
HAPPY READING...
***
Makan siang telah tiba.
"Makan di luar?" tanya Galih ketika telah tiba di ruangan Arjun. melihat sang Presdir masih setia duduk di kursi kerjanya dengan kaca mata yang bertengger di pangkal hidung.
Kalau makan di luar, mereka tidak akan punya waktu untuk bertemu bukan?
batin Arjun.
Arjun menghentikan pekerjaannya, menatap Galih sambil berpikir. Saat ini pasti dia sedang di kantin... bagaimana kalau gue buat kebetulan yang selanjutnya? hehehe...
Membuat Galih ikut penasaran dengan senyum rahasia di sudut bibir Arjun barusan.
"Tidak,gue mau masakan kantin saja.." tolak Arjun pada akhirnya.
"Yakin?" protes Galih. karena bau-bau rencana tercium olehnya. yakin kalau ada sebab sampai Arjun ingin makanan dari kantin. Karena sudah sebulan lamanya, pria itu memilih makan di luar daripada di Perusahaan.
"Iya... apa menu hari ini?" tanya Arjun penuh semangat.
Segera Galih membuka ponselnya. melihat daftar menu di kantin untuk hari ini.
"Bakso, Masakan Padang dan Japanese food," jawab Galih sambil membaca ponselnya.
"Baiklah... Masakan Padang, nasinya setengah porsi, rendang dengan sayur yang banyak..." jawab Arjun.
"Oke..." jawab Galih. dan langsung berlalu pergi setelah paham apa yang akan Arjun makan siang ini.
Hahaha... mereka akan bertemu lagi di kantin... batin Arjun sambil tersenyum melihat ke arah pintu ruangannya yang kembali tertutup.
Di kantin,
Tiara bersama dengan rekan kerjanya baru saja tiba. Mengantri untuk makanan yang akan mereka nikmati siang ini.
Wajah sumringah mereka menjadi tanda bahwa mereka sangat bersemangat untuk kembali mengisi energi yang cukup terkuras sejak pagi.
Tiara dan teman-temannya mulai duduk di bangku yang sudah mereka tentukan sejak tadi.
Beda dengan teman-temannya yang memilih nasi sebagai makan siangnya, Tiara beda lagi.
Gadis berambut panjang sepunggung itu memilih menu berkuah untuk siang ini. Ya... Tiara memilih bakso untuk mengembalikan energinya.
Bersamaan dengan itu, Galih tiba. Langkah kaki sangat teratur itu mengalihkan perhatian semua karyawan, termasuk dengan karyawan yang duduk di meja yang sama dengan Tiara.
Sosok Galih yang tinggi, tegap dan sedikit dingin itu mampu menyihir para wanita. membuat semua orang ingin bersorak karena kekagumannya. Tak heran, dari sikapnya itu Galih menjadi sesuatu yang ingin di gapai setiap wanita. dengan posisi yang amat penting sekaligus masih lajang, banyak sekali karyawan Perusahaan yang menginginkannya menjadi lelakinya.
"Sstt... lihatlah, dia sangat keren bukan?" bisik teman Tiara, bahkan sorot matanya benar-benar mendambakan Galih. tak malu sedikitpun saat Galih berjalan melewatinya.
Oh, jadi ini maksud Arjun? batin Galih ketika tatapannya langsung terfokus pada satu wanita. padahal ada banyak sekali karyawan wanita yang tengah makan siang kali ini. Tapi yang Galih tangkap hanya Tiara. Apalagi bangku yang digunakan Tiara memang dekat dengan stand makanan di kantin ini.
Seperti tak mengenal, Galih tetap berjalan menuju ke depan sana. melewati Tiara dan teman-teman gadis itu seolah tak mengenalnya. akan memalukan bukan jika Galih sampai menyapa Tiara di depan yang lain.
"Aggghh... benar-benar pria idaman..." bisik teman Tiara lainnya.
Sedangkan Tiara tak memperdulikan hal itu.
Karena ia sangat tau bagaimana sifat asli Galih daripada yang lain.
