Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
254. Keluarga Yang Utuh (Final).


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akan ada saat dimana keegoisan, hancur seketika. bukan karena tak lagi bisa menindas orang, atau juga karena tak lagi punya keberanian. tapi... karena sadar, kita tak bisa berjalan seorang diri.


keluarga adalah segalanya dibandingkan apapun. dan menjadi pertama yang selalu berdiri di depan kita, membela bahkan melindungi satu sama lain.


Kamu bisa balas dendam, tapi ingatlah...


balas dendam tak akan pernah membuatmu menang... justru memperlihatkan betapa samanya dirimu dengan pihak lawan...


----


Papa Arya mulai pias, tangannya bergetar menyambut Cello dan menantunya. wanita yang pernah ia incar dan sempat ada pikiran untuk menghabisinya.


tapi wanita itu pula yang dengan lapang dada menyambutnya. menghormatinya seperti menantu pada umumnya.


"Cello... dia adalah Opa... Ayah dari Papa Dion..." ucap Gadis memperkenalkan sosok di depannya.


Sejenak Cello terlihat senang mencerna ucapan mamanya tapi masih bingung untuk sekedar bertanya.


"Di desa Cello punya Eyang kakung dengan Eyang Putri dan Oma bukan? sekarang Cello juga punya Opa..." perjelas Gadis.


"Kakek ini? dia kakek Cello?" tanya Cello terlihat paham apa yang tengah Gadis bicarakan.


"Ya... dia beliau adalah ayah Papa. sama seperti Mama yang mempunyai Eyang kakung dan Eyang Putri, Papa juga punya orang tua...".


Cello beralih pada sosok pria yang tadi dipanggil dengan panggilan kakek, sejenak terdiam entah apa yang ada di pikiran bocah kecil itu. hingga sebuah pertanyaan menggetarkan hati siapa saja yang mendengar. termasuk dengan Dion dan juga Rega.


"Kakek, kenapa kakek jauh dari Papa dan Oma? kakek marah?" tanya bocah itu dengan polosnya. karena yang Cello tau, mereka hanya tinggal bersama Papa Mamanya dan juga Oma, sedangkan Eyang nya memiliki rumah sendiri.


Gadis kembali menitikkan air mata. sedangkan Papa Arya semakin terisak dengan pertanyaan cucunya yang justru memperlihatkan betapa jahatnya ia di masa lalu.


"Tidak nak... kakek tidak marah... tidak..." ucap Papa Arya. sedangkan Dion, dadanya ikut sesak mendengar penuturan yang anak.


"Kalau tidak marah, kenapa Kakek di sini? kenapa tidak bersama Oma?" tanyanya bahkan membuat semua orang tercengang karena pemikiran Cello yang seperti orang dewasa.


"Kakek...-," Papa Arya ragu menjawabnya.


"Apa kakek berbuat salah? kata Papa, kalau kita berbuat salah kita harus meminta maaf..." celoteh Cello.


Meminta maaf? apakah kakekmu ini bisa di maafkan nak? batin Papa Arya. karena kesalahannya amatlah berat. mengusir anaknya sendiri, menjauhkannya dari sang ibunya bahkan mengusir istrinya sendiri.


"ayo ikut Cello... kita bertemu dengan Oma... Oma pasti akan senang nanti... dan akan memaafkan kakek..." ajak Cello.


"Iya... Kakek mau... Kakek akan ikut dengan Cello bertemu Oma..." jawab Papa Arya tanpa ragu sedikit pun.


Gadis menurunkan Cello dan langsung dipeluk erat oleh Kakek nya. dan Gadis langsung beralih menuju ke arah suaminya berdiri. menggenggam tangan Dion untuk menguatkan pria itu.


"Lihatlah Cello, dia adalah fotocopy mu bukan? darahnya menurun dari mu... bukankah dia meniru apa yang kamu katakan Yon?" jelas Gadis.


Cello menjadi pribadi yang baik karena didikan Dion. anak yang patuh, jujur dan pemaaf.


seharusnya Dion juga harus seperti itu bukan?


"Dis..." tolak Dion.


"Kamu ingat perkataan mu dulu?" tanya Gadis.


menatap manik mata suaminya dengan lekat dan kembali meneruskan ucapannya, "Meminta maaf tak akan membuat seseorang terlihat rendah... dan orang yang memaafkan tidak terlihat menyedihkan... benar kan?".


Rasanya benar-benar aneh, Gadis justru terlihat seperti Mama ketika berbicara dengan Dion. istrinya itu benar-benar baik, tak menyimpan dendam sekalipun telah disakiti dan mendapatkan perlakuan yang tak pantas dari keluarga Dion.

