
HAPPY READING...
***
"Pertahankan?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Arjun. Bingung dengan maksud Dion barusan. Mempertahankan? bagaimana bisa Arjun melakukan itu jika di pernikahan hanya dirinya yang ingin mempertahankan sedangkan Akira tidak berniat sama sekali.
Gadis itu ingin bercerai dan lepas dari ikatan yang mereka ciptakan atas dasar kebohongan dan kepura-puraan.
"Kenapa? Lo mau lepasin dia gitu?" tanya Dion.
Padahal ia sudah mengingatkan Arjun dulu, sebelum pria itu memutuskan untuk menjalani pernikahan dengan gadis yang tidak dicintainya.
Arjun memang selalu bilang tidak perlu memakai hati dalam menjalani semuanya, tapi hal itu hanya terucap dari bibir. Nyatanya sekarang, Arjun sendiri yang kerepotan atas apa yang telah ia lakukan.
Hatinya tidak pernah bohong kalau sebenarnya Arjun menerima kehadiran Akira dalam pernikahan sandiwara yang mereka ciptakan.
"Gue tau kalau lo menerima kehadiran Akira!,"
Arjun hendak bersuara, tapi di sela lagi oleh Dion, "Tidak perlu berpura-pura lagi, gue udah tau semuanya. Lo mulai nyaman dengan hadirnya Akira di sisi Lo,"
Arjun menghela nafasnya kasar.
"Memang saat ini Lo masih meninggikan ego untuk sekedar bilang kalau tidak ada pengaruh dengan hadirnya gadis itu, itu semua karena perasaan Lo masih semu..."
Dion menjeda kalimatnya demi untuk menyesap rokok yang baru saja ia bakar.
"Iya kan?"
Arjun seperti tersadar dengan ucapan Dion barusan. Apa aku mulai menyukai Akira? Aku memang nyaman dengan kehadirannya...
"Gue tak sengaja membentak nya tadi... gue benar-benar marah mendengar dia mengatakan kata cerai berulang-ulang kali..." sesal Arjun.
Entah kenapa ia tidak bisa mengontrol emosinya tadi.
"Apa dia masih berhubungan dengan selingkuhannya?" tanya Dion penasaran. Walaupun ia tak tau harus memberi saran apa nanti kepada sahabatnya, tapi Dion harus mendengar semuanya.
"Iya, mereka masih menjalin hubungan... mungkin saja Akira menanyakan masalah cerai juga setelah berbicara dengan pria itu..."
Bagaimanapun Arjun menduga seperti itu karena tadi ia juga melihat bagaimana ekspresi Dean ketika menjemput Akira pulang kuliah.
Padahal sebelumnya Akira sama sekali tidak pernah membahas masalah cerai dari darinya.
"Kau mau buat perhitungan dengan pria itu?" tanya Dion. Setidaknya beri pria selingkuhan Akira dengan sedikit pelajaran agar tidak berbuat seenaknya sendiri. Apalagi dengan menghasut Akira untuk berpisah dari Arjun.
Arjun langsung menatap sahabatnya, Perhitungan? maksudnya mencelakainya?
"Ck... kenapa menatapku seperti itu?" protes Dion. Sungguh tatapan Arjun kepadanya sangat aneh dan juga menggelikan.
"Setelah jatuh cinta, apa Lo melupakan caranya berkelahi?" sindir Dion.
"Maksudku bukan itu," tentu saja Arjun bingung. Apakah harus melakukan seperti itu? Bagaimana dengan Akira nanti? itulah pertanyaan Arjun.
"Lo takut Akira kecewa?" tanya Dion lagi dan malah membuat Arjun semakin bingung.
__ADS_1
Ya... Arjun bingung dengan rencana Dion yang begitu membingungkan.
"Sadar Nyet!" kesal sendiri Dion kepada sahabatnya. Entah kenapa bicara dengan Arjun kali ini sangat sulit.
"Bisa jelasin lagi?" ulang Arjun. Ia ingin sebuah kejelasan dari semua apa yang Dion katakan sejak tadi.
Dion memejamkan mata, Dasar!
"Gini Nyet! setidaknya Lo kasih pelajaran pada pria itu. Buat dia sedikit sadar kalau sedang berhadapan dengan Lo... kalau bisa Lo kasih dia sedikit luka yang akan selalu diingatnya sampai kapanpun," ucap Dion dengan yakin.
Setidaknya selingkuhan Akira sadar kalau dia salah telah berurusan dengan Arjun.
"Kalau Lo tidak bisa mempertahankan Akira, buat pria itu sebagian jaminannya sehingga Akira akan terpaksa bersamamu..."
Arjun baru sadar dengan semua ucapan Dion.
Jadi, gue menggunakan pria itu untuk membuat Akira tetap berada di sampingku?
"Lo paham kan Nyet?" tanya Dion meyakinkan.
"Ya,"
"Kapan?" tanya Dion penuh semangat. Apalagi sudah sangat lama ia tidak melenturkan jarinya untuk sekedar memukul wajah seseorang.
"Besok, gue akan suruh seseorang mengintainya..." ucap Arjun dengan yakin.
Di kamar.
