Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
215. Buket Bunga.


__ADS_3

HAPPY READING..


***


1 Tahun Kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat. bulan telah berganti untuk kesekian kalinya. Impian dan cita-cita telah terpampang jelas di depan mata saat Tiara dengan dengan kebaya modern berjalan keluar Aula bersama dengan teman-temannya.


Toga, topi khas wisuda bertengger tegak di atas kepalanya. dan itulah yang membuat Tiara bangga dan mampu menegakkan kepalanya di depan semua orang.


Bahkan senyum indah mengukir bibir tanpa sirna sedikitpun.


Bersama dengan teman-temannya, Tiara berfoto ria. merayakan hari yang sangat ia nantikan beberapa tahun belakangan.


Tapi tidak ada yang menyadari kalau ada sebuah kesedihan yang terbungkus rapi dalam senyumannya kali ini. Dengan sangat rapi, Tiara menutupinya.


Hari yang ia nantikan kali ini justru mengingatkan Tiara pada orang-orang yanga mat ia sayangi. Ibu... ya hari ini, hari bahagia Tiara justru ia lalui seorang diri.


padahal dulu ia pernah bermimpi untuk merayakan kelulusannya dengan sang Ibu.


tapi mungkin itu adalah salah satu impian Tiara yang tidak akan pernah terwujud.


Ibu telah menghadap Tuhan lebih dulu, jauh sebelum Tiara lulus kuliah.


"Tiara... ayo senyum..." pinta teman-temannya.


"Eh, Iya..." jawab Tiara. kembali memasang topeng tersenyum nya saat salah satu temannya mulai berhitung mundur untuk mengabadikan moment langka itu.


Dan tak terasa sudah banyak sekali gambar yang mereka ambil. hingga satu persatu teman Tiara mulai meninggalkan gadis itu.


"Hahh..." dan disinilah Tiara berada. duduk di bangku besi bawah pohon yang berada tepat di samping Aula.


Wajahnya menengadah ke langit. melihat gumpalan awan putih di atas sana, samar menutupi langit Ibukota siang ini.


Ibu... Tiara telah lulus... hatinya bicara.


Kata orang, setiap orang yang telah meninggal akan naik ke langit. mengawasi kita dari atas sana. Itulah sebabnya Tiara selalu menatap ke atas sana, percaya kalau ada Ibu yang tengah memperhatikan semuanya.


"Tiara merindukan mu Bu..." gumamnya pelan hingga membuat sepasang bola matanya mulia menganak sungai.


Kasih sayang seorang ibu memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun. walaupun ada banyak orang yang menyayangimu Tiara, gadis itu selalu merasa sendirian di dunia ini. bahkan hari ini, tak ada siapapun yang datang untuk menemaninya.


Akira, sahabat sejatinya kini tak bisa sebenas dulu. Wanita itu telah mempunyai anak dan tentu akan mengutamakan keluarganya daripada Tiara. sedangkan pria yang selalu membuat Tiara kesal, berharap, juga tak terlihat batang hidungnya.


Agghh... sudah gue kira! batin Tiara. memang apa yang ia harapkan dari Galih? pria itu selalu sibuk dengan urusan Perusahaan.


bahkan mungkin terlihat lebih sibuk dibandingkan dengan Arjun.


Tiara memutuskan untuk mengecek ponselnya. membuka satu persatu pesan yang masuk.


Sesekali ia tersenyum dengan pesan dari teman-temannya yang saling mengucapkan selamat atas kelulusan mereka. hingga sebuah panggilan tiba-tiba masuk sedikit mengejutkannya.


"Mbak Gadis?" gumam Tiara pelan.


Bahkan Gadis adalah orang pertama yang menelpon Tiara setelah acara wisuda. senyum indah Tiara langsung terlihat.


"Halo Mbak..." sapanya seperti biasa.


"Hai Tiara... bagaimana? sudah selesai?" tanya Gadis dengan cerianya.


"Iya... sudah selesai beberapa saat yang lalu mbak..." jawab Tiara.