"Ayo makan, keburu dingin nanti..." ucap Tiara mengalihkan topik.
__ADS_1
Hingga saat semangkuk bakso milik Tiara mengepul, rekannya kembali bersuara.
"Tiara... kenapa tidak pilih nasi?" tanyanya.
"Tidak..." jawab Tiara sambil tersenyum.
Sedangkan pria di samping sana, masih berdiri mengantri.
"Kenapa? kamu sakit?" terlihat jelas kekhawatiran rekan kerja Tiara hingga membuat Tiara salah tingkah.
Bahkan Galih sengaja memutar tubuhnya seperti penasaran apakah Tiara memang tengah sakit saat ini.
"Iya... kamu juga terlihat pucat..." sela lainnya.
membuat Galih mengamati Tiara dengan saksama.
"Ti-tidak... aku hanya sedikit flu," jawab Tiara sambil menundukkan pandangannya hingga Galih tak lagi menatapnya.
Aku mohon, jangan bertanya apapun lagi...
Karena tak enak jika melanjutkan pembicaraan saat ada Galih di dekat mereka.
karena antara Galih dan Tiara ada sedikit masalah hingga membuat mereka saling diam.
Dia flu? batin Galih.
Ucapan dari Tiara sungguh membuat Galih sedikit khawatir. Pasti ia tidak cukup istirahat...
Hingga pesanan makan siang Arjun telah siap. Galih membawa itu pergi, masih dengan diam tanpa menyapa siapapun.
Setelah kepergian Galih, Tiara meletakkan sendok dan garpu nya. Tiba-tiba selera makannya hilang. Tiara tak berniat untuk meneruskan makan siangnya. melihat Galih yang hanya diam saja, seolah tak kehilangan dirinya.
Hiks... Tiara hanya bisa menangis dalam hati.
"Aku kembali duluan ya..." pamit Tiara pada akhirnya.
"Tapi Ra... bakso mu belum habis..." teriak teman Tiara khawatir. bahkan Tiara hanya memakan sesuap saja.
"Tidak, aku tidak selera makan..." jawab Tiara bersamaan dengan langkah kaki yang membawanya pergi meninggalkan kantin.
Tiara kembali masuk ke dalam gedung Perusahaan yang memang sedikit lenggang karena masih jam istirahat dan para karyawan masih banyak yang keluar mencari makan.
Dengan langkah teratur, Tiara menuju ke toilet. Sebelum masuk, gadis itu celingukan mengamati sekitar dan pada akhirnya berdiri menatap cermin besar di depan sana.
Tangis yang Tiara tahan seketika pecah juga. hatinya sakit melihat kenyataan yang terjadi pada kehidupannya. Tiara merasa sendirian di dunia yang begitu luas ini.
Kenapa mencintai seseorang selalu sakit seperti ini?
Tiara menyesal. seharusnya memang ia tak boleh menggunakan perasaannya terhadap Galih. dan inilah akibatnya, hanya Tiara yang merasa tersakiti oleh tingkahnya sendiri.
Terdengar derap langkah kaki seseorang menuju ke toilet. membuat Tiara membasuh wajahnya untuk menghilangkan sisa kesedihan dengan air dari Wastafel.
"Oh ternyata disini..." ucap seseorang.
Tiara yang terkejut langsung menegang sambil memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. "Bella..." responnya spontan.
Gadis bernama Bella itu semakin berjalan mendekati Tiara. melepaskan jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan langsung mencuci tangan.
"Kenapa terkejut? aku bukan hantu... hehehe..." gurau Bella.
Siapa sangka kalau mereka jadi rekan kerja di Perusahaan ini, walaupun tidak dalam satu ruangan tapi Bella dan Tiara seringkali bertemu lebih tepatnya saat makan siang.
__ADS_1
Dan hari ini, Bella sengaja mencari Tiara karena ia tak dapat menemukan gadis itu di Kantin beberapa saat yang lalu. mungkin Bella baru saja tiba di kantin saat Tiara keluar.
