Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
11. Parfum Persik.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun masih berdiri menatap langit siang hari dari balkon kamar Akira.


Sesekali menyesap sebatang benda nikotin yang beberapa menit lalu ia bakar. Asap seketika mengepul ke udara membaur bersamaan dengan angin yang berhembus.


"Gue butuh nomor ponsel Lo," ucap Arjun mengingat sesuatu. Setidaknya saat ia memiliki nomor Akira, Arjun bisa menghubunginya tanpa harus menemui hadis itu lebih dulu.


"Kenapa? kita tidak seakrab itu ya..." tolak Akira.


Masih menatap langit, Akira tidak memperdulikan tatapan Arjun yang tajam kearahnya.


Tatapan Arjun seolah ingin mencekik gadis di sampingnya hingga mati. Kesal sekali dia berhadapan dengan gadis keras kepala seperti Akira apalagi gadis itu benar-benar masih sangat bocah.


"Apa Lo mau sandiwara kita terbongkar? bagaimanapun kita harus membuat orang tua kita percaya kalau kita menerima perjodohan ini. Dan... kalau ada keadaan mendadak, gue bisa langsung menghubungi Lo..." ucap Arjun mengutarakan niatnya.


Akhirnya Akira mengangguk paham. Gadis itu berjalan menuju ke nakas samping ranjangnya untuk mengambil ponsel.


Sedangkan Arjun langsung membuang puntung rokok, menginjaknya dengan sepatu agar lekas padam dan tidak menimbulkan kebakaran nantinya.


Arjun ikut masuk dan mendekati Akira yang sedang mengotak-atik ponselnya.Terlihat Akira sedang membaca pesan dari seseorang yang ada foto seorang pria disana.


Dean?


"Siapa dia? pacar Lo?" tanya Arjun yang tiba-tiba telah mengintip dari belakang tubuh Akira hingga membuat gadis itu seketika terkejut dan langsung menyembunyikan ponselnya.


"Lo bisa tidak sih mengejutkanku seperti itu!" protes Akira.


Ia benar-benar merasa jantungan berhadapan dengan Arjun.


"Berapa nomor Lo?" tanya Akira ketus sambil bersiap untuk mengetik angka di ponselnya.


"085*********" jawab Arjun.


Setelah selesai mengetik angka itu dan menyimpannya, tak lupa Akira mengirim pesan kepada Arjun.


Detik berikutnya, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar itu hingga membuat Arjun dan Akira saling tatap.


Eh? siapa yang kesini? batin mereka bertanya-tanya.


"Buka pintunya!" perintah Arjun dan langsung mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Membuka ponselnya tanpa peduli siapa yang datang.


"Iyaa... tunggu," jawab Akira karena seseorang di depan pintunya itu terus mengetuk tanpa henti. Memutar gagang pintu dan segera membukanya karena memang tidak dikunci sejak tadi.

__ADS_1


"Adam memintamu untuk segera turun," ucap Bibi Akira tapi dengan pandangan penasaran dengan apa yang terjadi antara Akira dan calon suami keponakannya itu.


Beliau juga melihat kalau Arjun sedang sibuk melihat ponsel dan masih berpakaian lengkap.


Apa yang mereka lakukan tadi? Lihatlah, calon suaminya seperti sedang pura-pura tidak terjadi apa-apa...


"Bibi, sudah selesai bicara kan?" tanya Akira menyadarkan wanita itu.


"Oh iya... cepat turun," jawab Bibi dan langsung meninggalkan kamar Akira dan kembali ke lantai dasar rumah itu.


"Ayo turun!" pinta Akira yang masih berada di pintu kamar.


Arjun bangkit dari duduknya, "Eh tunggu!" cegahnya.


Seketika Akira kembali diam dan melihat kebelakang dimana Arjun berdiri.


"Gue minta sedikit parfum milik Lo..." pinta Arjun tanpa sungkan sama sekali.


"Buat apa?" tanya Akira penasaran. Padahal mereka mempunyai jenis kelamin yang berbeda, tentu saja mempunyai selera yang berbeda juga termasuk bau parfum.


"Untuk sedikit menyamarkan bau rokok di tubuhku..." jawab Arjun. Walaupun Akira sedikit ragu, tapi ia tetap mengambil parfum kesukaannya dan memberikannya kepada Arjun.


Tanpa ragu sama sekali, Arjun menyemprotkan sedikit parfum ke telapak tangannya dan mengusapkannya ke leher dan juga dadanya.


