Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
118. Rahasia Kita


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Papi Johan masih menatap ke arah pintu ruang kerjanya. Hingga beberapa saat, dari bawah pintu itu masih terlihat jelas bayangan seseorang yang entah apa yang sedang dilakukannya tapi Papi Johan mengira kalau itu adalah bayangan Akira.


"Lihatlah..." perintah Papi kepada Arjun. Pria itu langsung melihat kemana jari telunjuk Papi terarah.


Dan Arjun langsung membulatkan mata terkejut sedangkan Papi tak dapat menahan untuk tertawa.


Lucu sekali tingkah menantunya itu. Menguping untuk mendengar pembicaraan Arjun dan Papi.


"Jun,"


"Iya Pi..." Arjun paham apa yang sedang ada dalam pikiran sang ayah.


Pria itu langsung bergerak menuju ke pintu, membukanya pelan untuk memastikan apa yang di lihatnya tadi.


"Sayang... kamu ngapain?" tanya Arjun pelan.


Hingga membuat gadis yang tadinya sudah menempelkan telinga di pintu langsung terjingkat dan mundur beberapa langkah.


"Astaga..." ucapnya sambil menyentuh dada memastikan kalau jantungnya dalam keadaan baik.


Dan di detik selanjutnya Akira hanya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi rapinya seperti seorang anak kecil.


Mau apa lagi kalau sudah ketahuan seperti ini?


"Aku tidak mendengar apapun, apa Papi marah lagi?" tanya Akira.


Bagaimana mau dengar pembicaraan kami, kamu saja baru keluar 10 detik yang lalu... batin Arjun.


Tapi karena sayang, Arjun tak mempermasalahkan hal itu. Ia bahkan tambah mencintai istrinya yang kadang bertingkah seperti anak kecil.


"Pergi lah ke kamar, aku tidak akan lama..." ucap Arjun. Menyentuh pipi Akira untuk membuat gadis itu percaya kalau dirinya akan baik-baik saja tanpa Akira di dalam ruangan Papi.


"Sungguh?"


"Iya sayang..." dan Arjun langsung mengecup singkat bibir istrinya.


Ehemm... hal itu membuat Papi Johan berdehem pelan. Akira dan Arjun tentu saja kelabakan. Tidak tau kondisi memang pasangan tersebut. Bisa-bisa nya mencuri ciuman saat sedang situasi genting seperti ini.


"Sayang, udah dulu ya..." perintah Arjun dan Akira pun mengangguk walaupun sebenarnya ia tak ingin Arjun kembali masuk ke dalam ruangan itu.


"Jangan menguping lagi!" Arjun memperingati.


Iya... Aku tidak akan berani menguping lagi, batin Akira sambil menatap pintu ruangan yang kembali tertutup.


Karena sudah ketahuan, Akira tak lagi ingin mengulang kesalahannya. Dengan langkah berat, gadis itu berjalan meninggalkan ruang kerja Papi dan terus berharap kalau suaminya tidak akan mendapat pukulan kedua kalinya.


Kembali di ruang kerja.


Setelah Arjun memastikan sendiri kalau istrinya sudah tidak ada di sana, pria itu menutup pintu dan mendekati Papi.


"Duduk," perintah Papi.


Di sofa yang berada di ruangan dengan banyak buku berjajar rapi, kedua pria beda usia itupun duduk bersama. Tidak ada ketakutan sama sekali di wajah Arjun seperti tadi.


Papi Johan pun terlihat santai sambil sesekali melihat wajah anak laki-lakinya.


Jemari tangan yang sedikit keriput itupun terjulur menyentuh wajah Arjun, menyusuri rahang kokoh untuk mencari sesuatu. Lebih tepatnya mencari apakah pukulan tangannya tadi berbekas atau tidak di pipi Arjun.


"Tidak ada yang luka..." jawab Papi selesai dengan pengamatannya.


"Tapi sakit Pi," rengek Arjun.

