Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
238. Hal Tak Terduga.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Tengah malam, Galih terbangun karena baru saja bermimpi buruk. dadanya terasa berdetak tak karuan dan ada sebuah perasaan anwh yang sulit untuk di jelaskan.


menghubungi Tiara? tidak mungkin. Galih tak mau mengganggu kekasihnya tengah malam seperti ini. karena mereka juga sama-sama lelah bekerja seharian dan waktu malam begini menjadi waktu yang tepat untuk mengistirahatkan raga dan juga pikiran mereka.


Hingga Galih memutuskan untuk bangun. berjalan ke arah balkon dan duduk disana seorang diri.


Langit Ibukota terlihat gelap, memang karena sudah tengah malam ditambah dengan awan hitam pembawa hujan yang bergelantung hendak jatuh ke bumi.


Angin malam yang bertiup kencang, tak membuat Galih kedinginan. pria itu masih tetap bertelur*njang dada seeptti biasanya. Ya... itulah kebiasaan Galih, tidur hanya dengan mengenakamn celana saja.


Untuk menemani malam ini, Galih duduk menatap ke arah sana sambil menghodupkan sebatang rokok. berpikir keras apa alasan jantungnya berdetak tak karuan dan perasaan tak nyaman yang membuatnya risau.


Sial! ada apa ini? batinnya mengutuk keadaan yang terlihat seperti sebuah firasat buruk.


padahal Galih tak pernah sesuatu seperti ini sebelumnya. tapi apa yang dirasakannya saat ini sungguh aneh, hingga untuk menjelaskannya saja sangat susah.


Suasana jalanan di bawah sana terlihat lenggang. hanya ada kendaraan yang beberapa kali lewat.


Rencananya, besok Galih akan pergi dengan Tiara. sebagai agendanya ketika akhir pekan, mereka akan menghabiskan waktu berdua atau mungkin saja berkunjung ke rumah orang tua Galih. Ya.. seperti itulah aktifitas ketika keduanya tidak bekerja.


Tapi siapa sangka kalau malam ini Galih tidak bisa tidur nyenyak. mungkin saja, rencana yang sudah ia atur akan berantakan esok hari. jangankan untuk berkunjung ke rumah orangtuanya, Galih dan Tiara hanya akan duduk menghabiskan waktu di dalam Apartemen karena malas untuk keluar rumah.


***


Pagi hari telah tiba.


Nyatanya Galih benar-benar tidak bisa tidur bahkan hingga matahari telah muncul dari ufuk timur.


"Halo honey, sudah bangun?" tanya Galih lewat telepon.


"Kenapa pagi sekali sih... gue bahkan belum sepenuhnya membuka mata..." keluh Tiara.


Tiara benar-benar kesal karena masih jam 6 tapi Galih sudah meneleponnya.


padahal sesuai rencana, Galih akan menjemputnya pukul 9.


Jawaban Tiara otomatis membuat Galih menyunggingkan senyum. lucu mendengar gerutu Tiara yang terdengar sampai di telinga Galih.


"Ini masih jam 6...".


"Gue tidak membicarakan rencana ke rumah Ibu kok..." perjelas Galih.


"Lalu?" .


"Sepertinya rencana kita gagal... gue tidak bisa tidur semalaman, jadi bagaimana kalau di Apartemen saja? gue rindu masakan lo..." ucap Galih.


sekarang, matanya benar-benar mengantuk dan sulit terbuka.


"Kenapa? ada masalah?".


"Tidak... tidak ada masalah apapun... tapi sekarang gue ngantuk...".


"Baiklah, gue kesana naik taxi saja... jam 8 ya..." ucap Tiara.


"Sorry ya... gue tidak bisa menjemput lo..." sesal Galih.

__ADS_1


"Jangan merasa bersalah seperti itu, kebiasaan lo kan selalu merepotkanku? heheh..." goda Tiara. membuat Galih kembali tersenyum karena memang seperti itulah adanya. bukan hanya di waktu libur, di Perusahaan saja Tiara seringkali menyelinap karena menemui Galih.