"Gue harus apa?" tanya Akira sambil terisak.
Gadis itu bingung harus berbuat apa.
"Gue udah memperingatkan lo kan Ra? sekarang lo sendiri yang repot... kenapa sih tidak menerima nasib lo saja, toh menjadi menantu keluarga kaya adalah sebuah keberuntungan bukan?" Tiara mencoba untuk memberi pengarahan pada sahabatnya.
Tak masalah jika hubungan mereka di dasari atas perjodohan, karena sebuah penasaran akan muncul dengan sendirinya.
Akira ataupun Arjun akan menerima suatu hari nanti, begitu pikir Tiara.
"Tapi gue mencintai Dean, dia cinta pertamaku..." elak Akira.
Ia sama sekali tidak memiliki perasaan seperti itu terhadap Arjun. Walaupun memang Akira nyaman dengan keberadaan suaminya, tapi itu sama sekali beda dengan apa yang ia rasakan saat bersama Dean.
Akira hanya merasa nyaman saja, tapi tidak mencintai pria itu.
"Lo yakin? Lo yakin kalau hati Lo hanya milik Dean?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? tentu saja kau yakin. Aku meminta cerai kepada Arjun juga karena ingin hidup bersama Dean..." jawab Akira sambil sesekali menatap sekeliling balkon mungkin saja ada yang mendengar saat dia mengatakan hal itu.
"Jangan buru-buru dulu... jalani dulu Ra, jika suatu hari nanti Lo benar-benar tidak kuat menjalani semuanya... lo bisa menyerah,"
Hanya itu saran bisa Tiara berikan untuk Akira. Karena bagaimanapun yang menjalaninya adalah Akira sendiri bukan dirinya.
__ADS_1
Malam semakin larut saat Arjun baru saja pulang dari Apartemen milik Dion.
Dengan langkah gontai, Arjun masuk ke dalam rumah yang terlihat gelap karena beberapa lampu sudah di padamkan.
Juga tidak ada pelayan yang sekedar lewat seperti yang Arjun lihat di jam-jam normal. Hanya 2 orang penjaga pintu yang memang sedang dalam tiket berjaga malam ini.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Arjun melangkahkan kaki ke ruang makan untuk mengambil air dingin. Setidaknya air dingin mampu menurunkan suhu pada kepalanya yang terasa mendidih.
Arjun mengambil sebotol air dingin dari lemari pendingin dan membawanya duduk di kursi makan. Baru menenggak setengah gelas air dingin, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dalam ponsel Arjun.
Merogoh saku jasnya, Arjun membuka benda pipih berwarna hitam tersebut.
[Tuan muda, Saya sudah menemukan alamatnya... Dia tinggal di Perumahan S, tepat di belakang Mall X]
[Apa yang harus saya lakukan lagi?]
Setelah membaca 2 pesan, Arjun sejenak terdiam. Orang suruhannya benar-benar mampu untuk di andalkan.
[Kerja bagus, sisanya biar ku urus...]
Akhirnya itulah pesan balasan dari Arjun.
Singkat namun sangat di pahami oleh orang suruhan yang bekerja untuk Arjun.
Arjun berjalan meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya. Seperti dugaannya, pintu itu sama sekali tak terkunci hingga Arjun bisa langsung masuk tapi dengan penuh hati-hati. Ia tak mau mengganggu Akira yang mungkin saja telah tertidur.
Tapi saat langkah Arjun telah membawanya masuk ke dalam kamar, matanya membulat saat melihat seseorang yang sedang duduk di kursi belajar dengan sebuah lampu kecil sebagai satu-satunya penerangan.
Dia belum tidur? batin Arjun bertanya-tanya.
Padahal sekarang sudah lewat tengah malam, tapi terlihat Akira masih duduk di sana sambil mengerjakan sesuatu.
Arjun berusaha untuk tidak gugup. Ia berjalan menuju ke ranjang tanpa memperdulikan gadis itu. Melepaskan separuh dan juga ikatan dasinya dengan penuh rasa canggung.
Semua orang juga akan merasakan hal itu setelah terlibat pertengkaran dengan pasangannya. Itulah yang di rasakan Arjun maupun Akira.
Ego sama-sama membuat mereka mempertahankan harga diri untuk sekedar menyapa.
Setelah Arjun mencuci muka, pria itu segera merebahkan diri di ranjang. Menarik selimut dan memejamkan mata dengan posisi membelakangi Akira.
Sedangkan Akira yang duduk di kursi sejak tadi, baru bisa bernafas lega setelah Arjun tidur.
Agghh... aku lega karena dia langsung tidur tanpa berdebat lagi...
Walaupun terlihat biasa saja, tadi Akira merasakan kegugupan yang sama sejak Arjun tiba.
Akira segera merapikan bukunya. Beda dengan malam-malam sebelumnya yang tidur seranjang dengan Arjun, kali ini Akira memutuskan untuk tidur di sofa yang dulu pernah ia gunakan untuk beristirahat.
Ya... aku tidak bisa tidur dengannya malam ini, dia bisa besar kepala nanti...
***
__ADS_1
Yah... mereka berantem dong...
Selamat berhari minggu...