-tanya. Langkah kakinya benar-benar telah membawa Arjun tiba di depan pintu kayu berwarna cokelat. Di sana juga ia akan menjawab begitu banyak pertanyaan yang akan Papi Johan tanyakan kepadanya.


Sejenak Arjun terdiam dan menghembuskan nafasnya, menyiapkan diri atas kemungkinan apa yang akan terjadi.


Dengan perasaan aneh, Arjun menyentuh gagang pintu dengan sedikit dorongan.


Di sana sudah ada Papi Johan dan Om Bagaskara, selalu adik dari Papi nya.


Kapan beliau kemari? batin Arjun terkejut dengan kedatangan Om nya.


"Duduk," itulah perintah yang Arjun dengar dari mulut Papi Johan.


Tanpa banyak bicara, Arjun langsung duduk di sofa yang berada di sudut ruangan tersebut. Tepat bersebrangan dengan Om Bagas yang hanya menundukkan pandangannya.


Belum merasa lega dengan situasi yang ada, terdengar pintu di ketuk dari luar.


"Masuk..." perintah Papi Johan.


Beda dengan Arjun dan Om Bagas yang duduk dengan nyaman, Galih memilih berdiri di hadapan mereka. Terlihat sekali kalau pria itu sedang gugup. Bahkan berdiri saja, lututnya terlihat sedikit bergetar.


"Kau memintamu datang kesini karena Bagas bilang kalau kamu adalah orang pertama yang berada di lokasi, benar begitu Galih?" tanya Papi Johan kepada pria muda di depannya.


"Iya Tuan," jawab Galih pias.


Sungguh ruangan kerja ini terasa seperti ruang sidang yang begitu menakutkan.


"Bisa kamu ceritakan dari awal?" walaupun cara bicara Papi Johan sangat halus, tapi tak membuat Galih merasa aman. Bagaimanapun masa depannya di pertaruhkan disini. Salah bicara sedikit saja, kelar hidupnya.


Apalagi kalau Galih sampai menutupi atau bahkan berbohong sedikit saja, mungkin inilah akhir dari hidup indahnya selama ini.


"Iya,".


Galih melihat Arjun sejenak dan bersuara, "Saya berada di ruangan pesta bersama dengan tamu lainnya hingga tak sengaja melihat Nona Akira keluar dari ruangan mengikuti seseorang. awalnya saya tak curiga. tapi saat melihat Tuan Arjun tak bersama Nona, saya memutuskan untuk mengikuti kemana Nona Akira pergi...".


Papi Johan hanya sebagai pendengar saat Galih berbicara. Sedangkan Arjun dan Om Bagas terlihat menyimak dengan saksama.


"Nona Akira menuju ke taman yang tepat berada di samping ruang pesta. Di sana juga orang yang mengantarkan Nona mulai pergi,"


Galih berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi kemarin sesuai dengan apa yang telah ia lihat.

__ADS_1


"Nona Akira berjalan mendekati seorang wanita yang ternyata adalah Nona Elsa, putri Tuan Atmajaya ... mereka terlibat pembicaraan yang saya sendiri juga tidak terlalu mendengar apa isi pembicaraan tersebut, hingga Nona Elsa mulai mendekati Nona muda dan saya mulai berlari menghampiri...",


"Ya, aku juga melihat saat itu..." bela Om Bagas.


"Tapi sungguh Tuan besar, saya sudah mencoba untuk melindungi Nona muda..." kali ini Galih mulai untuk memohon keselamatannya.


"Dia berusaha membawa Akira pergi dari sana dan meninggalkan Elsa," tambah Om Bagas.


"Dan kamu hanya diam saja, melihat menantuku di sakiti Elsa?" tanya Papi Johan kepada adiknya. Apa yang seluruh orang lakukan saat Akira di tampar oleh wanita bernama Elsa? mereka pasti hanya menjadi penonton saja.


"Maafkan Aku Mas..." sesal Bagas.


Tatapan Papi Johan berubah menjadi sebuah kekecewaan.


Sungguh ia menyesal melihat apa yang telah terjadi pada menantu nya. Papi Johan merasa bersalah kepada Ayah Adam karena tidak bisa menjaga Akira.


"Aku akan menemui mereka dan menghukum putrinya yang telah melakukan kejahatan kepada menantuku...",


"Tapi Pi, Elsa kan-" sela Arjun.


Bukan sebuah kesalahan menghukum orang-orang yang melakukan kesalahan, tapi di kasus kali ini orang yang melakukan kesalahan adalah orang dengan sakit mental. Tidak ada hukum yang mamou menjerat orang seperti itu, dan Papi Johan juga tau akan hal itu.


"Mereka juga salah karena membuat orang dengan gangguan mental berkeliaran seperti itu..." ucap Papi Johan dengan pemikirannya sendiri.


Mendengar ucapan dari Papinya, Arjun tidak bisa berbuat banyak selain menerima semua keputusan beliau.


"Galih, Terima kasih telah datang kesini... Terima kasih juga telah melindungi menantuku... jika tidak ada kamu, mungkin Akira akan lebih buruk daripada ini..." ucap Papi Johan kepada Galih.


"Jadi Tuan memaafkan saya?" tanya Galih meyakinkan tentang apa yang baru saja ia dengar.


"Ya,"


"Terima kasih Tuan," hanya itu kata yang mampu Galih ucapkan.


Papi Johan bangkit dari duduknya, sekarang ada hal lain yang perlu ia selesaikan sendiri.


"Aku ikut menemani mu Mas," pinta Om Bagas.


Om Bagas tau kalau saat ini, kakaknya akan menemui Keluarga Atmajaya dan menghukum mereka.


"Ayo," ucap Papi Johan dan meninggalkan ruangan lebih dulu diikuti oleh Om Bagas.


"Ah... selamat..." ucap Galih menyentuh dadanya. Ia benar-benar lega melihat kalau Ayahnya Arjun tidak memecatnya.


***


Bagaimana dengan 4 Part hari ini? Semoga syuka...

__ADS_1


Love kalian banyak-banyak...


__ADS_2