Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
91. Perasaan Kita.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira masuk ke dalam rumah dengan menundukkan pandangannya. Bahkan inilah pertama kalinya ia tak menjawab sapaan dari 2 orang pria yang berdiri di samping pintu menyambutnya.


Dan tentu saja kedua penjaga itu terheran-heran dengan Nona muda keluarga tersebut.


Apalagi tak begitu lama, juga Tuan Muda mereka terlihat berlari mengejar sangat istri.


Ada apa sih? batin mereka bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi pada pasangan muda tersebut.


"Akira?" panggil Mami Livia yang tengah asyik menonton acara gosip selebriti di televisi tapi tak sengaja melihat menantunya.


Hal itu membuat Akira merasa tak enak kalau langsung berlalu pergi ke kamar tanpa memperdulikan ibu mertuanya.


"Ada apa?" tanya Mami Livia penasaran. Apalagi beliau mengamati wajah menantu satu-satunya yang terlihat murung.


"Mami..." adu Akira dengan isak tangis yang kembali terdengar lagi.


"Ada apa sayang?" tentu saja Mami Livia khawatir dengan keadaan Akir ayang tiba-tiba datang dan menangis seperti itu.


Belum sempat menjawab, Arjun telah tiba di ruang keluarga.


Dan tentu saja dia lah satu-satunya orang yang bisa di tanyai apa alasan gadis itu menangis.


"Ada apa ini?" tanya Mami Livia menatap putranya dengan sorot mata penuh pertanyaan.


Apakah mereka bertengkar?


Akan jadi masalah lagi kalau memang benar Anak dan menantunya bertengkar. Apalagi hubungan Akira dan Arjun belakangan ini terlihat lebih baik dari sebelumnya.


"Akira sedih Mi..." jawab Arjun.


"Mami juga bisa melihat nya kalau Akira sedih!" semprot Mami pada Arjun.


Memang sebodoh itu hingga ia tak mampu melihat kalau Akira sedih dan menangis seperti itu.


Yaelah... Mami bahkan sampai membentak ku... batin Arjun.


"Akira sedih karena selalu gagal dalam praktek menyuntik nya Mi," ucap Arjun mulai menjelaskan semuanya.


Arjun juga melihat semuanya bagaimana Akira benar-benar tidak berhasil dalam tahap ini.


Bukan hanya pada dirinya saja, Galih juga telah membantunya untuk praktek tersebut.


"Akira tidak bisa dalam semua hal... Akira benar-benar tidak berguna Mi..." hanya itu yang keluar dari mulut Akira. Betapa ia sangat membenci dirinya sendiri yang tidak memiliki kelebihan sama sekali.


Akira menyesal karena telah memilih masuk Jurusan Kesehatan yang sama sekali tidak menjadi keahliannya. Yang Akira pikirkan saat itu hanyalah ia ingin menikmati kehidupan di luar Keluarga Pradipta.


"Jangan bilang seperti itu sayang... itu tidak benar," tolak Mami Livia.


Semua orang pasti memiliki sisi kelebihan untuk melengkapi kekurangan mereka. Tidak ada orang yang lahir hanya dengan sisi kekurangan saja. Pasti ada kelebihan walaupun sekarang masih tak terlihat.


"Kamu pasti bisa melakukannya... Mami yakin kok. Apalagi ada Arjun yang siap membantumu... jadi jangan khawatirkan hal apapun..." tambah Mami Livia.


"Tapi Mi,-"


Arjun mendekati istrinya, membelai kepala Akira dengan lembut "Aku masih memiliki tangan satunya bukan? ayo kita coba sekali lagi..." ucap Arjun dengan sangat yakin.


Entah kenapa Akira benar-benar terharu dengan apa yang dikatakan Arjun barusan.


"Jangan sedih atau berpikir kalau kamu sendirian di rumah ini... Mami, Papi dan Arjun adalah keluargamu... kami akan selalu mendukungmu sayang..." tambah Mami Livia.


"Terima kasih Mi," ucap Akira.


Terima kasih telah memberikanku begitu banyak cinta seperti ini Mami... Arjun... Aku benar-benar merasa bahagia dan bersyukur...


Setelah adegan menangis itu selesai, Arjun dan Akira berjalan menuju ke kamar mereka.


Sepanjang anak tangga, Arjun sesekali meledek istrinya yang terlihat seperti bocah saja tadi.


Tentu saja Akira tak terima di katai seperti itu walaupun pada kenyataannya memang benar. Gadis itu menangis menghadapi masalah yang bahkan terlihat sangat kecil.

__ADS_1


Sampai di kamar, Arjun langsung mengunci pintunya. "Ayo mandi..." ajaknya dengan tampang jenaka.