"Selamat ya Tiara... maafin mbak yang tidak bisa datang di hari kelulusan mu...".


"Hehehe... gapapa mbak... gue juga tau kok..." jawab Tiara.

__ADS_1


Tiara memaklumi akan hal itu, karena Gadis baru saja melahirkan putra pertamanya beberapa hari yang lalu.


"Agghh... gue merasa bersalah telah berjanji dulu..." sesal Gadis. bagaimana tidak, dulu ia memimpikan akan menghadiri acara kelulusan Tiara. Tapi malah keduluan hamil dan melahirkan.


"Hehehe... nanti gue yang akan mengunjungi Mbak Gadis... melihat jagoan kalian secara langsung..." ucap Tiara.


"Oh benarkah? gue tak sabar menunggu kalian... sekali lagi selamat ya Tiara...".


Tiara mengangguk walaupun tentu saja Gadis tak melihat hal itu.


" Baiklah kalau gitu, udah dulu ya Tiara... nanti gue telepon lagi... bye...".


"Bye mbak...".


Tiara menjauhkan teleponnya dari telinga.


"Hah... ternyata lo disini," ucap seseorang hingga membuat Tiara tersentak kaget.


bagaimana tidak, ia sangat asyik berbincang dengan Gadis hingga tak menyadari kedatangan seseorang.


Heh? dia?


Pria dengan kemeja biru panjang dan duduk di samping Tiara.


"Mau bunga atau cokelat?" tanyanya sambil membawa sebuket bunga di tangan kirinya dan cokelat di tangan kanannya.


membuat Tiara sejenak berpikir dan menimang pilihannya.


"Bunga saja..." ucapnya yakin sambil merampas buket bunga itu.


Dia adalah Dean.


"Selamat atas kelulusan Lo Tiara..." ucap Dean begitu tulus.


"Terima kasih..." jawab Tiara.


Ngomong-ngomong, pria itu telah lulus lebih dulu daripada Tiara.


Maklum lah, Dean salah satu siswa jenius di Universitas. bahkan saat ini, pria itu telah bekerja di Rumah Sakit Terkenal di Ibukota.


"Lo sengaja datang untuk mengucapkan selamat kepada gue?" tanya Tiara.


Karena mustahil bukan seorang Dean datang hbaya untuk Tiara?


"Hahaha... Lo kegeeran..." cerca pria itu.


Tertawa keras hingga membuat Tiara malu sendiri. "Gue datang untuk seseorang... dan karena ada Lo, sekalian bukan?" tambahnya.


Tiara masih mengamati ekspresi pria di sampingnya. Sudah sangat lama Tiara tak lagi melihat senyum Dean yang begitu damai.


Mungkin terakhir saat itu, saat masih bersama dengan Akira.


Ya... Dean pernah tersenyum begitu tulus di waktu lalu. hingga pada akhirnya hilang dan meredup karena kekecewaan.


"Sungguh Tiara... gue datang untuk seseorang..." perjelas Dean karena mengira tatapan dari Tiara begitu mengintimidasi.


Siapa? batin Tiara. karena aia tak pernah tau apa yang terjadi pada Dean sejak itu. hingga Tiara tak menyadari kalau Dean sudah mampu berdamai dengan masa lalu nya.


"Ya.. gue harap memang seperti itu," jawab Tiara sedikit lega. asla seseorang yang Dean maksud bukan lagi Akira.


Karena Akira juga tidak menjadu bagian dari kelulusan saat ini.


"Baiklah kalau begitu... gue pamit ya..." ucap Dean pada akhirnya.


"Hm," Tiara menatap Dean lagi, "Terima kasih untuk bunganya...".

__ADS_1


Membuat Dean tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Tiara hingga sosoknya hilang oleh gerombolan mahasiswa lain.


Tiara bangkit dari duduknya. Ia ingin segera pulang dan istirahat.


Tapi baru berjalan, langkahnya kembali terhenti oleh sosok yang amat nyata di depannya.


Walaupun banyak orang yang lalu lalang, sosok itu jelas terlihat oleh sepasang matanya. Tiara berdiri mematung, melihat ke arah pria itu yang berjalan semakin mendekatinya.


