Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
171. Khawatir.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah mengunjungi rumah Tiara dan orangnya tidak ada, Arjun dan Akira memutuskan untuk sarapan sendiri. Menepikan mobilnya tepat di samping sebuah warung tenda yang menjual nasi kuning.


Inilah sarapan yang Akira idam-idamkan seminggu terakhir.


Walaupun sudah sering sekali sarapan nasi kuning, tak membuat Akira bosan.


Bahkan Arjun ingin sekali memindahkan gerobak penjual itu di dalam rumah Pradipta. Agar tak terlalu jauh jika Akira menginginkannya.


Akira di larang Arjun untuk turun dari mobil. Dan seperti inilah dia sekarang. Duduk di bangku samping kemudi menunggu Arjun memesan sarapan.


Padahal enak sekali makan di warung tenda sambil mengamati pejalan kaki yang lewat. Tapi Arjun melarangnya. Pria itu takut dengan perut besar Akira yang akan sangat bahaya bila berdesakan dengan pembeli lainnya. Bagaimana kalau perut itu tersenggol orang lain dan membahayakan diri Akira?


Hingga Arjun tiba, diikuti oleh penjual nasi kuning yang membawa pesanan untuk Akira.


Seketika rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah wanita itu.


"Terima kasih..." ucap Akira setelah menerima sepiring nasi kuning lengkap dengan aneka lauk pilihan suaminya.


Arjun duduk di bangku kemudi sambil menikmati sarapan mereka. "Sayang... bagaimana kalau kita mampir ke Apartemen Galih dulu..." ucap Arjun dengan mulut penuh dengan nasi.


"Kenapa?" tanya Akira heran.


Padahal rencana mereka adalah mengunjungi Tiara. Tapi gadis itu tidak ada di rumah dan mungkin telah pindah tanpa mengabari Akira.


Sedih rasanya melihat Tiara seperti itu. Padahal Akira kira, ia adalah sahabat paling dekat dengan Tiara.


Tapi kepindahan Tiara juga tidak membuat Akira menjadi salah satu orang yang tau akan hal itu.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya..." bohong Arjun.


Sekarang belum ada bukti yang bisa membuat Arjun yakin dengan dugaannya.


Setidaknya ia akan ke Apartemen Galih untuk melihat apakah pria itu tinggal sendiri atau bersama dengan gadis lain.


Arjun memang terganggu dengan ucapan Dion tempo hari yang mengatakan kalau Galih tinggal dengan seorang gadis.


Hal itulah yang membuatnya sangat penasaran dan ingin memastikannya dulu.


"Oh, baiklah..." jawab Akira. Toh ia juga tidak memiliki jadwal apapun hari ini.


Jadwal dokter kandungan juga masih satu minggu lagi.


Selesai sarapan, perut Akira benar-benar nyaman. Bahagia lebih tepatnya.


Mobil mulai kembali melaju membelah jalanan. Arjun mengemudikan mobilnya dengan penuh kehati-hatian tanpa mau membahayakan istri dan anaknya.


Melihat Akira sudah bisa menerima kehamilannya membuat Arjun lega. Dulu ia sempat khawatir melihat keadaan Akira yang selalu menangis di masa awal kehamilannya.


Di tambah dengan mual Arjun yang tidak kunjung reda.


Membuat kedua mood calon orang tua itu benar-benar buruk.


Arjun menyesal. Saat itu ia juga tidak bisa mengontrol emosinya. Untung ada Mami Livia yang selalu menyemangati keduanya.


Hingga Arjun dan Akira bisa melalui hal itu.


Tapi rasa khawatir Arjun kembali melingkupi relung hatinya saat ini.


Tinggal 2 bulan lagi, Akira akan menghadapi persalinan.


Butuh mental yang kuat untuk menghadapi semua itu.


Di tambah dengan Akira yang selalu merasa takut ketika memeriksakan kandungannya. Tangan wanita itu selalu berkeringat dingin dan gugup.


Padahal tidak ada hal buruk dalam kehamilannya. Bayi dalam kandungan Akira tumbuh dengan sangat baik dan sehat.

__ADS_1


Tapi entah apa yang membuat Akira khawatir.


Mungkin juga karena belum siap menjadi seorang ibu di usianya.


Itulah alasan yang bisa di terima.


Tak terasa mobil Arjun telah berhenti di Apartemen dimana Galih tinggal.


Arjun turun lebih dulu dan membantu istrinya.


Memegangi tubuh Akira agar tidak jatuh.


Arjun dan Akira masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke unit Apartemen Galih.


Sesekali menyentuh perut Akira dan mengelusnya dengan penuh kasih.


"Sayang... nanti jangan lama-lama ya..." pinta Akira.


Ia hanya ingin segera pulang.


Berjalan terlalu lama sungguh membuat punggung Akira terasa pegal.


"Tidak akan lama kok..." jawab Arjun. Gue hanya ingin memastikannya...


Di depan Apartemen Galih, Arjun berdiri di samping Akira. Menekankan bell di depan sana sambil menunggu Galih yang tak kunjung membukakan pintu untuk mereka.


"Kemana sih dia..." gerutu Arjun kesal.


Hingga Arjun memutuskan untuk pergi saja dari sana. Toh percuma saja ia berdiri di depan pintu tapi Galih tak segera membukakan pintunya.


"Mungkin Galih pergi menemui seseorang..." hibur Akira.


Akhir pekan memang di gunakan seseorang untuk beristirahat.


"Iya mungkin..." jawab Arjun.


 


Menepuk bantalnya untuk membuat nyaman kepala.


Sedangkan Akira baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan langsung ikut rebahan.