"Baiklah, Hati-hati nanti... gue tidur dulu..." ucap Galih.


"Oke... jam 8 gue berangkat...".


Galih mematikan panggilan teleponnya. bergumam dalam hati, Tidur selama 2 jam sepertinya cukup...


Bersamaan dmegan itu, Tiara mulai bangun dari tidurnya. merenggangkan kedua otot tubuhnya sebelum akhirnya beberes dan mandi.


Tepat pukul 8, Tiara bergegas keluar dari Kost. ia sudah memesan ojek online untuk menuju ke Apartemen Galih.


Senyum tak pudar menghias wajah Tiara sepanjang perjalanan pagi ini.


Hingga sebuah insiden tak terduga terjadi kepadanya. tepat di lampu merah, sebuah mobil terlambat menginjak rem hingga menyeruduk sepeda motor yang Tiara naiki. membuat tukang ojek dan juga Tiara terjatuh bersamaan.


"Aw..." keluh Tiara menyentuh lututnya. celana Tiara dibagian lutut juga robek hingga terlihat luka kecil di dalam sana.


"Mbak maaf ya... maaf..." pengendara mobil yang menubrukbya langsung menghampiri Tiara. meminta maaf sambil membantu gadis itu kembali bangkit.


"Makanya jaga jarak mbak kalau nyetir... sekarang gimana? lihatlah motor saya..." omel tukang ojek yang marah karena mereka memang tidak salah atas kejadian tadi.


Sudah jelas kalau lampu telah berubah merah dan motor yang Tiara naiki memang harus berhenti.


"Iya Pak maaf... saya akan tanggung jawab... ayo kota ke rumah sakit sekarang..." ajak pengendara mobil itu.


"Tidak usah mbak... saya baik-baik saja kok..." tolak Tiara karena memang ia tidak terluka parah.


"Tapi mbak terluka... ayo kita ke RS...".


Hingga Tiara tak bisa menolak lagi. dan pada akhirnya Tiara menuju ke RS bersama dengan pengendara mobil itu.


Apa dia masih tidur? batin Tiara.


karena tadi Galih memang bilang akan tidur untuk beberapa waktu. tapi bagaimanapun, Tiara harus menghubungi Galih bukan? agar pria itu tak khawatir.


Hingga panggilan entah keberapa kalinya, akhirnya telepon Tiara diangkat.


"Gue ke RS Gal...".


"Hei, ada apa? siapa yang sakit? kenapa tiba-tiba?" ucap Galih memberondong Tiara dengan banyak pertanyaan dan terlihat khawatir juga.


"Tidak ada yang sakit, hanya gue mengalami sedikit kecelakaan tadi..." lapor Tiara. "Tapi tak apa Gal... gue tidak terluka..." tambahnya takut kalau sampai Galih mencerna ucapannya dengan lain.


"Kecelakaan? RS mana? gue akan kesana saat ini juga..." jawab Galih terdengar khawatir walaupun Tiara sudah berkata baik-baik saja.


"Halo Tiara... jawab... di RS mana?". bahkan tak memberi kesempatan Tiara untuk menjelaskan.


"RS ***," jawab Tiara bersamaan dengan mobil yang ia tumpangi juga telah sampai di RS yang di maksud.


"Jaga dirimu, gue kesana secepatnya... jangan menangis..." pintu Galih terdengar lucu karena memalukan kalau sampai Tiara sampai menangis hanya karena lututnya terluka.


"Baiklah..." jawab Tiara mengalah.


15 menit kemudian, Galih benar-benar datang ke RS dimana Tiara berada. menunggu Tiara yang tengah di bersihkan lukanya oleh petugas kesehatan.


Apa semalam adalah firasat kalau terjadi hal buruk pada Tiara? batin Galih.


"Apa perlu di Rontgen Dok?" tanya Galih kepada dokter.