__ADS_1


tapi nyatanya Gadis tak mengingat-ingat kenangan buruk itu.


Aku mencintaimu Gadis... sangat mencintaimu...


Melihat Dion yang tak bisa berkata-kata, Gadis langsung tersenyum indah. impian yang ingin ia gapai akan terwujud sebentar lagi. keluarga Dion yang kembali utuh, tak lagi ada perselisihan, keluarga yang sangat harmonis, hanya itu keinginan Gadis selama ini.


"Dion..." ucap Papa Arya. bibirnya bergetar menahan haru. "Maafkan Papa..." hanya itu kata yang terlontar dari mulut pria paruh baya itu.


Sedangkan Dion, entah kenapa bibirnya tak bisa mengatakan apapun. tubuhnya menegang seiring dengan tubuh Papa yang menghambur memeluk tubuhnya. hingga tanpa sadar, matanya kian memanas dan butiran air mata jatuh membasahi wajahnya.


"Maaf Pa... Maafin Dion... maaf..." ucapnya lirih. membuat semua orang termasuk Rega sangat senang. senang karena adik dan Papa nya terlihat saling memaafkan.


Pada akhirnya, Papa Arya benar-benar ikut dengan Cello pergi ke desa.


"Jaga diri Papa... gunakan jaket yang sedikit tebal..." ucap Rega pada Papa Arya.


"Dan untukmu Dion... titip salam buat Mama... aku akan menyambut kedatangan kalian secepatnya... maaf tidak bisa ikut denganmu..." ucap seorang kakak pada adik laki-lakinya.


"Iya Mas...".


Sejenak Rega dan Dion saling berpelukan. " Jangan khawatir, aku akan menunggu kalian..." menepuk bahu Dion.


"Cello, Hati-hati di jalan ya... kabari Om Rega kalau Cello sudah tiba... oke?" gantian Rega berucap pada Cello.


"Oke Om... bye..." pamit bocah kecil itu.


"Kami berangkat Mas..." ucap Gadis.


"Ya... Hati-hati di jalan...".


Akhirnya Rega hanya bisa mengantarkan Dion sampai di Bandara. melepas kepergian orang yang yang disayangi untuk kesekian kalinya.


tapi kepulangan Dion kali ini sangatlah istimewa karena ada Papa juga. Dion dan Gadis sama-sama tak sabar melihat bagaimana reaksi Mama nantinya. melihat suami yang sudah sangat lama tak bisa ia temui.


***


"Kakek lelah?" tanya Cello terlihat sangat pengertian bahkan membuat Gadis dan Dion cukup terkejut apalagi usia Cello yang masih kecil tapi sudah mampu mengkhawatirkan orang lain.


"Jangan khawatir kek... kita akan sampai..." tambah bocah itu. membuat semuanya menyunggingkan senyum.


"Cucu kakek tidak lelah?" meraih Cello dan mendudukkannya dalam pangkuan Papa Arya.


"Sedikit... Cello ngantuk..." jawab bocah itu.


"Tidur lah... nanti kakek akan membangunkan Cello ketika sampai..." ucap sang kakek.


Dan pada akhirnya Cello benar-benar memejamkan matanya. sungguh perjalanan jauh dan melelahkan benar-benar membuat Cello mengantuk. apalagi selama di pesawat tadi, Cello asyik mengobrol dengan Kakeknya. menceritakan semua hal agar kakek tertarik.


"Sini Pa, biar Gadis saja yang menggendong Cello..." ucap Gadis tak enak karena mungkin saja Cello cukup berat untuk mertuanya.


"Tak apa... Papa tidak terganggu..." tolak Papa yang memang duduk di depan bersebelahan dengan supir. sedangkan Dion dan Gadis duduk di bangku tengah.


"Apa Cello tumbuh dengan baik selama ini Yon?" tanya Papa Arya mengamati cucu laki-laki nya yang tengah terpejam dalam pangkuannya. mengamati wajah Cello yang benar-benar mirip dengan Dion. garis wajahnya, matanya, bibirnya juga dengan tingkah laku yang Cello lakukan. aktif seperti masa kecil Dion dulu.


"Iya... Cello anak yang pintar Pa... dia tak pernah menyusahkan kami..." jawab Dion.


"Baguslah...".


Tak terasa perjalanan darat yang mereka tempuh akhirnya selesai juga. mobil hitam yang dikendarai telah tiba di parkiran Vila tempat tinggal Dion dan keluarganya.


Setelah dibukakan pintu, Dion berinisiatif untuk mengambil Cello dari gendongan kakeknya dan membawanya masuk karena bocah itu masih tertidur semakin pulas.