"Kenapa?" tentu saja Akira keheranan.


"Apanya yang kenapa? sebelum aku di suntik, setidaknya beri aku sedikit waktu untuk menikmati hidup..." jawab Arjun.


Tentu saja Akira paham niat apa yang ada di dalam kepala suaminya.


Ck... alasan saja...


"Ayolah sayang..." ucap Arjun sambil menaik-turunkan alisnya dan membuat Akira yang tadinya murung menjadi tertawa. Sungguh ulah suaminya itu benar-benar lucu tapi tak dapat di pungkiri kalau Akira suka akan hal itu.


Suka dengan sikap Arjun yang sekarang.


"Baiklah..." jawab Akira pasrah. Toh mandi bersama bukan hanya menguntungkan Arjun saja, dirinya juga di untungkan bukan? Anggap saja sebagai hiburan. Hahaha...


Dan siang itu, Akira dan Arjun benar-benar mandi dengan durasi yang lebih lama dari sebelumnya. Bahkan bunyi decak riak air bercampur dengan suara mereka di dalam sana mampu terdengar sampai di sudut-sudut kamar tersebut.


---


Di atas ranjang, Akira berbaring bersebelahan dengan Arjun. "Sayang, hentikan!" perintah Akira karena Arjun beberapa kali menggulung rambutnya yang masih setengah basah setelah mandi tadi. Hal itu membuat Akira merasa tak nyaman.


"Kalau di lihat-lihat, kenapa kamu jelek sekali sih..." entah kenapa Arjun berkata demikian di depan Akira. Padahal dalam hatinya ia berkata sebaliknya. Arjun benar-benar memuji gadis yang telah sah menjadi istrinya tersebut.


Apalagi semakin Arjun menatap istrinya, kecantikan Akira semakin bertambah setiap saat.


"Biarin!" jawab Akira. Ia tidak peduli dengan omong kosong dari Arjun.


"Lihatlah hidungmu pesek... matamu kecil... jelek sekali..." ucap Arjun bahkan sampai menunjuk bagian-bagian di wajah Akira yang menurutnya sangat jelek.


"Aku tidak peduli,"


"Tubuhmu pendek, kakimu pendek..." tambah Arjun tapi langsung kena omel Akira.


"Ya! berhenti mengolok-olok diriku... lagian ini tubuhku, sejak dulu juga begini, kenapa kamu yang repot? gini-gini juga aku selalu menjadi pusat perhatian cowok-cowok di kampus..." ucap Akira sebagai bentuk pembelaan atas dirinya.


Bahkan hal itu adalah benar. Banyak pria-pria di kampus yang tertarik padanya.


"Benarkah?"


"Banyak sekali pria yang meminta nomorku,-"


"Siapa? siapa yang berani meminta nomor istriku yang jelek?" tanya Arjun dengan nada aneh. Ada sebuah kekesalan dalam dirinya saat Akira mengatakan demikian.


"Kenapa?" tanya Akira penasaran.


Ayo berdebat... sudah sangat lama kita tak berdebat bukan? hehehe...


"Aku benar-benar akan mematahkan lehernya, berani sekali dia meminta nomor mu padahal ia tau kalau kamu jelek, sangat jelek..." ucap Arjun dengan yakin.


Ck, apa dia bilang? jelek? kenapa masih mau denganku kalau aku jelek?


"Besok aku akan mengantarmu dan bertemu dengannya..."


"Apaan sih..." tolak Akira.


Lebay sekali sih... padahal aku hanya bergurau...


"Aku hanya bercanda... hahaha..." tawa Akira pecah. Senang sekali mengerjai Arjun seperti itu.


"Apa?" tanya Arjun ingin memastikan apa yang Akira katakan barusan.


"Aku hanya membohongimu... hahaha" Akira kembali tertawa.


"Membohongi ku? berani sekali kamu ya! sudah jelek penipu lagi..." Arjun langsung menggelitiki perut istrinya berulang kali.


"Hahaha stop... Arjun stop... hahaha, sudah... Arjun... lepas..." berontak Akira. Sungguh ia tak tahan di gelitiki seperti itu.


"Rasakan ini, rasakan!" Arjun masih asyik menghukum Akira karena telah membohonginya.


"Sudah, cukup... Arjun!" teriak Akira mengiba.


Dan Arjun menghentikannya.

__ADS_1


Deru nafas mereka berdua benar-benar menjadi satu-satunya suara yang tercipta.


Di jarak sedekat ini, Arjun dan Akira sama-sama merasakan hembusan nafas mereka.


Saling menatap lekat manik mata mereka seolah sedang mengikat jiwa yang tak terlihat agar tidak pernah terpisahkan satu sama lain.


