Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
247. Menyerah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Apa yang ingin aku dapatkan? kebahagiaan? atau hanya sekadar nyaman untuk menempati hati seseorang?


Takdir...


ketika semua orang bisa tertawa riang, hanya diriku yang merasa sunyi. langkahku seperti berat ketika dunia hampir menguburku.


Raga ini tak sekuat samudra. tak sekokoh gunung yang berdiri dengan pesonanya. hati ini amatlah rapuh ketika seseorang dengan mudahnya melukai perasaanku dengan lidah tajamnya.


Katanya manusia tidak ada yang sempurna, tapi sekarang... hanya diriku lah yang terlihat tak sempurna.


aku bagaikan batu kerikil di hamparan Permata. sendirian namun tetap berbeda dari yang lain.


hingga pada akhirnya, disingkirkan...


Aku pernah berbuat salah, aku pernah menjadi seseorang yang begitu bodohnya menyerahkan mahkota paling berharga ku untuk laki-laki yang sangat buruk.


apa hanya aku yang perlu di salahkan? apa hanya aku yang terlalu bodoh hanya karena mempercayai janji manis dari mulut pria pengkhianat?


Tanpa disadari, aku juga menyesal telah melakukannya. terlanjur melakukan sebuah dosa yang seharusnya tidak aku lakukan. walaupun aku tau, penyesalan selalu datang belakangan. tapi tidakkah ada kesempatan untuk diriku merasakan bahagia? apa tidak ada pria yang begitu tulus menerima seorang pendosa?


_________________ TIARA _________________


Sejak pagi, Tiara sudah pergi menuju ke salon untuk mempersiapkan semuanya. meriah wajahnya dan juga memakai gaun pengantin yang telah dipilih beberapa yang lalu.


Tapi sepanjang proses itu, Tiara terlihat diam saja. bahkan tak ada senyum sedikitpun yang terukir dari bibir wanita itu.


Di hari yang akan menjadi hari bahagianya, Tiara justru merasa sedih dan khawatir. dalam kepalanya banyak sekali beban yang tidak bisa ia selesaikan. ditambah dengan tekanan dari Andre yang tak henti-hentinya meneror Tiara lewat pesan singkat sejak semalam.


membuat Tiara ingin sekali mengakhiri hidupnya. berharap setelah ia meninggal, tak ada lagi beban berat di bahunya.


Tepat pukul 9, Tiara sudah siap. sebentar lagi, akan yang menjemputnya dari salon ini dan membawa Tiara menuju ke gereja tempat pemberkatan dilaksanakan.


Tiara berdiri, mengamati penampilannya yang benar-benar cantik dan memukau. hingga tanpa sadar, air mata di pelupuk matanya mulai menggenang. sedih karena mungkin Tiara tidak akan menikmati hal ini setelahnya.


Masih berdiri, sebuah dering ponsel menyadarkan Tiara. tangannya terulur untuk melihat pesan dari siapa yang masuk ke dalam ponselnya.


+628******** : [Gue harap lo tidak gegabah dan terlalu percaya diri Tiara...].


[Tangan kanan Pradipta Group, orang berwibawa dan terpelajar tidak akan menerima wanita seperti mu... jangan lupakan hal itu...].


[Gue sudah ada di depan gereja, bagaimana? apa Lo siap?].


Tiara menangis sambil menggenggam erat ponselnya. pesan beruntun dari Andre benar-benar mampu mengintimidasi Tiara. membuat wanita itu merasa menyerah dengan takdirnya.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang terjadi nona?" tanya penata rias Tiara khawatir karena calon pengantin itu tiba-tiba menangis.


"Tidak..." tolak Tiara. "Beri aku secarik kertas dan pulpen..." pinta Tiara.


Setelah mendapatkannya, Tiara mulai duduk dan menulis sesuatu di meja. sesekali menyeka air mata yang kian lama kian jatuh membasahi wajahnya.


isak tangis wanita itu terdengar memilukan, sedangkan para karyawan salon tak ada yang berani mendekat. membiarkan Tiara tenang sendirian tanpa ada gangguan sedikitpun.


"Nanti saat ada orang yang menjemput ku, berikan ini untuk pengantin pria..." pinta Tiara.


"Tapi-,".


"Aku mohon..." paksa Tiara dengan sangat. karena hanya itulah yang terbaik bagi dirinya.


Dan setelah mengatakan hal itu, Tiara memesan Taxi dan segera meninggalkan tempat itu.


***


Di Gereja, tempat diadakannya acara pemberkatan pernikahan nanti semua orang telah siap.


terlihat Galih berkumpul bersama Arjun dan juga Dion. Mengenakan Tuxedo berwarna putih di lengkapi dengan dasi kupu-kupu, Galih terlihat sangat menawan.


Pria yang telah berumur 32 tahun itu semakin menawan dan karismatik. wajahnya sedikit tegang walaupun sesekali tersenyum dipaksakan untuk mengusir rasa tak nyaman dalam dadanya. bagaimana tidak? jantung Galih seperti berpacu sangat keras. membuat telapak tangan Galuh juga dingin dan berkeringat.