Inilah perbedaan Akira sebelum hamil dan setelah hamil. Wanita itu menjadi ogah untuk mengoles Krim wajahnya sebelum tidur.


Bahkan, Akira terlihat tak lagi menggunakan berbagai produk kecantikan yang berada di meja rias.


Kata Mami jika seorang wanita hamil malas untuk berdandan, bayi dalam kandungannya adalah laki-laki.


Akira mempercayai hal itu, tai beda dengan Arjun. Pria itu lebih percaya logika daripada hal begituan yang mana hanya persepsi seseorang saja


Buktinya tidak sedikit pula yang meleset dari kebiasaan itu.


"Sayang... boleh minta bantuan?" tanya Akira lebih tepatnya merayu Arjun.


"Apa?"


"Kakiku pegal..." keluh wanita itu.


Tanpa banyak bicara, Arjun kembali duduk. bersila tepat di depan kaki istrinya dan bersiap memijit.


Sejak kehamilannya, Akira memang sering meminta Arjun untuk memijit kakinya. Hal itu membuat Akira cepat tidur karena merasa nyaman.


"Kakimu bengkak Ra..." Tiba-tiba Arjun bersuara dengan tatapan tak lepas memandangi kedua kaki Akira.


"Benarkah?", Akira malah tidak tau akan hal itu.


Ia hanya sedikit merasakan kakinya terlihat gemuk. Tapi ia kira itu karena berat badannya yang semakin naik.


"Harus panggil dokter..." ucap Arjun khawatir. Ia tak mau ada hal buruk yang terjadi pada istri dan anaknya.

__ADS_1


"Apa perlu?" tanya Akira. Apalagi ini sudah malam.


Tapi Arjun tidak memperdulikan ucapan istrinya. Pria itu terlalu khawatir jika Akira kenapa-napa.


Hingga segera Arjun menekan tombol di telepon yang ada di nakas untuk menghubungi pelayan.


"Hubungi dokter kandungan Akira sekarang," perintahnya.


Di lantai dasar rumah itu, pelayan terlihat sibuk. Ada yang berlari menuju ke kamar Arjun dan juga memberitahu Mami.


Semua panik mendapat perintah dari Tuan mudanya yang tiba-tiba.


"Ada apa ini? kenapa Akira?" Mami bahkan sampai berlari menuju ke kamar putranya untuk memastikan apa yang terjadi.


"Ada apa Jun? kenapa Akira?" tanya Mami penasaran. Berjalan mendekati menantunya yang duduk sambil menselonjorkan kaki.


"Kaki Akira bengkak Mi..." adu Arjun. Dan otomatis Mami juga ikut memperhatikan kaki menantunya yang memang terlihat besar dari biasanya.


"Bagaimana? kenapa lama sekali?" tanya Arjun pada pelayan di belakang Mami. Membuat semuanya tertunduk takut. Salah satu dari mereka yang menghubungi Dokter bersuara "Dokter sedang di perjalanan Tuan muda," lapornya dengan ucapan terbata-bata.


15 menit kemudian, Dokter tiba dengan di temani seorang penjaga pintu.


Masuk ke dalam kamar Akira yang di penuhi oleh pelayan dan Mami.


"Dok, kaki Akira bengkak..." belum juga Dokter mendekat, Arjun lebih dulu bersuara. Memberitahukan apa yang terjadi pada istri tercintanya.


"Saya periksa dulu Tuan..." jawab dokter wanita itu dengan ramah.


Dokter itu mulai memeriksa Akira. Memeriksa tekanan darah wanita itu, denyut nadi dan juga pemeriksaan normal pada umumnya.


Sedangkan yang dilakukan Arjun adalah duduk di samping istrinya. Menggenggam tangan Akira yang terasa lumayan dingin karena khawatir.


"Tekanan darah Nona sedikit tinggi..." ucap Dokter itu menjelaskan.


"Saya takut Dok..." jawab Akira dengan jujur.


Bagaimana tidak, ini adalah kehamilan pertama baginya.


Apalagi mendengar Arjun mengatakan kakinya bengkak, otomatis membuat Akira panik dan takut. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada bayi dalam kandungannya.


"Apa yang Nona lalukan seharian ini?" tanya Dokter itu dengan tutur kata halus.


Setidaknya ia dokter ingin tau keseharian Akira tadi.


Karena tekanan darah Akira yang biasanya normal cenderung rendah, Tiba-tiba naik.


"Kami pergi cari sarapan dan -,"


"Saya membawa Akira ke beberapa tempat Dok," tambah Arjun menjelaskan.


"Nona... kandungan Nona sudah memasuki usia 8 bulan. Sebaiknya Nona mengurangi konsumsi Natrium atau garam untuk menjaga tekanan darah Nona agar selalu normal.


Dan jangan berdiri terlalu lama untuk mengurangi pembengkakan pada kaki. Jangan menggantung kaki saat duduk, minum air putih lebih banyak..." ucap Dokter itu.


"Dan lebih baik makan makanan rumah saja... karena makanan di luar seringkali menggunakan garam yang berlebihan..." tambah Dokter itu.


"Apa bayi saya baik-baik saja Dok?" tanya Akira tak henti-hentinya mengelus perut buncit nya.


Ia benar-benar merasa bersalah kalau terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Semuanya baik Nona..." jawab Dokter itu menghibur.


Dokter itu terlihat menulis pada sebuah kertas dan memberikannya pada Arjun, "Ini akan membantu mengurangi pembengkakan pada kaki Nona..." jawab dokter menyerahkan resep obat yang perlu Arjun tebus di Apotek.


"Baik Dok...".


Setelah kepergian Dokter, Akira ditemani dengan Mami Livia masih berada si ranjang.


Maafkan Mama sayang... batin Akira sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2