Seketika bau persik dari parfum itu menguar ke udara.


"Ayo!" ucap Arjun dan mereka keluar dari kamar dan kembali menuju ke ruang tamu berbaur dengan keluarga masing-masing.


"Darimana saja kamu nak?" tanya Mami Livia.


Arjun tidak menyangka kalau sudah satu jam ia berada adi kamar Akira tadi.


Sebelum Arjun menjawab pertanyaan ibunya, Papi Johan protes karena tak sengaja mencium bau parfum milik seseorang lebih tepatnya parfum yang biasa digunakan oleh perempuan.


Dengan mengendus-endus untuk mempertajam penciuman nya, Papi Johan yakin kalau bau itu tak lain dari pakaian yang anaknya kenakan.


"Jun, kamu tidak macam-macam dengan Akira bukan?" tuduh Papi Johan.


Akira dan Arjun melongo dengan pertanyaan Papi Johan. Mereka berubah gagu dan juga bingung untuk menjawab nya.


"Mana ada Pi?" ucap Arjun dengan ucapan terbata-bata. Apalagi melihat tatapan dari kedua orang tua Akira yang seperti tengah mencari jawaban sejujur-jujurnya.


"Tahan dulu nak... masih seminggu lagi..." ucap Mami Livia memecah ketegangan disana.


Ya, Seminggu lagi Arjun dan Akira akan mengadakan pemberkatan pernikahan.


Karena kesepakatan Akira dan Arjun, tidak ada acara Resepsi yang akan di gelar.

__ADS_1


"Akira dan Arjun hanya ngobrol kok Tante..." ucap Akira menjelaskan kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi jika ia hanya diam tak bersuara.


"Kok tante? panggil Mami sama seperti Arjun..." tolak Mami Livia. Setidaknya Akira harus membiasakan untuk memanggilnya sama seperti Arjun memanggil ibunya.


Apalagi seminggu lagi mereka benar-benar menjadi sebuah keluarga.


"Maaf Tan... eh Mami..." jawab Akira masih sangat canggung untuk memanggil dengan sebutan Mami pada calon mertuanya itu.


"Baiklah, kami pulang dulu Adam..." pamit Papi Johan.


"Terima kasih Jo..."


Ayah Adam tidak akan bisa membalas segala kebaikan yang dilakukan oleh teman masa kecilnya itu.


Bahkan sebentar lagi Johan akan menjadi besan bagi Ayah Adam. Mereka akan sama-sama mengingatkan Arjun dan juga Akira dalam membina sebuah rumah tangga.


"Ini sudah takdir untuk kita berdua... ayo kita sama-sama menuntun putri dan putra kita..." ucap Papi Johan merendah.


***


Arjun masuk ke dalam kamar miliknya. Langsung membanting tubuhnya ke ranjang tanpa melepas jas dan juga dasi yang dikenakannya seharian ini.


"Agghh... lelahnya,"


Bukan hanya dirinya, semua orang juga merasa lelah dengan acara seharian ini.


Tak sengaja Arjun mengamati jari tangannya yang terselip sebuah cincin.


Ya, cincin yang baru terpasang tadi siang.


Cincin pasangan dimana satunya tentu saja dibawa oleh Akira sebagai calon istrinya.


Cincin ini hanya terpasang di jariku saat bersama dengan keluarga... dan Gue akan melepaskan nya saat keluar...


Arjun hendak memejamkan matanya untuk sedikit mengistirahatkan tubuhnya. Apalagi bau parfum yang cukup harum itu mampu membuatnya tenang.


Inilah pertama kalinya Arjun menikmati bau parfum yang tidak terlalu kuat seperti yang dikenakan oleh wanita-wanita yang pernah bersamanya dulu.


Jadi dia menyukai Parfum Persik? tidak terlalu buruk sih... lebih terasa ringan tapi tidak cepat hilang...


Sambil meletakkan tangannya di depan mulut, Arjun kembali menikmati harum parfum itu sambil memejamkan mata.


Dan tak butuh waktu lama, Wangi Persik membawanya memasuki alam mimpi dan Arjun benar-benar tertidur. Terlihat dari nafasnya yang terdengar teratur.


***


Hello... bagaimana kabarnya? sehat-sehat ya...

__ADS_1


Ayo Like dan tinggalkan Komentar banyak-banyak... Love U...


__ADS_2