"Dimana Tiara?" tanya Akira.


mungkin saat ini mereka dalam perjalan menuju ke gereja ini.


Orang tua Galih juga asyik mengobrol dengan Mamanya Dion. mereka terlihat sangat bahagia menjadi saksi pernikahan Galih dan Tiara saat ini.


Hingga tepat setelah Galih melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, bersamaan dengan itu anak buah yang bertugas untuk menjemput Tiara mulai berjalan masuk ke dalam Gereja. membuat semua orang saling pandang dengan menerka-nerka apa yang tengah terjadi.


Galih bangkit dari duduknya saat anak buahnya itu juga berjalan ke arahnya. "Dimana dia?" tanya Galih terdengar parau.


karena terlihat pria itu datang seorang diri tanpa membawa Tiara bersamanya. padahal jelas sesuai perintah Galih tadi, membawa calon mempelainya dengan selamat sampai di Gereja.


"Maafkan saya Tuan..." ucap anak buah Galih sambil menyerahkan secarik kertas yang masih terlipat utuh.


Apa maksudnya? batin Galih dan hatinya mulai dirasuki perasaan tidak enak. takut sesuatu terjadi pada calon istrinya.


Dengan tergesa-gesa dirambah dengan deru nafas yang kian sesak, Galih mulai penasaran dengan secarik kertas pemberian anak buahnya itu. membukanya untuk melihat ada apa di dalam sana.


Sebuah tulisan tangan Tiara menyerupai surat pendek yang tertuju hanya untuk Galih.


Maafkan Gue Gal... sungguh maafkan apa yang telah gue lakukan saat ini.


setelah bergelut dengan pikiran, setelah menimbang banyak pertimbangan, gue memutuskan untuk tidak melanjutkan mimpi-mimpi yang telah kita rajut selama ini.

__ADS_1


maafin gue...


Gue tidak bisa menikah dengan lo... maafin gue...


Setelah membaca surat itu, tangan Galih meremas kuat kertas dengan tulisan tangan Tiara menjadi sesuatu yang tak lagi terbentuk.


"Ada apa Gal?" tanya Gadis, sedangkan Dion yang memang sejak tadi berada di dekat Galih ikut menampakkan wajah tak percayanya. bagaimanapun ia juga bisa membaca apa yang telah Tiara tulis di kertas tadi.


"Kunci mobil gue..." ucap Galih. menggantungkan tangan tepat di depan anak buahnya hingga otomatis yang diajak bicara langsung merogoh kunci dari saku jasnya.


"Lo mau kemana?" Arjun bersuara.


tapi Galih tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu sama sekali.


"Gue ikut!" paksa Dion. karena akan sangat bahaya jika Galih pergi seorang diri. apalagi dengan suasana hati yang begitu buruk.


"Tidak perlu... gue bisa sendiri..." tolak Galih.


"Galih!" bentak Arjun.


"Gue bisa sendiri..." ucap Galih masih dengan pemikirannya sendiri.


Tanpa bisa di cegah lagi, Galih pergi entah kemana.


"Apa yang terjadi?" tanya Ayahnya Galih bersuara. mendekati Dion untuk meminta jawaban dari pria itu.


"Tiara membatalkan pernikahannya Om..." jawab Dion penuh sesal.


"Apa? kenapa? apa alasannya?" tanya Ayah dengan terkejut. membatalkan pernikahan di detik-detik seperti ini benar-benar mustahil. apalagi Ayah tau bagaimana hubungan Galih dan Tiara. mereka saling mencintai. jadi kenapa Tiara membatalkannya?


"Tidak tau... Tiara tidak memberi alasan untuk itu...".


Mendengar hal itu, Ibu dari Galih langsung terduduk lemas. "Bagaimana ini terjadi?" keluhnya dengan perasaan yang campur aduk.


"Tenang bu..." hibur Bella walaupun saat ini perasaan Bella juga tidak enak. ada sedih, kecewa, marah bahkan penasaran apa yang membuat Tiara berubah pikiran.


Beda lagi dengan Gadis, wanita itu memungut kertas yang di buang Galih tadi. membukanya dan membaca setiap kata yang Tiara tulis dalam pesannya itu.


Galih melajukan mobilnya sangat kencang. membelah jalanan Ibukota tanpa tau kemana arah tujuannya kali ini. hatinya kalut di tambah ponsel Tiara yang tidak bisa di hubungi sama sekali.


Tanpa dilihat seseorang pun, mata yang biasanya penuh binar itu terlihat redup. hanya ada tatapan penuh kekecewaan yang dibarengi dengan butiran air mata yang mulai membasahi wajahnya.


Galih menyentak kasar dasi yang mengikat lehernya. menjatuhkannya entah kemana.


pria itu terus saja mencoba untuk menelepon Tiara. berharap sekali saja panggilannya tersambung agar Galih bisa bicara dengan wanita yang telah ia pilih.


***

__ADS_1


Kesel kan? Sama... aku juga...


__ADS_2