Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
77. Galau.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Ini adalah malam kedua Akira harus membiasakan diri untuk tidur sendiri di kamar miliknya dengan Arjun.


Sudah 2 malam sisi ranjang sebelahnya benar-benar terasa dingin karena tidak di tempati oleh suaminya.


Akira berguling-guling di atas ranjang karena merasa aneh. Sudah 2 jam lamanya Akira menatap buku tapi tetap saja tidak ada satupun kata yang masuk ke dalam kepalanya.


Aggghh... Akira frustasi.


Di dalam kepalanya hanya memikirkan 1 hal, Arjun. Ya... sejak pagi sampai sekarang, Akira belum menerima pesan ataupun telepon dari pria itu.


Padahal kemarin, Akira berbicara dengan suaminya sebelum mereka tidur dan dari pembicaraan itu juga Arjun berjanji akan menghubungi Akira lagi di hari berikutnya.


Tapi sekarang... jangankan menelpon, pria itu bahkan tidak menghubunginya sama sekali.


Itulah yang membuat Akira cemas.


"Dia kemana sih?" gumam Akira sambil mengotak-atik ponselnya hendak menghubungi Arjun lebih dulu.


Ponsel telah di tempelkan di telinga Akira, tapi hanya terdengar suara operator yang menyarankan untuk meninggalkan pesan karena nomor yang di tujuan sedang tidak aktif.


Kenapa nomornya mati? batin Akira kecewa.


Pikirannya bertambah berkecamuk dan menerka hal-hal yang kemungkinan tengah terjadi pada suaminya.


Dia sedang apa sih? apa dia sibuk? tapi kalau sibuk kan bisa menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepadaku...


Jarum jam juga telah bergeser ke angka 11 malam. Hal itu juga membuat mata Akira kian berat dan mengantuk.


Gadis itu bahkan menguap beberapa kali sambil sesekali melihat layar ponselnya.


Hingga tanpa sadar, matanya kian menyipit dan terpejam dengan posisi menggenggam ponsel.


 


Di tempat lain, Arjun dan Galih membelah jalanan yang sudah sangat sepi oleh kendaraan yang lalu lalang.


Di bandingkan dengan Galih yang fokus mengemudi, Arjun yang duduk di sebelahnya terlihat memejamkan mata sambil sesekali memijit pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.


"Ada obat meringankan rasa pusing tidak sih?" keluhnya pada Galih.


"Kalau di mobil sih gak ada..." jawab Galih. Karena kotak obat-obatan yang di siapkan nya tertinggal di hotel tempat dimana mereka menginap.


Arjun tidak menjawab perkataan Galih. Pria itu fokus memijit pangkal hidungnya. Sungguh pekerjaan kali ini sangat berat dan melelahkan.


Sudah 2 hari Arjun di kota ini, mengurus pekerjaan yang seharusnya tanggung jawab Papi Johan.


Detik selanjutnya, Arjun merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.


"Agghh... sial!" umpatnya lagi. Ternyata ponsel milik Arjun juga kehabisan daya.


Padahal ia ingin menghubungi istrinya. Pasti dia khawatir... batin Arjun menerka-nerka kejadian saat ini.


"Kenapa?" tanya Galih penasaran.


"Ponsel gue kehabisan daya... Padahal gue udah janji akan menghubunginya malam ini...".

__ADS_1


"Pakai ponsel gue..." saran Galih. Sejenak Arjun tersenyum lega, tapi detik selanjutnya keraguan muncul di dalam kepalanya. Tidak... gue tidak mau...


"Kenapa?" tanya Galih kembali penasaran.


Padahal tadi ia juga melihat rona kebahagiaan dari wajah sahabatnya saat Galih menyarankan untuk menelfon menggunakan ponsel miliknya. Tapi semuanya kembali pudar di detik setelahnya.


"Gak jadi... bisa-bisa lo menggunakan kesempatan ini untuk menelpon Akira di belakangku..." jawab Arjun ketus.


Galih yang duduk di setelahnya langsung membulatkan bola matanya, Apa dia bilang?


"Lo gila ya?" semprot Galih karena ucapan Arjun yang tidak mendasar sama sekali.


Bagaimana bisa seseorang sampai berpikir buruk seperti itu. Padahal niat Galih sangat baik dengan menawarkan ponselnya.


"Ya kali aja..." ucap Arjun tanpa dosa.


Terlihat Galih berdecak, "Gue juga ogah kali makan bekas Lo!" sindir Galih. Senakal-nakalnya dirinya, Galih juga tidak mau berbagi wanita yang sama sahabat-sahabatnya.


Toh di luaran sana banyak sekali wanita-wanita, kenapa memilih bekas Arjun ataupun Dion? begitu pikirnya.


"Bekas-bekas... istri gue masih per*wan kali..." semprot Arjun tak terima dengan ucapan Galih yang memakai kosa kata bekas dimana lebih pantas di gunakan untuk sebuah barang.


"Hahaha... ck, tidak dapat menidurinya aja bangga!" cerca Galih.


Sedangkan Arjun menatap sahabatnya degan mulut terbuka tanpa bisa berkata-kata.


Benar... tidak ada yang bisa gue banggakan!


Kena mental gak tuh si Arjun? hahaha...