__ADS_1


"Apa terjadi benturan Nona?" tanya Dokter.


"Tidak Dok... saya jatuh juga tidak terlalu keras..." jawab Tiara. berharap Galih jangan terlalu lebay untuk memengatasi segala masalah.


"Apa kepalamu terbentur tadi?" tanya Galih lagi.


"Tidak Gal... tidak terjadi apapun padaku..." jawab Tiara semakin frustasi melihat kelakuan Galih yang terlihat kekanakan.


"Jangan bicara apapun..." perintahnya agar Galih tak lagi bicara.


Dan pada akhirnya, semuanya telah selesai. Tiara sudah keluar dari ruangan itu di bantu dengan Galih. berjalan dengan sedikit tertatih-tatih sambil membawa sekantong obat untuk membantu pemulihan Tiara.


"Mau ku gendong?" tanya Galih.


"Hahaha... jangan berlebihan deh..." tolak Tiara. sangat memalukan kalau Galih benar-benar menggendongnya menyusuri koridor RS dimana banyak sekali orang lalu lalang.


"Perhatikan langkahmu..." perintah Galih.


"Iya pacarku..." jawab Tiara dengan nada gemes.


Tiara sudah baik-baik saja, tapi kenapa jantungku masih berdetak tak karuan? batin Galih. sesekali menyentuh dada sebelah kirinya yang terasa aneh.


Hingga Tiara kembali sadar. "Gal... ini RS yang sama dengan Alya dirawat hari itu bukan?" tanya Tiara.


"Entah..." jawab Galih. dari nadanya pria itu seperti tidak suka Tiara menanyakan halal yang justru akan membuat mereka berdebat.


"Dia sudah pulang belum ya?" gumam Tiara lagi. tapi tetap tak mendapat tanggapan dari Galih. "Ih... kalau di ajak ngomong ngeselin deh...".


"Lah kan gue tidak tau... harus jawab apa coba?" ucap Galih. ia tak lagi menghubungi Alya ataupun mendapat pesan dari wanita itu apalagi nomor Galih juga sudah ganti dengan yang baru.


"Bagaimana kalau kita menjenguknya?" ucap Tiara tanpa terduga sama sekali.


"Jangan cari masalah deh!" jawab Galih ketus. cari masalah bukan jika Galih dan Tiara sampai menjenguk Alya? yang ada Tiara akan marah lagi nanti. Galih tak menginginkan hal itu, karena Tiara lebih penting dari apapun saat ini.


"Gue hanya penasaran apakah Alya sudah pulang atau belum..." ucap Tiara.


karena hari tepat 1 minggu setelah malam itu.


Hingga tepat di sebuah lorong, terlihat beberapa perawat dan Dokter berlari terburu-buru. mereka membawa peralatan dan juga brankar dorong yang masih kosong menuju ke ruang VIP.


"Kondisi pasien di kamar 02 menurun..." itulah yang Galih dan Tiara dengar dari percakapan perawat itu. membuat keduanya saling menatap satu sama lain dengan pemikiran yang mungkin saja sama.


"Al-ya?" ucap Tiara.


Apa mungkin Alya? batin Galih.


Masih belum sadar sepenuhnya, Tiara kembali merengek "Ayo Gal kita lihat... mungkin saja Alya yang di maksud..." ucapnya. menarik lengan Galih untuk menuju ke kamar nomor O2.


"Tapi Ra..." sejenak Galih ragu. bagaimana kalau memang Alya yang dimaksud tadi? bagaimana reaksi Tiara kalau mereka memang kesana nantinya.


"Gue tidak akan cemburu ataupun khawatir... ayo temui dia... ayo Gal..." paksa Tiara lagi.


Dan setelah menimang banyak pertimbangam, akhirnya Galih pasrah. ia pasrah dengan langkah kaki yang membawa dirinya mengikuti Tiara.


***


Di kebut Ya...


Dan yang mau kasih hadiah ataupun Vote, silahkan...

__ADS_1


__ADS_2