"Papa tak apa?" tanya Gadis karena melihat mertuanya itu tak segera bangkit dan turun dari mobil. dari cara Papa, terlihat sekali kalau pria itu kesemutan karena terlalu lama menggendong Cello.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak..." jawab Papa.


Bersamaan dengan itu, Mama langsung keluar kamar ketika menyadari Dion telah datang.


menyambut Dion di ujung anak tangga, "Cello tidur? dia pasti sangat lelah..." ucap Mama. "Tidur kan di kamar Mama saja Yon..." perintah Mama ikut mengikuti langkah Dion menuju ke kamar beliau.


"Iya Ma...".


Sedangkan di bawah, Gadis menemani Papa Arya masuk ke dalam rumah. matanya tak lepas mengamati seluruh penjuru rumah ini. "Di sinilah kami tinggal bersama Mama..." ucap Gadis. sedangkan Papa hanya mengangguk, tapi dari tatapannya jelas kalau ada yang ingin beliau lihat.


Gadis sadar bahwa Papa tengah mencari Mama.


"Biar Gadis panggilkan Mama... Papa duduk dulu..." ajaknya duduk di sofa ruang tamu rumah itu. dan setelahnya Gadis berjalan masuk meniti anak tangga untuk menuju ke kamar Mama berada.


Di lain tempat, Dion sudah membaringkan Cello di ranjang kamar Mama.


"Ma..." ucapnya perlahan.


"Hm, ada apa Yon?" tanya Mama yang masih sibuk menata bantal di samping kiri dan kanan tubuh Cello.


"Dion bertemu Papa..." ucap Dion perlahan, mengamati bagaimana reaksi Mama ketika mendengar nama Papa diucapkan.


Mama sejenak hanya terdiam, dan pada akhirnya mulai bertanya "Bagaimana keadaannya? dia sehat?".


Walaupun Mama selalu bilang kalau beliau tak ingin bertemu dengan Papa ataupun kembali ke Ibukota, tapi dalam hatinya Mama juga ingin tau bagaimana keadaan suaminya itu. apakah Papa sehat? apa dia bahagia? Mama ingin tau semuanya.


"Dia telah berubah..." jawab Dion. dan ucapannya itu benar-benar membuat Mama beralih menatap Dion dengan lekat.


Berubah? apa maksud Dion? batin Mama.


"Iya Ma... Papa telah berubah... dan sekarang, dia ada di bawah menunggu Mama..." ucap Dion. tanpa disadari ucapannya itu seketika membuat Mama bangkit dari duduknya.


"Papa? Papa di-sini?" tanya Mama dengan bibir bergetar. terkejut sekaligus tak menyangka dengan apa yang dikatakan Dion barusan.


"Iya Ma... Papa datang untuk menemui Mama...".


Tanpa berpikir panjang, Mama langsung meninggalkan kamarnya. bersamaan dengan itu Gadis juga tiba di depan kamar Mama.


"Dimana Papa?" tanya Mama pada Gadis.


"Papa... Papa ada di bawah Ma...".


Mama langsung berjalan terburu-buru. menuruni anak tangga mencari keberadaan sang suami yang sudah lama tak bisa beliau temui.


Tepat di ruang tamu, pasangan suami istri yang telah lama berpisah itu bertemu kembali. "Mama..." panggil Papa. matanya memanas melihat sang istri. beliau benar-benar rindu dengan wanita yang telah menemaninya sejak muda. wanita yang selalu mendukung keputusan Papa hingga mengesampingkan perasaannya.


"Papa datang?".


"Iya... Papa datang untuk melihat Mama... maafkan Papa... maafkan kelakuan Papa,Ma..." sesal pria itu. dan keduanya benar-benar menangis haru.


juga dengan Dion dan Gadis yang berdiri tak jauh dari mereka. mereka ikut terharu dengan pertemuan pasangan itu.


"Semuanya karena Cello..." ucap Dion sesekali menciumi pucuk kepala istrinya.


"Iya... Cello lah yang menyatukan mereka..." tambah Gadis.


Akhirnya keluarga yang pernah tercerai berai akhirnya kembali berkumpul. menurunkan ego mereka demi untuk mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis. Papa Arya Guna sadar keegoisan, ketamakan, ambisi, pada akhirnya hanya akan menghancurkan nya sendiri.


semuanya hanya akan menjadi penyebab kehancuran keluarganya.


Karena hal terpenting dalam hidup adalah kebersamaan. dukungan dari anggota keluarga yang membuat suasana menjadi hidup.


***

__ADS_1


Ye... akhir yang bahagia...


__ADS_2