Tiara kembali memperhatikan wajahnya di depan cermin sambil mengeringkan sisa air dengan tissue.
"Kamu tidak makan siang tadi?" tanya Bella masih sama seperti biasanya.
selalu ramah dan bersahabat.
"Sudah selesai..." bohong Tiara. ia bahkan hanya menyentuh baksonya sesuap saja lalu pergi.
"Oh benarkah? mungkin aku yang sedikit terlambat..." jawab Bella, sedangkan Tiara hanya mengangguk menyetujui.
Bagaimana aku memulainya ya? batin Bella. Terdengar tidak sopan jika Bella langsung bertanya tentang masalah apa yang terjadi pada Tiara dan Galih kemarin.
Bella tidak ingin dinilai sebagai seseorang yang terlalu ikut campur urusan orang lain. walaupun pada kenyataannya, Bella ingin mencampuri urusan percintaan kakaknya. Ya.. Bella masih sama gigihnya mendekatkan Tiara dengan Galih sama seperti dulu.
"Kirain kemarin kalian datang ke rumah..." ucap Bella. "Ibu telah memasak cukup banyak...". berusaha menyeret Ibunya ke dalam pembicaraan Bella, walaupun kenyataannya Ibu tidak memasak banyak kemarin.
"Sorry gue sibuk kemarin..." jawab Tiara. sibuk karena membongkar kembali barang yang Tiara bawa dari Apartemen Galih menuju ke Kost yang saat ini ia tinggali.
"Sibuk pacaran? hehehe..." gurau Bella lagi, "Atau malah bertengkar?".
Hingga membuat Tiara salah tingkah karena pilihan kedua memang tepat. Ya... Tiara dan Galih memang tengah bertengkar kemarin.
"Bel, itu..." jawab Tiara gugup.
"Dia datang ke rumah mencari mu..." sela Bella.
Tiara membulatkan mata mendengar penuturan Bella.
Mencariku? Galih maksudnya? Batin Tiara.
Bahkan sorot matanya begitu penasaran. apakah yang Bella katakan adalah benar atau hanya Tiara yang salah dengar barusan.
"Kakak datang malam-malam hanya untuk memastikan apakah kamu ada di rumah atau tidak... dan ketika menyadari tak ada kamu di rumah, ia segera kembali... bahkan tak sempat untuk duduk atau bicara apapun..." jelas Bella.
Entah Tiara harus bahagia mendengar perkataan Bella atau justru bersedih. Tapi Tiara tak menyangka kalau Galih sampai datang ke rumah orangtuanya hanya untuk mencari keberadaannya saja.
"Tiara..." panggil Bella.
sedangkan yang di panggil seketika menatap Bella tanpa bersuara.
"Aku tak memaksa kamu untuk bertahan demi kakak, aku juga tau kamu punya hak atas semua yang terjadi dalam kehidupan mu... tapi setidaknya berpikirlah lagi sebelum terlambat..." ucap Bella.
Taira sadar, apa yang Bella katakan ada sangkut pautnya dengan Galih.
"Jangan tinggalkan kakak hanya kamu kesal," ucapnya lagi.
Tiara handak protes saat ini juga tapi Bella lebih dulu kembali bicara,
"Aku tau kakak egois, kak Galih tak bisa tegas dan selalu berubah-ubah, tapi kamu tau kan kalau kakak juga menyukai mu...? dia tidak bisa jauh dari mu... Kakak akan hancur lagi, mungkin dia akan kembali seperti dulu...". Bella takut, Bella takut kakaknya akan kembali masuk dalam kubangan yang menghancurkannya seperti masa lalu.
Padahal saat ini, hubungan Galih dan Ayah sedikit membaik. Semua itu juga karena campur tangan Tiara. Bella hanya tak mau, hubungan Ayah dan kakaknya itu kembali buruk bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
"Bel... jangan khawatir..." ucap Tiara.
***
"Jangan khawatir Bel, aku hanya bercanda..."
misalnya... hehehe
__ADS_1