***


Akira menuruni anak tangga tanpa bersemangat sama sekali. Sejak malam sampai pagi ini ia benar-benar merasa kecewa karena tidak mendapat pesan satupun dari Arjun. Padahal Akira sangat menunggu kabar dari suaminya itu.


Tapi nyatanya hanya Akira yang menanggung kekecewaan. Entak dimana Arjun berada saat ini sampai tidak sempat mengabarinya.


Mungkin karena rasa kecewa nya ini juga yang membuat Akira tidak berselera untuk sarapan. Gadis itu hanya duduk dan melihat sarapannya tanpa menyentuh sama sekali.


Untung saja tidak ada Mami dan juga Papi di meja makan saat ini. Jadi tidak ada yang memperhatikan Akira sama sekali.


Akira hanya mengisi perutnya dengan beberapa teguk susu hangat dan langsung pergi kuliah.


Tentu saja sama seperti sebelumnya, Akira di antar oleh Supir yang menunggunya sampai Akira pulang nanti.


Memang terlihat berlebihan, tapi Akira berusaha untuk membiasakan diri untuk hidup seperti itu.


Walaupun di dalam kepala, Akira merencanakan sesuatu agar tidak lagi bersama supir. Tapi rencana itu masih dirancang dalam kepalanya untuk beberapa saat.


Tiba di Universitas, Akira langsung di sambut oleh sahabatnya.


"Hei, kenapa murung?" tanya Tiara penasaran dengan wajah sahabatnya yang benar-benar terlihat redup. Padahal biasanya, Akira selalu terlihat ceria dan bahagia.


Murung? Apa terlalu terlihat? batin Akira tak menyangka.


Akira ingin bercerita kepada Tiara tentang hal yang sedikit mengusik hatinya sejak semalam. Tapi Akira ragu, ragu kalau Tiara hanya akan menertawainya saja.


Tidak... aku tidak boleh cerita...


"Ada apa sih?" sebagai seseorang sahabat, tentu saja Tiara tau kalau saat ini Akira memang menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


Apa aku memang harus bicara dengan Tiara?


Sejenak Akira menatap wajah sahabatnya.


"Tiara...",


"Ada apa?".


"Lo pernah menjalin hubungan dengan seseorang bukan?" tanya Akira.


"Lo ini mau ngomong apa sih?" protes Tiara. Ia tidak bisa mendengar ucapan Akira yang terlihat berbelit-belit saja.


"Pacar Lo pernah tidak memberi kabar Lo dalam sehari?" tanya Akira.


"Tidak... dia selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan padaku..." jawab Tiara.


Tuh kan benar... semua pria pasti begitu. Mereka akan tetap menyempatkan diri untuk memberi kabar kekasihnya sesibuk apapun itu, batin Akira.


"Ada apa sih? apa ini ada sangkut pautnya dengan suami Lo?" tuduh Tiara.


Dan ternyata Akira langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Lo sudah menghubunginya lebih dulu?" menurut Tiara, setidaknya Akira akan melakukan hal itu lebih dulu.


"Nomornya tidak aktif sejak semalam..." jawab Akira dengan nada sedih.


Akira maupun Tiara tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka benar-benar tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


"Huaa... apa jangan-jangan dia selingkuh?" tanya Akira khawatir.


Semua orang akan khawatir dengan masalah perselingkuhan. Apalagi Akira percaya kalau karma itu masih ada sampai sekarang.


Dulu ia telah berselingkuh di belakang Arjun, dan sekarang Akira takut kalau suaminya akan membalas hal itu.


"Lo itu mikir apa sih..." cerca Tiara.


Setidaknya jangan berspekulasi sebelum Akira tau apa yang tengah terjadi pada suaminya.


"Bayangin... dia sendiri yang berjanji akan menghubungi ku di malam hari... tapi semalam ponselnya mati sampai pagi tadi. Memang apa yang membuatnya sampai lupa kepadaku?" tanya Akira.


Mungkin dia bersenang-senang dengan wanita lain. Sangat mungkin bukan? apalagi di sana tidak ada Papi Johan... Arjun pergi bersama Galih, Mereka sama-sama tidak bisa di percaya bukan?


"Mungkin saja Arjun lelah..." ucap Tiara masih berpikiran positif.


"Lelah?"


"Walaupun lelah, seharusnya tetap bisa menghubungi Lo kan?" ucap Tiara lagi. Dan hal itu benar-benar membuat Akira kembali bingung.


"Jangan-jangan dia menghabiskan malam dengan wanita lain sehingga tak mengaktifkan ponselnya?"


Akira membulat sempurna dengan praduga dari Tiara. Antara percaya dan tidak, pemikiran Akira lebih condong ke arah begitu. Ya... mungkin saja Arjun sibuk dengan wanita lain. Secara dia adalah pria berumur dan Arjun pernah bercerita sering melakukan hubungan suami istri dengan kekasih-kekasihnya dulu.


Apa Arjun benar begitu? kenapa? kenapa dia tega melakukan hal itu kepadaku?


Bayangan Arjun menciumnya kembali memenuhi kepala Akira. Tapi saat ini bukan dirinya yang di cium, tapi wanita lain.


Dada Akira bergemuruh hebat. Ia kesal dan marah.


***

__ADS_1


Akira galau ya... hahaha... makanya jangan jaim-jaim mulu...


__ADS_2