__ADS_1


"Itu adalah hukuman atas tindakan bodoh mu!" bukannya menyesalinya, Papi Johan sama sekali tidak menyesal telah memukul Arjun barusan.


"Bagaimana kalau mertuamu tau? bisa-bisa bukan hanya di pukul... Adam akan mencekik mu sampai mati..." ucap Papi Johan terdengar kejam. Tapi memang Arjun juga tidak akan bisa mengelak apapun jika mertuanya tau tentang masalah yang sebenernya terjadi pada dirinya.


"Papi tau?" sontak Arjun terkejut. Kepalanya di penuhi oleh praduga yang mungkin memang di ketahui Papinya.


"Apa kamu pikir Papi bodoh?"


Ck... kalau Papi tau kenapa hanya diam selama ini? apa biar terlihat keren? batin Arjun.


"Walaupun Papi hanya diam, tapi bukan berarti mata Papi buta... ada banyak sekali mata Papi di luaran sana, jadi mau sembunyi di lubang tikus pun Papi akan tau apa yang kamu lakukan...",


Jelas sekali kalau Papi bukanlah orang yang bisa di ajak ngobrol santai seperti manusia normal pada umumnya.


Karena orang seperti Papi Johan amat sangat waspada dengan semua orang. Apalagi dengan orang yang terlihat baik di depannya tapi menghancurkan di balik punggungnya.


Itulah sebabnya banyak sekali mata-mata yang bekerja untuk Papi.


"Sebelumnya Papi diam karena saat itu hubunganmu dengan Akira masih belum berjalan lancar, apalagi kamu juga tidak jadi menghabiskan malam dengan wanita murahan itu... jadi Papi pikir, biarlah Papi saja yang tau semua itu..." Papi Johan kembali merangkai kejadian-kejadian yang terjadi pada rumah tangga putranya.


Ck... kenapa aku sampai tidak sadar?


"Tapi sungguh Pi... Arjun tidak melakukan apapun..." Arjun mencoba untuk meyakinkan Papinya bahwa ia hanya mencintai Akira saja.


"Papi tau.. Papi tau segalanya kalau kamu tidak lagi mengencani wanita-wanita di luaran sana setelah menikah... Papi juga tau kalau wanita itu ada hubungannya dengan Galih bukan?" jawab Papi.


Semua itu di dapat dari anak buah Papi Johan. Segala sesuatu tentang wanita yang menjadi sumber masalah dalam rumah tangga Arjun dan Akira.


Tapi ada satu hal yang sangat membuat Arjun penasaran.


Dan setidaknya dengan menanyakannya kepada Papi membuat Arjun sedikit lega.


"Papi tau tentang...-" ucap Arjun ragu.


Ia menduga kalau Papi memang tau apa yang telah Akira lakukan sebelum ini.


"Papi tau juga?" tanya Arjun tak percaya bahkan sampai menggebrak meja di depannya.


"Kamu cari mati? ha?"


"Maaf Pi... Arjun spontan... hehehe..." jawab Arjun menyesal.


Ia hanya tak percaya kalau Papinya sangat hebat dalam memata-matai seseorang bahkan sampai menantunya sendiri.


"Ini rahasia kita, Adam jangan sampai tau..." perintah Papi.


Apapun yang di lakukan Akira, orangtuanya tak perlu tau akan hal itu. Dimana mungkin akan membuat kondisi Ibu Arum memburuk mendengar kabar kalau anaknya pernah berhubungan dengan pria lain.


"Arjun tidak berniat membicarakan ini kok...".


Dalam hatinya Arjun juga tidak tega memberitahu Ayah dan ibu Akira tentang apa yang telah di lakukan anaknya dulu.


Selagi Arjun bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, orang tua tidak perlu terlibat di dalamnya.


"Bagaimana caramu menghentikan semuanya?" yang Papi tanyakan adalah tentang pria yang terlibat dalam masalah Akira. Lebih tepatnya mantan kekasih Akira.


Karena yang Papi tau, pria itu masih berhubungan dengan menantunya.