"Sorry... gue telat..." ucapnya.


Ucapan pendek namun jelas bagi Tiara. walaupun tak meminta maaf sekalipun, Tiara tak pernah marah ataupun kecewa terhadapnya.


Karena pria manis itu selalu menghilangkan rasa kekecewaan Tiara dengan mudahnya. Mungkin inilah konsekuensi mencintai seseorang. rela mengesampingkan perasaannya demi pria itu.


Masih membeku, pria yang tak lain adalah Galih itu melambaikan tangan tepat di wajah Tiara.


"Hei..." ucapnya hingga membuat Tiara berkedip.


"Gue benar-benar minta maaf karena telat... tau sendiri kan bagaimana kelakuan Arjun? dia selalu memberiku pekerjaan yang banyak...".


Terkadang pria dingin itu berbicara dengan panjang lebar. tapi tak selalu seperti itu, karena Galih lebih sering berbicara pendek dan to the point.


Pria yang menurut Tiara begitu aneh. pria yang memiliki kepribadian ganda. kadang marah, kadang bahagia tapi kadang juga menjengkelkan. tapi Tiara amat menyukainya. walaupun sampai saat ini, hubungan mereka benar-benar terlihat samar. tak ada yang saling mengungkapkan perasaan, tak ada kata cinta yang terlontar dari mulut keduanya, tapi hubungan mereka sangat dalam.


Bahkan semua orang juga akan melihatnya kalau Tiara dan Galih adalah pasangan kekasih.


Aneh memang. Bagaimana cara Galih mengikat gadis itu selama ini. tapi bagaimana pun itu, Tiara tak pernah sekalipun berontak. ia tetap berada di sisi Galih walaupun tak pernah di deklarasikan sebagai kekasihnya.


"Apa lo marah?" tanya Galih.


"Ti-dak..." jawab Tiara sambil menggelengkan kepalanya penuh semangat. Sesalah apapun Galih, dimata Tiara pria itu selalu benar.


"Darimana bunga itu?" tanya Galih sedikit kesal.


"Oh ini...", Tiara kembali mengamati buket bunga di tangannya "Pemberian temanku...". Bahkan Tiara tak segan mencium wangi bunga asli itu. harum...


Sedangkan Galih langsung menunjukkan wajah tak sukanya. karena Tiara secara terang-terangan suka terhadap pemberian orang lain selain dirinya.


"Buang!" perintah Galih.


"Hei, kenapa? ini kan bunga gue...". Seenaknya sendiri bukan? toh memang bunga itu pemberian Dean untuk Tiara. kenapa Galih protes?


"Buang! gue tak suka...".


Mana bisa begitu? hanya karena pria itu tak suka mampu membuat Tiara bertindak dengan membuang miliknya?.


"Tidak... ini bunga gue..." tolak Tiara bahkan sampai memeluk buket bunga itu dengan erat. seperti tak merelakan kalau sampai di rebut orang lain. "Lagian kenapa lo marah? bahkan lo tidak memberikanku apapun kan? bunga saja tidak...".


Ucapan Tiara benar-benar menusuk hati Galih.


"Ya gue mana tau kalau lo suka bunga..." elaknya. karena Tiara tak pernah bilang apapun.


"Makanya tanya dulu... apa yang gue sukai dan tidak gue sukai..." sewot Tiara.


"Jadi lo mau bunga?" tanya Galih pada akhirnya.


"Hm," angguk Tiara.


"Baiklah... gue belikan tapi buang dulu bunga itu..." masih kekeh dengan pemikirannya.


"Tidak! sayang kan kalau di buang..." tolak Tiara. "Biar gue simpan sampai layu...".


Membuat Galih melengos masam. Ck... Gue benti di bantah!


***

__ADS_1


**Ada yang penasaran dengan seseorang yang di maksud Dean????


Hahaha... bagaimana sikap Galih? udah mencair kah? atau masih menyebalkan... komentar banyak-banyak yes**...


__ADS_2