"Aku mencintaimu Akira..." ucap Arjun sambil menatap istrinya tanpa berkedip sekalipun.


Sedangkan Akira hanya tersenyum, entah kenapa ia suka dengan apa yang di katakan Arjun barusan. Apakah ini yang Akira inginkan selama ini? pengakuan Arjun terhadap apa yang di rasakan terhadap dirinya?


"Aku mencintaimu..." ulang Arjun karena tak mendengar jawaban dari Akira sedikitpun.


"Aku tau..." jawab Akira.


Jawaban dari istrinya tak membuat Arjun senang. Karena bukan itu yang Arjun inginkan dari Akira. Ia ingin Akira juga mengakui kalau gadis itu juga memiliki perasaan yang sama terhadap Arjun.


"Bukan itu yang ingin ku dengar..." jujur Arjun.


Aku ingin dengar kalau kamu juga mencintaiku...


"Lalu?" goda Akira.


"Bilang kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku..." paksa Arjun.


"Tidak," tentu saja Akira kembali pada Akira yang dulu. Hadis yang keras kepala yang selalu membantah perkataan Arjun.


"Akira..." panggil Arjun menahan kemarahan.


Bahkan pria itu sampai mencengkeram kedua tangan istrinya dengan erat.


"Aku tidak mau bilang," padahal Akira juga menginginkan Arjun berkata kalau pria itu mencintainya tapi bagi Akira, ia tak mau melakukan hal itu. Sangat memalukan kalau seorang wanita mengungkapkan perasaanya.


Walaupun pada kenyataannya memang Akira mencintai Arjun, bahkan mungkin rasa cintanya melebihi rasa cinta Arjun kepadanya.


Entah sejak kapan Akira memiliki perasaan itu terhadap Arjun. Tapi yang jelas, Akira mulai melihat sisi lain Arjun yang baik sesaat setelah Dean meninggalkannya.


Arjun lah yang seperti ada di saat-saat terpuruknya. Arjun yang selalu bertingkah jenaka di depannya, yang membuat Akira tersenyum saat ada sebuah luka di hatinya.


Apakah Aku sudah mencintainya sejak lama? batin Akira.


"Jahat!" Arjun melepaskan tangannya yang mengungkung tangan istrinya. Tapi saat Arjun hendak beralih pergi, tangan Akira yang ganti bergelayut manja di leher Arjun hingga membuat Arjun terpaksa tengkurap di atas Akira.


"Marah ya?" goda Akira.


Melihat Arjun mengerucutkan bibirnya semakin membuat Akira kegirangan.


"Lepas," gantian Arjun yang merajuk.


"Kenapa marah?" tanya Akira masih berpura-pura tak tau alasan kemarahan suaminya. Padahal alasannya jelas Akira yang tak mau bilang perasaannya kepada Arjun langsung.


"Akira..." panggil Arjun dengan nada marah. Dirinya merasa di permainkan oleh istrinya.


"Kalau di lihat-lihat, kamu sangat tampan ya..." puji Akira sambil menatap Arjun lekat.


Tentu saja pujian Akira mampu membuat Arjun hendak terbang, tapi kali ini pria itu terlihat tetap mempertahankan egonya.


"Sejak kapan aku mulai menyadari kalau suamiku sangat tampan ya...? kemarin? kemarin lusa? minggu lalu? bulan lalu atau kapan?" tanya Akira tanpa peduli Arjun menjawab pertanyaannya atau tidak.


Aku benar-benar tidak tahan ingin menciumnya... menggigit bibirnya yang terlihat s*ksi ketika bicara... batin Arjun.


"Akira jangan memancingku!" Arjun memperingati istrinya. Bisa-bisa ia akan memakan Akira lagi kali ini.


"Siapa coba yang tidak tergoda dengan wajah seperti ini... pasti wanita di luaran sana sangat menginginkanmu, iya kan? Aku sangat beruntung bukan?" celoteh Akira.


"Akira, kamu memancingku?" tanya Arjun.


Dan kejadian di kamar mandi terjadi lagi. Bahkan kali ini dengan durasi yang bahkan lebih lama lagi. Tetesan keringat mereka benar-benar menjadi saksi penyatuan tubuh sepasang suami istri yang tengah kasmaran.


Arjun terbaring di sisi Akira dengan nafas yang berantakan. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya sambil menatap langit kamar yang bahkan hanya berwarna putih saja.


"Jangan memancingku lagi kalau kamu masih ingin berjalan dengan lancar sayang!" ancam Arjun sebagai pengantar tidur Akira di siang hari.


***

__ADS_1


Kayaknya Part kali ini panjang deh...


Jangan bilang masih kurang panjang ya!! Awas! Hahaha... (maksa banget... )


__ADS_2