"Akira sudah menyelesaikan nya sendiri..." jawab Arjun yakin.


Tadi ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Akira sudah sangat kesal dengan Dean.


Akira bahkan menampar pria itu tanpa ragu tepat di depan Tiara, Arjun dan juga Galih.


"Baguslah...",

__ADS_1


"Udah kan Pi? jadi Arjun boleh pergi?" tanya Arjun karena sudah sangat lama ia berada di sini meninggalkanmu istrinya yang mungkin saja sangat khawatir.


"Dasar..." ucap Papi Johan, sedangkan Arjun hanya tersenyum jenaka.


"Pergilah!" usir Papi Johan, tapi ketika Arjun baru bangkit dari duduknya Papi Johan kembali bersuara.


"Arjun, ambilkan amplop cokelat di laci Papi..." perintah Papi dan tentu saja Arjun mengiyakannya walaupun terlihat jelas kalau tidak ikhlas.


Arjun berjalan menuju ke meja kerja Papi. Mengambil apa yang dibutuhkan dan membawanya menuju ke hadapan ayahnya.


Sejenak Papi menerima amplop tersebut, mengamatinya dan kembali menyerahkannya kepada Arjun, "Ini untukmu... walaupun sedikit lebih awal, Selamat ulang tahun Arjun...",


Entah kenapa mendengar apa yang dikatakan Papinya barusan, membuat tubuh Arjun bergetar. Dadanya tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat. Papi...


Arjun tak menyangka kalau Papi akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.


Apalagi dengan sebuah kado berbentuk amplop yang entah apa isi di dalamnya.


"Terima kasih Pi..." ucap Arjun terharu. Pandangannya terus mengamati amplop tersebut.


"Buka lah..." perintah Papi.


Dengan tangan sedikit gemetar, Arjun membuka amplop tersebut, "Papi..." ucapnya dengan mata membulat sempurna.


Bagaimana tidak terkejut, di dalam amplop tersebut ada tiket pesawat luar negeri.


"Pasport dan Visa kalian sudah Papi siapkan... kosongkan semua jadwal mu 2 minggu ke depan, dan pergilah berbulan madu...",


Arjun tersenyum senang, seperti nya inilah hadiah terindah yang ia terima sepanjang hidup Arjun. "Makasih Pi...",


---


Akira mondar mandir di ujung anak tangga. Melihat ke bawah sana mungkin saja Arjun sudah selesai bicara.


Hingga penantiannya pun tidak sia-sia saat dari kejauhan muncul sosok suaminya yang berjalan sambil mengukir senyum di bibir.


"Apa yang terjadi? kenapa Arjun senyum-senyum?" gumam Akira pada dirinya sendiri.


Arjun mempercepat langkahnya kakinya dan langsung menghambur memeluk Akira di samping tangga. "Ada apa sayang? apa Papi memukulmu lagi?" tanya Akira penuh khawatir.


Kalau aku bilang sejujurnya, Akira tidak akan terkejut bukan? heheh... biar ini jadi kejutan buatnya besok... batin Arjun.


"Sakit..." keluhnya pada sang istri. Setidaknya Arjun ingin tau bagaimana reaksi Akira.


"Mana yang sakit?" karena khawatir, Akira langsung mengamati wajah suaminya tanpa berkedip sama sekali.


"Tidak memar kok...",


"Ini... disini sangat sakit..." tunjuk Arjun pada bagian bawah tubuhnya. Membuat Akira yang tadinya khawatir langsung berubah sebal.


Dia hanya pura-pura kan?


"Ihh... rasakan ini," Akira mencubit perut Arjun karena kesal.


Tega sekali suaminya itu membohongi dirinya, padahal Akira benar-benar takut tadi.


"Awww..." keluh Arjun.


***


Duh, sampai lupa kalau dari sekian puluh purnama Arjun dan Akira belum bulan madu... hehehe...


Siapa yang nungguin?


TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR... HADIAHNYA JUGA BOLEH BANGET...

__ADS_1


__ADS_2